Story Of My Life

48 Purnama

Sebenarnya ini late post banget ya.. anniversary-nya bulan Mei tapi baru ditulis sekarang di blog, hahaha. Entah kenapa banyak banget yang mau ditulis tapi pas mau nulis ga keluar ide. Alhasil tulisannya jadi pending lama begini. Tapi gapapa deh.. yang penting ada kenangannya disini, hehe.

Ga kerasa sudah megarungi biduk rumah tangga selama 48 purnama alias 4 tahun! Jadi ingat perjuangan menikah di tahun-tahun pertama setelah LDR (Long Distance Relationship). Tiap bulan kayaknya selalu berantem, sampai saya nangis-nangis. Sampai kepikiran mau pulang ke rumah orang tua di Samarinda. Penyebab berantem? Sungguh hal sepele! Mulai dari suami yang terlalu cuek, kurang inisiatif membantu urusan kebersihan rumah, ngediamin istrinya saat lagi ngambek dan kesal, trus istri yang sebenarnya ngomongnya biasa aja tapi disangka marah-marah oleh suami (kayaknya karena logat daerah deh, hehe), dan hal-hal sepele lainnya yang kalau diingat-ingat ke belakang rasanya konyol banget mengingat sebenarnya saat menikah dulu kami sudah tidak muda lagi. Saya 29 tahun dan suami 31 tahun. Tapi dulu kami memang sama-sama keras kepala dan egois. Maklum lah anak rantau dan anak pertama pula dan terbiasa menghadapi hidup yang keras di Ibukota ini, hahaha. Drama masa penyesuaian pasca menikah seperti ini berlangsung sampai 2 tahun pertama. Jadi sesungguhnya orang yang bilang pernikahan tahun pertama itu sungguh indah dan romantis, sepertinya tidak berlaku untuk rumah tangga kami.

Menginjak pernikahan tahun ke-3, semua berasa indah! Setelah menurunkan tingkat keegoisan dan keras kepala masing-masing, kami merasa kami menemukan soul mate di pasangan kami masing-masing. Betapa kami sudah melalui banyak hal bersama-sama dan hal ini yang membuat kami lebih solid sebagai pasangan. Pertengkaran hampir tidak ada, kalau ada pun saya udah ga ingat kapan terakhir kami bertengkar, haha. Dengan kestabilan rumah tangga seperti ini, kami jadi lebih kepikiran untuk punya anak. Kalau dulu mah boro-boro. Saya takut punya anak kalau kami masih sering bertengkar karena egois gitu. Kalau ada apa-apa dengan rumah tangga kami kan kasian anaknya nanti. Tapi ternyata rejeki kami untuk punya anak belum ada di tahun ke-3 ini. Perjuangan TTC (Trying To Conceive) kami bisa dibaca di tulisan terpisah.

Tahun ke-4 ini kami merasa kami sudah naik ke level yang lebih tinggi lagi dalam mengenal pasangan. Tanpa dia bilang aja, saya sudah tau kalau dia lagi marah atau kesal atau bete. Dia juga lebih inisiatif dalam membantu urusan rumah tangga (sekarang udah bisa bantu cuci baju, jemur baju, cuci piring dan rapiin ranjang lho). Saya juga sudah tau gimana cara ngomong yang enak didengar oleh suami. Kami lebih terbuka satu sama lain tentang apa yang kami suka dan apa yang tidak disuka. Udah ga jamannya lagi ribut karena hal sepele. Kami semakin merasa kalau kami saling melengkapi satu sama lain. Tahun ini kami masih berkutat dengan usaha TTC kami, semoga ada rejeki yang lebih baik di tahun ini.

Perjalanan rumah tangga ini memang masih lah panjang. Harus belajar terus tanpa henti. Semoga kami bisa tetap solid sebagai pasangan dan orang tua kelak. Aminnn!! Sekedar tips buat yang akan memulai kehidupan rumah tangga. Hal major seperti persamaan agama / prinsip hidup dan kemapanan ekonomi itu penting menurut saya untuk menghindari pertengkaran fatal di dalam rumah tangga. Kalau agama kita dengan pasangan berbeda, saat kita mengalami problem di dalam rumah tangga kita akan memiliki 2 sudut pandang yang berbeda dan mungkin masing-masing akan mempertahankan apa yang menurutnya terbaik dan paling benar. Yang ada sih kalau begini, problem yang awalnya sepele malah jadi besar. Bahaya deh. Trus, pikirin juga soal anak kita nanti yang pasti bingung melihat orang tuanya menjalani kehidupan beragama yang berbeda. Tentang kemapanan ekonomi, besarannya sih relatif bagi tiap-tiap pasangan. Tapi intinya kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan itu harus terpenuhi. Kalau kebutuhan pokok terpenuhi dengan baik, baru deh kita bisa naik ke level berikutnya. Logikanya sih gimana kita mau totalitas mencintai rumah tangga dan pasangan kita kalau kita berdua masih sibuk mikirin urusan perut (makanan), duit makan cukup atau ga sampai akhir bulan nanti. Kalau urusan perut belum tercukupi dengan baik, pasti bikin emosian dan bikin ribut sama pasangan deh (pengalaman pribadi, kalau lapar jadi emosian, hahaha). Banyak lho pasangan yang memutuskan berpisah karena urusan ekonomi ini. Jadi jangan dianggap remeh ya soal kemapanan ekonomi ini.

Back to our wedding anniversary. Kalau tahun-tahun lalu biasanya kami merayakan anniversary dengan liburan, tahun ini kami merayakannya di Jakarta aja. Karena ini hari yang spesial buat kami, kami merencakan hal-hal yang juga spesial, diluar kebiasaan kami sehari-hari. Diawali dengan lunch date di Wyl’s Kitchen yang terletak di Veranda Hotel di daerah Pakubuwono, Jakarta. Kami memilih tempat ini karena menyajikan menu makanan Indonesia (ada juga menu western food-nya) dengan plating yang keren kemudian suasanya resto-nya cozy, warm dan ada pemandangan pool. Tema resto-nya juga vintage lucu gitu. Intinya sih enak buat nongkrong dan makan-makan. Saya memilih menu Nasi Kuning Wyl’s Kitchen (Indonesia Food) dan suami memilih menu Grilled Salmon with Cherry Yoghurt Sauce (Western Food). Nasi kuningnya enaaak! Kalau menu salmonnya saya kurang suka sih. Habis main course kami memesan Espresso Panna Cotta. Enak juga rasanya. Oiya, karena kami datang pas weekend, ada minimun charge per orang Rp. 150.000 (after tax) dan waktu nongrongnya dibatasi hanya 90 menit.

IMG_20160521_125119
Nasi Kuning Wyl’s Kitchen
IMG_20160521_125614
Grilled Salmon with Cherry Yoghurt Sauce
IMG_20160521_132315
Espresso Panna Cotta
IMG_20160521_123913
Wyl’S Kitchen (Sungguh saya naksir Kitchen Set-nya!)
IMG_20160521_123944
Pool View From The Restaurant (tapi sayang banget lagi hujan, hehe)

Setelah selesai lunch, kami lanjut ke Pacific Place Jakarta. Kami merencanakan movie date film X-Men di Velvet Class CGV Blitz Megaplex. Karena masih suasana anniversary, boleh lah nontonnya agak mewah dikit, yang pakai bed, kalau hari biasa nontonnya yang hemat aja deh, hahaha. Hitung-hitung buat experience lah nonton begini. Tapi ternyata bed-nya ga terlalu empuk menurut saya dan agak pendek juga jadi kita ga bisa tiduran flat full body gitu (padahal tinggi saya cuma 162 cm). Harga nonton disini mahal juga, yaitu Rp. 320.000 / bed (1 bed untuk 2 orang). Yang kerennya sih untuk velvet class ini ada executive lounge-nya sendiri. Dikasi minum, snack dan ada sofa bed plus TV. Ada toiletnya tersendiri dan saya mendapati hand wash dan hand lotion di toiletnya merk L’Ocittane yang mahal itu lho! Wow.. udah kaya di hotel berbintang aja, hehe. Habis nonton kami dinner dulu di Kafe Betawi Pacific Place kemudian lanjut pulang ke Tangerang.

IMG_20160521_170517
Sofa Bed at Velvet Lounge
IMG_20160521_170816
Our Velvet Bed
IMG_20160521_170922
Movie Date at Velvet Class

Anniversary gift tahun ini adalah sepatu Skechers GO Walk 3. Suami dan istri kompakan beli Skechers, hahaha. Mahal sih (harganya hampir mendekati 1 juta Rupiah) tapi enak dan empuk buat jalan. Saya aja yang biasanya jalan jauh sampai encok di punggung jadi ga sakit punggung lagi lho. Mantap deh teknologi GO Walk 3 ini. Ga nyesal beli mahal-mahal. Terima kasih pak suami untuk kadonya! I love youuu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s