Travel Journal

Trip To Japan (Day 11): Tokyo – Part 2

Sabtu, 22 April 2017

Dikarenakan biasanya weekend identik dengan keramaian di hampir semua tempat wisata, jadi weekend ini akan kami habiskan dengan beredar di Tokyo saja. Kebetulan kami juga belum sempat menjelajahi kota Tokyo saat tiba di Tokyo kemarin tanggal 19 April 2017. Itinerary hari ini adalah mengunjungi Harajuku, Shibuya dan Ginza yang merupakan tempat nongkrong anak gaul Tokyo, hahaha. Khusus hari ini ada dispensasi untuk bangun agak siangan karena kebanyakan toko di Tokyo juga baru buka jam 10 pagi.

Harajuku

Kami start berjalan kaki dari apartemen pk 09:30 menuju stasiun kereta Nakano. Dari stasiun kereta Nakano kami naik kereta ke stasiun kereta Shinjuku dan ganti kereta ke arah Harajuku. Suasana Harajuku saat kami tiba sudah ramai dan padat.

P_20170422_141917_BF

Takeshita Street

Takeshita street adalah tempat nongkrong anak-anak muda Tokyo. Di sepanjang jalan kita akan banyak menemukan toko yang menjual barang-barang fashion dan juga cafe-cafe unik dan lucu. Sehubungan budget yang teratas kami tidak mampir di cafe-cafe tersebut.

P_20170422_112805_vHDR_Auto
Takeshita Street

Begitu sampai di Takeshita Street kami langsung berbelanja di DAISO. Toko DAISO menjual berbagai jenis barang dengan harga 100 Yen (plus pajak jadinya 108 Yen per item). Tapi untuk beberapa item ada juga yang harganya diatas 100 Yen. Toko DAISO sebenarnya juga ada di Jakarta tapi dari segi harga lebih mahal (Rp. 25.000 per item) dan pilihan barangnya lebih sedikit. Turis asing banyak terlihat sedang berbelanja di toko ini. Setelah selesai berbelanja di DAISO, kami mencari restaurant untuk makan siang. Pilihan untuk makan siang jatuh di restaurant fast food Lotteria yang sesuai dengan budget.

LINE Friends Store

P_20170422_132754_vHDR_Auto
With Giant Brown
P_20170422_133744_vHDR_Auto
LINE Friends Store

Toko LINE Friends ini terletak tidak jauh dari Takeshita Street. Toko ini menjual segala pernak-pernik bertema karakter-karakter LINE. Bahkan ada 1 ruangan bertema Brown segala lho. Gemes! Harga barang-barang disini cukup mahal karena memang original product of LINE. Kalau saya sih disini hanya numpang foto aja, tidak beli apa-apa (emak-emak medit). Selesai dari toko LINE Friends kami berjalan kaki kembali ke stasiun kereta Harajuku untuk menuju ke Shibuya.

Shibuya

Dari stasiun kereta Harajuku kami naik kereta ke stasiun Shibuya. Perjalanan dengan kereta hanya ditempuh dalam waktu 3 menit. Sebenarnya dari daerah Harajuku ke Shibuya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi karena kaki sudah pegal dan punggung ecok, lebih baik kami naik kereta saja, hahaha.

Hachiko Statue

P_20170422_144748_vHDR_Auto
Hachiko Statue

Patung Hachiko adalah patung anjing berukuran kecil yang melupakan lambang kesetiaan seekor anjing terhadap majikannya. Patung ini terletak tidak jauh dari pintu keluar stasiun Shibuya. Kami tidak berfoto di depan patung ini dikarenakan panjangnya antriannya. Alhasil pak suami hanya bisa mengambil foto dari jauh saja.

Shibuya Crossing

P_20170422_145002_vHDR_Auto
Shibuya Crossing

Shibuya Crossing adalah salah sudut kota Tokyo yang terkenal. Sebenarnya sih cuma penyebrangan jalan biasa tapi yang bikin spesial adalah jumlah simpangan penyebrangannya yaitu ada 5 simpangan dan ketika lampu merah menyala, semua jalur ini serentak dipenuhi dengan penyebrang jalan. Lokasi Shibuya Crossing ini tepat di depan pintu stasiun kereta Shibuya.

Kiddy Land Shibuya

P_20170422_140146_vHDR_Auto
With Rilakkuma & Hello Kitty

Toko ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun kereta Shibuya. Kiddy Land adalah salah satu toko mainan dan pernak-pernik yang terkenal di Tokyo. Bangunan toko ini memiliki 5 lantai. Walaupun toko ini diperuntukkan untuk anak kecil tapi saya lihat banyak juga orang dewasa yang berbelanja disini karena banyak barang yang lucu dan menggemaskan. Selain di Shibuya, Kiddy Land juga memiliki cabang di tempat lain di Jepang.

Mugiwara Store

P_20170422_150151_vHDR_Auto
Pose bersama karakter One Piece

Sehubungan pak suami adalah penggemar One Piece maka dia bersemangat sekali mau ke Mugiwara yang menjual aksesoris original One Piece. Toko Mugiwara ini terletak di dalam mall Shibuya Marui lantai 7. Di dalam toko ada beberapa patung karakter One Piece yang bisa difoto-foto. Selesai dari Mugiwara kami melanjutkan perjalanan ke Ginza.

Ginza

Dari Shibuya kami naik subway ke Ginza. Subway ini tidak di-cover oleh JR Pass sehingga kita harus membayar tiketnya sendiri. Stasiun subway Ginza ini punya banyak pintu keluar jadi daripada salah jalan kami bertanya ke counter information yang berada dekat pintu keluar. Kami menanyakan arah jalan ke Uniqlo.

Uniqlo Ginza

Uniqlo salah satu brand fashion Jepang. Sebenarnya di Indonesia sudah ada cabang Uniqlo juga tapi Uniqlo di Ginza ini jauh lebih lengkap koleksinya terlihat dari bangunan yang lebih besar dan terdiri dari 12 lantai. Harga pun lebih murah 20-30% untuk beberapa item. Ada tambahan free tax 8% juga untuk turis asing dengan minimum pembelanjaan 5.000 Yen (wajib menunjukkan passport di kasir). Nanti receipt barang yang kita beli di Uniqlo akan di-staples di halaman passport kita dan tidak boleh di lepas sampai kita sampai di Indonesia. Selesai berbelanja, saya dan suami mencari restaurant untuk makan malam. Saat itu sedang turun hujan yang lumayan deras. Untung aja kami sudah bawa payung lipat di tas, hehe.

Mencari restaurant murah meriah di daerah Ginza tidak lah mudah karena mall di Ginza yang saya datangi tidak ada food court-nya. Tempat makan di pinggir jalan berupa cafe-cafe elit tempat nongkrong anak muda Jepang yang tidak sesuai budget kami. Akhirnya kami harus berjalan kaki agak jauh sampai menemukan kedai Pepper Lunch Yurakucho. Harga Pepper Lunch disini tidak berbeda jauh dengan di Indonesia, hanya saja kita bisa memilih porsi nasi-nya small, medium atau large. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.

Don Quijote (Donki) Ginza

Dari tempat makan malam, kami berjalan kaki menuju toko Don Quijote (Baca: Donki Hote) Ginza. Malam itu hujan masih turun dan membuat suhu udara makin dingin. Perjalanan ke toko Donki cukup jauh yaitu sekitar 1 km yang ditempuh selama 15 menit jalan kaki. Sesampainya di toko Donki kami langsung kalap berbelanja oleh-oleh. Toko ini jauh lebih besar dan lengkap dari Daiso Harajuku yang kami datangi tadi pagi dan buka 24 jam. Pilihan oleh-oleh makanan jauh lebih banyak juga. Benar-benar seperti toko serba ada. Harga barang di Donki memang tidak flat seperti di Daiso tapi hitungannya tetap murah. Apalagi ada free tax 8% untuk turis asing yang berbelanja minimum 5.000 Yen. Untuk tax redemption ada di counter terpisah dari kasir. Nanti receipt belanjaan kita akan di-staples di passport kita. Barang belanjaan kita juga akan di-wrap dan tidak boleh dibuka sampai kita tiba di Indonesia.

Selesai berbelanja di Donki, kami berjalan kaki ke stasiun kereta terdekat Shimbashi untuk naik kereta ke stasiun Kanda dan berganti kereta ke arah stasiun Nakano.

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Shopping at Daiso Harajuku = JPY 702 = IDR 85.398
  • Lunch at Lotteria Harajuku = JPY 1.620 = IDR 197.073
  • Subway to Ginza = 2 x JPY 200 = JPY 400 = IDR 48.660
  • Shopping at Uniqlo Ginda = JPY 6.970 = IDR 847.900
  • Dinner at Pepper Lunch = JPY 1.685 = IDR 204.980
  • Shopping at Donki Ginza = JPY 5.360 = IDR 652.044

TOTAL EXPENSES = JPY 16.737 = IDR 2.036.056

To Be Continued…

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 10): Tateyama Kurobe Alpine Route

Jumat, 21 April 2017

Rencana perjalanan hari ini masih ke tempat yang jauh dan dingin. Untuk pertama kalinya hari ini saya dan suami akan merasakan yang namanya salju secara langsung. Awalnya agak bingung juga, masa iya di bulan April yang kategori musim semi begini masih ada salju? Dan ternyata iya beneran ada salju! Bahkan saljunya ada sepanjang tahun. Wow! Tapi lokasinya tidak disembarang tempat tentunya. Salju ini hanya bisa ditemukan di deretan pegunungan Tateyama atau dikenal dengan Alpine Route yang terletak diantara kota Toyama dan Nagano. Alpine route ini bisa diakses melalui 2 rute, yaitu rute Toyama ke Nagano dan rute Nagano ke Toyama. Dikarenakan start point kami adalah dari Tokyo, maka rute yang kami pilih adalah rute Nagano ke Toyama.

Selain pemandangan pegunungan salju, atraksi yang terkenal dari Alpine Route ini adalah Murodo Snow Wall, yaitu dinding salju setinggi hampir 20 meter yang bisa diakses dengan berjalan kaki. Untuk tahun ini, akses ke Snow Wall akan dibuka sampai 22 Juni 2017. Selain Snow Wall, pada rute perjalanan alpine route kita bisa melihat Kurobe Dam. Akan tetapi bendungan ini baru beroperasi saat musim panas dimana air yang ada sudah tidak beku, hehe. Untuk tahun ini, Kurobe Dam akan beroperasi mulai tanggal 26 Juni 2017. Jadwal ini setiap tahunnya mungkin akan berbeda, jadi lebih baik cek di website langsungnya ya http://www.alpen-route.com/en/

Seperti tempat bersalju lainnya, suhu udara di Alpine Route ini bisa mencapai -3 derajat Celcius. Bagi kita manusia tropis, kita akan butuh banyak penyesuaian dalam hal atribut pakaian. Disarankan untuk memakai pakaian berlapis (saya dan suami pakai 3 lapis pakaian dan celana), down jacket, sarung tangan, kaus kaki, syal dan penutup kepala (bisa dipakai untuk menutupi kuping juga). Jangan sampai sudah jauh-jauh datang kesini malah jadi tidak bisa enjoy karena kedinginan, hahaha.

Tiket Alpine Route ada yang berupa tiket satuan (hitungannya jadi lebih mahal sekali: cek di http://www.alpen-route.com/en/transport_new/fares.html) dan ada yang berupa combine ticket, antara lain:

  • Tateyama-Kurobe Option Ticket
    Tiket ini meng-cover semua unit transportasi dari Toyama ke Nagano atau Nagano ke Toyama (hanya berlaku one way) dan hanya berlaku untuk turis asing yang berkunjung ke Jepang sebagai temporary visitor. Tiket ini berlaku selama 5 hari.
    Fares for foreign tourists: 9.000 Yen (adults) dan 4.500 Yen (children).
    Period of sales: 14 April – 8 November 2017

  • Alpine-Takayama-Matsumoto Area Tourist Pass
    Tourist pass ini meng-cover tidak hanya unit transportasi di Alpine Route tapi juga kereta dan bus ke daerah wisata di sekitar Alpine Route seperti Takayama, Nagoya dan Matsumoto. Tourist pass ini berlaku selama 5 hari dan khusus untuk foreign tourist.
    Fares: 17.500 Yen (adults) dan 9.750 Yen (children)
    Period os sales: 1 February – 8 November 2017

  • Tateyama Kurobe Alpine Ticket
    Ticket ini meng-cover semua unit transportasi seperti Tateyama-Kurobe option Ticket tapi ditambah dengan akses kereta dari kota-kota besar di Jepang seperti Osaka, Kyoto, dan Nagoya. Harga tergantung dari start point dan kereta yang digunakan.

Kami memilih Tateyama-Kurobe Option Ticket yang sudah kami beli ticketnya saat beredar di stasiun kereta JR Kyoto. Selain stasiun Kyoto, tiket ini juga bisa diperoleh di stasiun besar JR lainnya (Osaka, Tokyo, dll). Silahkan liat website-nya langsung http://www.jrtateyama.com/e/index.html

Nakano to Nagano (Train & Shinkansen)

Khusus untuk hari ini, kami memulai perjalanan kami dari pagi sekali. Kami naik kereta pk. 06:46 dari stasiun kereta Nakano menuju ke stasiun Tokyo untuk berganti kereta shinkansen disana. Kami sampai di stasiun Tokyo pk. 07:03 dan menunggu shinkansen Kagayaki yang dijadwalkan berangkat pk. 07:20. Ternyata setelah kereta shinkansen Kagayaki datang, kami baru tahu bahwa kereta shinkansen Kagayaki ini hanya tersedia gerbong reserved. Kalau kita belum melakukan reservasi, kita tidak bisa naik kereta ini. Sekedar informasi, shinkansen Kagayaki termasuk dalam kereta shinkansen super express dimana kereta hanya berhenti di beberapa stasiun sehingga jadwal tiba di tujuan akan lebih cepat. Dikarenakan kami gagal naik kereta shinkansen Kagayaki, akhirnya jadwal kereta kami pun jadi berubah. Kami naik kereta shinkansen Asama yang berangkat dari stasiun Tokyo pk. 07:24 dengan konsekuensi jadwal tiba di stasiun Nagano lebih telat dari jadwal semula yaitu pk. 09:14.

Nagano To Ogizawa (Express Bus) – 1.433 mdpl

P_20170421_122355_BF
Antrian Trolley Bus di Ogizawa

Dari stasiun kereta Nagano, kita harus berjalan keluar ke arah east gate kemudian mencari bus stop no. 25 dengan keterangan “Shinano Omachi / Ogizawa”. Kami menunggu bus yang berangkat pk. 10:30. Jadwal lengkap express bus Nagano-Ogizawa bisa dilihat di http://www.alpen-route.com/en/timetable/others01_2017.html. Express bus ini sudah termasuk dalam paket Tateyama Kurobe Option Ticket. Untuk pembelian tiket satuan (non paket) dikenakan biaya 2.600 Yen (adults) dan 1.300 Yen (children) yang diserahkan ke driver sebelum naik bus. Oh ya, karena kami bawa bekal dari rumah, maka kami makan bekal di bus sesaat sebelum turun di Ogizawa.

Ogizawa To Kurobe Dam (Kanden Tunnel Trolley Bus) – 1.470 mdpl

P_20170421_122901_BF
Inside The Bus

Kami tiba di Ogizawa pk. 12:15. Benar-benar sudah telat jauh dari itinerary, hahaha. Begitu turun dari Express Bus, hawa dingin menusuk sudah mulai terasa. Hamparan salju sudah mulai terlihat walaupun tidak banyak. Dari Ogizawa kita harus naik Trolley Bus untuk sampai ke Kurobe dam. Kami naik Trolley Bus pk. 12:30 dan tiba di Kurobe Dam pk. 12:46. Timetable untuk unit transportasi di Alpine Route bisa dilihat di website mereka http://www.alpen-route.com/en/timetable. Harap diperhatikan bahwa jadwal transportasi bisa berbeda untuk periode waktu yang berbeda dan tergantung kondisi cuaca saat itu. Jadi pastikan untuk selalu cek website Alpine Route ya.

P_20170421_125303_vHDR_Auto
Kurobe Dam (Airnya masih beku)

Di Kurobe Dam, kita hanya bisa melihat bangunan bendungan saja tanpa air yang mengalir karena airnya masih beku. Di titik ini kita bisa melihat pemandangan deretan pegunungan salju. Saya dan suami benar-benar takjub bahwa Jepang punya pemandangan alpine seperti ini. Setelah puas mengambil foto dan menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan ke titik selanjutnya.

Kurobe Dam To Kurobeko (Walk) – 1.455 mdpl

Untuk menuju Kurobeko kita tinggal berjalan kaki sekitar 15 menit dari Kurobe Dam dengan mengikuti petunjuk arah yang ada. Di Kurobeko kita akan menaiki cable car menuju titik selanjutnya yaitu Kurobedaira.

Kurobeko To Kurobedaira (Cable Car) – 1.828 mdpl

P_20170421_134001_vHDR_Auto

Kami naik cable car dari Kurobeko pk. 13:20 dan tiba di Kurobedaira pk. 13:25. Di Kurobedaira terdapat semacam food court yang menjual berbagai makanan. Kondisi food court saat itu sungguh padat sekali. Untung saja kami sudah makan siang, jadi kami tinggal beli camilan (kami memilih menu bakpao) saja untuk menghangatkan tubuh. Di belakang food court ada halaman dengan hamparan salju yang juga dipenuhi pengunjung yang ingin bermain salju atau sekedar berfoto ria. Dari sini kami kembali ke dalam stasiun untuk mengantri ropeway ke Daikanbo.

P_20170421_141244_vHDR_Auto
Pegunungan Salju

Kurobedaira To Daikanbo (Tateyama Ropeway) – 2.316 mdpl

Dari Kurobedaira kami naik Tateyama Ropeway menuju Daikanbo pk. 13:40 dan tiba di Daikanbo pk. 13:47. Setibanya di Daikanbo kami pergi ke toilet dulu kemudian segera masuk ke antrian bus ke Murodo.

Daikanbo To Murodo (Tateyama Tunnel Trolley Bus) – 2.450 mdpl

P_20170421_150320_BF
Selfie di Snow Wall
P_20170421_145742_vHDR_Auto
Ada jalur pejalan kaki-nya

Kami naik Tateyama Tunnel Trolley Bus dari Daikanbo pk. 14:15 dan sampai di Murodo pk. 14:25. Dari tempat turun bus di Murodo, kami berjalan keluar dari terowongan dan hamparan salju sudah terlihat dimana-mana. Suhu udara di Murodo ini saat itu adalah -2 derajat Celcius. Dingin sekali! Kami melanjutkan berjalan kaki ke Murodo Snow Wall. Tampak pengunjung memadati area Snow Wall untuk berfoto-foto dan bermain salju. Jalanan Snow Wall yang bisa diakses pengunjung hanya sedikit saja, kurang dari 1 km. Ada batas yang tidak boleh dilalui oleh pengunjung sehingga kita harus berputar kembali ke terowongan Murodo. Saat perjalanan kembali ke terowongan Murodo, sempat turun hujan salju dan suhu terasa semakin dingin. Kami bergegas berjalan kembali ke arah terowongan dan mengantri bus untuk turun ke Bijodaira. Saat mengantri bus, cuaca menjadi berkabut dan mengurangi jarak pandang.

Murodo To Bijodaira (Tateyama Highland Bus) – 977 mdpl

Ada 2 antrian bus ke Bijodaira, yaitu antrian bus yang stop di beberapa tempat (Tengudaira dan Midagahara) dan antrian bus yang langsung ke Bijodaira tanpa stop di tempat lain. Dikarenakan waktu yang semakin sore dan supaya tidak kemalaman sampai di Tokyo, kami memilih bus yang langsung ke Bijodaira saja. Kami naik Tateyama Highland Bus dari Murodo pk. 15:00 dan sampai di Bijodaira pk. 15:50. Jalan menuju Bijodaira adalah jalanan turunan yang berkelok-kelok, dengan pemandangan pohon-pohon bersalju di kiri kanan-nya.

Bijodaira To Tateyama Station (Tateyama Cable Car) – 475 mdpl

Kami naik cable car pk. 16:00 dari Bijodaira dan sampai di Tateyama Station pk 16:07.

Tateyama Station To Dentetsu Toyama (Toyama Chiho Railroad)

Saat sampai di Tateyama station, antrian kereta Toyama Chiho Railroad menuju Dentetsu Toyama sudah panjang. Kami segera masuk antrian dan menuju kereta datang. Kami naik Toyama Chiho Railroad pk. 16:17 dan tiba di Dentetsu Toyama pk. 17:20.

Dentetsu Toyama To JR Toyama Station

Dari tempat turunnya kereta Toyama Chiho Railroad di Dentetsu Toyama, kita tinggal berjalan keluar dan mengikuti petunjuk arah menuju stasiun kereta JR Toyama. Stasiun kereta JR Toyama di sebelah gedung Dentetsu Toyama. Sebelum masuk stasiun kereta JR Toyama, kami membeli makan malam di restaurant fast food Lotteria yang berada dekat pintu keluar Dentetsu Toyama.

JR Toyama Station To Nakano Stastion

Di stasiun kereta JR Toyama, kami mampir di ticket office terlebih dahulu untuk melakukan reservasi kereta shinkansen Kagayaki ke Tokyo pk. 18:15. Kami memilih kereta shinkansen Kagayaki supaya lebih cepat sampai di Tokyo. Kami tiba di stasiun kereta Tokyo pk. 20:23 dan berganti kereta ke arah stasiun kereta Nakano. Waktu sudah menunjukkan pk. 20:59 saat kami tiba di stasiun kereta Nakano.

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Ocha at vending machine : JPY 115 = IDR 13.990
  • Bakpao 2 pcs at Kurobedaira : JPY 500 = IDR 60.825
  • Dinner at Lotteria : 2 x JPY 750 = JPY 1.500 = IDR 182.475

TOTAL EXPENSES = JPY 2.115 = IDR 257.290

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 9): Mount Fuji, Lake Kawaguchi And Shibazakura Festival

Kamis, 20 April 2017

Mumpung punya JR Pass harus dimanfaatkan untuk berpergian ke tempat-tempat yang jauh dong. Hari ini kami akan pergi melihat Gunung Fuji (Fuji-San) yang terkenal itu. Sebelum memutuskan ke lokasi tersebut, kami mengecek prakiraan cuaca terlebih dahulu. Untuk memperoleh pandangan maksimal tanpa kabut di Gunung Fuji, cuaca haruslah CERAH dan menurut prakiraan cuaca hari ini, daerah Gunung Fuji akan sunny all day. What a perfect day to begin our adventure!

Sekedar informasi, walaupun cuacanya dikategorikan sunny tapi karena lokasinya terletak di daerah dataran tinggi maka suhu udaranya tetap dingin. Bahkan suhu-nya lebih dingin daripada di kota Tokyo. Oleh karena itu, pastikan memakai pakaian yang sesuai ya. Disarankan untuk tidak berkunjung ke tempat ini saat weekend atau periode Golden Week (Hari libur nasional Jepang) karena bisa dipastikan akan padat sekali.

Kami berangkat pagi dari apartemen supaya tidak kemalaman pulangnya. Dari stasiun kereta Nakano, kami naik kereta ke stasiun Mitaka untuk berganti kereta ke stasiun Otsuki. Kereta yang kami naiki dari Mitaka ke Otsuki lumayan penuh jadi kami tidak dapat tempat duduk.

Sesampainya di stasiun kereta Otsuki, sudah tampak antrian pengunjung di loket tiket. Para pengunjung ini hendak membeli tiket kereta Fujikyu Railway untuk tujuan stasiun Kawaguchiko. Harap diperhatikan, antrian di loket ini hanya perlu jika kita hendak memesan tiket untuk round trip Otsuki-Kawaguchiko atau untuk group. Selain itu, kita bisa membelinya di vending machine. Tiket kereta Fujikyu Railway ini tidak di-cover oleh JR Pass. Dikarenakan antrian loket tiket sangat panjang, saya dan suami lebih memilih beli tiket satuan di vending machine saja. Untuk Fujikyu Railway ini ada 2 jenis kereta yaitu kereta lokal dan express. Tentu saja kereta express lebih mahal harga tiketnya tapi kita jadi lebih cepat sampai di tujuan karena kereta tidak stop di semua stasiun. Kami memilih kereta express (Fujisan Express) yang saat itu keretanya sudah standby di stasiun. Setelah membeli tiket seharga 1.140 Yen per orang, kami segera naik ke kereta dan mendapatkan tempat duduk.

P_20170420_104013_vHDR_Auto
Pemandangan dari dalam kereta

Perjalanan kereta Fujisan Express ke stasiun kereta Kawaguchiko memakan waktu sekitar 47 menit. Sesampainya di stasiun Kawaguchiko terlihat antrian panjang di loket tiket. Loket tiket di stasiun Kawaguchiko ini sangat sempit ruangannya, tidak sesuai dengan jumlah pengunjungnya. Dalam ruangan loket tiket, ada 2 counter yaitu counter Highway Bus (Kawaguchiko-Shinjuku) dan counter tiket Sightseeing Bus & boat. Kami ikut jalur antrian untuk membeli tiket Kawaguchiko Sightseeing Bus and Saiko Sightseeing Bus (Red Line and Green Line) seharga 1.200 Yen per orang yang berlaku selama 2 hari. Tidak ada tiket satuan untuk sightseeing bus ini. Setelah mendapatkan tiket bus, kami mengantri di bus stop yang ada di depan pintu utama (keluar/masuk) stasiun kereta Kawaguchiko dan naik red-line sightseeing bus pk. 11:15. Untuk jadwal sightseeing bus selengkapnya, silakan cek di website-nya langsung: http://bus-en.fujikyu.co.jp/heritage-tour/detail/id/1/

Mt. Kachi-Kachi Ropeway (Cable Car)

Dengan menggunakan red-line sightseeing bus, kami turun di bus stop no.11:  Plesure Cruiser/Ropeway Entrance. Dari bus stop tinggal berjalan kaki mengikuti papan arah yang ada. Untuk cruiser, tinggal berjalan kaki ke arah danau. Untuk ropeway, harus jalan kaki dengan sedikit mendaki ke stasiun cable car-nya (stasiun Kohan). Kami membeli tiket cable car round trip seharga 800 Yen per orang. Sebelum mengantri cable car, kami pergi ke toilet terlebih dahulu karena di stasiun atas bukit (stasiun Fujimidai) tidak tersedia toilet.

P_20170420_131456_vHDR_Auto
Cable Car

Cable car di tempat ini kapasitasnya tidak terlalu besar. Perjalanan dari stasiun bawah (stasiun Kohan) ke stasiun atas (Stasiun Fujimidai) ditempuh selama 3 menit saja. Dari stasiun Fujimidai, tinggal berjalan kaki menuju observatory deck. Dari observatory deck kita bisa melihat pemandangan Gunung Fuji yang luar biasa indah. Foto dari spot ini hasilnya seperti foto pemandangan post card (dengan catatan kalau cuaca cerah dan tidak berkabut). Apalagi saat kami tiba disini masih ada sisa pohon sakura-nya jadi beneran terlihat aura Jepang-nya, hahaha.

P_20170420_124855_vHDR_Auto
Hello Fuji-San

Di Fujimidai tidak ada restaurant, kedai ataupun vending machine makanan. Saat kami kesana sedang ada renovasi bangunan, sepertinya sih mau bikin fasilitas tempat makan tapi entah kapan bangunannya selesai. Untungnya kami bawa bekal makan siang dari apartemen. Jadi kami tinggal mencari tempat duduk dan makan bekal saja. Tentunya dengan bonus pemandangan Gunung Fuji.

Setelah makan siang dan puas foto-foto, kami mengantri cable car untuk turun ke stasiun bawah (stasiun Kohan). Antrian cable car tidak terlalu panjang sehingga kami tidak perlu menunggu lama untuk menaiki cable car. Sesampainya di stasiun Kohan, kami berjalan kaki keluar menuju bus stop semula. Tujuan kami berikutnya adalah Kukuna Hotel.

Operating Hours : 09:00 – 17:10 (April 1 – April 15); 09:00 – 17:20 (April 16 – October 15); 09:00 – 17:10 (October 16 – November 30); 09:30 – 16:40 (December 1 – February 28), 09:00 – 17:10 (March 1 – March 31); Running Interval : Variable (5 to 10 minute intervals); Ride Duration : 3 minutes from Kohan Station to Fujimidai Station; Average Time Required in Facility (Stay Time) 30 Minutes (Operations may be suspended due to reasons such as weather.)
Fares : 800 yen (adults round trip); 400 yen (children round trip); 450 yen (adults one way); 230 yen (children one way)
Closed : – 

Website: http://www.kachikachiyama-ropeway.com/en/

Kukuna Hotel

Kami tidak mampir kesini karena kami mau menginap di Kukuna Hotel lho ya. Kami mampir untuk melihat pemandangan Danau Kawaguchi dari tempat ini. Dari bus stop Plesure Cruiser/Ropeway Entrance kami kembali naik red-line sightseeing bus dan turun di bus stop no. 14: Kukuna Hotel.

P_20170420_134712
Sakura di depan Kukuna Hotel
P_20170420_134646_vHDR_Auto
Mont Fuji, lake Kawaguchi and Sakura

Pemandangan dari sini jauh lebih menakjubkan daripada di stasiun Fujimidai tadi. Dari tempat ini kita bisa melihat Danau Kawaguchi, Gunung Fuji dan bunga sakura. sungguh perpaduan yang komplit. Bahkan di tempat ini disediakan tempat duduk jadi kita bisa menikmati pemandangan sambil bersantai. Semua bisa kita nikmati secara gratis lho. Kalau ada uang dan waktu lebih sepertinya tidak ada salahnya menginap di Kukuna Hotel dengan jendela kamar yang menghadap ke Danau Kawaguchi. Jadi kalau mau hunting sunrise dan sunset dari Danau Kawaguchi tidak perlu repot-repot lagi, hehe.

Setelah puas berburu foto di lokasi ini, kami memutuskan untuk kembali ke stasiun Kawaguchiko karena mengejar waktu ke Shibazakura Festival.

Shibazakura Festival

Sesampainya di stasiun Kawaguchiko, kami segera berjalan menuju platform 7 yang terletak di sisi seberang pintu utama (keluar/masuk) stasiun Kawaguchiko, dekat bus stop Shibazakura Liner. Kami membeli tiket masuk Shibazakura Festival di loket tiket platform 7 ini. Saat membeli tiket, kami diinfokan bahwa bunga yang mekar saat itu baru sedikit saja. 1-2 minggu kemudian baru bunga-bunganya bermekaran semua. Pihak penyelenggara memberikan discount harga tiket dari 2.000 Yen menjadi 1.450 Yen per orang. Harga tiket ini sudah termasuk biaya bus ke lokasi festival (Shibazakura Liner) round trip. Kecewa sih.. Tapi masa sudah jauh-jauh kesini terus jadi membatalkan pergi ke Shibazakura Festival hanya karena bunganya belum mekar semua?! No way! Kami pun membeli 2 tiket Shibazakura Festival dan menunggu bus Shibazakura Liner datang pk. 15:00. Sambil menunggu bus, pak suami berjalan kaki ke Lawson terdekat untuk membeli sandwich. Udara dingin memang bikin lapar terus nih.

P_20170420_155227_vHDR_Auto

P_20170420_155255_vHDR_Auto

Shibazakura atau Fuji Shibazakura festival adalah festival tahunan yang diadakan saat bunga moss phlox sedang bermekaran di sebuah taman yang berlokasi di kaki Gunung Fuji (bulan April – Mei). Bunga moss phlox ini akan tumbuh menutupi tanah dengan berbagai warna yang cantik (seperti bunga sakura) dan berdempetan satu sama lain seperti rumput. Oleh karena itu bunga moss phlox ini disebut juga “lawn cherry‘ atau shiba-zakura dalam bahasa Jepang.

P_20170420_155837_BF
Masih sedikit bunga mekarnya

Perjalanan bus dari stasiun Kawaguchiko ke Shibazakura Festival ditempuh selama 30 menit. Begitu turun dari bus, udara dingin menusuk mulai terasa di tempat ini. Banyak bus-bus wisata juga yang berdatangan. Kami berjalan kaki sesuai dengan rute yang diarahkan oleh staf disana. Sesampainya di lokasi, bunga-bunga yang bermekaran memang baru sedikit dan terlihat jarang-jarang. Istimewanya di taman ini adalah pemandangan Gunung Fuji yang jauh lebih jelas dan lebih dekat dibanding dari Danau Kawaguchi. Selain itu di taman ini ada danau mini-nya juga. Kalau dilihat dari foto yang ada di brosur Shibazakura Festival, saat bunga-bunga ini bermekaran sempurna, pemandangannya akan jadi indah sekali. Warna bunga moss phlox-nya yang beraneka warna akan kontras sekali dengan Gunung Fuji. Sayang sekali pemandangan tersebut belum jadi rejeki kami, hehe.

P_20170420_161124_vHDR_Auto
Miniatur Gunung Fuji yang belum tertutup bunga Moss Phlox

Selain taman bunga, di tempat ini juga banyak dijual makanan dan souvenir bertema sakura. Saya dan suami membeli mochi sakura untuk oleh-oleh keluarga di Tangerang. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pk. 16:40. Kami pun bergegas keluar dari taman menuju ke bus stop Shibazakura Liner karena bus terakhir ke stasiun Kawaguchiko hanya sampai pk. 17:00 saja.

Dates : 15 April – 28 Mei 2017 (The dates and hours may be changed, depending on the flowering conditions.)
Opening Hours : 08:00 – 17:00 (The dates and hours may be changed, depending on the flowering conditions.)
Admission : 600 yen (adults), 250 yen (children) or 2.000 yen (Shibazakura Liner bus round trip & admission fee for adults); 1.000 yen (Shibazakura Liner bus round trip & admission fee for children)

Website: http://www.shibazakura.jp/eng/

P_20170420_193858_vHDR_Auto
Dinner Menu

Begitu sampai di stasiun Kawaguchiko, kami pun harus mengantri untuk membeli tiket Fujikyu Railway. Kami memilih kereta Fujisan Express untuk membawa kami ke stasiun Otsuki. Saat kami tiba di Otsuki waktu sudah menunjukkan pk. 19:00 sehingga kami memutuskan untuk cari tempat makan dulu untuk dinner. Suami mengajukan usul untuk mencoba makan di kedai chinese food di dekat stasiun. Saya tidak bisa menyebutkan nama kedai-nya karena namanya ditulis dalam bahasa kanji. Ternyata pemilik kedai tidak punya menu berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Inggris. Akhirnya kami memilih menu berdasarkan foto saja, haha. Tapi rasanya enak koq. Seperti biasa, air minum dikasih gratis. Setelah makan malam, kami kembali ke stasiun Otsuki untuk menunggu kereta ke arah Takao.

Kejadian konyol terjadi ketika kami menunggu di peron yang salah sehingga kami naik kereta yang kembali ke arah Kawaguchiko. Untung saja kami segera sadar dan langsung turun di stasiun pemberhentian pertama, Kami-Otsuki. Stasiun Kami-Otsuki adalah stasiun kecil di daerah pinggiran. Saat kami turun disana, kondektur kereta sampai ikut turun dan bertanya kepada kami kemana arah tujuan kami karena tidak biasanya ada orang turun di stasiun Kami-Otsuki malam begini, hahaha. Pak kondektur bilang kami tunggu kereta berikutnya saja. Tapi setelah dicek, kereta berikutnya yang kembali ke arah stasiun Otsuki baru ada 1 jam lagi. Sementara stasiun Kami-Otsuki ini bagi saya agak horror karena tidak ada orang sama sekali dan jalur kereta-nya gelap pula. Setelah mengecek Google Maps (thanks God sekarang sudah jamannya GPS!), stasiun Otsuki bisa ditempuh dengan berjalan kaki 7 menit. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki saja dibanding harus menunggu kereta berikutnya. Walaupun jalan raya sudah sepi, tapi daerah ini aman dari preman tukang palak (ya iya lah, Jepang gitu loh). Akhirnya kami sampai juga dengan selamat di stasiun Otsuki. Kali ini kami bertanya dengan jelas ke petugas stasiun tentang kereta ke arah Takao. Tidak lama kemudian kereta ke Takao datang. Di stasiun Takao kami berganti kereta untuk ke stasiun Nakano. Total lama perjalanan dari stasiun Otsuki ke stasiun Nakano adalah 90 menit. Kami tiba di stasiun Nakano pk. 21:47 dan lanjut berjalan kaki ke apartemen. Kami menyempatkan mampir ke gerai 7-11 dalam perjalanan ke apartemen untuk membeli bahan makanan dan juga sarapan untuk besok.

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Fujikyu Railway (Express) Ticket (round trip): 2 x 2 x JPY 1.140 = JPY 4.560 = IDR 554.724
  • Kawaguchiko Sightseeing Bus: 2 x JPY 1.200 = JPY 2.400 = IDR 291.960
  • Mt. Kachi-Kachi Ropeway (round trip): 2 x JPY 800 = JPY 1.600 = IDR 194.640
  • Sandwich at Lawson : JPY 250 = IDR 30.412
  • Shibazakura Festival: 2 x JPY 1.450 = JPY 2.900 = IDR 352.785
  • Oleh-oleh: JPY 880 + JPY 700 + JPY 700 = JPY 2.280 = IDR 277.362
  • Dinner: JPY 1.920 = IDR 233.568
  • Food at 7-11: JPY 1.136 = IDR 138.194

TOTAL EXPENSES = JPY 17.046 = IDR 2.073.646

To Be Continued…

 

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 8): Tokyo – Part 1

Rabu, 19 April 2017

Tengah malam menuju tanggal 19 April saya dapat surprise dari pak suami yang bekerjasama dengan teman kami. Dengan kondisi no make-up dan hanya menggunakan daster seadanya, tiba-tiba saya disodori birthday cake. Awww so sweet! Seumur menikah, baru kali ini lho pak suami bisa kasih surprise tengah malam. Biasanya juga dia udah keburu tidur dan baru ngucapin selamat ulang tahunnya besok pagi. Thank you buat pak suami dan teman saya yang sudah meniatkan surprise ini. After make a wish dan juga tiup lilin, kita semua makan kue tengah malam. Sebodo amat deh tambah gendut, hahaha.

P_20170419_000754_vHDR_Auto
My Birthday Cake

Dikarenakan tidur larut malam. kami bangun agak siang dari biasanya. Agenda hari ini hanya packing karena mau pindahan ke Tokyo. Kami memilih untuk tinggal di apartemen dibandingkan di hotel saat di Tokyo. Alasannya sih simple biar bisa masak-masak bikin bekal sendiri, hahaha. Dari beberapa bulan sebelum berangkat ke Jepang kami sudah melakukan reservasi di Air BnB. Kami memilih apartemen yang terletak di daerah Nakano, sekitar 7 menit berjalan kaki dari stasiun kereta JR Nakano. Nama Apartemennya adalah “Totoro Room”. Sesuai dengan namanya, pernak-pernik kamar bertema Totoro (tokoh anime). Kamarnya sendiri cukup luas, bisa untuk 4 orang dewasa + 1 anak kecil. Fasilitas-nya juga lengkap, terutama untuk peralatan dapurnya, hehe. Nyaman deh. Bagian kurang enaknya hanya tentang harga sih. Kami memesan untuk 7 malam dengan harga yang ditawarkan Air BnB adalah sekitar 5,7 juta Rupiah. Akan tetapi karena pembayaran Air BnB-nya menggunakan kartu kredit yang dimana kurs-nya selalu tidak menguntungkan, akhirnya biaya membengkak jadi sekitar 5,9 juta Rupiah. Huhuhu. Lumayan banget kan perbedaannya. Tapi namanya liburan ya dibawa happy aja deh.

P_20170419_093411_vHDR_Auto
Matcha Belgian Waffle

Setelah selesai packing kami berjalan menuju stasiun kereta SettsuTonda dengan masing-masing menenteng koper medium 24″. Kami kemudian naik kereta ke stasiun Kyoto untuk berganti Shinkansen ke arah stasiun Tokyo. Seperti biasa kami naik gerbong yang non reserved dan masih dapat tempat duduk sebelahan. Sebelum naik kereta kami menyempatkan diri untuk beli snacks (Belgian Waffle) untuk sarapan di Shinkansen. Oh ya, untuk koper besar yang tidak muat di bagasi kabin atas, koper harus ditaruh di space paling belakang kursi penumpang, dekat pintu gerbong, bagian kiri dan kanan. Kalau space tersebut penuh dengan terpaksa kita harus taruh kopernya di space depan tempat duduk kita. Tapi jangan sampai menghalangi penumpang lain yang mau lewat ya.

Sesampainya di stasiun Tokyo, kami pun berganti kereta lokal ke arah stasiun Nakano. Total lama perjalanan dari stasiun SettsuTonda ke stasiun Nakano (dengan Shinkansen) adalah 236 menit. Ini perjalanan kereta terlama kami selama di Jepang. Di tengah perjalanan kereta, kami menyadari kalau ada barang kami yang ketinggalan di apartemen teman kami, akhirnya barang ini dikirimkan via pos oleh teman kami ke apartemen di Tokyo.

P_20170419_130521_vHDR_Auto
Ada buku Lonely Planet Tokyo di Totoro Room
P_20170419_130515_vHDR_Auto
Totoro Room
P_20170419_130718_vHDR_Auto
Extra bed di loteng kamar
P_20170419_212913_vHDR_Auto
Walaupun dapurnya mini tapi sangat membantu dalam masak-memasak. Maafkan cucian yang menumpuk di atas mesin cuci.

Saat tiba di Tokyo, cuaca-nya panas terik banget. Beda dengan cuaca Osaka belakangan ini yang cenderung dingin. Akhirnya begitu tiba di apartemen kami jadi mandi lagi deh sebelum keluar untuk explore Tokyo. Sebelum ke stasiun Nakano kami singgah di kedai pinggir jalan yang menjual aneka bento. Untuk pembelian makanan kita harus menggunakan vending machine. Agak gambling sih pakai vending machine begini, kita cuma pilih berdasarkan gambar saja. Entah menunya apa, pakai daging apa, porsi nasinya bagaimana. Hahaha. Tapi kayaknya kami tidak salah pilih karena rasa bentonya enak dan cocok selera. Di kedai ini dapat free teh juga untuk minuman. Harga pun bersahabat. Sayangnya karena nama kedainya dalam bahasa Jepang, saya tidak tahu cara membaca namanya.

P_20170419_143041_vHDR_Auto
Bento at Nakano

Sensoji Temple (Asakusa Kannon Temple)

Dari stasiun kereta Nakano kami naik kereta sampai stasiun Kanda kemudian berganti ke subway Ginza line dan turun di stasiun subway Asakusa. Untuk subway atau biasa disebut sebagai MRT di beberapa negara lainnya, tidak ter-cover dalam JR Pass sehingga kami harus membeli tiket-nya lagi. Sebenarnya ada tiket terusan untuk subway seperti Tokyo Free Kippu / Tokyo Tour Ticket (1590 yen); Tokyo Subway Ticket (24 hours: 800 yen, 48 hours: 1200 yen, 72 hours: 1500 yen); Toei and Tokyo Metro One-Day Economy Pass (900 yen); Tokyo Metro 24-Hour Ticket (600 yen); Toei One-Day Economy Pass (700 yen) dan Tokunai Pass (750 yen) tapi karena kami penggunaannya sedikit jadi kami lebih memilih tiket satuan saja.

Saat kami datang sepertinya banyak stasiun subway yang sedang dalam renovasi jadi agak sedikit mengganggu kenyamanan dan pemandangan. Kesannya stasiun subway kurang bagus dan modern dibanding stasiun kereta. Sesampainya di stasiun subway Asakusa, kami tinggal berjalan kaki 10 menit menuju Sensoji Temple.

P_20170419_154836_BF
Sensoji Temple

Sensoji Temple adalah salah satu kuil Buddha yang terkenal di Tokyo. Saat kami datang sekitar jam 2.30 siang, kompleks kuil banyak dipadati pengunjung. Di jalan menuju kuil utama, banyak toko-toko yang berjualan souvenir dan snacks. Saat sampai di kuil utama pun, sudah tampak antrian panjang untuk berdoa disini. Yup, berdoa di kuil juga harus ikut antrian ya. Sekedar info tentang tata cara berdoa di kuil yang saya dapat dari teman saya. Kalau mau berdoa, sebelumnya kita harus lempar uang koin ke tempat yang disediakan. Biasanya yang dipakai adalah koin pecahan 5 yen. Koin 5 yen dalam bahasa Jepang disebut sebagai go-en yang secara penyebutannya mirip dengan kata yang bermakna good fortune (especially in term of relationship). Awalnya saya agak kaget juga.. koq mau sembayang aja kita harus bayar? Kemudian teman saya menjelaskan, untuk mendapatkan hasil yang baik kita wajib melakukan suatu kebaikan terlebih dahulu, salah satunya dengan berdana ke kuil. Make sense juga penjelasannya. Setelah melemparkan koin kemudian kita mengatupkan kedua tangan diatas dahi, menepukkan kedua tangan sebanyak 2x setelah itu merapatkan tangan untuk mengucapkan doa permintaan kita. Karena menurut saya bahasa doa itu universal, saya tidak segan-segan mencoba adat berdoa di kuil ini, hihi.

Setelah berdoa dan foto-foto, kami kembali ke stasiun subway untuk pergi ke tujuan selanjutnya yaitu Tokyo Sky Tree Tower.

Opening Hours : Main hall: 6:00 to 17:00 (from 6:30 from October to March); Temple grounds: Always open
Admission : free
Closed : –

Tokyo Sky Tree Tower

Perjalanan dengan subway dari stasiun Asakusa ke stasiun Tokyo Sky Tree hanya sekitar 3 menit. Ketika keluar stasiun subway Tokyo Sky Tree, tower yang dimaksud sudah terlihat tinggi menjulang di depan mata. Tower setinggi 634 meter ini adalah tower tertinggi di Jepang dan nomor dua tertinggi di dunia. Fungsi dari Tokyo Sky Tree adalah sebagai tower broadcasting televisi. Selain itu Tokyo Sky Tree juga jadi salah satu icon landmark kota Tokyo.

Pada bagian bawah tower terdapat pusat perbelanjaan dan restaurant. Bahkan ada planetarium dan aquarium-nya juga. Untuk masuk ke observation deck kita harus membayar admission fee sebesar 3.000 Yen (untuk first observatory) dan 4.000 Yen (untuk paket combo first and second observatory). Cukup mahal untuk ukuran kantong kami sehingga kami tidak masuk ke observatory deck, cukup foto-foto di depannya saja.

P_20170419_174201_vHDR_Auto
Tokyo Sky Tree yang menjulang tinggi

Ketika kami datang sekitar jam 4 sore, cuaca disini sedang berawan, hembusan anginnya kencang dan dingin banget. Saking kencangnya angin tersebut, rasanya badan kita sampai goyang-goyang kalau berjalan. Karena itu kami setelah foto-foto masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan restaurant saja. Secara tidak sengaja kami ketemu toko Marion Crepes yang terkenal itu. Ternyata Marion Crepes baru buka cabang di Tokyo Sky Tree dan saat kami datang tokonya sedang tidak terlalu ramai. Saya memesan Choco Banana Cream. Isinya banana slices, whipped cream, vanila ice cream dan chocolate sauce yang dibungkus kulit crepes yang lembut. Rasanya enak tapi ya tidak seistimewa yang dikatakan orang-orang. Setelah makan crepes, kami berkeliling di kompleks Tokyo Sky Tree saja.

P_20170419_172638_vHDR_Auto
Marion Crepes

Sebelum pulang kami makan malam di food court Solamachi lantai 3. Menu makan malam kali ini adalah Ippudo ramen. Hanya saja karena lokasinya ada di food court menu yang tersedia terbatas, makanya nama booth-nya hanya “Ippudo Noodle Express”. Saya memesan classic tonkotsu ramen (ramen babi). Rasa kuah kaldunya mantap banget. Porsinya pun banyak. Ippudo ramen adalah salah satu ramen yang terkenal di Jepang dan direkomendasikan oleh teman saya (selain Ichiran Ramen). Food court ini juga menyediakan air minum gratis untuk pengunjungnya jadi tidak perlu repot membeli air minum lagi deh.

P_20170419_183259_vHDR_Auto
Ippudo Ramen

Setelah selesai dinner kami pun kembali ke stasiun subway untuk pulang ke apartemen. Dalam perjalanan ke apartemen kami membeli roti di gerai 7-11 untuk sarapan keesokan harinya.

Opening Hours : 8:00 to 22:00 (entry until 21:00)
Admission : First observatory: 2060 yen; Second observatory: additional 1030 yen (an additional 40-740 yen is charged for time-specific advance reservations). For foreign tourists only: Fast Skytree Single Ticket (first observatory): 3000 yen; Fast Skytree Combo Ticket (first and second observatories): 4000 yen
Closed : –

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Belgian waffle for breakfast : 2 x JPY 150 = JPY 300 = IDR 36.495
  • Lunch at Nakano : JPY 690 + JPY 590 = JPY 1.280 = IDR 155.712
  • Subway: 2 x JPY (170 +180+150) = JPY 1.000 = IDR 121.650
  • Marion Crepes at Tokyo Sky Tree: JPY 520 = IDR 63.258
  • Ippudo Ramen for dinner: 2 x JPY 1.069 = JPY 2.138 = 260.088
  • Bread at 7-11 : JPY 108 + JPY 152 = JPY 260 = IDR 31.629

TOTAL EXPENSES = JPY 5.498 = IDR 668.832

To Be Continued…

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 7): Hiroshima & Miyajima

Selasa, 18 April 2017

Jadwal hari ini adalah mengunjungi Hiroshima dan Miyajima. Tentunya dengan menggunakan shinkansen karena jarak yang akan ditempuh lumayan jauh. Kami berangkat lebih pagi dari biasanya untuk mengejar waktu. Cuaca hari ini diperkirakan akan cerah.

Hiroshima

P_20170418_083857_vHDR_Auto
Penampakan Interior Shinkansen

Kami naik kereta dari stasiun SettsuTonda ke stasiun Shin-Osaka dan berganti kereta Shinkansen menuju Hiroshima. Total lama perjalanan dari SettsuTonda ke Hiroshima adalah 2 jam. Sesampainya di stasiun Hiroshima kami langsung menuju bus stop Hiroshima Sightseeing Loop Bus yang terletak di dekat Hiroshima Shinkansen entrance. Bus ini akan membawa kita berkeliling ke spot-spot wisata di kota Hiroshima. Hiroshima Sightseeing Loop Bus termasuk dalam fasilitas JR Pass sehingga pengguna JR Pass tidak perlu lagi membayar ekstra. Bagi non JR Pass harus membayar 200 Yen per ride atau 400 Yen per day.

Ada 2 jenis Hiroshima Sightseeing Loop Bus berdasarkan rute-nya, yaitu orange route bus dan green route bus. Antara bus orange dan green ada beberapa persamaan spot wisata yang dilewati seperti The atomic Bomb Dome dan Hiroshima Peace Memorial Museum. Akan tetapi apabila kalian mau mengunjungi Okonomi-mura (pertokoan yang khusus menjual produk okonomiyaki oleh-oleh khas Hiroshima) kalian harus mengambil green route bus. Untuk yang bertanya-tanya okonomiyaki itu seperti apa, okonomiyaki itu semacam omelet mie kalau di Indonesia hanya saja ditambah telur dadar, sayuran dan saus. Oh ya, kalau waktu kalian terbatas seperti halnya kami dan tidak sempat berkunjung ke Okonomi-mura, kalian bisa beli paket okonomiyaki frozen di toko di stasiun kereta. Menurut saya sih rasanya enak juga koq.

Saat kami sampai di bus stop Hiroshima Sightseeing Loop Bus, bus yang ready adalah orange route. Kami pun naik bus ini menuju The atomic Bomb Dome. Cara naik bus ini sama seperti bus umumnya. Naik bus dari pintu depan dan menunjukkan JR Pass atau membayar cash ke driver bus, sebelum turun di bus stop yang dituju harus memencet bel, dan kemudian turun bus dari pintu tengah.

The Atomic Bomb Dome

P_20170418_112859_vHDR_Auto
The Atomic Bomb Dome

Seperti kita ketahui, kota Hiroshima ini terkenal karena peristiwa bom atom-nya tahun 1945. Tanggal kejadiannya adalah 6 Agustus 1945, beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan RI. The Atomic Bomb Dome ini adalah monumen berupa puing-puing bangunan yang tersisa setelah ledakan bom atom. Sebelum peristiwa bom atom, gedung ini adalah sebuah gedung pameran yang akhirnya berkembang menjadi gedung kantor. Bom atom meledak di udara pada ketinggian 580 meter tepat diatas gedung ini dan menghancurkan kota Hiroshima. Puing bangunan yang tersisa dipertahankan untuk menjadi monumen mengenang peristiwa tragis tersebut. Monumen ini termasuk dalam UNESCO World Heritage Site.

Suasana sedih mencekam pun sangat terasa ketika kita berada di sekitar monumen ini. Tidak terbayang banyaknya korban yang berjatuhan saat itu. Saat ini kota Hiroshima sudah membangun kembali dirinya menjadi kota yang indah. Level radiasi di Hiroshima pun sudah normal dan aman untuk dikunjungi. Dari The Atomic Bomb Dome kami berjalan kaki menuju ke Hiroshima Peace Memorial Museum. Dalam perjalanan kami menyempatkan untuk makan bekal dulu di taman yanga da tempat duduknya.

Hiroshima Peace memorial Museum

Museum ini memiliki eksterior gedung yang modern. Interiornya pun dibuat nyaman untuk pengunjung. Untuk masuk ke dalam museum kita harus membayar admission fee sebesar 200 Yen per orang.

P_20170418_121842_vHDR_Auto
Model bom atom yang diledakan di atas kota Hiroshima
P_20170418_121029_vHDR_Auto
Ilustrasi sesaat setelah ledakan bom atom

Museum ini menceritakan sejarah kota Hiroshima sebelum bom atom, saat bom atom terjadi dan pasca peristiwa bom atom. Museum ini memfokuskan pada sisi kemanusiaan tentang banyaknya korban manusia yang menderita karena bom atom ini. Tidak hanya luka luar tapi efek radiasi juga merusak kromosom dan menimbulkan banyak penyakit dan kecacatan sampai beberapa generasi setelahnya. Museum juga menampilkan barang bukti pribadi milik korban-korban bom atom.

P_20170418_122156_vHDR_Auto
Sepeda anak kecil yang kena ledakan bom atom. Sepeda besi saja hancur begini, bagaimana dengan tubuh anak kecilnya? Sedih.

Perasaan saya ikut hancur melihat barang-barang pribadi korban bom atom ini. Tidak terbayang betapa menderita mereka, terutama anak kecil tak berdosa, karena luka-luka itu. Sesungguhnya dalam peperangan, tidak ada seorang pun pemenangnya, hanya ada korban dan korban. Perang tidak pernah membawa hal yang positif. Oleh karena itu, sesaat sebelum pintu keluar museum kita diminta berpartisipasi untuk mengisi petisi perdamaian anti perang (terutama perang nuklir).

Opening Hours : 8:30 to 18:00 (until 19:00 in August, until 17:00 from December to February); admission ends 30 minutes before closing.
Admission : 200 yen
Closed : December 30 to 31

Tidak terasa waktu yang kami alokasikan di Hiroshima lebih lama daripada itinerary. Kami pun kemudian menunggu Hiroshima Sightseeing Loop Bus di bus stop terdekat untuk kembali ke stasiun kereta Hiroshima. Kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Miyajima.

Miyajima

Dari stasiun kereta Hiroshima kami naik kereta lokal menuju stasiun kereta Miyajimaguchi. Perjalanan kereta ini ditempuh dalam waktu 25 menit. Dikarenakan saya dan suami menggunakan JR Pass maka untuk kereta JR ke Miyajima tidak dikenakan biaya lagi. Miyajima adalah pulau kecil yang terletak di laut dalam Seto. Untuk mencapai Miyajima kita harus menyebrang laut terlebih dahulu. Dari stasiun kereta Miyajimaguchi kami berjalan kaki sekitar 5 menit untuk sampai ke Miyajima Pier dan naik ferry boat penyebrangan ke pulau Miyajima. Ferry boat ini juga di-cover dalam JR Pass.

P_20170418_145500_vHDR_Auto
JR Ferry ke Miyajima

Itsukushima Shrine

Dari Ferry Pier pulau Miyajima, kita tinggal berjalan kaki untuk sampai ke Itsukushima Shrine. Kami sampai di Itsukushima Shrine sekitar pk. 2:30 sore. Itsukushima Shrine terkenal karena Tori Gate-nya yang berada di pinggir laut. Shrine-nya juga berada di permukaan laut. Tapi karena kami sudah kesorean sampai disana, air laut mulai susut sehingga shrine-nya tidak lagi berada di atas permukaan laut. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk mendapatkan foto Tori Gate yang masih terendam oleh laut.

P_20170418_165203_vHDR_Auto
The Famous Tori Gate
P_20170418_163242_vHDR_Auto
Suatu lorong di Itsukushima Shrine
P_20170418_170544_vHDR_Auto
Ketemu rusa-rusa liar juga di Miyajima

Untuk memasuki shrine kita perlu membayar admission fee sebesar 300 Yen (shrine only). Kompleks shrine sendiri tidak terlalu besar dan tidak banyak yang bisa dilihat. Kami tidak berlama-lama di shrine dan memilih untuk explore pulau Miyajima. Pulau Miyajima memiliki pantai yang indah dan bersih. Pantai ini hanya indah dilihat tapi tidak untuk berenang karena airnya dingin. Angin yang berhembus dari laut juga terasa dingin menusuk saat itu. Kami mengitari sekitar pantai dan mendapati toko-toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Miyajima dan berbagai snack. Oleh-oleh khas Miyajima adalah Momiji Manju Cake yaitu cake berbentuk daun maple. Selain dalam kemasan kotakan untuk oleh-oleh, beberapa toko juga menjual versi satuannya seharga 90 Yen per bungkus kecil. Kami membeli cake rasa green tea dan cokelat. Teksturnya cake-nya mirip castela. Kami juga membeli gorengan fish cake (kalau di Indonesia mirip kayak otak-otak) di salah satu toko seharga 300 dan 320 Yen. Enaak. Sekedar informasi, pertokoan di daerah Miyajima ini tutup jam 5 sore. Jadi kalau mau membeli makanan atau oleh-oleh datanglah sebelum jam 5 sore ya.

P_20170418_153534_vHDR_Auto
Pertokoan di Miyajima
P_20170418_154007_vHDR_Auto
Ngemil Fish Cake di Miyajima
P_20170418_154019_vHDR_Auto
Momiji Manju Cake rasa green tea versi satuan
P_20170418_182026_vHDR_Auto
Sunset at Tori Gate

Kami sengaja menunggu sunset di sekitaran pantai Tori Gate. Sunset hari ini diprediksikan sekitar pk. 18:43. Kami sudah berada di lokasi dari setengah jam sebelumnya. Saat menjelang sunset banyak turis-turis yang berkumpul di area ini. Air laut sudah semakin surut sehingga orang-orang bisa berfoto dibawah Tori Gate. Perlu diingat setiap harinya jadwal sunset ini berbeda-beda. Kita bisa cek jadwal sunset-nya di ticket office Itsukushima Shrine atau cek di internet sendiri. Walaupun jadwal sunset-nya pk. 18:43 tapi 15 menit sebelum jadwal itu mataharinya sudah bergeser ke balik gunung. Jadi best time-nya memang setengah jam sebelum jadwal sunset.

Opening Hours : 6:30 to 18:00 (closing time changes depending on season)
Admission : 300 yen (500 yen for combined entry with Treasure Hall)
Closed : –

Setelah selesai mengambil foto sunset, kami berjalan kembali ke pelabuhan untuk naik ferry boat dan kembali ke stasiun kereta Miyajimaguchi. Dari stasiun kereta Miyajimaguchi kami naik kereta ke stasiun Hiroshima untuk berganti kereta Shinkansen ke arah stasiun Shin-Osaka. Dari stasiun Shin-Osaka kami berganti kereta lagi menuju stasiun SettsuTonda. Total lama perjalanan dari stasiun kereta Miyajimaguchi ke SettsuTonda adalah 160 menit. Sungguh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Oh iya, sebelum naik kereta kami menyempatkan diri beli okonomiyaki (frozen) khas hiroshima kemasan kotak (1 kotak isi 1 pc) di sebuah toko di stasiun kereta Hiroshima untuk dibawa pulang ke apartemen dan juga bento untuk dimakan di Shinkansen. Kami juga membeli sandwich untuk sarapan besok pagi.

P_20170419_061144_vHDR_Auto
Okonomiyaki (frozen) yang dibeli di stasiun kereta Hiroshima

Expenses:
(Kurs 1 JPY – 121,65 IDR)

  • Admission Fee Hiroshima Peace memorial Museum = 2 x JPY 200 = JPY 400 = IDR 48.660
  • Admission Fee Itsukushima Shrine = 2 x JPY 300 = JPY 600 = IDR 72.990
  • Snack at Miyajima: JPY 320 + JPY 300 + JPY 90  = JPY 710 = IDR 86.371
  • Bento for dinner : 2 x JPY 498 = JPY 996 = IDR 121.163
  • Okonomiyaki (frozen): JPY 900 = IDR 109.485
  • Sandwich: JPY 250 = IDR 30.412

TOTAL EXPENSES = JPY 3.856 = IDR 469.082

To Be Continued…

Travel Journal

Trip To Japan (Day 6): Himeji & Nara

Senin, 17 April 2017

Hari ini perdana kami menggunakan JR Pass kami. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya kalau kami sudah membeli JR Pass saat Japan Travel Fair 2017 di Jakarta. Tiket yang kami peroleh masih berupa voucher yang harus ditukarkan dengan kartu fisik JR Pass di JR Ticket Office yang ada di stasiun-stasiun besar JR. Dengan menggunakan JR Pass kita bisa bebas menggunakan kereta JR termasuk Shinkansen (kecuali Shinkansen Super Express Nozomi & Mizuho) sepuasnya. JR Pass juga membuat kita tidak perlu antri untuk beli tiket manual lagi. Untuk selengkapnya silakan cek langsung di website JR langsung http://www.japanrailpass.net/en/

Dikarenakan kami sudah menukarkan kartu fisik JR Pass dari 2 hari sebelumnya maka hari ini kami tinggal memakainya saja. Cara pemakaian JR Pass ini sangat mudah, kita tinggal menunjukkan kartu JR Pass kita ke petugas gate stasiun yang ada di office samping gate masuk. Setelah petugas mengecek ke-valid-an kartu kita, kita dipersilakan masuk ke stasiun. Tidak perlu antri lagi seperti penggunaan tiket manual.

Prakiraan cuaca hari ini untuk daerah Himeji adalah hujan deras pada siang hari sehingga kami pun sudah mempersiapkan payung lipat di dalam tas sebelum berangkat. Rencana perjalanan hari ini adalah ke daerah Himeji dan Nara.

Himeji

Dari stasiun SettsuTonda kami naik kereta menuju stasiun Shin-Osaka untuk naik kereta Shinkansen menuju Himeji. Sebagai pengguna Shinkansen pertama kalinya, kami terkagum-kagum dengan kereta-nya. Interior kereta modern, ada toilet dan wastafel. Tempat duduk disertai dengan sandaran kaki, colokan listrik, gantungan jaket dan meja lipat untuk makan. Selain itu dari faktor speed, kereta Shinkansen ini bisa mencapai kecepatan 300 km/jam lho. Peraturan yang berlaku di Shinkansen sama seperti kereta lainnya yaitu dilarang berisik, mobile phone harus dalam silent mode, dan tidak berbicara di telepon.

Perbedaan Shinkansen lokal dan Shinkansen express adalah shinkansen lokal akan berhenti di banyak stasiun sedangkan yang express hanya berhenti di stasiun tertentu sehingga durasi perjalanan jadi lebih singkat. Shinkansen memili 2 tipe gerbong yaitu gerbong reserved dan non reserved. Untuk melakukan reservasi kita harus datang ke JR Ticket Office di stasiun tempat kita berangkat. Reservasi masih bisa dilakukan 10 menit sebelum waktu keberangkatan.

Saya dan suami karena tidak melakukan reservasi sebelumnya, naik ke gerbong Shinkansen non reserved. Saat itu di gerbong non reserved tidak terlalu banyak penumpang sehingga kami masih dapat tempat duduk bersebelahan. Kalau kalian bepergian dengan group lebih baik melakukan reservasi sebelumnya supaya bisa mendapatkan tempat duduk berdekatan.

Total lama perjalanan dari SettsuTonda untuk sampai di Himeji (dengan Shinkansen) adalah sekitar 1 jam. Dari stasiun kereta Himeji kami masih harus berjalan kaki sekitar 30 menit untuk menuju ke destinasi kami yaitu Himeji Castle. Selain jalan kaki sebenarnya ada alternatif lain yaitu naik bus tapi opsi ini tidak kami lakukan. Kapan lagi jalan kaki menikmati udara sejuk dan segar di Himeji? Kota ini sangat ramah untuk pejalan kaki, terlihat dengan lebarnya trotoar, jalanan yang lengang dan tidak hectic serta banyak sarana penyebrangan untuk pejalan kaki.

Himeji Castle

Sesampainya di Himeji Castle kami terpana melihat pemandangannya. Himeji Castle ini jauh lebih besar, megah dan bagus dibanding dengan Osaka Castle. Sisa sakura mekar pun masih banyak di kompleks Himeji Castle. Saat kami datang jumlah turis pun tidak terlalu banyak sehingga kami bisa punya kesempatan menikmati pemandangan dan juga berfoto dengan leluasa.

P_20170417_095236_vHDR_Auto
Sakura mekar di kompleks Himeji Castle
P_20170417_111416_vHDR_Auto
Himeji Castle

Kita diwajibkan untuk membeli tiket masuk sebelum masuk ke dalam castle utama yang saat ini berfungsi juga sebagai museum. Kami membeli tiket combo untuk Himeji Castle dan Kokoen Garden seharga 1.040 Yen per orang. Setelah itu kami masuk ke dalam kompleks castle.

Sesungguhnya kompleks castle ini sangat luas sekali, mungkin butuh waktu setengah hari untuk mengitarinya. Akan tetapi karena waktu dan tenaga yang terbatas, kami memilih untuk beredar di castle utama saja. Rute tour castle utama ini sangat jelas dan teratur. Para staf juga membantu mengarahkan pengunjung untuk mengikuti rute tour yang ada.

P_20170417_110158_vHDR_Auto
Interior kayu di castle utama

Bangunan castle utama memiliki 6 tingkat dan semuanya berstruktur kayu. Interior bangunan dijaga seorisinl mungkin sehingga suasana castle tetap seperti Jepang jaman dulu. Kekurangannya adalah castle utama ini tidak memiliki elevator jadi kita wajib menggunakan tangga kayu manual yang agak curam ketinggiannya untuk naik atau turun ke tiap lantai. Kita juga wajib melepaskan alas kaki untuk masuk ke dalam bangunan castle ini.

Setelah selesai mengitari castle utama, kami pun keluar mengikuti rute tour. Tiba lah kami di lapangan terbuka yang ada tempat duduk-nya dengan pemandangan Himeji Castle yang didominasi dengan warna putih. Kami beristirahat dulu disini sambil menikmati pemandangan.

Setelah itu kami keluar kompleks castle dan menemukan taman di dekat vending machine yang ada tempat duduknya. Spot ini kami gunakan untuk makan bekal yang kami bawa dari apartemen. Di dalam kompleks Himeji Castle tidak terlalu banyak penjual makanan. Untuk pilihan makanan yang lebih beragam kita harus keluar kompleks dan sampai di pinggir jalan raya dulu. Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kokoen Garden.

Opening Hours : 9:00 to 17:00 (until 18:00 from late April through August); Admission ends one hour before closing.
Admission : 1000 yen (castle only); 1040 yen (castle and nearby Kokoen Garden)
Closed : December 29 and 30

Kokoen Garden

Lokasi Kokoen Garden ini bersebelahan dengan Himeji Castle hanya saja kita harus keluar kompleks castle terlebih dahulu untuk bisa masuk ke gate Kokoen garden. Hanya perlu berjalan kaki 5 menit dan kita pun sampai di Kokoen Garden. Saat kami keluar dari kompleks Himeji Castle hujan pun mulai turun.

Kokoen Garden ini adalah taman yang bersih dan indah. Suasana taman di dominasi dengan nuansa zen yang menenangkan jiwa. Kokoen Garden punya banyak sub taman dengan tema tersendiri. Semua-nya bagus-bagus bahkan ini taman terindah yang pernah saya datangi selama di Jepang. Selain itu, taman ini tidak terlalu banyak pengunjungnya jadi kita bisa puas menikmatinya seperti taman pribadi, hahaha.

P_20170417_123027_vHDR_Auto
Masuk ke rumah bergaya Jepang di The Garden Of Lord Residence
P_20170417_124057_vHDR_Auto
The Garden of Lord Residence
P_20170417_125807_vHDR_Auto
Salah satu taman di Kokoen Garden (lupa namanya)

Taman favorit saya adalah The Garden of Lord Residence. Taman ini adalah taman terluas diantara semua taman di kokoen Garden. Di dalam taman ada rumah bergaya Jepang, kolam ikan koi (ikan koi-nya jumbo semua ukurannya), bebatuan, pepohonan dan juga air terjun kecil. Indah banget.

Kami mengitari seluruh taman yang ada disini. Saking asyiknya menikmati taman bahkan jadwal itinerary kami jadi mundur. Kami segera bergegas keluar dari Kokoen Garden dan berjalan kembali ke stasiun kereta Himeji.

Opening Hours : 9:00 to 18:00 (until 17:00 from September to mid April); Admission closes 30 minutes before closing time.
Admission : 300 yen (garden only); 1040 yen (garden and Himeji Castle)
Closed : December 29 and 30

Nara

Perjalanan dari stasiun kereta Himeji menuju Nara ditempuh selama kurang lebih 2 jam menggunakan kereta ekspress JR (non Shinkansen) dengan transit di stasiun Osaka. Saat kami tiba di stasiun Nara waktu sudah menunjukkan pk. 15:48. Sesuai itinerary harusnya kami berkunjung ke Todaiji Temple yang terkenal akan Big Buddha-nya, akan tetapi karena Todaiji Temple tutup pk. 17:30 kami mengurungkan niat masuk ke temple-nya dan hanya akan beredar di kompleks depan temple saja.

Saat kami tiba di Nara, hujan masih turun hanya saja tidak sederas seperti di Himeji. Kami mendatangi Tourist Information Center yang ada di stasiun Nara dan menanyakan rute tercepat menuju Todaiji Temple. Petugas mengatakan kami bisa ikut Nara Loop City Bus yang bus stop-nya berada tidak jauh dari kantor Tourist Information Center. Di kantor Tourist Information Center ada peminjaman payung secara cuma-cuma kalau ada yang membutuhkan. Kita tinggal ambil payungnya di tempat payung yang disediakan dan setelah selesai menggunakannya kita wajib mengembalikan payungnya di tempat tersebut.

Kami pun bergegas menuju bus stop Nara Loop City Bus. Sekedar informasi, bus ini tidak ter-cover dalam JR pass sehingga kita harus membayar sendiri biaya bus-nya sebesar 210 Yen per Orang untuk sekali naik dan turun. Kami segera naik bus dan menuju Todaiji Temple dan turun di bus stop Todaiji Daibutsuden. Dari bus stop tersebut kita masih harus berjalan kaki selama 5-10 menit untuk sampai di kompleks Todaiji Temple.

Selama perjalanan ke Todaiji Temple, kami banyak sekali melihat rusa liar berkeliaran. Tidak hanya di sekitaran Todaiji tapi rusa ini ada dimana-mana bebas berkeliaran. Dengan banyaknya populasi rusa disini tidak heran Nara menjadikan rusa sebagai maskot kota-nya.

P_20170417_164540_vHDR_Auto
Deers are everywhere!

Saya pribadi tidak begitu suka dengan rusa liar. Kalau dilihat dari kejauhan sih memang lucu tapi kalau sudah dekat dengan rusa aslinya perasaan rusanya dekil dan bau deh. Belum pula rusa-rusa itu suka pup di jalan sembarangan dan bisa mengigit (biasanya sih karena mengejar makanan kita). Di tambah saat itu lagi hujan sehingga jalanan becek. Komplit deh. Dikarenakan hal tersebut, kesan saya terhadap kota ini tidak istimewa.

Todaiji Temple

P_20170417_165246_vHDR_Auto
Kompleks Depan Todaiji Temple

Saat kami tiba di kompleks temple, mereka sudah mau tutup. Akhirnya kami cuma bisa foto-foto dari depan saja. Tidak banyak yang bisa dilihat disini sehingga kami pun tidak berlama-lama dan berjalan kaki kembali ke bus stop.

Opening Hours : 8:00 to 16:30 (November to February); 8:00 to 17:00 (March); 7:30 to 17:30 (April to September); 7:30 to 17:00 (October)
Admission : 500 yen
Closed : –

Sebenarnya dengan Nara Loop City Bus ini kami bisa saja berkeliling kota Nara, tapi karena hujan tidak berhenti-henti, ditambah sudah saatnya makan malam dan mempertimbangkan waktu perjalanan kembali ke apartemen supaya tidak kemalaman, kami akhirnya balik ke stasiun kereta Nara saja. Di stasiun kami belanja bento dan groceries di supermarket Aeon. Lumayan dapat bento harga diskon. Setelah selesai makan, kami masuk ke dalam stasiun kereta dan naik kereta pulang ke arah SettsuTonda.

Sesampainya di stasiun kereta SettsuTonda, kami jajan takoyaki yang direkomendasikan oleh teman kami. Tapi ternyata saya dan suami tidak terlalu suka karena teksturnya yang lembek banget. Setelah itu kami mampir di Family Mart untuk membeli sandwich.

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Admission Fee Himeji Castle & Kokoen Garden (Combo Ticket) = 2 x JPY 1.040 = JPY 2.080 = IDR 253.032
  • Nara Loop City Bus (round trip) = 2 x 2 x JPY 210 = JPY 840 = IDR 102.186
  • Groceries Shopping & Dinner at Aeon Supermarket = JPY 1.868 = IDR 227.242
  • Takoyaki at SettsuTonda Station = JPY 350 = IDR 42.557
  • Sandwich at Family Mart = JPY 250 = IDR 30.412

TOTAL EXPENSES = JPY 5.388 = IDR 655.450

To Be Continued…

Travel Journal

Trip To Japan (Day 5): Kyoto – Part 2

Minggu, 16 April 2017

Hari ini masih akan beredar di Kyoto saja. Seperti biasa kami baru berangkat dari apartemen jam 8:30 pagi. Sebenarnya sih sudah telat dari itinerary tapi apalah daya badan rasanya remuk semua karena kecapekan jalan jauh. Memang faktor usia itu mutlak deh adanya, wkwkwk. Hari ini cuaca dikabarkan akan cerah sepanjang hari jadi tidak perlu repot bawa payung. Kabar gembira di pagi ini adalah teman kami yang biasanya sibuk kerja rodi di pabriknya sore ini ada waktu luang untuk menemani kami jalan-jalan di Kyoto. Lumayan deh dapat tour guide gratis, hehe.

Fushimi Inari Shrine

Seperti biasa kami naik kereta dari stasiun SettsuTonda dan kemudian transit di stasiun Kyoto untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju stasiun Inari. Khusus Fushimi Inari ini lebih gampang aksesnya via kereta. Begitu keluar stasiun kereta Inari, kita sudah sampai di kompleks depan shrine.

P_20170416_101814_vHDR_Auto
Kompleks Depan Fushimi Inari Shrine

Saat kami datang ke Fushimi Inari Shrine, jumlah turisnya jauh lebih banyak daripada objek wisata kemarin. Objek foto Tori Gate pun dipenuhi banyak orang sampai-sampai mau jalan maju ke depan aja tersendat-sendat karena padatnya manusia. Entah foto yang ke berapa kali baru terlihat lumayan hasilnya. Kalau Tori Gate-nya kita ikuti terus nanti kita akan sampai di atas bukit-nya Inari. Saya sih sudah menyerah duluan untuk naik ke atas bukit itu jadi pak suami pergi sendirian aja. Di tengah jalan ke atas bukit pak suami juga menyerah karena jalanannya menanjak tinggi, hahaha. Setelah istirahat sebentar sambil menikmati bekal makan siang kami pun pergi meninggalkan Fushimi Inari Shrine dengan naik kereta dari stasiun Inari menuju stasiun Kyoto.

P_20170416_103617_vHDR_Auto
Rubah Penjaga Kuil
P_20170416_111008_BF
Hundreds of Tori Gate

Di stasiun Kyoto seperti biasa kami membeli Kyoto City Bus 1 Day Pass seharga 500 Yen per orang. Setelah mendapatkan kartu day pass kami pun mengantri di bus stop no. 206 untuk tujuan selanjutnya yaitu Kiyomizudera.

Opening Hours : –
Admission : free
Closed : –

Kiyomizudera Temple

P_20170416_142223_vHDR_Auto
Terlihat sedang ada renovasi di Kiyomizudera Temple
P_20170416_145118_vHDR_Auto
Kompleks Depan Kiyomizudera Temple

Perjalanan bus dari stasiun Kyoto ke Kiyomizudera Temple berlangsung selama 15 menit saja. Begitu turun di bus stop Kiyomizu-michi kita masih harus berjalan kaki lagi selama 15 menit di jalanan yang menanjak ke atas. Lumayan ngos-ngosan juga deh. Ada 2 percabangan jalan menanjak untuk sampai di Kiyomizudera Temple. Jalan pertama adalah jalan yang agak sepian, dan satunya adalah jalan yang ramai dengan pertokoan. Kami memilih jalan yang agak sepi. Begitu sampai di atas terlihat sedang ada renovasi di main hall walaupun pengunjung tetap bisa masuk ke dalam. Tapi kami memutuskan untuk menikmati Kiyomizudera dari luar aja. Lumayan hemat admission fee sebesar 400 Yen per orang, hahaha. Di Kiyomizudera Temple jumlah turisnya juga tidak kalah banyak dengan di Fushimi Inari Shrine. Setelah puas berkeliling, kami memutuskan untuk kembali ke bus stop tempat kami turun tadi tapi kali ini kami memilih rute jalanan yang berbeda yakni jalanan yang ramai dengan pertokoan.

P_20170416_141551_vHDR_Auto
Jalanan yang ramai dengan pertokoan

Pertokoan yang berada di jalanan ini kebanyakan adalah toko souvenir dan oleh-oleh. Banyak juga toko yang memberikan tester makanannya secara gratis. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, hahaha. Menurut saya rasa makanan-nya enak-enak, tapi saya mengurungkan niat membelinya dikarenakan expiry date-nya maksimum 10 hari. Padahal saya dan suami kan masih lama beredar di Jepang, belum pula kami baru bisa bagi oleh-olehnya pas weekend sekaligus bertandang ke rumah keluarga suami di Tangerang.

P_20170416_151325_vHDR_Auto
Salah satu oleh-oleh makanan khas Kiyomizudera
P_20170416_152017_vHDR_Auto
Matcha Choux

Dikarenakan cuaca yang terik saat itu (tapi angin yang berhembus tetap dingin), saya mengajak suami untuk jajan es krim di cafe pinggir jalan. Saya membeli Matcha Soft Cream dan Matcha Choux (kue sus dengan filling custard rasa matcha). Sukaaa banget! Kayaknya kalau ke Jepang wajib banget nyobain jajanan matcha deh, wkwkwk. Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan kembali ke bus stop Kiyomizu-michi. Kami berencana untuk bertemu teman kami di Yasaka Shrine.

Opening Hours : 06:00-18:00 (until 18:30 on weekends and holidays from mid April through July and everyday in August and September)
Admission : 400 yen
Closed : –

Yasaka Shrine

P_20170416_160759_vHDR_Auto
Main Gate of Yasaka Shrine

Setelah kemarin malam sampai di tempat ini dengan tidak sengaja karena nyasar di jalan, akhirnya hari ini kami kembali lagi ke tempat ini. Bedanya kali ini kami datang sore sehingga pemandangan dalam kuil masih kelihatan. Kemudian ditambah pula kali ini kami ditemani dengan teman kami.. lumayan ada tour guide-nya, hahaha.

P_20170416_161138_vHDR_Auto
Main Hall tempat berlangsungnya pertunjukan

Sebenarnya Yasaka Shrine ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Kiyomizudera Temple akan tetapi karena kaki sudah terasa pegal-pegal, kami naik bus saja. Kan sudah beli Kyoto City Bus Pass juga, hehe. Perjalanan bus dari bus stop Kiyomizu-michi ke Yasaka Shrine berlangsung selama 6 menit saja. Kami naik bus 207 dan turun di seberang Yasaka Shrine.

P_20170416_162553_vHDR_Auto
Hanami di lapangan Yasaka Shrine

Rupanya teman kami sudah sampai duluan dari kami. Bersama-sama kami pun masuk ke dalam kompleks Yasaka Shrine. Di tempat ini juga banyak turis seperti tempat wisata lainnya. Kemungkinan karena di tempat ini tidak ada admission fee-nya dan ditambah pula pas hari minggu (libur). Bangunan shrine didominasi dengan warna oranye terang khas kuil shinto lainnya. Di dalam kompleks juga ada lapangan dengan sisa-sisa bunga sakura yang masih mekar. Disekitar lapangan tersebut banyak juga kedai yang menjual makanan.

Kompleks shrine ini lumayan luas tapi kami tidak mengelilingi seluruh kompleksnya. Kami hanya sekitar 1 jam saja di kompleks shrine ini. Oh ya, ada satu pengalaman yang tidak menyenangkan disini. Toiletnya kotor banget seperti jarang dibersihkan. Saya sih agak memaklumi karena tempat ini memang tidak ada admission fee jadi untuk pemeliharaan kebersihannya tidak bisa disamakan dengan tempat lain yang memang mewajibkan admission fee untuk para pengunjungnya.

Opening Hours : –
Admission : free
Closed : –

Gion

Kali ini kami benaran bisa sampai di Gion karena dipandu oleh teman kami. Ternyata tinggal menyebrang jalan dan jalan kaki saja dari Yasaka Shrine. Entah kenapa kemarin Google Maps agak tidak bersahabat sehingga kami malah nyasar.

P_20170416_164832_vHDR_Auto
Suasana Tradisional di Gion

Gion ini adalah suatu distrik di Kyoto yang sangat terjaga bangunan dan budaya tradisionalnya. Begitu masuk kompleks Gion saya berasa seperti melihat Jepang jaman dulu. Walaupun konon Gion ini banyak dihuni Geisha (Geiko, entertainer wanita tradisional Jepang) dan Maiko (Calon Geisha) tapi saat saya kesana tidak tampak satupun Geisha atau Maiko yang beredar. Banyak turis-turis wanita yang menyewa kimono dan berfoto-foto di kompleks Gion. Harga sewa kimono di Kyoto berkisar 5.000 Yen untuk seharian dan belum termasuk make-up dan hair-do (harus tambah sekitar 1.200 Yen lagi). Kalau saya sih malas karena selain kemahalan bagi saya, berpakaian kimono juga akan menyusahkan ruang berjalan saya. Tidak mungkin dong pakai kimono terus jalan-nya grasah-grusuh? Tentunya kita juga harus berjalan dengan anggun. Kalau jalan anggun begitu kapan selesainya itinerary saya? Hahaha.

P_20170416_164922_vHDR_Auto
Kimono Girl at Gion

Kami sempat mampir di depan Yasaka Hall Gion Corner. Gion Corner ini adalah tempat berlangsungnya pertunjukan tradisional Jepang oleh Geisha atau Maiko. Pertunjukan ini bisa diikuti oleh turis karena pada pertunjukkan ada penjelasan dalam bahasa Inggrisnya. Akan tetapi tiket masuk untuk pertunjukan ini sangat mahal (buat saya) yaitu 3.150 Yen untuk lama pertunjukan 50 menit saja. Menurut teman saya yang sudah menonton pertunjukan di Gion Corner, pertunjukannya bagus banget dan menambah pengetahuan kita tentang kebudayaan Jepang.

P_20170416_165540_vHDR_Auto
Yasaka Hall Gion Corner
P_20170416_165141_vHDR_Auto
Spanduk pertunjukan di Gion Corner

Yasaka Hall Gion Corner
Opening Hours : Everyday starting at 6:00pm and at 7:00pm
(From December till the second week of March, performances will be held on Fridays, Saturdays, Sundays and national holidays only.)

Admission : 3.150 yen (adults); 2.200 yen (students age 16-22); 1.900 yen (children age 7-15); free (infants)
Closed : July 16, August 16 & from December 29 to January 3

Setelah puas foto-foto, kami pun jalan kaki ke stasiun kereta Hankyu Karawamachi. Teman kami mengajak kami untuk dinner di Makino, restaurant tempura langganannya yang berlokasi di stasiun kereta Hankyu Umeda.

Makan tempura di Indonesia sih sudah sering tapi baru kali ini mencoba makan tempura di restaurant Jepang langsung. Kalau biasanya di Jepang kami tiap kali makan cuma di kedai atau sekedar bento yang dijual di 7-11 atau Lawson, sekarang saya dan suami seperti naik kasta makan di restaurant. Saat kami tiba sekitar jam 6 sore, antrian di depan restaurant sudah mulai panjang. Kami harus menunggu sekitar 20 menit untuk bisa dapat table. Ada juga sih tempat duduk di bar yang bikin kita bisa melihat tukang masaknya lagi menggoreng tempura, tapi kan kalau duduk di bar jadi tidak enak ngobrolnya.

P_20170416_191252_vHDR_Auto
Makino Set

Kami memilih menu Makino Set yang terdiri dari nasi, tempura dan berbagai macam gorengan (semacam bakwan goreng tepung, ubi goreng tepung, telur rebus setengah matang yang digoreng tepung, cumi goreng tepung dan ikan goreng tepung) serta miso soup seharga 1.069 Yen. Kita bisa memilih porsi nasi kita, small – medium – large tanpa tambahan biaya. Saya dan suami memilih medium, tapi ternyata porsi nasi medium itu banyak juga lho, hahaha. Untuk minuman sudah disediakan air putih gratis. Uniknya dari restaurant ini adalah gorengannya fresh dari atas kompor. Petugas yang meletakan gorengan ke piring kita akan menjelaskan cara makannya. Tentu saja dalam bahasa Jepang ya. Itu lah gunanya teman saya yang akan menjelaskannya kembali dalam versi bahasa Indonesia. Setelah mengikuti cara makan yang direkomendasikan, entah kenapa saya merasa hasilnya masih terasa kurang tasty dan akhirnya saya menambahkan extra garam di gorengan saya, hahaha.

P_20170416_200105_vHDR_Auto
Ketemu Indomie Goreng di supermarket barang import di stasiun Osaka.

Setelah selesai makan, saya mampir di supermarket dulu membeli roti untuk sarapan besok. Kemudian mampir ke JR Ticket Office di stasiun Osaka untuk membeli Tateyama Kurobe Option Ticket (discount ticket Tateyama Kurobe yang berlaku khusus untuk turis) yang akan kami gunakan pada tanggal 21 April 2017. Penting untuk dicatat, saat kita melakukan pembelian Option Ticket kita harus sudah punya tanggal yang jelas. Tiket berlaku selama 5 hari dari tanggal yang tertera di tiket. Selain di stasiun Osaka, tiket ini bisa dibeli juga di stasiun-stasiun besar JR lainnya. Silakan cek website-nya langsung di http://jrtateyama.com/e/.

Setelah semua urusan beres, kami bersama-sama pulang ke apartemen naik kereta Hankyu dan turun di stasiun Hankyu Tonda. Ternyata teman saya sudah membelikan tiket buat kami hanya saja kurang 80 Yen per orang jadi kami cuma perlu membayar sisanya. Hari ini sengaja pulang lebih cepat dari biasanya biar bisa istirahat di rumah lebih lama sebelum besok menempuh perjalanan jauh.

Expenses:
(kurs 1 JPY – 121,65 IDR)

  • Train SettsuTonda station to Inari station = 2 x JPY 500 = JPY 1.000 = IDR 121.650
  • Sandwich at 7-11 = JPY 250 = IDR 30.412
  • Train Inari station to Kyoto station = 2 x JPY 200 = JPY 400 = IDR 48.660
  • Kyoto City Bus 1 Day Pass = 2 x JPY 500 = JPY 1.000 = IDR 121.650
  • Dinner = 2 x JPY 1.069 = JPY 2.138 = IDR 260.088
  • Bread = JPY 270 = IDR 32.845
  • Tateyama Kurobe Option Ticket = 2 x JPY 9.000 = JPY 18.000 = IDR 2.189.700
  • Train Osaka to Tonda = 2 x JPY 80 = JPY 160 = IDR 19.464

TOTAL EXPENSES = JPY 23.218 = IDR 2.824.470

To Be Continued…