Try To Conceive

Another Insight About AMH Level

Setelah suami fully recovered dari kecelakaan, sesuai kesepakatan kami akan mulai program hamil lagi per bulan November 2016. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk program hamil di Bunda International Clinic (BIC) Jakarta saja. Langkah pertama yang kami lakukan tentu saja memilih dokter. Saya sengaja memilih dokter baru (tapi tetap yang berpengalaman dong), bukan dokter yang dulu-dulu. Alasannya ya supaya ada semangat, harapan dan pengetahuan baru dalam program kali ini, hehe.

Ada 3 kandidat dokter di BIC yang saya pilih saat itu: dr. Ivan, dr. Arie dan dr. Aryando (Nando). Untuk dr. Ivan karena jadwal beliau yang sangat padat bahkan sampai 3 bulan ke depan maka agak susah untuk saya mendaftar sebagai pasien baru beliau. Selain itu konon harga konsultasi dengan dr. Ivan ini lebih mahal dibandingkan dengan dokter lainnya (sekitar 1 juta per kali kontrol). Oleh karena itu kandidat tinggal dr. Arie dan dr. Nando. Dari portfolio profil dokter di website BIC, suami saya lebih sreg dengan dr. Arie karena kata dia dokternya lebih senior dan juga banyak review positif tentangnya. Oleh karena itu kami memutuskan untuk memulai program hamil kali ini dengan dr. Arie.

Kesan pertama tentang dr. Arie adalah ganteng, baik, ramah dan bersedia memberikan penjelasan apabila pasien bertanya (bahkan kadang saya merasa beliau menjelaskan seperti seorang dosen, haha). Poin terakhir itu penting lho, kadang ada juga dokter yang suka jutek kalau pasien-nya suka nanya-nanya. Saat konsul pertama saya sudah membawa rekam medis dan hasil lab terbaru saya dari Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) Penang.

Dokter agak kaget meliat level AMH (Anti-Mullerian Hormone) saya yang rendah: Hasil test lab di Prodia 0,3 dan di LSC 0,99 (Beda hasil karena beda metode pengukurannya). Padahal menurut dokter, wanita seumur saya, 33 tahun, seharusnya AMH-nya 1-2. Menurut dokter, AMH ini menyatakan jumlah cadangan sel telur di ovarium, semakin rendah nilai AMH maka cadangan telurnya sedikit. Pembentukan sel telur seorang wanita dimulai dari saat dikandung oleh ibu-nya. Saat lahir semua wanita memiliki 1-2 juta sel telur dan saat usia puber (masuk usia menstruasi) sel telur menyusut jadi sekitar 400 ribu. Stok tersebut tidak akan bisa diproduksi lagi dan setiap siklus menstruasi akan mengurangi jumlah cadangan sel telur tersebut. Setelah sel telur habis maka wanita tersebut akan mengalami menopause. Oleh karena itu wanita dengan AMH rendah akan lebih cepat mengalami menopause dini dibandingkan wanita normal. Menurut dr. Arie, gaya hidup seorang  wanita akan sangat menentukan sisa cadangan sel telurnya. Wanita yang merokok, suka minum minuman beralkohol dan yang lingkungan tempat tinggalnya banyak pencemaran atau radiasi disinyalir akan mengurangi secara drastis jumlah sel telurnya. Bahkan dr. Arie juga bercerita bahwa banyak kasus dokter radiologi yang masih muda secara usia, level AMH-nya lebih rendah dari saya. Hal itu disebabkan tingginya paparan radiasi di lingkungan kerjanya.

Saya pun kemudian menceritakan ke dr. Arie kalau dulu sebelum menikah saya pernah kerja di pabrik kantong plastik selama 5 tahun. Saya kerja sebagai PPIC (Production Planning and Inventory Control) yang mengharuskan saya juga terjun ke lapangan produksi walaupun memang tidak sepanjang hari di area produksi. Saat itu perusahaan tempat saya bekerja tidak melengkapi karyawan yang ke lapangan dengan safety tools seperti masker. Kata dokter, hal tersebut bisa jadi salah satu penyebabnya AMH saya rendah. Padahal dari sekian banyak karyawan pabrik, rasanya mereka sehat-sehat aja reproduksinya deh. Mungkin tubuh saya aja yang lemah kali ya, jadi rasanya ga bisa juga menyalahkan pabrik plastik tersebut. Ga ada pula yang perlu disesali. Sekarang tinggal bagaimana mengatasi hal ini aja.

Penjelasan dr. Arie ini agak sedikit berbeda dengan dr. Devindran yang seakan menyebutkan kalau AMH rendah ini semacam bawaan lahir dan tiap wanita dilahirkan dengan jumlah sel telur berbeda-beda. Persamaan kedua dokter ini adalah menyebutkan bahwa there is nothing we can do anymore to increase AMH level, jadi ya terima nasib aja kalau jumlah cadangan sel telurnya tinggal sedikit. Tinggal gimana kita maintain dan mengusahakan sisa sel telur ini supaya bisa jadi embrio yang bagus. Keduanya juga sama-sama mengatakan best chance kasus saya ini untuk bisa hamil adalah dengan IVF (bayi tabung). Jadi untuk orang-orang diluar sana yang suka nyinyir dengan wanita IVF, semoga mereka bisa mengerti kalau ikut IVF itu bukan karena sok kebanyakan duit, bukan keinginan sendiri juga tapi karena sudah ga ada pilihan lain secara medis. Siapa juga sih yang pengen bayar mahal-mahal untuk suatu tindakan medis yang menurut saya prosesnya tidak nyaman dan melelahkan kalau bukan karena terpaksa? Suka sedih deh dengan orang-orang yang berpikiran sempit diluaran sana.

Buat teman-teman seperjuangan, terus semangat ya! Semoga perjuangan kita ini akan membuahkan hasil yang sepadan nantinya. Amiinnn. Eh saya senang banget lho dari tulisan saya di blog ini tentang AMH rendah saya jadi punya teman-teman baru yang ternyata senasib dengan saya. I’m not alone! Ada juga teman-teman yang AMH rendah berbagi cerita ke saya kalau mereka sudah berhasil hamil dengan program IVF-nya. I’m so happy for you! Selalu ada harapan saat kita berusaha, jadi jangan pernah berhenti berusaha selagi kita mampu 🙂

Iklan

One thought on “Another Insight About AMH Level

  1. Haloo, salam kenal liza. Saya Mellisa, aku jg amh low.. Bisa bagi alamat group dengan same case with us? Happy sharing ya.. Thanks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s