Try To Conceive

Petualangan Mencari Dokter Kandungan

Saya sudah menikah hampir 4 tahun tapi sampai saat ini belum juga dikasih kepercayaan untuk bisa menggendong anak sendiri. Dari awal menikah sampai 2,5 tahun lamanya saya tinggal di remote area, yaitu Desa Sorowako, dimana fasilitas dokter untuk program hamil dan pemeriksaan kandungan lebih lanjut tidak tersedia. Saya hanya bisa menyempatkan diri sekali-kali untuk periksa ke dokter kandungan pas cuti ke kota, itupun kalau pas jadwal haid-nya cocok untuk kontrol ke dokter. Bagi yang belum tahu, untuk memulai program hamil sebaiknya datang ke dokter kandungan pada hari ke-3 sampai hari-5 haid. Pada saat itu saya juga masih santai-santai sih dan lebih mementingkan travel bersama suami, menikmati masa pacaran berdua lah istilahnya, hehe. Setelah pindah ke kota di akhir tahun 2014, saya dan suami lebih serius untuk memeriksakan diri dan memulai program hamil. Berikut adalah daftar dokter kandungan yang pernah saya kunjungi atau jadi target kunjungan saya selama 4 tahun terakhir:

  1. dr. Widyastuti, SpOG
    Saya periksa ke dokter ini pada awal tahun pernikahan saya ketika saya lagi cuti ke kota Bandung akhir tahun 2012. Pada waktu itu saya mendatangi tempat prakteknya di Apotek Kimia Farma Dago. Pasiennya lumayan banyak. Kesan pertama saya dokternya baik dan ramah, saya disuruh USG rahim (di perut) dan katanya baik-baik saja hasilnya. Saya langsung dikasih obat penyubur untuk diminum dari hari-3 haid, saya lupa nama obatnya apa. Saya kurang sreg dengan metode pengobatan memberi obat penyubur tanpa investigasi lebih lanjut. Jadi saya cuma pernah berkunjung sekali saja kesini.
  2. Dokter Resident di Poli Kandungan RS INCO Sorowako
    Dokter resident ini maksudnya adalah dokter umum yang lagi kuliah mengambil spesialisasi tertentu, dalam hal ini adalah spesialisasi kandungan. Dokter resident ini berganti-ganti orangnya dalam jangka waktu tertentu, sesuai periode kontraknya. Saya lupa waktu itu, awal tahun 2013 saya berkunjung ke dokter siapa. Tapi saya juga kurang sreg karena belum apa-apa saya sudah dikasih obat untuk memperbesar sel telur (obat penyubur) padahal menurut hasil cek USG Transvaginal saya baik-baik aja hasilnya. Suami saya ga disuruh test apa-apa. Saya cuma berkunjung kesini 1 siklus haid saja.
  3. Dr. Ivan Sini, SpOG
    Dokter satu ini adalah bintangnya RS Bunda Jakarta. Rate keberhasilan pasiennya yang tinggi dalam program hamil membuat pasiennya terus bertambah. Untuk berkunjung ke dokter ini harus membuat janji temu minimal 1 bulan sebelumnya. Karena itulah saya mengurungkan niat untuk konsul ke beliau. Menurut saya agak susah juga bikin janji temu 1 bulan sebelumnya gitu, takutnya hari perkiraan haid kita bergeser, kan jadi rugi konsul ke dokter kalau ga pas hari haidnya.
  4. Dr. Ong Tjandra, MMPd, SpOG (K)
    Dokter ini favoritnya orang se-Tangerang raya. Pasiennya banyak banget, bahkan katanya bisa sampe nunggu jam 2 malam untuk konsul ke beliau. Hadeuh suami saya bisa ngamuk disuruh nganterin tengah malam kesana. Lagipula pas saya telpon ke kliniknya, saya baru dapat giliran konsul untuk 3 bulan ke depan! Karena alasan itulah saya mundur teratur untuk konsul ke dokter ini. Lagipula dari yang saya baca. kebanyakan orang pergi ke dokter ini untuk keperluan USG 4 dimensi karena lebih murah daripada harga diluaran. Kalau untuk program hamil dengan dokter ini saya jarang dapat ceritanya sih.
  5. Dr. Irham Suheimi, SpOG
    Karena gagal ke Dr. Ivan, akhirnya saya mampir kesini. Dokternya ramah dan baik. Beliau juga tidak suka membuat pasiennya cemas, bahasanya selalu menenangkan pasien. Dr. Irham merujuk saya untuk melakukan berbagai test: HSG, Hormon, TORCH, dan pemeriksaan sperma untuk suami. Dari hasil test HSG diketahui kedua tuba saya paten tapi saya ada perlengketan dinding rahim. Hasil test hormon saya juga diketahui bahwa prolaktin tinggi sehingga susah hamil. Tapi Dr. Irham membesarkan hati saya bahwa perlengketan rahim itu tidak mengganggu dan prolaktin tinggi bisa juga disebabkan karena stress pada saat ambil darah di lab (kebetulan memang saya orangnya takut jarum suntik sih). Dokter hanya kasih vitamin buat saya dan suami, kebetulan hasil test sperma suami juga ga bagus. Disuruh coba program normal dulu beberapa bulan.
  6. Dr. Budijanto Chandra, SpOG
    Saya ke dokter ini atas rekomendasi saudara ipar saya yang selama hamil sampai melahirkan selalu konsul sama dokter ini. Kalau saudara ipar saya ga punya masalah dengan hamil, ga perlu program hamil juga bisa hamil alami. Teman-teman saya yang orang Tangerang saya lihat juga banyak yang konsul sama dokter ini selama kehamilan sampai melahirkan. Tapi berdasarkan pengamatan saya terhadap saudara ipar dan teman-teman saya yang melahirkan sama dokter ini koq caesar semua ya?
    Saya kurang sreg sama dokter ini karena terkesan menakuti pasien dan matre. Saat saya berkunjung kesini, saya sedang hari haid ke-12 alias saat masa subur. Saya bawa hasil test saya dan suami dari RS Bunda Jakarta juga. Beliau mengatakan ketebalan rahim saya terlalu tebal (tidak normal) ditambah masalah perlengketan rahim saya dan kualitas sperma suami yang tidak bagus menyebabkan peluang saya hamil normal sangat kecil. Beliau langsung merujuk saya untuk inseminasi buatan atau bayi tabung, bahkan beliau merujuk saya pada rekan dokternya di Surabaya yang ahli dalam bayi tabung. Beliau juga menyarankan saya untuk kuret (dikerok) supaya dinding rahim saya normal ketebalannya. Pulang dari situ saya langsung nangis karena vonis seperti itu di hari pertama saya konsul. Saya cuma 1 kali saja konsul ke dokter ini. Pas siklus haid berikutnya, hari-3 haid, saya berkunjung ke Dr. Irham untuk minta second opinion. Kata Dr. Irham ketebalan rahim saya normal. Kalau hari ke-12 haid atau saat masa subur itu dinding rahim memang lebih menebal untuk persiapan kehamilan apabila ada sel telur yang berhasil dibuahi. Untuk opsi Inseminasi atau bayi tabung menurut dokter nanti aja pas usia pernikahan udah lebih dari 3 tahun. Dr. Irham merujuk suami saya untuk pergi ke dokter andrologi untuk memperbaiki kualitas spermanya.
  7. Dr. Taufik Jamaan, SpOG
    Saya bertemu dengan dokter ini secara tidak sengaja. Setelah saya di vonis tidak bisa hamil secara normal, saya jadi malas konsul ke dokter kandungan. Periode ini berlangsung lebih dari 6 bulan lamanya. Hingga suatu saat saya mendapatkan semangat saya kembali untuk mengunjungi dokter kandungan kembali bertepatan dengan hari ke-3 haid saya. Saat itu, sekitar bulan Oktober 2015, saya datang langsung ke Bunda International Clinic / BIC (RS Bunda Group) tanpa membuat janji temu sama sekali. Saya tiba di BIC sekitar jam 3 sore dan saat saya menanyakan siapa dokter kandungan yang praktek, resepsionis menyebutkan nama dokter ini. Tanpa pikir panjang saya pun datang ke ruang praktek beliau. Dari beliau ini lah saya mendapatkan info bahwa ada kemungkinan dinding rahim saya lengket karena saya ada riwayat sakit paru (Saya pernah sakit paru-paru basah atau biasa disebut pneumonia dalam dunia kedokteran pada tahun 2008) (selain itu kuret juga bisa jadi penyebab dinding rahim yang lengket, tapi saya belum pernah dikuret). Pada saat diUSG Transvaginal, dokter menyatakan jumlah telur saya sedikit (cuma ada 1), Idealnya tiap siklus haid ada masing-masing 3 telur di folikel kiri-kanan. Kemudian saya dirujuk untuk test hormon AMH, FSH, LSH, Prolaktin dan Estradiol. Hasilnya AMH saya rendah dan FSH-LH juga angkanya tidak bagus. Faktor usia juga berpengaruh terhadap telur ini sehingga saya dikasih resep vitamin untuk telur untuk 1 bulan. Saya disuruh dokter untuk coba program hamil alami 1-2 siklus dulu, setelah itu baru disarankan inseminasi atau bayi tabung. Selain di RS Bunda Group, Dr. Taufik ini juga praktek di RSIA Hermina Jatinegara yang biaya konsul dokternya tidak semahal di RS Bunda Group. Bisa beda hampir setengahnya lho untuk biaya konsul dokter dan USG-nya. Untuk program inseminasi akan saya ceritakan di post berikutnya ya.

Review di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya, mungkin tidak semua orang mengalami seperti cerita saya di atas. Saat ini saya masih “setia” di Dr. Taufik, tapi tidak menutup kemungkinan saya berganti dokter lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s