Travel Journal

Rental Travel Wi-Fi

Saya harap teman-teman pembaca tidak bosan melihat tulisan blog saya yang berturut-turut dalam minggu ini. Mumpung lagi ada semangat dan ide menulis jadi saya berusaha untuk terus produktif. Dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang rental travel wi-fi. Review dalam tulisan ini adalah murni dari pengalaman pribadi saya sebagai pengguna travel wi-fi tanpa ada sponsor dari pihak manapun. Tulisan ini sedikit banyak masih membahas tentang liburan saya ke Singapura (4D/3N) kemarin bersama kedua orang tua dan adik saya. Silakan membaca cerita detailnya di postingan sebelumnya.

Kalau biasanya saat travel berdua bersama suami kami tidak terlalu peduli dengan kebutuhan wi-fi dan cenderung jadi fakir wi-fi yang mencari wi-fi gratisan saat berada di bandara, hotel, restoran dan pusat perbelanjaan atau bahkan pinjam wi-fi punya teman seperti saat kami liburan ke Jepang sebelumnya, maka kali ini saat memutuskan untuk mengajak kedua orang tua dan adik saya liburan ke Singapura saya merasa perlu untuk memfasilitasi liburan ini dengan travel wi-fi. Alasannya simple saja, adik saya sebagai generasi kids zaman now sangat bergantung pada internet untuk eksis di media sosial. Orang tua saya pun lagi senang-senangnya melakukan chatting, browsing, voice call dan video call dari handphone masing-masing. Kalau saya, travel wi-fi saya perlukan untuk navigasi supaya tidak nyasar ke tempat tujuan. Maklumlah posisi saya dalam Singapore family trip kemarin adalah sebagai tour guide.

Awalnya saya agak bimbang mau memilih beli sim card negara yang bersangkutan atau sewa travel wi-fi. Rencananya saya mau membeli 2 sim card saja dan sisa personil lain yang tidak kebagian sim card melakukan akses internet lewat tethering saja. Akan tetapi tethering seperti ini bisa menjadikan baterai handphone cepat drop karena sebagai wi-fi hotspot handphone tersebut akan memancarkan sinyal terus-terusan. Selain itu, paket internet yang ditawarkan pun berbatas kuota harian. Kita tidak bisa sepenuhnya bebas menggunakan internet. Dari segi harga pun, kalau belinya dalam jumlah banyak alias sejumlah peserta yang ada (lebih dari 2 orang) maka kalau dihitung-hitung harganya bisa jauh lebih mahal daripada rental travel wi-fi. Beli sim card mungkin akan lebih menguntungkan kalau kita single traveller. Saat kemarin survey sim card untuk travel ke Singapura, saya dapat harga Rp. 143.300 untuk 1 buah sim card Singtel hi!Tourist di Traveloka. Fisik sim card-nya baru bisa diambil saat kita landing di Changi Airport Arrival Hall Level 1 Terminal 1/2/3 dengan menunjukkan paspor kita.

Untuk group traveller dengan jumlah orang lebih dari 2, opsi rental travel wi-fi menjadi pilihan yang terbaik. Travel wi-fi biasanya memberikan fasilitas kuota unlimited dan 1 modem wi-fi bisa di-share untuk maksimum 8 devices. Kita pun tidak perlu khawatir baterai handphone kita jadi cepat drop. Saya sempat survey ke beberapa tempat rental travel wi-fi sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan saya. Perbandingan yang saya berikan dibawah ini adalah untuk negara tujuan Singapura.

  • Traveloka
    – Harga sewa travel wi-fi (Singapura) adalah Rp. 95.500 per hari.
    – Minimum penyewaan adalah 1 hari.
    – Pengambilan dan pengembalian modem wi-fi dilakukan di Changi Airport Arrival Hall Level 1 Terminal 1/2/3.
    – Butuh deposit SGD 200 (refundable) yang proses pembayaranya dilakukan dengan credit card. Tidak menerima cash atau debit.
    – Proses transaksi dengan menggunakan aplikasi Traveloka di handphone akan memberikan diskon lebih.
    Websitehttps://www.traveloka.com/en/
  • Tripvisto
    – Harga sewa travel wi-fi (Singapura) adalah Rp. 82.500 (belum termasuk asuransi) dan Rp. 530.000 (termasuk asuransi) per hari. Asuransi ini berguna untuk klaim kehilangan atau kerusakan modem.
    – Minimum penyewaan adalah 1 hari.
    – Pengambilan dan pengembalian modem wi-fi dilakukan di Changi Airport.
    – Untuk jumlah deposit tidak dicantumkan di website.
    Websitehttps://www.tripvisto.com/
  • Wi2fly
    – Harga sewa travel wi-fi (Singapura) adalah Rp. 69.000 per hari.
    – Minimum penyewaan adalah 1 hari.
    – Pengambilan dan pengembalian modem wi-fi dilakukan di Indonesia (sebelum keberangkatan dan sesudah kepulangan kita).
    – Ongkos kirim modem wi-fi ditanggung oleh penyewa. Apabila menggunakan kurir resmi Wi2Fly untuk area Jakarta dikenakan ongkos Rp. 20.000. Apabila terpaksa menggunakan kurir ojek online (Wi2Fly kerja sama dengan Grab) karena kurir resmi Wi2Fly sudah penuh jadwalnya, ongkos disesuaikan dengan tarif ojek online per km.
    Deposit adalah Rp. 1.200.000 (refundable). Uang deposit di transfer ke rekening Wi2Fly.
    Websitehttps://wi2fly.com/id/wifi
PhotoGrid_1509087623089.jpg
Price List Rental Travel Wi-Fi Wi2Fly

Sebelum berangkat ke Singapura, saya mengunjungi pameran Wi2Fly di Mall Taman Anggrek tanggal 3 – 8 Oktober 2017. Saat pameran mereka memberikan promo lebih, diantaranya adalah potongan uang deposit dari Rp. 1.200.000 menjadi Rp. 700.000. Selain itu ada paket sewa wi-fi 3 hari Rp. 179.400 dan 6 hari Rp. 493.000 yang membuat harga sewa hariannya jadi jauh lebih murah. Hal ini lah yang membuat saya mantap memilih Wi2Fly dibanding para pesaingnya. Proses pemesanan pun tidak ribet. Tinggal isi form dan kemudian transfer uang deposit dan uang sewanya ke rekening Wi2Fly. Setelah itu kita tinggal mengatur kurir untuk pengambilan modem wi-fi H-1 sebelum keberangkatan dan kurir untuk pengembalian modem wi-fi H+1 sesudah kedatangan kita. Saat melakukan transaksi di pameran, saya hanya kebagian kurir resmi Wi2Fly untuk pengembalian saja sedangkan untuk pengambilan saya harus arrange ojek online sendiri. Proses pengambilan dan pengembalian modem wi-fi dilakukan di kantor Wi2Fly di Jakarta (daerah Sudirman). Selain di Jakarta, Wi2Fly juga punya kantor cabang di Surabaya dan Bali. Untuk calon pelanggan yang tidak berada di area Jakarta, Surabaya dan Bali, modem wi-finya akan dikirim dengan paket pos.

PhotoGrid_1509088721389.jpg
Paket Travel Wi-Fi dari Wi2Fly. Dapat Universal Adapter juga.

Saat menggunakan modem Wi2Fly di Singapura, performa jaringannya cukup oke. Jaringan 4G-nya membuat akses internet jadi lebih cepat. Bahkan saat di dalam MRT dan stasiun MRT sinyalnya pun tetap kencang. Baterai dari modem wi-fi-nya pun tahan lama, dari pagi sampai malam tanpa perlu di-charge. Saya baru akan charge modem-nya saat kembali ke hotel.

Satu-satunya kekurangan dari Wi2Fly yang saya temukan adalah dari segi customer service-nya. Telepon susah sekali masuk dan jarang diangkat. Chat juga lama dibalas. Untuk faster response lebih baik hubungi Wi2Fly via Whatsapp.

Proses pengembalian uang deposit dari Wi2Fly tergolong cepat. Dari tanggal pengembalian modem wi-fi ke kantor mereka, 4 hari kemudian uang deposit-nya sudah di-transfer ke rekening bank saya. Padahal saya diinfokan oleh staff-nya bahwa standar pengembalian uang deposit adalah 7-14 hari.

Selain Singapura, Wi2Fly juga melayani rental travel wi-fi untuk 50-an negara lainnya. Jadi silakan cek website mereka langsung saja ya. Kalau ada kesempatan travel lagi, saya tidak akan ragu lagi menggunakan layanan rental travel wi-fi dari Wi2Fly.

Iklan
Travel Journal

Tips: Travelling Abroad With Parents

Kalau postingan sebelumnya saya membahas tentang cerita jalan-jalan saya bersama orang tua dan adik perempuan saya di Singapura selama 4 hari 3 malam, maka kali ini saya mau berbagi tips untuk berlibur ke luar negeri bersama orang tua. Dalam konteks ini, definisi orang tua-nya adalah orang dengan umur diatas 55 tahun.

Sekedar informasi, Papa saya berumur 61 tahun dengan kondisi kesehatan yang cukup baik. Sedangkan Mama saya berumur 56 tahun dengan penyakit diabetes tipe 2 yang wajib mengkonsumsi obat-obatan dan suntikan insulin tiap hari dengan rutin. Kondisi orang tua saya masih bisa berjalan dengan baik tanpa alat bantu apapun hanya saja ritme jalannya sudah melambat dan lebih cepat capek daripada kita yang masih muda ini.

Kedua orang tua saya lumayan sering berlibur di dalam negeri tapi baru kali ini saya ajak untuk berlibur ke luar negeri. Tentunya pengalaman berlibur di dalam negeri beda dengan di luar negeri. Kalau liburan di negeri sendiri, kita lebih cenderung manja dan lebih memilih untuk naik kendaraan pribadi seperti taxi atau sewa mobil. Untuk menu makanan pun kita bisa pilih-pilih sesuai kesukaan kita dan berujung jadi wisata kuliner. Hal ini terjadi karena kemampuan finansial kita sesuai dengan living cost standar Indonesia. Sementara itu, kalau kita pergi berlibur ke negara lain yang jauh lebih maju dari Indonesia dengan pendapatan per kapita yang lebih tinggi belum tentu kita mampu menerapkan gaya berlibur seperti saat di dalam negeri karena apa-apa disana jauh lebih mahal. Hal itu lah yang terjadi saat liburan ke Singapura kemarin. Tidak ada gaya liburan yang manja tapi juga dibuat cukup nyaman bagi orang tua (sesuai standar kemampuan masing-masing).

Ini adalah kali pertama saya berlibur ke luar negeri bersama orang tua saya. Biasanya saya selalu bepergian dengan suami saya. Gaya liburan ke luar negeri saya dan suami adalah semi-backpacker yang cenderung hemat dan memiliki jadwal jalan-jalan yang padat. Tentunya saya tidak bisa menerapkan gaya liburan tersebut kepada orang tua saya. Jadi ini adalah tantangan untuk saya, bagaimana membuat orang tua tetap nyaman tapi tidak manja. Jangan sampai perjalanan pertama mereka ke luar negeri membuat mereka kapok dan tidak mau lagi, hahaha. So, saya sangat senang ketika perjalanan kemarin berjalan dengan baik dan orang tua saya tampak happy.

PhotoGrid_1509089381602.jpg
Papa dan Mama saya di dalam MRT Singapura

Berikut adalah tips dari saya untuk membuat perjalanan ke luar negeri yang cukup nyaman bagi orang tua:

  1. Penerbangan
    – Kalau masih ada pilihan, sebaiknya hindari penerbangan yang terlalu pagi atau terlalu malam supaya orang tua punya waktu yang cukup untuk beristirahat.
    – Kalau memilih penerbangan LCC (Low Cost Carrier) karena keterbatasan budget, sediakan makanan dan minuman yang cukup untuk orang tua di pesawat. Makanan dan minuman ini bisa beli di pesawat (akan lebih hemat kalau kita memesan makanan di awal saat proses booking tiket pesawat) atau bawa sendiri dari luar.
    – Disarankan untuk melakukan web check in supaya lebih besar chance-nya mendapatkan seat yang berdekatan di dalam pesawat. Duduk berdekatan ini penting sekali apabila orang tua kita tidak bisa berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan awak kabin atau penumpang lainnya.
    – Beli bagasi pesawat di awal saat booking tiket supaya lebih murah. Jumlah bagasi tidak perlu banyak-banyak, disesuaikan saja dengan jumlah hari liburannya. Saat saya berlibur bersama orang tua dan adik saya ke Singapura kemarin, total 4 orang dengan lama tinggal 4 hari 3 malam, saya hanya membeli bagasi 15 kg saat berangkat dan 20 kg saat kembali ke Indonesia. Selebihnya masuk kabin pesawat dengan menggunakan koper kecil ukuran kabin. Harap dicatat, untuk cairan, lotion dan aerosol dilarang untuk dibawa ke kabin. Masukkan ke dalam bagasi pesawat saja.
    – Jumlah koper yang dibawa jangan lebih dari jumlah orang dalam satu rombongan. Kemarin waktu ke Singapura saya hanya membawa 1 koper ukuran medium yang dimasukkan ke bagasi pesawat dan 2 koper kecil ukuran kabin.
  2. Penginapan
    – Lebih baik memilih hotel atau apartemen dibandingkan hostel saat membawa orang tua. Memang akan lebih mahal biayanya tapi tidak ada salahnya memberikan kenyamanan lebih untuk orang tua. Kalau tinggal di hostel, biasanya kamar mandi yang ada adalah kamar mandi umum atau sharing. Hal tersebut akan menyusahkan orang tua yang seiring pertambahan usianya akan lebih sering frekuensi buang air-nya dan bahkan terjadi saat malam hari. Pilihlah hotel atau apartemen yang sesuai dengan kemampuan budget.
    – Sering-sering buka website travel agent online seperti Traveloka, Agoda, Booking.com, dan lain-lain untuk mendapatkan promo harga spesial.
    – Pilih hotel atau apartemen yang lokasinya tidak jauh dari stasiun MRT atau bus stop supaya orang tua tidak terlalu jauh jalan kakinya.
    – Hotel dan apartemen yang dipilih juga sebaiknya dekat dengan pusat perbelanjaan dan juga tempat makan.
  3. Itinerary
    – Buat itinerary yang detail, catat jalur kendaraan umum yang akan digunakan untuk mencapai destinasi yang kita set: Untuk bus; catat nomor bus, nomor dan nama bus stop, dan jumlah bus stop yang dilewati sampai tujuan. Untuk MRT; catat jalur MRT, jumlah transit, nama stasiun MRT yang dituju dan nama exit di stasiun untuk sampai di tujuan. Orang tua kita sepenuhnya akan tergantung pada kita sebagai tour guide jadi pastikan jangan sampai tersesat ya, hehe.
    – Alokasikan waktu lebih panjang. Hal ini berguna untuk antisipasi jalan orang tua yang melambat karena kelelahan sehingga perlu waktu sejenak untuk duduk beristirahat.
  4. Meals
    – Alokasikan budget lebih untuk makanan (baik makan berat ataupun camilan) dan minuman. Berjalan kaki jauh setiap harinya membuat orang cenderung lapar terus. Cuaca yang panas juga membuat kita butuh minum lebih banyak. Dalam sehari kita bisa makan dan minum sampai 5-6 kali dimana 3 kali adalah makan berat dan 2-3 kalinya adalah camilan.
    – Kalau selera orang tua kita adalah makanan yang spicy, tidak ada salahnya membawa saus sambal sachet dari Indonesia karena belum tentu mereka cocok selera dengan makanan di negara orang.
    – Apabila tinggal di hotel yang tidak menyediakan sarapan dan hanya ada fasilitas kettle air panas (tidak diperkenankan memasak apapun), bawalah mie instan kemasan cup untuk alternatif sarapan. Selain itu kita bisa beli roti di bakery di tempat perbelanjaan dekat hotel (kalau ada) sebagai alternatif menu sarapan lainnya.
    – Untuk menghemat biaya beli air minum, biasakan mengisi air minum di botol sebelum berangkat dari hotel / apartemen. Air keran di hotel biasanya aman untuk diminum (pastikan ke staff hotel dulu ya) dan beberapa tempat di luar negeri menyediakan tap drinking water secara cuma-cuma. Jadi pastikan dalam tas kita selalu ada botol untuk diisi air minum ya. Kalau pas di jalan tidak ketemu tap drinking water terpaksa harus beli air mineral botolan yang harganya berkisar SGD 1-1,2 (kalau di Singapura) untuk ukuran botol 600 ml.
    – Kalau orang tua kalian pecinta teh dan kopi, sebaiknya bawa teh dan kopi favorit mereka dari Indonesia. Belum tentu mereka cocok selera dengan kopi dan teh disana.
    – Kalau orang tua kalian perokok dan negara yang kalian tuju punya regulasi ketat soal merokok, sebaiknya puasa merokok dulu selama di negara orang. Kemarin saat puasa merokok di Singapura, Papa saya membawa stok permen yang banyak untuk mengganti rokok sementara waktu. Harap diperhatikan juga, negara seperti Singapura melarang permen karet di negaranya. Jadi kalau sudah tahu begitu, jangan coba-coba untuk membawa permen karet masuk Singapura.
  5. Perlengkapan lainnya
    – Pastikan orang tua kita sudah membawa paspor dan kelengkapannya di tas-nya sebelum berangkat ke bandara. Kita harus ingatkan berkali-kali supaya mereka tidak lupa.
    – Selain obat yang wajib dikonsumsi rutin, sebaiknya kita juga bawa obat tambahan: Obat diare, obat masuk angin, paracetamol, obat maag, dan vitamin untuk menambah daya tahan tubuh. Selain itu bawa juga obat oles krim untuk nyeri otot dan nyeri sendi (Contoh: Voltaren, Counterpain, dll) untuk antisipasi pegal-pegal karena berjalan kaki jauh.
    – Payung untuk antisipasi terik dan hujan. Kalau naik pesawat payung harus dimasukkan ke bagasi pesawat, tidak boleh masuk kabin.
    – Sunblock.
    – Alas kaki yang nyaman untuk berjalan kaki jauh.
    – Mata uang negara yang dituju. Sebaiknya beli mata uang asing tersebut di money changer Indonesia untuk mendapatkan kurs nilai tukar yang lebih baik.
    Mobile wi-fi atau sim card telepon negara yang dituju. Kemarin saya lebih memilih sewa mobile wi-fi dibandingkan beli sim card. Bagian ini akan saya bahas di post terpisah.
    Universal adapter karena tidak semua negara memiliki bentuk colokan listrik yang sama dengan Indonesia.
    – Power bank. Jangan sampai gadget kalian mati karena kehabisan baterai saat di jalan.
    – Tas ransel. Kegunaan terbesarnya sih untuk membawa botol air minum. Saat di Singapura kemarin, saya dan adik saya memakai ransel dan membawa barang-barang yang berat (seperti air minum) supaya orang tua tidak dibebani dengan bawaan yang berat.
PhotoGrid_1509087986925.jpg
Hasil pembacaan pedometer

Saya beruntung memiliki orang tua yang masih cukup sehat untuk dibawa jalan kaki setiap harinya dan naik turun kendaraan umum selama liburan di Singapura kemarin. Adik saya memiliki aplikasi pedometer di handphone-nya dan dari pembacaan hasilnya, rata-rata tiap hari selama di Singapura itu kami berjalan 9 km! Luar biasa. Namun, bila orang tua kalian sudah tidak bisa berjalan jauh lagi seperti itu atau harus memakai alat bantu jalan, sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk naik kendaraan umum. Seperti halnya Indonesia, beberapa negara lain juga punya taksi online seperti Grab atau Uber dan kalian bisa menggunakan sarana tersebut untuk mengajak jalan orang tua kalian. Tentunya harga transportasinya jauh lebih mahal tapi tidak ada pilihan lain. Yang penting orang tua bisa merasa nyaman dan happy.

Travel Journal

Singapore Trip With Parents (Day 4)

14 Oktober 2017: Plaza Singapura – Changi Airport

Hari ini adalah jadwal kami kembali pulang ke Jakarta. Kami mengambil penerbangan malam pk. 18:25 dengan maskapai Scoot. Oleh karena itu masih ada sisa waktu untuk bisa keliling-keliling hari ini.

Kami check out dari Tai Hoe Hotel pk. 09:30 dan menitipkan koper kami ke resepsionis. Setelah itu kami berjalan ke City Square Mall untuk sarapan di kedai Ya Kun Kaya Toast yang terletak di lantai B2. Paket menu breakfast disini harganya sekitar SGD 4-5 dan sudah terdiri dari roti, telur dan minuman. Selesai sarapan kami melanjutkan berjalan kaki ke MRT station Farrer Park dan turun di Dhoby Ghaut. Kami mengambil exit D dan berjalan ke Plaza Singapura.

Tujuan utama ke Plaza Singapura ini adalah berbelanja barang-barang titipan dari teman-teman adik saya di Jakarta. Salah satu barang titipan yang harus kami dapatkan disini adalah Irvins Salted Eggs, yaitu snack dengan rasa telur asin yang sedang populer sekali di Singapura. Di Plaza Singapura, counter Irvins Salted Eggs terletak di lantai 6, dekat eskalator food court. Kami tiba di Plaza Singapura pk. 10:30 dan langsung masuk ke antrian Irvins Salted Eggs. Antrian sudah panjang sekali, ada sekitar 30-an orang di depan saya padahal Plaza Singapura sendiri baru buka pk. 10:00. Sungguh perjuangan untuk mendapatkan snack ini. Ada pembatasan pembelian per orang yaitu maksimum 5 bungkus per orang. Oiya, selain di Plaza Singapura, ada beberapa lokasi penjualan Irvins Salted Eggs yang lain sesuai dengan info di website mereka.

PhotoGrid_1509088787241.jpg
Antrian Irvins Salted Eggs di Plaza Singapura. Foto ini diambil setelah melewati setengah antrian panjang.
PhotoGrid_1509088762374.jpg
Batas pembelian per orang di Irvins Salted Eggs Plaza Singapura
PhotoGrid_1509088825118.jpg
Counter Irvins Salted Eggs di Plaza Singapura

Saat mengantri Irvins Salted Eggs, orang tua saya menunggu di food court saja sambil duduk supaya tidak kecapekan. Sementara itu, saya dan adik saya mengantri di jalur yang sudah disediakan. Saat sudah mendekati counter Irvins Salted Eggs, salah seorang staff Irvins Salted Eggs mengabarkan bahwa varian fish skin sudah sold out dan stok yang ada tinggal potato chips. Sekedar informasi, varian fish skin ini merupakan varian paling favorit dan sangat sulit untuk bisa mendapatkannya. Akhirnya setelah menunggu sekitar 45 menit, saya dan adik saya sampai juga di depan counter Irvins Salted Eggs untuk melakukan pesanan dan pembayaran. Karena tidak ada pilihan lain kami hanya memborong varian potato chips aja.

Selesai urusan belanja-belanja kami makan siang di food court Plaza Singapura.  Harga makanan disini berkisar SGD 4-8. Ada juga menu makanan Indonesia di food court ini tapi kurang meyakinkan buat saya. Saat jam makan siang agak sulit mendapatkan tempat duduk yang kosong disini.

Sebelum meninggalkan Plaza Singapura dan kembali ke Tai Hoe Hotel untuk mengambil titipan koper, saya sempat membeli roti untuk bekal makanan di pesawat. Selesai mengambil koper di hotel, kami langsung naik MRT ke Changi airport. Saat tiba di Changi airport, waktu sudah menunjukkan pk. 15:30. Karena pesawat kami Scoot dan check in counter-nya berada di terminal 2 maka setelah turun kereta MRT kami tidak perlu berpindah terminal lagi dengan skytrain.

Saat tiba di bagian imigrasi antriannya tidak begitu panjang karena sekarang sudah menggunakan automatic gate. Tinggal scan paspor dan sidik jari sendiri saja. Tidak ada petugas imigrasi yang akan memberi stempel di paspor kita.

Di Changi airport, adik saya membeli minuman beralkohol titipan temannya di duty free shop. Jumlah maksimum minuman beralkohol yang boleh dibawa ke kabin pesawat adalah 1 Liter per orang. Saya juga sempat membeli makanan di Mcdonald’s di lantai 3 Departure Lounge. Posisi kedai Mcdonald’s ada disamping area food court Straits Food Village.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya disini, yaitu tidak jauh dari lokasi duty free shop terminal 2 tempat adik saya membeli minuman beralkohol, ada counter Irvins Salted Eggs juga disini. Lokasi tepatnya adalah di terminal 2, level 2, Departure Lounge (central). Bahkan harga Irvins Salted Eggs disini lebih murah dan batas pembelian produk per orangnya lebih banyak, yaitu 7 bungkus per orang. Akan tetapi untuk melakukan pembelian disini kita wajib menunjukkan boarding pass kita. Saya tidak belanja Irvins Salted Eggs lagi di Changi karena saat itu stok varian fish skin-nya juga sold out dan baru akan restock lagi pk. 17:00.

PhotoGrid_1509088871113.jpg
Counter Irvins di Changi airport Terminal 2

Sambil berjalan ke boarding gate, kami sempat berfoto sebentar di Enchanted Garden Terminal 2. Apabila mengajak orang tua seperti saya, disarankan untuk mengalokasikan waktu lebih untuk berjalan ke boarding gate. Jangan sampai waktunya terlalu mepet dengan jadwal boarding. Kasian kan kalau sampai harus lari-lari supaya tidak ketinggalan pesawat? Lokasi boarding gate dengan Departure Lounge itu cukup jauh, bisa sampai 15-20 menit berjalan kaki. Harap diperhatikan juga bahwa di Changi airport tidak ada boarding call seperti di Indonesia. Saat ada announcement biasanya itu sudah berupa panggilan terakhir sebelum ditinggal pesawat berangkat.

Untuk memasuki boarding gate, kita harus melewati pemeriksaan keamanan. Air minum pun wajib dikosongkan disini. Tapi jangan khawatir karena di waiting room akan ada tap water air minum yang bisa kita isi di botol kosong kita. Jadi botol kosongnya jangan dibuang ya. Isi botol kita dengan air minum sampai penuh karena kalau beli air minum di atas pesawat harganya mahal sekali yaitu SGD 4 per botol ukuran 600 ml.

Pesawat kami berangkat tepat waktu sesuai jadwal dan saatnya kembali ke negara Indonesia tercinta. Sudah kangen sekali dengan makanan Indonesia, hihihi.

Website:

Irvins Salted Eggs
https://irvinsaltedegg.com/

Changi Airport
http://www.changiairport.com/

Travel Journal

Singapore Trip With Parents (Day 3)

13 Oktober 2017 (Day 3): Singapore Zoo – Bugis – Chinatown – Mustafa Center

Dikarenakan hari ini rencananya mau ke Singapore Zoo maka kami harus berangkat lebih pagi dari hari kemarin. Kalau menuruti jadwal di itinerary yang saya buat, seharusnya pk. 08:00 kami sudah harus jalan dari hotel. Akan tetapi karena semua orang kelelahan, akhirnya kami baru berangkat dari hotel pk. 09:30.

Perjalanan ke Singapore Zoo cukup jauh dan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kami harus naik MRT sampai stasiun Ang Mo Kio kemudian lanjut naik bus no. 138 dari Ang Mo Kio Interchange bus stop dan turun tepat di Singapore Zoo. Lokasi Singapore Zoo ini berdekatan dengan lokasi River Safari dan Night Safari.

PhotoGrid_1509087722597.jpg
Papa dan Mama berfoto di depan gate Singapore Zoo

Tiket Singapore Zoo sebelumnya sudah saya beli melalui langganan saya dengan harga yang jauh lebih murah dari harga counter. Untuk harga tiket masuk Singapore Zoo with unlimited tram ride di counter adalah SGD 38 sedangkan langganan saya menjual dengan harga SGD 27. Benar-benar hemat banyak kan? Hehe. Voucher tiket Singapore Zoo yang sudah saya beli di langganan saya harus ditukarkan terlebih dahulu pada mesin ticketing yang terletak dekat counter ticketing. Tinggal scan barcode saja dan tiket asli langsung keluar dari mesin. Setelah itu tinggal masuk ke gate. Saat kami kesana, tidak ada pemeriksaan isi tas dan saya melihat beberapa orang bebas membawa makanan masuk ke dalam Singapore Zoo. Tentunya selama kita tetap menjaga kebersihan dan tidak buang sampah sembarangan lho ya.

Dikarenakan kami membeli tiket masuk yang sudah mencakup tram maka untuk menggunakan fasilitas tram di dalam Singapore Zoo kami tidak perlu membayar extra. Hanya tinggal menunjukkan tiket sebelum naik tram. Bagi yang tiket masuknya tidak ada paket tram maka harus membayar SGD 5 per orang untuk bisa naik tram. Jadi saya sarankan lebih baik beli tiket yang sudah termasuk tram karena akan lebih hemat uang dan bisa menghemat tenaga jalan kaki.

PhotoGrid_1509260128144.jpg
Elephants At Work And Play Show 11:30 a.m

Untuk mengelilingi seluruh area di Singapore Zoo butuh waktu yang lama, mungkin sekitar 4-5 jam dikarenakan area-nya luas sekali. Ditambah ada beberapa jadwal show hewan-hewan juga disini. Jadwal show bisa dilihat langsung pada website Singapore Zoo. Hewan dan lingkungan di dalam Singapore Zoo ini sangat terawat sekali. Hewan-hewan yang ada disini hampir semua-nya hidup bebas dan tidak ada pagar pembatasnya, terkecuali untuk hewan buas. Akan tetapi untuk show-nya menurut saya masih lebih bagus show di Bali Safari & Marine Park yang ada di Bali, Indonesia. Pertunjukan hewannya lebih interaktif.

PhotoGrid_1509260113763.jpg
White Tiger

Saya sarankan bagi yang hendak berkunjung ke Singapore Zoo untuk membawa lotion anti nyamuk. Saya beberapa kali digigit nyamuk disana karena tidak memakai lotion anti nyamuk. Selain itu, bawalah payung untuk antisipasi hujan turun mengingat cuaca Singapura agak tidak jelas saat kami kesana, kadang panas terik dan kadang hujan tiba-tiba.

Saat waktu sudah menunjukkan pk. 13:00 kami makan siang di Ah Meng Restaurant yang ada di dalam Singapore Zoo. Restoran-nya cukup nyaman karena ber-AC, hanya saja harga makanannya memang agak mahal tapi porsi makanannya banyak sekali. Harga makanan disini berkisar SGD 7-12. Saat jam makan siang kondisi restoran sangat padat dan agak susah menemukan tempat duduk yang kosong. Oya, Singapore Zoo menyediakan dispenser air minum gratis di dekat WC samping Ah Meng Restaurant. Jadi pastikan kita membawa botol kosong untuk diisi dengan air minum disana. Lumayan untuk penghematan.

Setelah puas berkeliling, sekitar pk. 15:00 kami berjalan keluar Zoo menuju bus stop (tempat yang sama saat kita turun bus tadi). Sebelum sampai di bus stop kami sempat singgah ngemil-ngemil di KFC dulu sambil mengistirahatkan kaki yang sudah kelelahan karena berjalan jauh. Itupun sudah dibantu dengan naik tram lho ya, gimana kalau full jalan kaki semua? Hahaha.

Kami menunggu bus yang akan membawa kami kembali ke MRT station Ang Mo Kio dan melanjutkan perjalanan ke Bugis dengan MRT. Sesampainya di MRT station Bugis, kami berjalan kaki menuju Bugis Junction. Di Bugis Junction Papa saya sempat makan sekali lagi karena kecapekan, hahaha. Setelah makan, kami berjalan keluar dari Bugis Junction menuju Bugis Street Market untuk mencari oleh-oleh khas Singapura dengan harga yang bersahabat. Dari Bugis Junction hanya tinggal menyebrang jalan sedikit dan kita sudah sampai di Bugis Street Market.

Selesai berbelanja, kami kembali ke MRT station Bugis dan naik kereta ke MRT station Chinatown. Kami sampai di Chinatown sekitar pk. 18:00 dan langsung berjalan kaki menuju Chinatown Food Street yang terletak di Smith Street. Makanan disini harganya relatif lebih mahal daripada hawker biasa, harga mulai dari SGD 5, tapi hitung-hitung buat experience menikmati kuliner Singapore di daerah Chinatown. Selesai makan, Mama saya masih berbelanja oleh-oleh khas Singapura di salah satu toko di Chinatown. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, kami kembali ke MRT station Chinatown untuk pulang ke hotel.

Di hotel kami beristirahat sejenak, sekitar 1 jam, kemudian lanjut jalan kaki ke Mustafa Center yang berada tidak jauh dari lokasi hotel kami. Mustafa Center ini adalah toko serba ada yang luas sekali dan buka 24 jam. Banyak turis yang kemari untuk berbelanja souvenir khas Singapura dan juga makanan seperti coklat dan snack lainnya. Harganya relatif lebih murah tapi tidak semua item juga harganya lebih murah. Kita harus lebih jeli melihat harga item yang ada. Saat ke Mustafa Center, kami bertemu banyak sekali turis dari Indonesia yang sedang berbelanja disana. Selesai urusan belanja, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Website:

Singapore Zoo
http://www.zoo.com.sg/

Tempat langganan saya beli tiket wisata murah di Singapura: (Price list lengkap bisa dilihat pada bagian notes-nya)
https://www.facebook.com/TiketMurahTempatWisataSingapore/

To Be Continued…

Travel Journal

Singapore Trip With Parents (Day 2)

12 Oktober 2017 (Day 2): Merlion Park – Orchard – Sentosa Island

Sesuai itinerary yang saya buat, hari ini jadwal kami berempat baru akan dimulai pk. 10:00. Sengaja agak siang baru jalan dari hotel supaya orang tua bisa cukup istirahat dan menghindari rush hour. Tujuan pertama kami hari ini adalah Merlion Park untuk berfoto dengan patung singa maskot-nya negara Singapura. Kami menggunakan MRT untuk menuju ke Merlion Park. Kami turun di MRT station Raffles Place dan mengambil exit H dilanjutkan berjalan kaki ke Merlion Park sejauh 900 meter dengan waktu tempuh 10 menit-an. Sepanjang perjalanan banyak objek foto yang menarik, beberapa kali kami duduk santai untuk berfoto.

PhotoGrid_1509087938204.jpg
Duduk santai di taman sebelum lanjut jalan ke Merlion Park

Seperti biasa Merlion Park siang itu dipenuhi oleh turis yang hendak berfoto. Tapi karena kami berkunjung saat weekdays, kerumunan turis disana tidak terlalu penuh. Masih ada space untuk berfoto.

PhotoGrid_1509087793710.jpg
Papa, Mama dan Merlion
PhotoGrid_1509088075429.jpg
With Little Sister

Selesai foto-foto dengan Merlion kami melanjutkan perjalanan ke daerah Orchard. Kami memilih menggunakan bus untuk ke Orchard. Bus stop terdekat dari Merlion Park ada di seberang Esplanade. Pembayaran ongkos bus bisa menggunakan ez-link card. Begitu masuk bus di pintu dekat driver bus, kita tinggal tap ez-link card kita dan pas turun di tempat tujuan kita kembali tap di pintu tengah bus.

Kami tiba di area Orchard sekitar pk. 12:00. Karena sudah kelaparan kami memilih untuk makan dulu. Pilihan tempat makan jatuh di Lucky Plaza. Sebenarnya Lucky Plaza ini sebagai tempat belanja kurang asyik karena bangunannya kuno dan bentuk toko-nya mirip seperti ITC Mangga Dua. Belum pula banyaknya review negatif tentang penipuan saat belanja di Lucky Plaza membuat saya malas mampir. Satu-satunya yang membuat saya mau mampir adalah restoran Indonesia “Ayam Penyet Ria” yang ada di lantai 4 Lucky Plaza. Selera kami sekeluarga memang makanan Indonesia yang spicy dan berbumbu rempah. Harga makanan disini sekitar SGD 7,5 – 9, cukup mahal untuk ukuran menu ayam penyet kalau di Indonesia. Makan di restoran ini sedikit banyak mengobati rasa kangen dengan masakan Indonesia. Kami sempat bertemu dengan beberapa orang Indonesia juga yang makan di restoran ini.

Awalnya saya berencana untuk mengunjungi beberapa mall di daerah Orchard, tapi karena waktunya mepet dengan jadwal ke Sentosa Island akhirnya sehabis makan kami langsung menuju MRT station Orchard dan naik kereta menuju Vivo City. Vivo City ini adalah mall yang berada di atas MRT station terdekat dengan Sentosa Island. Untuk menuju Vivo City kita tinggal turun di MRT station Harbourfront dan ambil exit E.

Untuk menuju Sentosa Island dari Vivo City ada beberapa alternatif, yaitu:

  1. Berjalan kaki
    Pertama-tama kita harus menuju Vivo City Lobby F, level 1. Kemudian kita tinggal berjalan mengikuti papan petunjuk yang ada sepanjang Sentosa BoardWalk. Jarak yang akan ditempuh adalah sekitar 1,6 km dengan waktu tempuh 15 – 20 menit. Di Sentosa BoardWalk disediakan travellator untuk alat bantu jalan dan juga atap sehingga kita tidak perlu khawatir kepanasan atau kehujanan. Tapi dengan cuaca Singapura sih kita tetap akan merasa kegerahan karena di Sentosa BoardWalk tidak disediakan AC. Sepanjang perjalanan juga banyak spot foto yang bagus. Harga tiket masuk Sentosa BoardWalk ini adalah SGD 1 per orang tapi sedang ada promo free entry sampai dengan 31 Desember 2017. Opsi ini adalah opsi dengan biaya termurah.
  2. Bus
    Untuk naik bus yang menuju Resort World Sentosa, Bus RWS 8, kita harus berjalan ke bus stop no. 14141 di Vivo City. Untuk rute kembali ke Vivo City dengan bus yang sama kita harus menunggu di bus stop no. 14121 di Merrill Lynch, HarbourFront. Waktu tempuh dari Vivo City ke Resort World Sentosa dengan bus RWS 8 adalah sekitar 14 menit. Biaya tiket masuk Sentosa Island dengan bus adalah SGD 2 per orang tapi sedang ada promo free entry sehingga kita hanya perlu membayar ongkos bus-nya berdasarkan jarak tempuh.
  3. Sentosa Express Monorail
    Untuk mengakses Sentosa Express kita harus menuju Vivo City Lobby L, level 3. Biaya tiket masuk Sentosa Island dengan Sentosa Express adalah SGD 4 per orang. Harga tersebut termasuk unlimited ride dengan Sentosa Express dalam 1 hari. Waktu tempuh dengan Sentosa Express jauh lebih singkat, yaitu hanya sekitar 5 menit saja. Yang perlu diperhatikan disini adalah saat peak hour / peak season, antrian penumpang Sentosa Express biasanya panjang sekali karena Sentosa Express menjadi pilihan favorit para pengunjung Sentosa Island. Sentosa Express memiliki beberapa stasiun yaitu: Sentosa Station (Vivo City), Waterfront Station, Imbiah Station dan Beach Station. Silakan cek tempat tujuan kalian berada dekat stasiun yang mana ya.
  4. Cable Car
    Sampai sekarang saya tidak pernah menggunakan opsi ini karena mahal sekali harganya buat saya. Ada 2 jalur cable car, yaitu:
    – Sentosa Line dengan 3 stasiun pemberhentian: Merlion, Imbiah lookout dan Siloso Point. Harga: SGD 13 per orang (belum termasuk tiket masuk ke Sentosa Island)
    – Mount Faber Line dengan 3 stasiun pemberhentian: Mount Faber, Harbourfront dan Sentosa. Harga: SGD 29 per orang (sudah termasuk tiket masuk ke Sentosa Island).
    Ada paket juga combo Mount Faber + Sentosa Line dengan harga SGD 33 per orang (sudah termasuk tiket masuk ke Sentosa Island).
  5. Taxi / Mobil Pribadi
    Untuk kendaraan pribadi dan taxi yang memasuki Sentosa Island dikenakan biaya masuk sebesar SGD 2-7 per mobil tergantung jam masuknya.

Dari semua opsi diatas saya memilih Sentosa Express Monorail. Untuk Sentosa BoardWalk, saya dan adik saya sendiri sih sudah pernah melaluinya, hanya saja kali ini saya bawa orang tua jadi kalau memilih opsi jalan kaki takutnya mereka sudah kecapekan duluan. Lebih baik tenaga mereka disimpan untuk jalan-jalan di area Sentosa, hehe.

Sebelum naik Sentosa Express, kami menyempatkan diri untuk berbelanja snack, roti dan minuman untuk dibawa ke Sentosa Island. Saat kami tiba di stasiun Sentosa Express, antrian penumpang tidak begitu ramai karena kami berkunjung saat weekdays. Tidak lama menunggu kereta pun datang dan kami segera menaiki kereta.

Tujuan pertama kami adalah S.E.A Aquarium sehingga kami turun di Waterfront Station. Tiket masuk S.E.A Aquarium sudah saya beli jauh hari sebelumnya. Saya beli tiket di tempat langganan saya yang memberikan harga jauh lebih murah dari harga counter. Harga counter untuk Maritime Museum + S.E.A Aquarium adalah SGD 34 sedangkan tempat langganan saya memberikan harga SGD 25 bahkan dapat free kupon makan sebesar SGD 5 (untuk minimum purchase SGD 10). Best deal deh.

PhotoGrid_1509089352590.jpg
S.E.A Aquarium
PhotoGrid_1509089419014.jpg
Foto Keluarga di S.E.A Aquarium

Saat kami datang, Maritime Museum sedang ditutup untuk renovasi jadi kami langsung masuk ke S.E.A Aquarium saja. Waktu saat itu menunjukan pk. 15:30. S.E.A Aquarium menampilkan hewan-hewan biota laut di dalam aquarium besar. Sebenarnya di Jakarta sendiri sudah ada Sea World Ancol dengan konsep yang sama. Hanya saja di S.E.A Aquarium ini tempatnya lebih luas, lebih nyaman dan lebih banyak biota lautnya. Tapi dari segi show yang ditampilkan, menurut saya lebih bagus show di Sea World Ancol karena ada narasi dari pembawa acaranya untuk tujuan edukasi. Setelah berkeliling selama 1,5 jam kami pun keluar dari S.E.A Aquarium dan menuju tempat makan untuk dinner.

Sebelum dinner, saya menukarkan voucher tiket yang saya beli di langganan saya untuk show “Wings Of Time” pk. 19:40. Wings Of Time adalah laser & water show dengan narasi yang berlangsung di Pantai Siloso. Penukaran voucher dengan tiket asli dilakukan di counter ticketing dekat Waterfront Station. Harga tiket show “Wings Of Time” kalau beli di counter langsung adalah SGD 18 tapi di langganan saya hanya SGD 12 per orang. Lumayan berasa hematnya kalau kita harus beli tiket dalam jumlah banyak kan?

Selesai urusan tiket Wings Of Time, kami mampir di toko Watson yang terletak tidak jauh dari counter ticketing tadi. Saya beli air minum di Watson dengan harga yang cukup murah. Lagi ada promo SGD 2,2 dapat 2 botol air mineral ukuran 800 ml. Lumayan murah untuk ukuran harga air mineral di Singapura.

PhotoGrid_1509087768086.jpg
Globe Universal Studio Singapore

Kami dinner di Malaysian Food Street yang ada di dekat globe Universal Studio Singapore. Sekalian berfoto ria di depan globe tentunya mumpung pengunjung tidak begitu ramai. Kalau membawa orang tua sangat tidak disarankan untuk berkunjung ke Universal Studio karena tipe wahana permainan yang ada kebanyakan memacu adrenalin. Takutnya orang tua malah kenapa-kenapa pula karena mencoba wahana permainan disana, hehe.

Malaysian Food Street adalah food court dengan tema makanan khas Malaysia. Harganya berkisar SGD 5-10 dan porsinya banyak. Selesai makan kami nongkrong-nongkrong di food court sambil mengistirahatkan kaki sebelum lanjut jalan lagi ke Pantai Siloso untuk pertunjukan “Wings Of Time” pk. 19:40.

PhotoGrid_1509088005002.jpg
Wings Of Time

Untuk menuju pantai Siloso kami naik Sentosa Express dari Waterfront Station dan kemudian turun di Beach Station. Setibanya di Beach Station, hujan pun turun. Untungnya kami sudah persiapan bawa payung. Pertunjukan Wings Of Time tetap berlangsung walaupun saat itu sedang hujan. Karena tempat acaranya outdoor sangat disarankan untuk persiapan bawa jas hujan atau payung sendiri untuk antisipasi hujan. Di lokasi acara sih ada yang jualan jas hujan tapi saya tidak beli. Pertunjukan Wings Of Time berlangsung selama 25 menit dan pertunjukannya bagus sekali! Tidak percuma bela-belain nonton walaupun sedang hujan. Setelah selesai acara kami langsung naik kereta Sentosa Express yang menuju Vivo City dan pulang ke hotel dengan menggunakan MRT.

Website:

Sentosa Island
http://www.sentosa.com.sg/Plan-Your-Visit/getting-around

S.E.A Aquarium
http://www.rwsentosa.com/Homepage/Attractions/SEAAquarium

Wings Of Time
http://www.wingsoftime.com.sg/

Tempat langganan saya beli tiket wisata murah di Singapura: (Price list lengkap bisa dilihat di bagian notes-nya)
https://www.facebook.com/TiketMurahTempatWisataSingapore/

To Be Continued…

 

 

 

 

 

 

Travel Journal

Singapore Trip With Parents (Day 1)

Halo semua! Apa kabar? Maaf baru sempat update blog lagi. Dua minggu yang lalu saya baru saja pulang liburan ke Singapura bersama orang tua dan adik perempuan saya. Akhirnya salah satu wish list saya untuk bisa mengajak orang tua saya jalan-jalan ke luar negeri kesampaian juga. Papa saya sama sekali belum pernah travel ke luar negeri sedangkan Mama saya hanya pernah ke Melaka (Malaysia) sekali, itu pun untuk menemani Nenek saya berobat disana. Jadi bisa dikatakan mereka sama sekali belum pernah merasakan pengalaman liburan ke luar negeri.

Pada liburan keluarga ini saya mengatur semua urusan perjalanan sendiri. Saya sengaja untuk tidak menggunakan jasa tur dari travel agent supaya orang tua saya lebih nyaman dan tidak terikat jadwal acara yang biasanya dibuat mepet oleh pihak penyelenggara tur. Saya mau liburan ini menjadi santai dan tidak tergesa-gesa. Selain itu, saya ingin liburan ini bisa menjadi ajang untuk kami bisa spend time together as family dan hal itu menurut saya susah didapatkan kalau kita ikut paket tur. Sekedar informasi, saya dan orang tua saya tinggal terpisah. Saya di Tangerang dan orang tua saya di Samarinda (Kalimantan Timur).

Ada beberapa alasan saya memilih negara Singapura untuk liburan keluarga ini:

  1. Tiket pesawatnya tidak terlalu mahal.
    Untuk rute Jakarta – Singapura PP biasanya harga tiket hanya sekitar 1 juta Rupiah per orang. Bahkan kalau lagi ada promo, harga tiket bisa jadi jauh lebih murah.
  2. Bebas visa
    Untuk pemegang paspor Indonesia kita bisa bebas berkunjung ke Singapura selama maksimum 30 hari per kunjungan tanpa perlu mengurus visa. Tentunya yang dimaksud disini adalah untuk visa kunjungan turis ya. Kalau visa pekerja sih lain lagi urusannya.
  3. Sistem transportasi umumnya nyaman dan teratur
    Dikarenakan biaya transportasi pribadi seperti taxi di Singapura itu mahal maka sebagai turis yang pas-pasan kita terpaksa harus memilih sarana transportasi umum untuk kemana-mana. Nah, di Singapura ini sistem transportasinya sudah rapi sekali. Bus & MRT menjadi pilihan terbaik karena selain harganya relatif murah, armadanya juga nyaman dan cukup friendly untuk orang tua. Selain itu, peta MRT Singapura termasuk sederhana dan gampang dipelajari.
  4. Saya sudah beberapa kali travel ke Singapura.
    Oleh karena itu saya jadi lebih percaya diri untuk menjadi tour guide bagi orang tua saya.

Dalam perjalanan ke Singapura ini saya juga mengajak serta adik perempuan saya dengan pertimbangan ada tambahan tenaga untuk menenteng barang-barang dan juga untuk mengawasi keadaan orang tua. Walaupun orang tua saya masih dalam keadaan sehat dan mampu berjalan dengan baik tapi saya juga harus waspada karena umur orang tua saya sudah tidak muda lagi. Papa berumur 61 tahun dan Mama berumur 56 tahun (Khusus Mama saya ada penyakit diabetes). Selain itu, karena saya travel tanpa pak suami, adik saya ini juga berguna untuk menemani tidur di kamar hotel, hahaha.

11 Oktober 2017 (Day 1): Changi Aiport – Gardens By The Bay – Marina Bay Sands

Kami naik pesawat Jetstar pk. 09:50 WIB dari Soekarno-Hatta Airport Terminal 2D. Saya sengaja memilih flight yang tidak terlalu pagi untuk menghindari macet jam kerja (rush hour) dan supaya orang tua saya cukup istirahat. Karena kami berangkat saat weekdays maka antrian check in / drop baggage dan imigrasi tidak terlalu panjang.

Ada satu kejadian di pesawat yang membuat saya shock, yaitu harga air mineral botol (ukuran 600 ml) di pesawat adalah SGD 4 per botol! Luar biasa mahalnya tapi tidak ada pilihan lain saat itu, ditambah semua orang haus dan Mama saya harus minum obat. Akhirnya saya beli 2 botol air mineral di pesawat. Oya, lebih baik bayar dalam pecahan SGD karena kalau bayar pakai rupiah nilai tukar kursnya jelek banget.

Pesawat kami landing di Changi airport Terminal 1 pk. 12:40 waktu Singapura (waktu Singapura sama dengan WITA). Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi kami memutuskan untuk lunch terlebih dahulu di terminal 1 sebelum naik MRT ke hotel di kota. Pilihan tempat makan jatuh ke staff canteen “Orchis Food Court” karena harganya terjangkau, tempatnya nyaman dan varian menunya banyak, terutama chinese food dan prasmanan. Walaupun namanya staff canteen, tempat ini juga terbuka untuk public hanya saja harga untuk public lebih mahal sedikit dibanding untuk staff. Untuk menuju ke Orchis Food Court ini cukup mudah. Setelah mengambil bagasi dan keluar dari bagian bea cukai, berjalanlah menuju pintu keluar. Kemudian jalan ke kiri sampai menemukan Burger King. Berjalanlah keluar lewat pintu yang ada di dekat Burger King. Belok kiri dan berjalan sampai mentok dan menemukan tulisan “Orchis Food Court”. Tinggal turun tangga dan kalian sudah masuk ke area food court. Harga makanan disini berkisar SGD 5-7 dan porsinya banyak. Menu ada yang halal dan non halal. Best deal untuk makanan di airport. Sekedar info, untuk mencapai area food court ini kita harus menuruni tangga manual, tidak ada lift / elevator, jadi mungkin akan menyusahkan kalau kalian membawa koper yang berat.

PhotoGrid_1509090214567.jpg
Tinggal turun tangga ke bawah sudah sampai di Orchis Food Court Terminal 1
PhotoGrid_1509090280162.jpg
Menu di salah satu kedai di Orchis Food Court

Selesai lunch kami menuju ke skytrain untuk berpindah gedung terminal dari terminal 1 ke teminal 2 karena MRT yang menuju ke kota terdapat di gedung terminal 2. Untuk menuju MRT station juga tidak susah, kita tinggal mengikuti papan petunjuk yang ada. Begitu sampai di MRT station saya langsung menuju counter untuk membeli ez-link card untuk kedua orang tua saya. Untuk saya dan adik saya menggunakan ez-link card edisi lama yang masih aktif (karena sisa saldo sebelumnya tidak di-refund). Harga ez-link card baru adalah SGD 12 dimana SGD 7 adalah saldo yang bisa kita gunakan dan SGD 5 adalah untuk biaya kartu (non refundable).

Kami tiba di penginapan kami, Tai Hoe Hotel, sekitar pk. 15:30. Tai Hoe Hotel terletak tidak jauh dari MRT station Farrer Park. Harga kamar di hotel ini tidak terlalu mahal (tentunya untuk standar living cost Singapura ya) yaitu sekitar 750 ribu Rupiah per kamar per malam dan nilai tambah lain adalah lokasinya hanya berjarak 350 meter dari MRT station Farrer Park, City Square Mall dan Mustafa Center. Kalau membawa orang tua memang sebaiknya lokasi tempat tinggal tidak begitu jauh dari MRT station atau bus stop supaya mereka tidak terlalu capek berjalan kaki. Selain itu kamar di Tai Hoe Hotel juga cukup luas untuk ditinggali oleh 2 orang dalam 1 kamar dan tentunya ada kamar mandi dalam untuk tiap kamar. Tidak disarankan untuk memilih tempat tinggal dengan kamar mandi sharing apabila ada orang tua karena semakin tua biasanya mereka cenderung lebih sering untuk buang air. Untuk masalah kebersihan dan kerapian kamar, Tai Hoe Hotel ini cukup oke tapi jangan berharap banyak untuk masalah interior bangunan hotel dan kamar karena menurut saya ruangannya agak kuno, hehe. Oiya, saat proses check in saya diminta uang SGD 20 per kamar untuk deposit dan akan dikembalikan saat check out.

Kami berempat beristirahat sejenak di kamar hotel sekitar 1 jam sebelum melanjutkan perjalanan. Sekitar pk. 16:30 kami memulai perjalanan dari hotel menuju Gardens By The Bay dengan menggunakan MRT. Untuk menuju Gardens By The Bay kita tinggal turun di MRT station Bayfront dan ambil exit B. Sebenarnya di Gardens By The Bay ada beberapa objek atraksi seperti Flower Dome, Cloud Forest dan OCBC Skyway (di Supertree Grove), akan tetapi semua atraksi itu adalah atraksi berbayar. Selain itu saat kami kesana, pameran yang tengah berlangsung kurang menarik. Contohnya di Flower Dome berlangsung festival labu dengan suasana Haloween. Menurut saya agak kurang pas saja mengajak orang tua kesana. Ditambah orang tua saya sudah tampak kelelahan untuk berjalan ke arah Flower Dome dan Cloud Forest yang terletak di area belakang (sekitar 1,6 km) yang apabila ditempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar 15 menit-an. Oiya, kalau malas jalan jauh, Gardens By The Bay menyediakan shuttle service dengan biaya SGD 3 per orang untuk unlimited ride dalam sehari. Akhirnya kami memutuskan cuma foto-foto di area depan saja, dekat Dragonfly & Kingfisher Lakes. Tentu saja wajib hukumnya untuk mengabadikan foto Marina Bay Sands, sebagai salah satu ikon Singapura, dari tempat ini. Kita harus pintar-pintar mencari angle foto supaya bisa mendapatkan gambar dengan latar belakang Marina Bay Sands yang bagus. Pencahayaan yang paling bagus adalah saat siang hari (tapi panas terik, hehe). Kalau sudah sore seperti saya jadinya ada back light di foto.

PhotoGrid_1509087841553.jpg
Gardens By The Bay
PhotoGrid_1509087903707.jpg
Foto dengan background Marina Bay Sands ini diambil dekat danau di Gardens By The Bay

Selesai foto-foto, kami berjalan kaki dari Gardens By The Bay ke Marina Bay Sands melalui jembatan Lions Bridge. Jembatan ini menghubungkan Gardens By The Bay dan Marina Bay Sands Hotel dan Mall (The Shoppes). Kami tiba di mall pk. 18:00 dan langsung menuju food court untuk dinner. Menu dan harga di food court ini cukup variatif, yaitu berkisar SGD 5-12. Setelah dinner, saya dan adik saya menyempatkan jajan frozen yoghurt di Llaollao yang counter-nya tidak jauh dari lokasi food court. Jajan seperti ini juga dimaksudkan untuk mengurangi jumlah koin receh di dompet, haha.

PhotoGrid_1509088738852.jpg
Pemandangan dari Event Plaza Marina Bay Sands sebelum pertunjukan “Spectra” dimulai
PhotoGrid_1509088890002.jpg
A light & water show “Spectra” at Marina Bay Sands

Selesai jajan kami berjalan ke Event Plaza yang ada di area outdoor di tengah gedung mall untuk menonton pertunjukan “Spectra”. Spectra adalah light & water show yang bisa kita nikmati secara gratis saat berkunjung ke Marina Bay Sands. Ada beberapa jadwal pertunjukan, yaitu pk. 20:00 & 21:00 (Minggu – Kamis) dan 20:00, 21:00, 22:00 (Jumat & Sabtu). Pertunjukan berlangsung selama 15 menit dengan background gedung-gedung bertingkat Singapura. Untuk ukuran pertunjukan gratis menurut saya tampilannya cukup bagus dan patut ditonton. Kami menonton pertunjukan Spectra pk. 20:00 supaya tidak kemalaman balik ke hotel. Setelah pertunjukan selesai, kami berjalan kaki menuju MRT station Bayfront yang terletak di basement mall Marina Bay Sands dan pulang ke hotel.

Website:
Gardens By The Bay
http://www.gardensbythebay.com.sg/en.html

Marina Bay Sands
https://www.marinabaysands.com

To Be Continued…

 

 

 

Health, Beauty & Lifestyle

Periksa Dini Sebelum Terlambat

prodia
(Prodia)

Kanker serviks atau kanker mulut rahim dalam waktu terakhir sudah menjadi momok menyeramkan bagi seluruh wanita. Tidak hanya menyerang wanita yang sudah berumur tapi penyakit ini juga bisa menyerang wanita muda. Kanker serviks merupakan pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia dengan angka kejadian lebih dari 15.000 kasus per tahunnya. (Sumber: Yayasan Kanker Indonesia)

Gejala-kanker-serviks
(Familinia)

Kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Jenis virus HPV yang merupakan penyebab utama kanker serviks di dunia adalah HPV 16 dan 18. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV yang kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala (silent killer). Akibatnya banyak pasien yang datang saat sudah mengalami stadium lanjut dimana penyakit kanker ini sudah susah diobati. Karena itu, vaksinasi kanker serviks sangat dianjurkan, demikian juga Penapisan / skrining. (Sumber: Wikipedia).

Tahapan-kanker-serviks
(Familinia)

Pencegahan kanker serviks melalui vaksin HPV bisa dilakukan sejak dini, mulai dari usia 10 tahun. Vaksin HPV ini dinilai lebih efektif untuk perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Vaksin HPV akan diberikan melalui suntikan sebanyak 3 kali, yaitu bulan ke nol, satu dan enam. Sayangnya harga vaksin ini cukup mahal, yaitu kurang lebih 700 ribu Rupiah per kali suntik. Akan tetapi apabila dibandingkan dengan biaya perawatan intensif di rumah sakit ketika sudah terinfeksi HPV maka harga tersebut jauh lebih murah. Oleh karena itu pemberian vaksin HPV sejak dini dinilai cost effective.

Vaksinasi HPV tidak menjamin kita akan sepenuhnya aman dari infeksi HPV selamanya. Oleh karena itu kita harus tetap melakukan pemeriksaan rutin seperti pap smear dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) untuk deteksi dini kanker serviks, paling tidak setahun sekali bagi pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual. Hal ini disebabkan vaksin HPV yang diberikan hanya efektif untuk mencegah virus jenis HPV 16 dan 18 yang diketahui sebagai 70-80% penyebab kanker serviks. Sedangkan 20-30% penyebab lain disebabkan oleh jenis HPV yang lain dan belum ada vaksinnya.

Pemeriksaan pap smear dan IVA untuk deteksi dini kanker serviks memiliki perbedaan pada prosedur dan keakuratannya.

  • IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
    Pemeriksaan meliputi pemeriksaan visual vagina apakah ada kelainan atau tidak. Dilanjutkan dengan test oles asam asetat / asam cuka di permukaan serviks. Apabila serviks bereaksi dan berubah warna menjadi keputihan setelah pengolesan asam asetat maka kemungkinan terdapat sel kanker di serviks. Pemeriksaan IVA biayanya lebih murah karena tidak memerlukan alat test laboratorium dan teknisi laboratorium untuk membaca hasil test. Selain itu hasilnya bisa didapatkan langsung tanpa menunggu berhari-hari. Pemeriksaan IVA bisa dilakukan di tempat praktek bidan, puskesmas dan klinik kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan khusus.
  • Pap Smear
    Setelah pemeriksaan visual vagina untuk melihat ada kelainan atau tidak, pemeriksaan dilanjutkan dengan mengambil sampel sel serviks dengan alat khusus dan kemudian hasilnya akan dikirim ke laboratorium dan menunggu beberapa hari untuk mengetahui hasil dari laboratorium. Harga pap smear lebih mahal dari IVA karena menggunakan fasilitas laboratorium dan juga tenaga medis terlatih. Pemeriksaan pap smear dinilai lebih akurat dibanding IVA.

Pap smear dan IVA hanya bisa dilakukan bagi wanita yang sudah menikah atau yang sudah aktif berhubungan seksual. Hal ini dikarenakan pada prosedurnya, vagina wanita akan dimasukkan alat spekulum yang dikhawatirkan bisa merobek selaput dara seorang wanita yang masih perawan. Selain itu, pemeriksaan pap smear dan IVA tidak bisa dilakukan saat menstruasi dan sesaat setelah berhubungan seks karena akan mengurangi keakuratan pembacaan hasilnya. Disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual 24 jam sebelum melakukan pap smear dan IVA.

Sebagai perempuan Indonesia yang cerdas dan tanggap sudah seharusnya kita bisa lebih paham dan waspada dengan bahaya kanker serviks ini. Alangkah lebih baik nya kita memeriksakan diri sejak dini sebelum terlambat. Wanita yang telah menikah dan aktif melakukan hubungan seksual sebisa mungkin harus rutin melakukan pemeriksaan pap smear. Disarankan untuk mengambil paket Medical Check Up (MCU) khusus wanita yang sekalian ada pemeriksaan pap smear-nya daripada pemeriksaan tunggal pap smear. Selain harganya jadi lebih murah, panel pemeriksaan juga lebih banyak sehingga kita dapat mengetahui kesehatan tubuh kita secara menyeluruh. Kalau malas pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri karena malas antri atau jauh, alternatif lainnya adalah mendatangi laboratorium klinik terdekat yang biasanya juga menyediakan layanan MCU dan pemeriksaan pap smear. Contohnya adalah Prodia.

Prodia adalah laboratorium klinik terkemuka dengan jaringan terluas se-Indonesia. Prodia memiliki 128 cabang (251 outlet) di 104 kota yang tersebar di 30 provinsi. Sebagai bukti konsistensi dan layanan yang memuaskan, Prodia sudah menerima berbagai sertifikasi mutu dan penghargaan sebagai brand terbaik.

PWHC
(Google)

Saat ini Prodia telah mendirikan Prodia Women’s Health Center (PWHC) di Jakarta sebagai wujud dari komitmen pelayanan Prodia terhadap para wanita. PWHC menyediakan layanan pemeriksaan menyeluruh untuk wanita dengan teknologi diagnostik terkini seperti: Pemeriksaan laboratorium lengkap, Advanced Ultrasonography, Konsultasi Tim Dokter Ahli, Histeroskopi, Kolposkopi dan X-Ray (rontgen). Interior bangunan PWHC didesain bernuansa feminin dan senyaman rumah sendiri bagi wanita. Untuk itu, PWHC bisa menjadi salah satu pilihan bagi para wanita yang merasa kurang nyaman untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit atau di klinik  biasa.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Laboratorium Klinik Prodia dan Prodia Women’s Health Center (PWHC) bisa langsung contact:

Kantor Pusat Prodia
Prodia Tower
Jalan Kramat Raya No. 150
Jakarta Pusat 10430
Telp: 021-3144182
Websitehttp://prodia.co.id

Prodia Women’s Health Center (PWHC)
Jalan Wolter Mongisidi No. 77
Kebayoran Baru, Jakarta
Telp: 021-72783858
E-mail: womenshealthcentre@prodia.co.id