Home Appliances

Merawat Air Conditioner (AC)

Setelah post saya tentang tips memilih Air Conditioner (AC) yang cocok untuk rumah anda, rasanya kurang lengkap kalau ga membahas tentang cara merawatnya supaya awet. Dari yang saya baca ada 2 hal yang mempengaruhi keawetan AC: Segi elektikal dan segi kebersihan.

Dari segi elektrikal, sebuah AC akan lebih awet jika power listrik-nya stabil (listrik ga naik turun tegangannya dan juga jarang mati listrik). Selain itu penggunaan AC yang sesuai dengan kapasitas ruangan juga akan mempengaruhi keawetan AC. Apabila kapasitas AC  (PK / Power Kuda) yang kita gunakan lebih kecil dibanding luas ruangan maka otomatis AC tersebut akan bekerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan tersebut. Akibatnya AC bisa cepat rusak. Hal lainnya yang mempengaruhi keawetan AC dari segi elektrikal adalah penyetelan suhu remote AC. AC akan bekerja lebih optimal pada suhu ruangan 24-25 derajat Celcius. AC yang sering digunakan dengan suhu yang minimum (16-18 derajat Celcius) atau maksimum (diatas 26 derajat Celcius) akan bekerja lebih keras sehingga AC akan lebih cepat rusak. Segi elektrikal ini tidak akan saya bahas lebih lanjut karena saya sendiri tidak ada background pendidikan elektikal, hehe. Jadi mari kita bahas mengenai hal berikutnya saja.

Segi kebersihan tidak kalah pentingnya dari segi elektrikal. AC yang kotor dan penuh dengan debu akan menghalangi proses pendinginan ruangan sehingga AC tidak akan bekerja optimal. Penting sekali untuk membersihkan AC, unit indoor dan outdoor-nya paling tidak 3 bulan sekali. Biasanya setelah 3 bulan debu-debu akan lebih menumpuk dan membuat AC tidak dingin. Kalau tidak terbiasa membersihkan AC sendiri, bisa menggunakan jasa profesional seperti yang saya lakukan. Membersihkan AC ini soalnya butuh alat-alat khusus yang belum tentu kita punya di rumah.

Kalau dulu di Sorowako, sewaktu tinggal di rumah dinas, saya tidak perlu repot mengurus pembersihan AC ini karena orang maintenance sudah ada jadwal pengecekan dan pembersihan sendiri untuk masing-masing rumah. Sejak tinggal di rumah sendiri di Tangerang mau ga mau saya harus mengatur-nya sendiri. Selama ini ada 2 jasa pembersihan AC yang pernah saya pakai:

  1. Jasa profesional yang pertama adalah partner kerja Daikin Service Center Indonesia. Selain merk Daikin beliau juga mau untuk membersihkan AC merk lain. Harga untuk membersihkan 1 unit AC (kapasitas dibawah 2 PK) adalah Rp. 75.000 dan ada charge uang transport Rp. 25.000 karena mereka dari Pamulang dan saya di Tangerang Kota. Review saya: Kerja mereka rapi dan bersih, ga pernah bohong juga soal perlu tambah freon yang padahal memang tidak diperlukan (biasanya sih supaya mereka dapat duit tambahan lebih). Kekurangannya hanya satu yaitu mereka suka ga modal bawa tangga sendiri jadi kita sebagai tuan rumah harus sedia tangga di rumah.
    Contact:
    Febiansyah (Telp/WA 081280080972)
  2. Jasa profesional kedua adalah langganan keluarga ipar saya sejak bertahun-tahun lalu. Mereka ga ada embel-embel merk AC tertentu, jadi merk apapun boleh. Ga ada juga perbedaan biaya berdasarkan kapasitas AC. Harga untuk membersihkan 1 unit AC adalah Rp. 40.000. Ga ada minimum order dan ga ada uang transport. Review saya: Kerja mereka rapi dan bersih, ga pernah bohong juga soal perlu tambah freon yang padahal memang tidak diperlukan. Mereka juga bawa tangga sendiri jadi kita ga perlu sediain tangga di rumah. Kekurangannya hanya satu yaitu hanya melayani daerah seputaran Tangerang Kota dan Serpong.
    Contact:
    Kirno (Telp/SMS 087882599813)

Saat ini saya sih lebih sering menggunakan jasa Pak Kirno karena lebih murah. Di rumah saya soalnya ada 3 buah AC jadi berasa banget beda harganya dengan jasa Pak Febi. Maklum lah emak-emak, mau yang bagus dengan harga murah tapi hasil ga murahan, hahaha. Kalau kalian tinggal di daerah seputaran Tangerang seperti saya dan lagi bingung memilih jasa pembersihan AC, bisa contact salah satu nomor tersebut. Saya disini tidak ada hubungan keluarga dengan Pak Febi maupun Pak Kirno jadi review yang saya buat ini murni dari pengalaman saya tanpa memihak salah satu orang.

 

Home Appliances

Perawatan Freestanding Cooker Tecnogas

Seperti yang teman-teman pembaca ketahui, saya membeli freestanding cooker Tecnogas type N3X66G4E di bulan Desember 2014. Selama pemakaian saya merasa sangat puas dan tidak ada masalah teknis yang berarti. Pemakaian gas pun juga irit sekali padahal saya rutin memasak dan juga baking. Freestanding cooker Tecnogas ini bukanlah kompor murah jadi untuk menjaganya tetap awet kita harus merawatnya dengan baik.

Perawatan harian yang biasa saya lakukan di rumah hanya membersihkan permukaan kompor dan dinding-rak oven dengan lap kanebo (lembab) bersih (tanpa cairan pembersih apapun) dan dikeringkan dengan lap kering. Membersihkan dengan menggunakan cairan pembersih sangat tidak disarankan karena bisa meninggalkan residu dan juga bebauan yang akan mempengaruhi hasil masakan kita (misalnya bau sabun, dll). Selain perawatan harian saya merasa perlu untuk melakukan perawatan tahunan yang dilakukan oleh teknisi ahli. Kenapa harus teknisi? Karena kita hanya sanggup membersihkan bagian luar saja sementara bagian dalam juga harus mendapatkan perawatan rutin. Ga mungkin dong kita bongkar-bongkar kompor sendiri untuk membersihkan/mengecek bagian dalamnya. Jadi tentu saja kita butuh orang yang ahli di bidangnya dan orang tersebut adalah teknisi. Kebiasaan ini saya dapat sewaktu tinggal di rumah dinas di Sorowako dimana semua peralatan elektronik di rumah termasuk kompor dilakukan PM (Preventive Maintenance) Check tahunan sehingga bila ada kerusakan kecil di awal bisa segera diatasi sebelum jadi masalah yang besar.

Saya pun menelpon custome service Tecnogas untuk membuat janji kunjungan ke rumah. Dikarenakan kompor saya sudah lewat masa garansinya, saya diharuskan membayar Rp. 110.000 untuk kunjungan teknisi ke rumah. Harga tersebut belum termasuk biaya sparepart yang harus diganti. Kunjungan teknisi Tecnogas ke rumah hanya bisa dilakukan di hari dan jam kerja, Senin – Jumat. Biasanya setelah kita menelpon customer service center, kita akan ditelpon oleh teknisi langsung untuk bikin janji kunjungan dalam beberapa hari ke depan.

Pada hari yang ditentukan, teknisi datang ke rumah saya untuk memeriksa freestanding cooker saya. Sebelumnya dia menanyakan apakah saya ada keluhan terkait dengan pemakaian kompor ini. Keluhan saya hanya fan yang tidak merata dan juga lampu oven yang agak redup. Kemudian mulailah kompor saya dibongkar dan ternyata lampu oven saya sudah hangus dan harus diganti, hahaha. Lampu oven ini tidak dijual diluaran karena didesain untuk tahan panas jadi memang harus pakai lampu oven keluaran Tecnogas. Harga lampu oven ini Rp. 115.000. Selebihnya kompor saya hanya dibersihkan bagian dalam dan kabel-kabelnya saja, tidak ada yang diganti.

So far service dari Tecnogas ini memuaskan. Ga ada tuh yang namanya teknisi bohongin customer yang bilang ini-itu harus diganti padahal ga perlu. Bener-bener apa adanya deh. Kemudian teknisinya juga sopan dan memperlakukan kita selayaknya customer. Oya, untuk wilayah DKI Jakarta, termasuk Tangerang, teknisinya didatangkan dari kantor pusat Tecnogas di Pinangsia (dekat daerah Glodok Jakarta) makanya untuk kunjungan ke rumah ga bisa dilakukan buru-buru dan harus bikin janji dulu.

Contact:
Customer Service Tecnogas / Azalea
Jl. Pinangsia Raya No. 77 Jakarta 11110
Telp. 021-69831028, 29, 30

Home Appliances

Bottom Load Water Dispenser Sharp

Sebelum suami kecelakaan bulan Juli 2016 kemarin, di rumah saya hanya menggunakan dispenser top load (galon atas). Sempat beberapa kali ganti merk dispenser dalam jangka waktu pemakaian 4 tahun karena saya melihat tangki penampungan air di dispensernya ada karat dan karat itu ga bisa saya bersihkan walaupun secara fungsional masih bagus. Merk dispenser top load yang saya pakai terakhir adalah merk Sharp. Kenapa Sharp? Karena desain dispenser-nya nampak lebih kokoh dibandingkan merk lain yang pernah saya pakai. Selain itu Sharp memiliki nama besar dalam dunia elektronik yang bisa dijadikan jaminan mutu menurut saya.

Belum satu tahun berselang menggunakan dispenser Sharp top load, suami tiba-tiba kecelakaan. Efek dari kecelakaan itu adalah suami tidak diperbolehkan dulu mengangkat beban berat dan juga tidak boleh bungkuk-bungkuk sampai masa recovery 3 bulan selesai. Padahal selama ini urusan angkut galon air dan pasang galon di dispenser selalu menjadi tanggung jawab pak suami di rumah. Saya jujur aja sih memang ga kuat untuk ngangkat galon air yang beratnya hampir 20 kg itu ke atas dispenser. Oleh karena itu saya menganggap dispenser top load sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kami saat ini. Pilihannya tinggal mencari dispenser bottom load (galon bawah) atau tidak pakai dispenser sama sekali. Pilihan terakhir untuk tidak pakai dispenser sama sekali agak kurang praktis bagi saya sih. Galon air harus dipakaikan pompa tangan supaya airnya bisa keluar melewati selang airnya kemudian kalau mau air panas harus masak air dulu di kompor. Selain itu penampakan galon begitu bikin rumah jadi kurang elok rasanya. So, kami memutuskan untuk membeli dispenser bottom load saja supaya saya bisa mengganti galon air sendiri dan tidak tergantung sama suami lagi, hehe.

Banyaknya merk dispenser bottom load yang beredar di pasaran cukup membuat kami sulit menjatuhkan pilihan. Survey pun dilakukan ke kerabat terdekat yang sudah memakai dispenser bottom load duluan. So far, ada 2 merk yang menarik hati, yaitu Sharp dan Modena. Selain pas dengan budget juga ada pilihan warna putihnya. Kami memilih warna putih supaya pas dengan suasana ruangan rumah kami. Akhirnya pilihan jatuh ke merk Sharp karena kami merasa dalam hal elektronik Sharp lebih punya nama dibanding Modena dan kebetulan pula waktu jalan-jalan ke Electronic Solution nemu diskon untuk dispenser bottom load Sharp, hahaha. Lumayan dari harga 2,9 juta jadi 2,5 juta dan dapat warna putih juga! Harga ini sama lho dengan harga di online shop. Langsung bungkus deh saat itu juga dan atur buat delivery-nya ke rumah.

img_20160915_1358081
Water Dispenser Sharp Bottom Load Pilihan Kami: SWD-72EHL-WH

Dispenser yang kami beli ada 3 pilihan suhu air: air panas, air dingin dan air biasa (suhu normal).Untuk air panas ada pilihan low watt (185 watt) atau high watt (385 watt) sedangkan air dingin membutuhkan daya listrik 100 watt. Untuk pompa air dalam dispenser sendiri menggunakan daya listrik 20 watt. Pompa hanya menyedot air dari galon untuk ditampung ke tangki penyimpanan sesekali saja saat volume air di tangki penyimpanan tinggal sedikit. Jadi pompa-nya ga menyala terus terusan ya, tergantung kebutuhan saja. Untuk air panas saya lebih sering memilih fitur high watt karena lebih cepat memanaskan airnya. Saya memakai fitur air panas ini juga sesuai kebutuhan saja, tidak menyala terus-terusan selama 24 jam. Selain untuk menghemat listrik juga untuk meminimalkan endapan/kerak mineral yang akan terbentuk saat kita memanaskan air mineral terus-terusan. Untuk yang memilih fitur air panas menyala selama 24 jam harus sering-sering melakukan perawatan dan pengurasan air ya untuk membersihkan endapan/kerak mineral-nya (prosedurnya ada di buku petunjuknya). Karena saya dan suami tidak terlalu suka meminum air dingin, fitur air dingin ini hanya kami nyalakan saat ada tamu yang suka air dingin saja jadi tidak menyala 24 jam. Sejauh ini sih penggunaan dispenser ini (dengan cara di atas) tidak menyebabkan lonjakan pemakaian listrik di rumah kami. Bottom load ini juga memudahkan kita mengganti galon air tanpa encok lho. Saya sendiri bisa mengganti galon air tanpa kesulitan apapun. Yeay!

Saya cukup puas dengan dispenser ini. Kekurangannya hanya suara yang agak berisik saat pompa menyedot air dari galon ke tangki penyimpanan. Selain itu kalau listrik mati, pompa-nya pun ikut mati dan otomatis hanya mengandalkan sisa air yang ada di tangki penyimpanan. Walaupun tangki penyimpanannya ada 2 buah tapi tetap aja kalau mati listriknya lama sisa air di tangki bisa habis dan berarti dispensernya ga bisa dipakai lagi untuk menuang air minum, hehe.

Sekian review dari saya, semoga bisa memberikan info yang dibutuhkan. Review ini murni dari pengalaman saya sendiri dan tidak disponsori oleh pihak manapun.

Home Appliances

Review Juicer Phillips HR1811

Dulu saya merasa memiliki juicer itu tidaklah penting karena saya berpikir sudah ada blender. Blender bisa juga koq untuk bikin jus. Kebanyakan warung atau tempat makan lain juga menggunakan blender untuk membuat jus. Selain itu setau saya harga juicer ini tidaklah murah.

Seiring dengan waktu, gaya hidup sehat mulai marak. Cold pressed juice sedang naik daun. Tapi saya tetap belum tergoda dengan trend tersebut sampai suatu saat saya dianjurkan oleh teman kantor suami yang dalam rangka program TTC (Try To Conceive) untuk rutin mengkonsumsi Jus 3 Diva / Jus Femmie. Konon jus ini bisa membantu kesuburan pasangan. Bahannya terdiri dari 4 wortel import, 2 apel dan 2 tomat. Serat buah-buahannya harus disaring. Nah, permasalahan timbul ketika saya membayangkan berapa lama saya harus mengerjakan jus begini setiap harinya ditambah pakai acara saring-menyaring ampas buahnya pula. Saya pun kemudian berpikir untuk membeli juicer untuk alasan kepraktisan.

Dari hasil browsing, saya mendapatkan beberapa informasi mengenai juicer ini. Juicer ini terbagi menjadi 2 tipe, yaitu: Centrifugal Juicer dan Slow Juicer.
Centrifugal Juicer
– Menggunakan mata pisau halus dengan kecepatan putar tinggi. Kecepatan putar yang tinggi ini akan menyebabkan peningkatan suhu menjadi lebih panas sehingga bisa merusak enzim dan nutrisi yang ada pada buah.
– Tidak bisa untuk membuat jus sayuran.
– Tidak bisa memproses kacang-kacangan
– Bunyinya cukup berisik
– Ampas buah lembab
– Harga lebih murah

Slow Juicer
– Juicer ini tidak menghasilkan panas seperti halnya Centrifugal Juicer sehingga nutrisi buah-buahan tetap terjaga
– Bisa untuk membuat jus sayuran
– Bisa memproses kacang-kacangan
– Suara mesin tidak berisik
– Ampas buah lebih kering
– Harga lebih mahal

Slow juicer terbaik yang banyak direkomendasikan di forum ibu-ibu adalah merk Hurom yang biasanya dijual di Ace Hardware dengan harga sekitar 5 juta! Wuihh.. bisa-bisa diomeli pak suami nih kalau beli juicer semahal itu. Lagian saya pikir kan saya dan suami lebih suka jus buah-buahan dibanding dengan jus sayuran, jadi saya lebih memilih Centrifugal Juicer aja.

IMG_20160906_132115[1]
Juicer Phillips HR1811

Pilihan saya jatuh pada juicer merk Phillips. Kenapa Phillips? Selama ini saya pakai produk Phillips cukup memuaskan dan umur pakai produknya cukup lama alias awet 😉 Saya memilih Juicer Phillips tipe HR1811 dengan harga 800 ribu-an. Waktu itu saya beli-nya di Electronic Solution. Oya, konsumsi listrik-nya juga hemat, hanya 300 watt.

IMG_20160906_132657[1]
Dus-nya Sudah Usang ;p

Kehadiran juicer ini benar-benar membuat hidup saya jadi lebih praktis saat membuat jus. Buah tinggal di kupas, dipotong-potong (biar muat masuk ke corong juicer), kemudian tinggal diproses di juicer. Kita bisa memilih speed mesinnya sesuai jenis buah yang akan diproses. Ga perlu repot lagi untuk disaring karena ampas buah-ya akan terpisah sendiri dan menurut saya ampas buahnya cukup kering koq which is good. Dengan juicer juga kita ga perlu nambah-nambah air lagi seperti halnya blender. Jadi yang kita minum benar-benar pure dari air sari buah-nya. Juicer Phillips ini juga dilengkapi degan gelas tampung (untuk air sari buah-nya). Nah, sekarang kita bicara soal kekurangannya ya.. Selain suara mesin yang berisik, mencuci / membersihkan juicer ini juga agak repot karena kita harus melepas aksesoris-aksesorisnya satu per satu kemudian membuang ampas buahnya dan mencuci bersih aksesoris-aksesoris tersebut. Kalau saya hitung-hitung ada 8 bagian printilan aksesoris yang harus kita cuci. Satu lagi, karena ukurannya cukup mungil, kapasitas tampungan ampas buah-nya juga terbatas. Dari pengalaman saya sih 4 wortel import + 2 apel malang + 2 tomat juga sudah penuh ampas-nya. Kalau ampas-nya terlalu penuh mesin-nya ga mau mutar lagi, jadi kita harus buang dulu ampas yang nyangkut-nyangkut di dalam-nya.

Saya sudah memakai juicer ini sekitar 6 bulan dan tidak ada masalah apa-apa, cukup awet koq selama kita menggunakan-nya sesuai aturan aja. Semoga artikel ini bisa memberi gambaran kepada emak-emak diluar sana yang lagi bingung memilih juicer. Kalau ada duit lebih sih ga usah galau lagi, tinggal beli merk Hurom aja, hehe.

Salam sehat untuk semuanya!

Note: Ini review sejujur-nya tanpa pesan sponsor manapun lho ya.

Home Appliances

Review Freestanding Cooker Tecnogas N3X66G4E

kitchen set baru

Masih di dunia emak-emak, kali ini saya mau review tentang alat masak saya di dapur yang sangat berjasa dalam menyediakan menu-menu bagi keluarga saya dan juga produk jualan saya di Liz Kitchen. Awal memilih kompor tentunya saya lakukan dengan mencari info sebanyak-banyaknya. Dari info yang saya dapatkan, kompor produk Tecnogas adalah yang paling direkomendasikan emak-emak karena awet hingga 20 tahun dan bahkan katanya bisa sampai diwariskan ke anak cucu. Memilih kompor sama dengan memilih pasangan hidup, kalau bisa sekali seumur hidup. Jadi menurut saya ga apa-apa lah berinvestasi cukup mahal untuk kompor, kan ga sering-sering juga beli kompor, hehe. Memang saya akui kalau kompor Tecnogas ini mahal harganya, tapi sesuai lah dengan kualitasnya.

Suatu hari di bulan November, saya dan suami lagi jalan-jalan di Mall Taman Anggrek (MTA), ketemu lah dengan show room Tecnogas di sana. Sebelum ini kami sebenarnya mengincar kompor Tecnogas di daerah Pinangsia yang konon suka banyak diskon, lebih murah lah daripada harga toko. Tapi karena rumah kami di Tangerang jadinya agak susah mau ke Pinangsia, suka ga sempat. Melihat show room Tecnogas di MTA awalnya kami maju mundur mau masuk ke dalamnya. Sudah ga percaya diri duluan karena melihat show roomnya yang bagus dan tampak mahal, hehe. Tapi akhirnya kami beranikan diri masuk ke dalamnya dan melihat tipe-tipe kompornya. Dari awal memang saya mengincar tipe freestanding karena keterbatasan space di dapur saya. Saya ingin kompor yang compact dengan oven dibawahnya (mirip dengan kompor listrik waktu kami tinggal di Sorowako lah). Saya butuh oven gas yang bagus karena saya memang suka baking semenjak dari Sorowako. Memang ga niat nyari oven listrik karena saya tau watt-nya biasanya besar. Bisa bengkak bayar listrik nanti. Kalau mau jualan kue juga bisa lebih mahal biaya operasionalnya dibandingkan oven gas. Waktu itu saya dapat budget 10 juta dari suami untuk urusan kompor ini.

Ternyata saya sedang beruntung waktu itu. Sales Tecnogas di MTA mengatakan bahwa lagi ada program diskon 30%+10% sampai dengan akhir November 2014 dan ada program cicilan 0% untuk kartu kredit. Saat itu pilihan saya jatuh ke tipe Freestanding Cooker N3X66G4E dengan ukuran yang pas dengan dapur saya. Tipe baru dengan body stainless steel. Tampak kokoh dan berkelas. Waktu itu harga awalnya Rp. 19.800.000, dan setelah diskon menjadi Rp. 12.474.000. Lumayan kan??! Berat sih kalau langsung bayar segitu, tapi kan jadi ringan karena ada program cicilan 0% selama 6 bulan. Saya dapat bonus free regulator tabung gas dan juga free ongkos kirim ke Tangerang setelah nego dengan salesnya. Lucky me! Berikut penampakan kompor yang saya beli, diambil dari website Tecnogas indonesia:

Freestanding Tecnogas N3X66G4E

Review saya setelah penggunaan selama 6 bulan (saya memang beli di November 2014 tapi penggunaannya baru setelah pindah rumah di bulan Februari 2015). Penggunaan ini adalah rutin tiap hari untuk masak dan baking untuk keluarga dan jualan Liz Kitchen. Tiap hari dipakai sekitar 2 jam.

  1. Hemat gas. 1 tabung gas 12 kg bisa bertahan 3-4 bulan dengan pemakaian seperti diatas.
  2. Temperatur oven cukup akurat, hanya saja interval suhu-nya agak jauh, misal dari 0 ke 155 ke 180 dst.
  3. Api atas hanya bisa untuk grill, tidak bisa disetel temperaturnya.
  4. Burner kompor agak berdempetan. Jadi walaupun ada 4 burner, maximum yang bisa digunakan 3 burner saja karena perletakan panci dan pan.
  5. Mudah dibersihkan dan anti karat (karena pakai bahan stainless steel)
  6. Tidak pernah rusak. Cuma pernah sekali 1 burner kompor ga bisa nyala. Setelah dicek oleh teknisi Tecnogas yang datang ke rumah ternyata ada kotoran bekas minyak yang menyumbat di saluran burner itu (lupa istilah namanya). Jadi disarankan kalau masak cipratan minyak atau air-nya jangan masuk ke dalam burner karena resiko tersumbat.
  7. Ada garansi 1 tahun.
  8. Pelayanan untuk service cukup baik.
  9. Pembelian sparepart hanya bisa dilakukan di Tecnogas Pusat, Jl. Pinangsia Raya no. 77, Jakarta. Hanya buka Senin – Jumat pk. 09.00 – 16.00 WIB. Telp 021-69831028
  10. Sparepart-nya mahal-mahal karena masih import dari Italy. Saya pernah beli rak tambahan oven, harganya Rp. 650.000 per buah. (Saat beli oven dulu cuma dikasih 1 rak oven saja).
Home Appliances

Memilih AC (Air Conditioner) di Rumah

Untuk emak-emak yang baru ngisi rumah, pasti pernah dong mengalami dilema memilih AC (Air Conditioner), ditambah pula dengan banyaknya merk yang beredar di pasaran dengan teknologi yang diunggulkan oleh masing-masing merk. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saya, bukan karena disponsori oleh suatu merk atau toko ya. Berikut langkah-langkah memilih AC: Ukur luas (panjang… Continue reading Memilih AC (Air Conditioner) di Rumah