Try To Conceive

Visiting Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) in Penang

Ada salah satu pembaca blog saya yang meminta saya untuk segera posting tulisan tentang kunjungan saya ke Loh Guan Lye bulan Juni kemarin. Setelah sekian lama akhirnya baru sekarang bisa direalisasikan. Kalau kalian ada yang nanya kenapa posting tulisan begini aja perlu waktu lama sih? Well, karena buat saya, menulis itu butuh waktu, ide dan semangat. Butuh keberanian juga secara mental untuk membuka “aib” yang seharusnya saya keep sendiri bersama suami. Belum lagi saya harus mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk membuat detail tulisan ini, hehe. Tapi semua akan saya share disini bukan karena mau cari perhatian ataupun belas kasihan, melainkan saya berharap tulisan ini bisa memberikan informasi buat teman-teman diluar sana yang sedang berjuang untuk mendapatkan buah hati seperti saya.

Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan ke Penang karena banyak review ibu-ibu yang merasa sudah capek bolak-balik berobat di negeri sendiri tapi tak kunjung membuahkan hasil kemudian berobat ke Penang dan ternyata berhasil. Selain itu dari segi lokasi, Penang ga jauh dari Jakarta. Bahasa yang digunakan pun, yaitu bahasa Melayu juga mirip dengan Bahasa Indonesia. Dari segi nilai tukar mata uang juga ga begitu jauh, yaitu 1 Ringgit = 3.300  – 3.700 Rupiah (Saat ke Penang bulan Juni 2016 kemarin saya dapat nilai tukar 1 Ringgit = 3.330 Rupiah oleh karena itu untuk hitungan cost dibawah akan saya konversi ke Rupiah sesuai nilai tersebut). Beda banget kalau kita ke Singapore yang dimana 1 Singapore Dollar = 10.000 Rupiah. Bisa miskin mendadak deh kalau ke Singapore, hehe. Jadi dengan pertimbangan-pertimbangan itu, menurut saya berobat ke Penang masih feasible lah.

Dari yang saya baca, orang-orang yang berhasil itu kebanyakan berobat ke dokter Ng Peng Wah di Lam Wah Ee Hospital (LWEH). Akan tetapi yang membuat saya urung ke rumah sakit dan dokter itu adalah konon dokternya moody dan galak, belum lagi para suster disana yang ga bersahabat dan jutek. Maklum saja karena pasien di rumah sakit itu banyak banget, bakal ngantri cukup lama sampai kita bisa konsultasi ke dokternya. Kalau diibaratkan dengan rumah sakit disini, LWEH itu seperti Rumah Sakit Umum (RSU) milik pemerintah sehingga dari segi biaya lebih murah daripada Rumah Sakit (RS) swasta. Pasien orang Indonesia yang berobat ke sini banyak banget, mostly untuk tujuan bayi tabung (IVF).

Selain LWEH, ada beberapa review positif juga tentang Loh Guan Lye Specialist Center (LSC). Blogger favorit saya, Alodita, juga sukses bayi tabung disana dengan dokter Devindran walaupun kondisi tuba-nya bermasalah. Banyak yang merasa puas dengan pelayanan dokter dan staff di rumah sakit tersebut. Memang dari segi biaya lebih mahal sedikit daripada LWEH, tapi kan ada harga ada rupa. Pasiennya juga ga antri banget seperti di LWEH. Setelah konsultasi dengan suami pun, dia lebih setuju saya konsultasi ke LSC daripada LWEH. Singkat kata akhirnya kami berangkat ke Penang untuk konsultasi ke dokter Devindran di LSC sekaligus jalan-jalan 🙂 Untuk urusan jalan-jalannya bisa dibaca di post saya sebelumnya “Wisata ke Penang (5D/4N)”.

Sebelum berangkat ke Penang, saya mendaftarkan diri saya dan suami ke LSC Representative Office Jakarta. Saya contact adminnya via BBM kemudian dia mengirimkan formulir biodata yang harus saya isi dan kirim kembali by e-mail. Jadwal berangkat ke Penang disesuaikan dengan jadwal mens saya. Saya pengen konsul ke dokter bertepatan dengan mens hari ke-2 saya.Waktu itu saya bikin appointment dengan dokter untuk tanggal 6 Juni 2016, akan tetapi ternyata jadwal mens-nya agak mundur jadi tanggal 7 Juni 2016 sore dan saya harus balik ke Jakarta tgl 8 Juni 2016 malam.

7 Juni 2016 

Saya datang ke LSC pagi dengan kondisi belum mens saat itu. Kata suster dan staff-nya sih gapapa datang konsultasi pertama pas belum mens. Awal datang saya registrasi dulu di meja reception dengan menyerahkan paspor saya dan suami. Karena data saya sudah terdaftar via LSC Representative Office Jakarta, proses registrasi berlangsung cepat dan kemudian saya disuruh antri di ruangan tunggu dokter Devindran. Ruangan tunggu yang dekat dengan ruang dokter-nya agak kecil, tempat duduknya terbatas, tapi diluar ruangan itu banyak tempat duduk-nya. Saya dan suami memilih duduk di luar. Kondisi RS bersih dan nyaman. Sinyal handphone (saya beli nomor lokal Penang dengan provider Digi begitu sampai di Bandara Penang) agak susah disini tapi tersedia layanan free wifi. Saya menunggu sekitar 40 menitan sebelum masuk ke ruangan dokter.

Dokter Devindran adalah orang keturunan India. Dokter Devindran memiliki beberapa gelar pendidikan, yaitu MBBS (Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery dari universitas di Malaysia), MOG (Masters of Obstetrics & Gynaecology dari Universiti Kebangsaan Malaysia / UKM) dan FRCOG (Fellow of the Royal College of Obstetrics & Gynaecology di London). Ruangan dokternya luas dan hebatnya lagi dokter tidak mencatat medical record kita di buku atau kertas, tapi langsung di komputer menggunakan pen digital. Semua bagian di RS ini terintegrasi dengan sistem online jadi benar-benar less-paper.

Saya membawa medical record saya dari Indonesia dan dokter pun melakukan USG transvaginal (sekaligus paps smear karena tahun ini saya belum cek paps smear). Menurut dokter Devindran masalah saya adalah sel telur yang sedikit, terlihat dari nilai test hormon AMH yang rendah. Fyi, selama berobat di Jakarta ga ada dokter yang menekankan masalah AMH saya ini. Saya baru disuruh cek AMH ketika akan melakukan Inseminasi Buatan dengan dokter Taufik Jamaan di RS Bunda Jakarta. Saat itu dokter Taufik memberikan pilihan ke saya untuk coba Inseminasi Buatan atau IVF dan saya memilih coba Inseminasi Buatan (Baca post saya: “Inseminasi Buatan / IUI”). Untuk info lebih jelas tentang hormon AMH ini silakan baca juga tulisan saya: “The Biological Clock is Ticking..”. Jadi menurut dokter kesempatan saya untuk hamil alami kecil sekali ditambah dengan sperma suami yang kualitasnya kurang bagus. Inseminasi Buatan / IUI juga ga akan berguna karena teknologi-nya terbatas dan tidak bisa melihat kualitas sel telurnya sementara untuk kasus saya ini ditakutkan selain jumlah sel telurnya yang sedikit, ditakutkan kualitasnya juga tidak bagus sehingga mempengaruhi pembuahan di dalam rahim. Dokter menyarankan saya untuk secepatnya melakukan bayi tabung / IVF karena takutnya nilai AMH saya akan terus turun seiring dengan pertambahan usia. Dokter memberikan pengantar kepada saya dan suami untuk melakukan test lab ulang di LSC karena menurut dokter ada beberapa parameter hasil test di Jakarta yang sudah tidak update seperti hasil test sperma suami dan menurut dokter ada perbedaan pengukuran lab untuk hormon AMH antara lab di LSC dan di Indonesia (Lab Prodia RS Bunda). Selain itu juga dilakukan screening standar IVF yaitu pemeriksaan darah terhadap penyakit kelamin Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb), Rubella IgG, golongan darah dan rhesus, serta full blood count. Kami disuruh kembali lagi besok pagi untuk melihat hasil test lab-nya.

Sebelum melakukan test lab kami melakukan pembayaran terlebih dahulu di kasir RS. Proses pengambilan sampel darah dan sperma berlangsung cepat dan lancar. Setelah selesai urusan lab, kami makan dulu di kantin RS. Harga makanan disini terjangkau banget dan rasanya juga enak. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Medical Costs (Include GST)

  • Suami
    – Administrative fee = RM 1
    – Laboratory services (Pemeriksaan golongan darah dan rhesus, Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb)) = RM 271,3
    – Assisted Reproductive Technology (Test sperma) = RM 90
    Total = RM 362,3 = Rp. 1.206.459
  • Saya (Istri)
    Hospital Charges:
    – Ultrasound machine use = RM 10
    – Registration fee for new patient = RM 13,78
    – Medical Supplies (seperti penggunaan gloves, condom, lubricant saat USG transvaginal) = RM 26
    – Laboratory Services (Pemeriksaan golongan darah dan rhesus, full blood count, Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb), Rubella IgG, AMH dan Paps smear) = RM 639,6
    Total = RM 689,38 = Rp. 2.295.635Doctors Charges:
    – Procedure (Paps Smear) = RM 95,4
    – Prosedure ultrasound (USG Transvaginal) = RM 127,2
    – Consult fee new patient (regular hours) = RM 116,6
    Total = RM 339,2 = Rp. 1.129.536GRAND TOTAL = RM 1.028,6 = Rp. 3.425.238
  • TOTAL COST SUAMI + ISTRI = RM 1.390,9 = Rp. 4.631.697

Dikarenakan waktu itu bawa duit cash Ringgitnya kurang, akhirnya kami bayar pakai credit card, tapi metode pembayaran ini tidak disarankan karena setelah melihat tagihan credit card-nya bulan depan, kurs nilai tukar-nya ga bagus, hiks.

8 Juni 2016

Kami datang lagi ke LSC untuk ketemu dokter dan dibacakan hasil test lab-nya. Dari hasil lab, sperma suami masih tidak bagus dan termasuk kategori Asthenoteratozoospermia. Suami dikasih suplemen untuk meningkatkan kualitas sperma, yaitu Surbex Natopherol (isinya Vitamin E 250 I.U) dan Surbex Zinc (Isinya  Zinc, Vitamin E, C, B+ dan asam folat). Diminum sebelum prosedur IVF dengan harapan kualitas spermanya membaik. Screening syphilis, HIV dan Hepatitis hasilnya negatif alias tidak ada resiko penyakit tersebut. Untuk saya, hasil paps smear bagus, screening syphilis, HIV, Hepatitis, Rubella negatif alias tidak ada resiko penyakit tersebut, full blood count juga bagus. Untuk hasil AMH menyusul karena hasilnya baru keluar 3 hari lagi. Dikarenakan malamnya saya sudah harus balik ke Jakarta maka saya minta hasil test AMH saya dikirim by e-mail saja.

Kami disuruh bikin appointment untuk IVF dan kami memilih bulan Agustus 2016. Suster kemudian memberikan penjelasan mengenai prosedur IVF yang akan dilakukan. Saya disarankan dokter untuk mengikuti Antagonist Protocol. Estimasi biaya untuk Antagonist Protocol ini di LSC berkisar RM 15.000 dan belum termasuk tambahan biaya untuk Frozen Embrio sekitar RM 1.600 untuk 2 tahun. Prosedur IVF akan dimulai ketika saya mens hari ke-2. Oleh karena itu sebelum mens hari ke-2 saya sudah harus ada di Penang dan bikin appointment dengan dokter.

Medical Costs (Include GST):

  • Suami
    – Administrative fee = RM 1
    – Medication /Pharmacy charges = RM 153,8
    Total = RM 154,8 = Rp. 515.484
  • Saya (Istri)
    – Registration fee for follow up patient = RM 7,42
    – Doctor consult fee for follow up patient (regular hours) = RM 106
    Total = RM 113,4 = Rp. = 377.622
  • TOTAL COST SUAMI + ISTRI = RM 268,2 = Rp. 893.106

Pada post selanjutnya saya akan compare biaya program IVF di Penang dan Jakarta. Sebenarnya lebih murah IVF dimana sih? Banyak orang yang bilang kalau berobat ke Penang lebih murah daripada Jakarta dan jauh berkualitas dokternya.. Apa benar demikian? Nantikan post saya berikutnya yaa.. kita kupas tuntas masalah biaya IVF di Penang vs Jakarta.

Update:
Rencana kami untuk IVF bulan Agustus 2016 ini gagal alias harus ditunda dulu karena suami saya mengalami kecelakaan (lihat tulisan saya “Road Accident”). Kami berencana mulai program IVF setelah suami sembuh total dan sudah lepas alat bantu jalan-nya (gips kaki dan brace tulang belakang). Kalau sesuai jadwal sih akhir Oktober ini suami sudah benar-benar free dari alat bantu-nya 😉

Contact:

  • LSC Representative Office Jakarta
    BBM PIN: 5A31C1D8
    Telp. 021-5883848 / 088211573637
  • LSC Penang
    Telp. (604) 2388888
    E-mail: lsc@lohguanlye.com
    Website: www.lohguanlye.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s