Health & Beauty

Medical Check Up Di RS Siloam Lippo Village

Hai semua..

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, pada akhir Juli 2016 saya kedatangan keluarga saya dari Samarinda (Mama dan Papa) bertepatan dengan waktu suami saya keluar dari rumah sakit. Saya waktu itu memang ada niatan mau bawa Papa saya sekalian Medical Check Up (MCU) karena sudah setahun berselang dari MCU terakhir tahun 2015 di RS Carolus Serpong (waktu itu MCU-nya bareng-bareng saya, silakan baca: Medical Check Up Di RS. St. Carolus Summarecon Serpong).

Pada saat itu dengan alasan kepraktisan sekalian ngantar suami kontrol ke Dokter Spesialis Bedah Tulang-nya (rawat jalan setelah tragedi kecelakaan tgl 18 Juli kemarin, baca: Road Accident) yang ada di RS Siloam Lippo Village (SHLV) maka saya mendaftarkan Papa saya untuk MCU disana. Harga MCU di SHLV Karawaci Tangerang ini memang lebih mahal dibanding dengan RS St. Carolus Summarecon Serpong. Untuk paket basic-nya saja harganya sudah 900 ribu Rupiah. Dikarenakan Papa saya belum ada masalah kesehatan yang serius jadi saya mendaftarkan beliau untuk paket basic saja.

Hari Senin tanggal 1 Agustus 2016 berangkatlah kami ke SHLV (Suami, Saya, Papa, dan Adek saya). Papa sudah puasa dari semalam untuk pengambilan darah MCU ini sesuai dengan pesan dari petugas MCU saat pendaftaran by phone. Ruang MCU ini ada di lantai 5. Begitu keluar lift di lantai 5 kita akan melihat ruangan bernuansa warna coklat dengan tulisan “Executive Medical Check Up”. Lobby ruangannya mirip dengan hotel dan ada resepsionisnya. Kesan mewah sangat terasa di ruangan ini. Dalam hati saya: “Pantas aja harga MCU-nya lebih mahal daripada di RS St. Carolus” hehe.

Setelah mengisi data dan melakukan pembayaran, Papa saya dikasih kunci loker untuk menaruh barang-barangnya. Lagi-lagi ruangan lokernya juga bagus. Papa kemudian diarahkan suster untuk bertemu dokter MCU untuk pemeriksaan fisik kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel urine dan darah. Setelah pengambilan darah, Papa diarahkan menuju ruangan cafe (yang juga bernuansa hotel) untuk sarapan. Untuk paket MCU Basic sih cuma dikasih roti, tapi kalau yang paketnya lebih mahalan dapat makanan berat disini. Setelah itu Papa disuruh ke bagian Radiologi di lantai 2 untuk rontgen paru. Petugas MCU mengatakan kalau hasil MCU baru bisa diambil setelah 3 hari kerja. Pada saat pengambilan hasil kita juga bisa bertemu dengan dokter MCU untuk dibacakan hasilnya.

Kami datang kembali hari Kamis tanggal 4 Agustus ke SHLV untuk pembacaan hasil MCU Papa oleh dokter. Secara garis besar hasilnya bagus, hanya saja trigliserida dan kolesterol Papa lumayan tinggi kemudian ditambah hasil ECG-nya ada di ambang batas (antara baik dan buruk). Dikarenakan usia Papa sudah 60 tahun jadi dokter MCU menyarankan Papa untuk konsultasi ke dokter spesialis jantung dan melakukan USG jantung. Kata-kata dokter ini cukup membuat saya takut karena saudara-saudara Papa memang banyak yang punya riwayat peyakit jantung dan darah tinggi. Oleh karena itu tanpa ditunda-tunda saya langsung mendaftarkan Papa ke dokter spesialis jantung di SHLV hari itu juga.

Klinik Jantung SHLV ada di lantai 6. Ruangan-nya digabung dengan Klinik Otak & Syaraf. Lagi-lagi ruangannya juga bernuansa warna coklat dengan standar hotel. Banyak kursi sofa empuk untuk pasien yang menunggu antrian. Saya mendaftarkan Papa ke dokter spesialis jantung yang saat itu sedang praktek, yaitu dr. Emanoel Eoepangat, Sp.JP. Kami hanya menunggu sebentar sebelum dipanggil suster untuk masuk ke ruangan dokter. Saat melihat hasil lab Papa dan juga hasil ECG-nya. Beliau mengatakan bahwa Papa tidak perlu melakukan USG jantung karena USG jantung biasanya untuk melihat fisik jantungnya ada kecacatan atau kerusakan apa. Papa lebih disarankan untuk melakukan ECG Treadmill untuk melihat di pembuluh darah-nya sudah ada penyumbatan atau tidak. Menurut dokter sih untuk orang dengan usia diatas 35 tahun sebaiknya melakukan ECG dengan treadmill. Kalau ECG biasa dilakukan saat posisi tubuh berbaring dan rileks sedangkan kalau ECG treadmill kita bisa melihat respon gerakan jantungnya saat diberikan beban olahraga. Menurut dokter kebanyakan serangan jantung terjadi saat kita sedang beraktivitas, bukan saat kita santai. Papa kemudian dibawa suster ke ruang ECG treadmill yang ada di belakang ruangan dokter (ada di lantai 6 juga).

IMG_20160804_154857[1]
ECG Treadmill

Di ruangan ECG, Papa disuruh berganti pakaian dan tiduran kemudian suster memasangkan berbagai kabel-kabel di dada papa. Jadi untuk ECG treadmill ini akan diukur fase pre-treadmill (fase istirahat), fase excercise diatas treadmill (cuma 10 menit koq dengan kecepatan tertentu), dan fase pasca-treadmill (fase recovery). Lebih komplit lah intinya. ECG selesai dalam waktu sekitar 20 menit. Setelah print out hasil ECG selesai, Papa disuruh bertemu dengan dokter lagi (mumpung dokternya belum pulang, hehe). Dari hasil ECG treadmill, dokter mengatakan Papa belum ada penyumbatan pembuluh darah. Hanya saja karena trigliserida tinggi dan bisa menyebabkan plague (plak) di pembuluh darah (penyebab utama stroke) jadi dokter meresepkan obat untuk Papa selama 1 bulan yaitu Lipanthyl Penta.

So far saya cukup puas dengan dokter-dokter di SHLV ini. Saya merasa dokter-dokternya ga mata duitan jadi hanya melakukan tindakan kalau memang dibutuhkan saja. Buktinya Papa saya ga disuruh USG jantung karena dokter bilang ga perlu. Suami saya juga pas kecelakaan kemarin dan ada retak di ruas tulang belakang dan ankle-nya ga disuruh operasi karena menurut dokter retakannya ga sampe 50% volume ruas tulang. Saya sering banget dengar cerita keluarga saya yang berpengalaman buruk dengan dokter, disuruh tindakan ini-itu yang sebetulnya ga perlu, bikin habis duit aja intinya. Semoga ada dokter-dokter di SHLV ini tetap menjaga kualitasnya seperti ini 😉

Biaya ECG treadmill ini sekitar 500 ribu. ECG treadmill ini kalau dalam paket MCU biasanya ada di paket yang silver atau gold yang harganya jauh lebih mahal. Jadi bisa disiasati dengan ambil paket basic tapi minta upgrade jadi ECG treadmill, paling cuma nambah beberapa ratus ribu dibanding harus ambil paket silver yang harganya mencapai 2 juta. Tapi kalau memang ada masalah kesehatan serius yang harus dipantau rutin dan ada dana lebih juga, mungkin lebih bagus ambil paket silver atau gold. Intinya sih MCU itu perlu banget  minimal setahun sekali karena kalau ada penyakit bisa lebih awal ditangani, ga tunggu sampai parah. So, kalau lagi ada duit jangan dipake shopping semua, sebaiknya disisihkan untuk agenda MCU tahunan, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s