Sharing Info

Persiapan Menghadapi Tes Potensi Akademik (TPA)

Tes Potensi Akademik atau biasa disingkat TPA merupakan tes psikologi yang digunakan untuk mengukur kegesitan mental seseorang ketika berurusan dengan obyek kata (verbal), angka (numeris) dan gambar (figural). Secara psikologi dipercaya bahwa terdapat batas minimal tingkat kegesitan mental yang harus dimiliki seseorang sehingga ia berpeluang-besar berhasil menangani masalah yang bersifat intelektual (Source: Wikipedia). Oleh karena itulah TPA kerap kali jadi syarat wajib dalam berbagai proses seleksi penerimaan mahasiswa baru, baik program Sarjana (S1) maupun Pascasarjana (S2 / S3), pegawai BUMN, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan bahkan untuk promosi suatu jabatan di Indonesia. Sebutan kata TPA bisa jadi berbeda-beda dalam setiap proses seleksi, misalkan dalam seleksi program Sarjana kita lebih mengenalnya sebagai SNMPTN dan dalam seleksi CPNS kita mengenalnya sebagai tes psikotes, tapi sesungguhnya konsep yang diusung tetaplah TPA.  TPA merupakan versi Indonesia dari tes GRE atau Graduate Record Examination. Model, materi, dan bidang yang diuji dalam TPA sebagian besar merujuk kepada GRE.

Penyelenggara tes TPA ada beberapa instansi yaitu:

  1. Program Pascasarjana Universitas tertentu secara independen.
  2. Unit Pelayanan Penyelenggaraan Tes Potensi Akademik (UPP-TPA) Bappenas bekerjasama dengan Program Pascasarjana Universitas tertentu (sebagai penanda kerjasama penyelenggaraan tes TPA ini, maka TPA-nya sering disebut sebagai TPA OTO Bappenas).
  3. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dalam koordinasi Pusat Layanan Test Indonesia (TPA-nya dikenal sebagai TKDA, yakni singkatan dari Test Kemampuan Dasar Akademik).

Dari ketiganya, TPA OTO Bappenas adalah yang paling sering dipakai untuk proses seleksi. Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas tentang TPA untuk proses seleksi penerimaan mahasiswa Pascasarjana.

Kalau saya secara pribadi ditanya, soal TPA itu susah atau tidak? Saya bilang sih tidak. Soal-soal TPA itu  sebenarnya mirip dengan bahan pelajaran saat sekolah dulu, SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas). Contohnya: Lawan kata dan persamaan kata. Untuk segi hitung-hitungan matematika-nya pun juga merupakan perhitungan matematika dasar, misal KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) atau FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) atau pecahan. Tantangannya disini adalah pengerjaan soal yang dibatasi oleh waktu. Jadi diharapkan kita bisa menyelesaikan soal sebanyak dan setepat mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Soal-soal dasar TPA ini saya rasa tidak akan terlalu jadi masalah bagi anak SMA / SMU yang langsung mengikuti proses seleksi mahasiswa Sarjana setelah kelulusannya atau seorang mahasiswa Sarjana yang langsung mengikuti proses seleksi mahasiswa Pascasarjana setelah kelulusannya. Hal itu dikarenakan otak mereka dijamin masih “panas” dan pasti masih ingat dengan pengetahuan dasar seperti itu.

Permasalahan timbul apabila kalian sudah lulus lama dan kemudian bekerja di suatu perusahaan yang tentunya sudah tidak lagi membahas pengetahuan dasar berhitung dan berbahasa. Hal itu terjadi pada suami saya. Dalam pekerjaannya sebagai seorang chemical engineer selama hampir 10 tahun dan mostly menggunakan bahasa Inggris baik lisan dan tulisan, TPA menjadi suatu tantangan tersendiri. Kalau dalam pekerjaannya pak suami terbiasa menggunakan software yang bisa membantu proses perhitungan, misal Microsoft Excel, maka untuk menghadapi TPA ini tentu dia harus mulai berlatih menghitung secara manual, kembali mendalami konsep matematika dasar juga. Untuk kemampuan bahasa pun demikian. Banyak kosakata serapan dalam bahasa Indonesia yang jarang didengar dalam keseharian dan harus dipelajari lebih lanjut padanan dan lawan katanya. Effort yang harus dikeluarkan oleh orang-orang seperti suami saya harus lebih besar supaya bisa melalui TPA dengan baik. Ingat bahwa supaya bisa lulus TPA maka kita harus bisa mencapai score minimal-nya (Rentang nilai TPA minimum untuk lolos saringan seleksi S2 adalah 450-500 dan untuk lolos saringan seleksi S3 adalah 550-600). Belum pula untuk mengikuti TPA kita juga harus membayar biaya tes (berkisar antara Rp. 250.000 hingga Rp.1.200.000 tergantung lokasi). Jadi supaya tidak rugi, kita tentu harus mempersiapkan diri dengan baik supaya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Langkah pertama untuk mempersiapkan TPA adalah membeli buku persiapan TPA yang berisi banyak latihan soal simulasi. Kebetulan saya sendiri yang memilihkan buku ini untuk pak suami. Beraneka buku persiapan TPA tersedia di toko buku. Setiap pengarang buku persiapan TPA seakan-akan berlomba untuk menyajikan judul dan tampilan yang menarik. Awalnya saya pun sempat bingung untuk memilih salah satunya karena sebelumnya saya tidak melakukan penelusuran di internet tentang buku persiapan TPA yang direkomendasikan. Akhirnya saya mensortir buku persiapan TPA yang ada berdasarkan:

  • Mencantumkan tulisan OTO Bappenas karena memang pak suami akan menghadapi TPA versi OTO Bappenas
  • Tidak mencantumkan tulisan untuk seleksi CPNS. Saya rasa hal ini sudah jelas karena pak suami bertujuan untuk mengikuti proses seleksi penerimaan mahasiswa Pascasarjana.
  • Ada tulisan ‘best seller”-nya. Tapi kadang hal ini tidak bisa jadi patokan juga sih karena bisa saja tulisan tersebut adalah hasil klaim sendiri, hehe.
  • Lumayan tebal dengan banyak-nya soal-soal latihan TPA.
  • Pembahasan soal latihan dengan penjelasan yang mudah dimengerti.
  • Ulasan / testimonial yang positif dari orang-orang yang telah mencoba buku tersebut. Biasa ada di halaman awal atau akhir buku.

Berikut ini adalah buku persiapan TPA yang saya beli untuk pak suami. Soal harga saya agak lupa karena sudah hilang struk belanja-nya, sepertinya kisaran 150-250 ribu Rupiah deh.

IMG_20170428_122025
Buku Latihan Soal TPA yang saya beli untuk pak suami.

Jadwal tes TPA batch 1 untuk program MBA SBM-ITB adalah tgl 18 maret 2017. Pak Suami mulai belajar dan berlatih soal-soal yang ada di buku tersebut 3 minggu sebelum jadwal tes. Untungnya saat itu load kerjaan di kantor tidak terlalu banyak sehingga suami bisa belajar saat istirahat makan siang di kantor dan malam hari di rumah setelah selesai makan malam. Pokoknya saat ada waktu luang, suami selalu menyempatkan diri untuk baca buku dan latihan soal. Practice makes perfect, right?

Selama persiapan tes TPA saya sebagai istri jadi lebih rajin menyiapkan bekal makan siang untuk suami supaya waktu istirahat makan siang di kantor bisa lebih efektif untuk belajar persiapan TPA. Saya juga tidak banyak menuntut untuk ditemanin jalan-jalan saat weekend karena saya sadar waktu pak suami untuk belajar sangat terbatas. Tidak lupa juga untuk menyediakan asupan yang bergizi dan menyehatkan supaya pak suami tidak gampang sakit.

Setelah banyak berlatih soal (dan berdoa tentunya), hari yang dinantikan pun tiba, yaitu tes TPA tgl 18 Maret 2017. Tes TPA berlokasi di kampus SBM-ITB Jakarta daerah Kuningan. Tes berlangsung selama 3 jam. Selesai tes suami langsung pulang ke rumah. Menurut suami sih tes-nya berlangsung baik dan lancar. Istri pun ikut bernafas lega, hehe.

Tanggal 23 Maret 2017 adalah hari pengumuman tes TPA oleh SBM-ITB. Hasil tes diumumkan via e-mail. Untuk program studi pilihan suami di SBM-ITB Jakarta yaitu BLEMBA (Business Leadership Executive MBA), mensyaratkan score TPA minimum 475. Hasil tes TPA pak suami benar-benar beyond expectation dengan score 678,33 dan termasuk top 3 score di tes TPA batch 1 tgl 18 Maret 2017 kemarin. Saya sebagai istri sangat bangga dengan pencapaian suami ini mengingat singkatnya waktu yang ada untuk belajar TPA. Selain usaha dan doa, saya rasa buku latihan soal TPA yang saya sebutkan diatas tersebut sangat membantu juga lho. Recommended buat calon peserta TPA deh.

Sekedar update, saat ini pak suami sudah resmi jadi mahasiswa BLEMBA SBM-ITB dan mengikuti perkuliahan sejak Agustus 2017. Masih 1,5 tahun lamanya menuju wisuda kelulusan. Semoga dilancarkan dan selalu dimudahkan jalannya dalam segala urusan perkuliahan dan pekerjaan. Amiinn!

 

 

Iklan
Sharing Info · Story Of My Life

Melanjutkan Kuliah S2 Sambil Kerja

Untuk kalian yang mengikuti cerita blog saya, pasti tahu kalau suami saya sempat mengikuti seleksi beasiswa LPDP untuk program Master / Pasca Sarjana sampai tahap interview akhir dan kemudian gagal. Saat itu dia sedih sekali dan jadi malas untuk mencoba kesempatan (yang diberikan pihak LPDP) untuk apply lagi. Dia merasa sudah memberikan effort maksimal tapi entah kenapa gagal di interview akhir. Padahal saat itu dia merasa respon para interviewer tampak baik dan dia cukup percaya diri dengan hasilnya. Agak tidak jelas sih kesalahannya apa karena kita tidak pernah diberitahu gagal di poin apa saja.

Singkat cerita, pak suami sudah mulai move on dari kegagalan LPDP. Kami memutuskan untuk fokus ke program IVF yang kami jalani saat itu. Ternyata program IVF pun gagal. Dokter menyarankan untuk saya mengulang IVF lagi tapi saya merasa sudah lelah dan malas dengan segala keribetan dan penderitaannya. Belum lagi biaya IVF yang luar biasa mahal dengan hasil yang tak pasti. Saya memutuskan untuk cuti sementara dari yang namanya program hamil apapun. Ketika suami dapat rejeki lebih, dia pun menanyakan kembali ke saya, apakah saya mau coba IVF lagi? And I said no. It is his time to chasing his dream. Saya tahu bahwa dia memiliki passion yang besar untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat S2 dan saya sebagai istri sudah semestinya mendukung dia untuk bisa mengejar keinginannya. Saya menyuruh dia untuk mulai menentukan pilihan universitas dan program studi yang dia minati hanya saja kali ini kita akan menggunakan biaya pribadi, tidak mengandalkan beasiswa. Dari hasil perhitungan kami, sepertinya hal tersebut memungkinkan kalau suami kuliah sambil tetap bekerja.

Setelah diskusi bersama, akhirnya pak suami memutuskan untuk mengambil program studi Magister Manajemen (MM) atau Master of Business Administration (MBA). Pilihan tersebut jauh berbeda dengan pilihan program studi saat apply beasiswa LPDP, yaitu Energi Terbarukan (lebih ke jurusan Teknik). Keputusan memilih MM atau MBA tersebut didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut:

  1. Kalau mau kuliah sambil kerja, pilihannya hanya ikut kelas weekdays (malam) atau kelas weekend, supaya tidak mengganggu kerjaan di kantor. Dari hasil penelusuran sejauh ini, hanya program studi manajemen yang menyediakan pilihan tersebut. Untuk program studi teknik biasanya hanya ada kelas reguler dan tidak bisa dilakukan sambil kerja. Lain halnya kalau perusahaan kalian mengadakan in house program dimana perusahaan bekerjasama dengan pihak universitas, mengundang dosen untuk memberikan perkuliahan (sesuai kurikulum yang berlaku) pada karyawannya di kantor diluar jam kerja.
  2. Changing career path. Sebagai lulusan sarjana teknik dan bekerja di bidang yang sama, karir-nya identik dengan yang namanya tugas lapangan. Tugas lapangan ini, bagi suami saya, seringkali adalah kunjungan kerja ke remote area (daerah terpencil) selama beberapa minggu. Terkadang keadaan tidak memungkinkan untuk membawa keluarga ikut berkunjung sehingga dengan terpaksa kami harus berjauhan selama beberapa waktu. Selain itu, dengan bertambahnya usia kelak, kemungkinan besar kunjungan kerja seperti ini akan sangat melelahkan. Oleh karena itu kami mempertimbangkan untuk bisa mengambil kesempatan untuk berganti karir kantoran (kalau berjodoh tentunya, hehe).
  3. Posisi suami saat ini berada di level manager. Sudah sepantasnya untuk dia belajar lebih banyak tentang manajerial. Walaupun kemampuan manajerial bisa dipelajari langsung dari pengalaman di lapangan tapi tidak ada salahnya kita belajar dari suatu lembaga pendidikan yang diakui baik di dalam maupun luar negeri dan mendapatkan sertifikat ijazah dari pembelajaran tersebut. Hal ini akan menjadi suatu nilai lebih buat kita nantinya.
  4. Pada beberapa perusahaan, mensyaratkan kita untuk memiliki ijazah S2 (biasanya bidang manajemen) untuk menduduki posisi tertentu (level manajerial). Jadi kalau berniat untuk pindah karir lebih baik sudah mempersiapkan diri sebelumnya kan? Hehehe.

Dari pilihan program studi MM atau MBA, kami mempersempit pilihan universitasnya menjadi: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada – Kampus Jakarta (UGM) dan Sekolah Bisnis & Manajemen Institut Teknologi Bandung – Kampus Jakarta (SBM-ITB). Berikut adalah sedikit perbandingan diantara mereka:

  • Universitas Indonesia
    Program Studi: MM & MM-MBA (dual degree)
    Lokasi: Kampus UI Salemba
    Waktu Kuliah (kelas khusus): Senin – Kamis pk. 19:00 – 21:30 WIB (tidak ada kuliah weekend)
    Bahasa Pengantar: Indonesia-Inggris (MM) & Inggris (MM-MBA)
    Sertifikasi: BAN PT dan ABEST
    Lama Perkuliahan: 4 Semester + 1 Semester Pendek
    Total SKS: 42
    Biaya yang dibutuhkan: +- 105,2 juta Rupiah (untuk MM). Untuk MM-MBA biayanya jauh lebih mahal.
    Website: http://mm.fe.ui.ac.id/
  • Universitas Gajah Mada – Kampus Jakarta
    Program Studi: MBA
    Lokasi: Kampus UGM Jakarta, Tebet.
    Waktu Kuliah: Eksekutif A: Senin – Jumat malam; Eksekutif B: Jumat malam – Sabtu pagi sampai sore.
    Bahasa Pengantar: Indonesia. (Bahasa Inggris hanya untuk kelas MBA international).
    Akreditasi: AACSB, BAN PT, ABEST21, Nibes, AUN, AAPBS, dan APMMI
    Lama perkuliahan: 5 semester (1 semesternya adalah program matrikulasi)
    Total SKS: 48
    Biaya yang dibutuhkan: +- 103 juta Rupiah (Eksekutif A) dan +- 112 juta Rupiah (Eksekutif B)
    Websitehttp://mm.feb.ugm.ac.id/id/
  • Sekolah Bisnis & Manajemen Institut Teknologi Bandung – Kampus Jakarta
    Program Studi: MBA (Business Leadership Executive MBA / BLEMBA)
    Lokasi: Kampus SBM-ITB Jakarta, Kuningan
    Waktu Kuliah: Setiap 2 minggu sekali Jumat – Minggu pagi sampai sore (tidak lebih dari 14 hari Jumat dalam setahun)
    Bahasa Pengantar: Inggris
    Akreditasi: BAN PT, SICS, dan ABEST21 (dalam proses menuju sertifikasi AACSB, EQUIS, dan AMBA)
    Lama Perkuliahan: 3 Semester + 1 Semester Pendek
    Total SKS: 36
    Biaya yang dibutuhkan: +-95 juta Rupiah (BLEMBA).
    Websitehttp://www.sbm.itb.ac.id/mba

Dari semua pilihan diatas akhirnya kami lebih memilih SBM-ITB dengan pertimbangan:

  • Mengambil kelas weekdays malam sepertinya tidak cocok dengan ritme kerja suami saya yang sering ada meeting diluar jam kantor. Ditambah lokasi kantor suami yang cukup jauh dari Salemba atau Tebet, walaupun menggunakan sarana transportasi umum yang konon bebas macet seperti commuter line (KRL) dan TransJakarta (busway), tetap beresiko telat sampai di kelas. Belum pula sehabis pulang kantor sudah lelah dan membuat susah konsentrasi saat kelas malam. Jadi opsi kelas weekend bagi pak suami akan jauh lebih baik.
  • Prefer gelar MBA dengan semua bahasa pengantar perkuliahan dalam Inggris. Hal ini bertujuan untuk persiapan menghadapi persaingan global nantinya.
  • Sistem pengajaran yang mengkombinasikan pengetahuan teoritis dan juga praktik-nya dengan mengutamakan bedah studi kasus (problem based learning) dimana mahasiswa dituntut untuk berperan secara aktif (active learning) dalam semua diskusi dalam kelas.
  • Banyak dosen tamu yang merupakan praktisi handal di dunia bisnis.
  • Jadwal kuliah 2 minggu sekali memberikan kesempatan untuk bisa refresh dan juga mengerjakan kerjaan kantor lainnya. Yah namanya juga kuliah sambil kerja kan? Hehehe.
  • Sistem pengajaran dibuat fokus dan terarah. Satu mata kuliah akan dipelajari sampai tuntas dilanjutkan dengan ujiannya baru beralih ke mata kuliah berikutnya. Jadi ilustrasinya adalah satu mata kuliah diselesaikan dalam 2 kali weekend (bukan weekend berturut-turut karena kuliahnya 2 minggu sekali), hari minggu pertama adalah mid exam dan hari minggu kedua adalah final exam. Sistem pengajaran ini benar-benar berbeda dengan sistem reguler dimana setiap hari kita akan belajar mata kuliah yang berbeda-beda dan ujiannya berbarengan dalam waktu beberapa hari. Sistem reguler ini agak berat sih menurut saya karena butuh effort dan waktu lebih untuk belajarnya sementara kepala kita sudah pusing duluan karena kerjaan dan rutinitas di kantor.
  • Dari segi bangunan kelas dan fasilitas kampus, jauh lebih modern karena bangunan baru.
  • Peserta kuliah kebanyakan adalah para eksekutif muda jadi suasana kuliah lebih santai, tidak terlalu ada gap, asyik dan tidak kaku.
  • Tidak ada aturan khusus mengenai keharusan berpakaian resmi (kemeja & dasi) saat mengikuti perkuliahan. Pakaian bebas santai tapi tetap sopan. Tidak semua eksekutif dalam kehidupan sehari-harinya wajib tampil dengan 3 piece suits setiap saat kan? Lain halnya kalau menghadiri suatu event spesial. Aturan baku tentang cara berpakaian ini menurut saya terlalu kaku dan tidak sesuai saja dengan jiwa anak muda sekarang, hehe.
  • Kalau ada kuliah kunjungan ke pusat which is dalam hal ini adalah Bandung, tidak perlu biaya transport yang mahal.
  • Last but not least, saya dan suami sama-sama alumni ITB jadi kami percaya dengan kualitas kampus gajah ini dalam mencetak generasi bangsa. Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.. Merdeka! (Salam Ganesha).

Demikianlah pertimbangan kami berdua sampai akhirnya memutuskan SBM-ITB Jakarta sebagai tempat kuliah pak suami. Disini posisi saya sebagai istri tidak hanya meng-iya-kan saja sebagai bentuk support tapi saya juga menemani pak suami survey ke kampus dan bahkan saya juga ikut open house yang diselenggarakan SBM-ITB Jakarta, wkwkwk. Dari hasil survey itulah yang jadi bahan brainstorming kami berdua. Dikarenakan keputusan ini akan berdampak kepada kehidupan suami istri jadi memang pasangan harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Karena sudah keputusan bersama jadi sebagai istri tidak boleh ngambek lagi kalau kebersamaan weekend-nya harus berkurang karena suami sibuk kuliah. Tapi saya percaya semua pengorbanan ini pasti akan berbuah manis di kemudian hari.

Pak suami memilih untuk ikut proses seleksi SBM-ITB Kampus Jakarta batch 1 untuk intake Agustus 2017. Kenapa lebih baik ikut seleksi batch 1? Karena untuk kuota mahasiswa BLEMBA ini dibatasi hanya 50 orang setiap tahunnya (khusus untuk intake Agustus 2017 ini kuota mahasiswanya dinaikkan menjadi 68 orang karena banyak peminat). Jadi istilahnya siapa yang cepat daftar dan punya nilai akademis yang bagus, dialah yang dapat jatah duluan. Kalau ikut seleksi batch 2 dan 3 bisa jadi karena jatah kuota kita akan dialihkan ke penerimaan mahasiswa tahun berikutnya.

Tulisan berikutnya akan saya share beberapa tips tentang Tes Potensi Akademik (TPA) yang merupakan salah satu prasyarat wajib untuk bisa melanjutkan kuliah S2 (jurusan apapun) di Indonesia.

Sharing Info

Penghapusan NPWP

Pertama-tama yang perlu kalian ketahui, saya bukanlah staf pegawai kantor pajak manapun, ditambah saya juga tidak punya backgorund pendidikan di dalam dunia perpajakan. Saya disini hanya berbagi pengalaman pribadi saja dan semoga sharing ini bisa membantu teman-teman sekalian yang butuh informasi.

Sebelum menikah, saya terakhir bekerja di sebuah perusahaan distributor farmasi yang ada di Jakarta. Saya resign per 30 April 2012 dan menikah di bulan Mei 2012. Setelah menikah saya tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Dari info yang diperoleh, karena saya tidak bekerja lagi setelah menikah, otomatis NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) saya digabung dengan pak suami. Suami pun kemudian melakukan update ke kantor-nya untuk perubahan status tanggungan pajak. Saya pikir semua sudah beres dengan sendirinya. Saya pun terakhir lapor SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) per tahun 2012 dengan menggunakan bukti pemotongan pajak dari kantor sebelum saya resign.

Dengan maraknya orang-orang melakukan Tax Amnesty dan Pembetulan SPT, suami saya pun akhirnya berkonsultasi dengan AR-nya (Account Representative) di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) Pratama Tangerang Barat yang ada di Jl. Imam Bonjol. Banyak sih item-item yang ditanyakan oleh pak suami kepada AR-nya tapi yang akan saya bahas disini hanya terkait dengan status saya. Menurut AR, sebelum NPWP saya dihapus resmi oleh KPP terkait (tempat diterbitkannya NPWP maka NPWP saya belum resmi digabung dengan NPWP suami dan saya masih wajib melakukan pelaporan SPT tiap tahunnya, walaupun nantinya karena saya tidak memiliki penghasilan, angka di SPT-nya banyak yang di nol-kan. Dalam hal ini berarti saya belum melaporkan SPT tahun 2013, 2014 dan 2015 dan akan dikenakan denda keterlambatan lapor yaitu Rp. 100.000 / tahunnya. Jadi saya akan dikenakan denda Rp. 300.000 katanya untuk keterlambatan lapor SPT saya. Denda itu baru akan kita bayarkan setelah mendapatkan STP (Surat Tagihan Pajak) dari KPP terkait. Oleh karena itu saya harus segera mengurus penghapusan NPWP saya di tahun 2016 ini sehingga untuk SPT tahun 2016 saya sudah resmi tergabung dengan pak suami.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dijadikan alasan seseorang untuk menghapus NPWP-nya:

  1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan.
  2. Wajib Pajak bendahara pemerintah yang tidak lagi memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak karena yang bersangkutan sudah tidak lagi melakukan pembayaran.
  3. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
  4. Wajib Pajak yang memiliki lebih dari satu Nomor Pokok Wajib Pajak untuk menentukan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dapat digunakan sebagai sarana administratif dalam pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan.
  5. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai pengurus, komisaris, pemegang saham / pemilik dan pegawai yang telah diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak melalui pemberi kerja / bendahara pemerintah dan penghasilan netto-nya tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak.
  6. Wajib Pajak badan kantor perwakilan perusahaan asing yang tidak mempunyai kewajiban Pajak Penghasilan badan yang telah menghentikan kegiatan usahanya.
  7. Warisan yang belum terbagi dalam kedudukannya sebagai Subjek Pajak sudah selesai dibagi.
  8. Wanita yang sebelumnya telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan serta tidak ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya.
  9. Wanita kawin yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak berbeda dengan Nomor Pokok Wajib Pajak suami dan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakannya digabungkan dengan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan suami.
  10. Anak belum dewasa yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
  11. Wajib Pajak bentuk usaha tetap yang telah menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.
  12. Wajib Pajak badan tertentu selain perseroan terbatas dengan status tidak aktif (non efektif) yang tidak mempunyai kewajiban Pajak Penghasilan dan secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha.
  13. Alasan lain-lain.

Kalau dilihat dari kasus saya, alasan penghapusan NPWP saya adalah nomor 8. Sekedar informasi, kita hanya bisa mengajukan permohonan penghapusan NPWP di KPP tempat penerbitan NPWP kita. Dalam hal ini, kalau saya harus ke KPP Pratama Grogol Petamburan  (karena waktu itu saya pernah bikin KTP Sementara pas kos di Grogol) padahal saya tinggal di Tangerang saat ini. Kebayang deh itu lumayan jauhnya, hehe.

Kamis siang tgl 22 September 2016 saya diantar pak suami ke KPP Pratama Grogol Petamburan yang lokasinya tepat di seberang Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat. Pak suami rela ijin masuk siang buat menemani saya ngurus penghapusan NPWP disini. Akan tetapi ketika sampai disana, parkir mobilnya sudah penuh dan tidak memungkinkan untuk parkir di pinggir jalannya. Jadi kami mengurungkan niat kami untuk datang ke KPP hari itu dan lebih memilih lunch bareng dulu karena kebetulan sudah waktunya makan siang. Kami memilih makan siang tak jauh dari KPP Pratama Grogol Petamburan. Setelah selesai lunch, saya naik ojek ke kantor pajak lagi dan suami balik ke kantor di Pluit.

Saya tiba di lobby KPP Pratama Grogol Petamburan pukul 13.00 dan suasananya penuh sesak. Parkiran juga penuh. Benar-benar kayak pasar deh. Kebanyakan orang-orang yang datang kesini berhubungan dengan Tax Amnesty karena batas waktunya sampai akhir September 2016 saja dan setelah itu denda Tax Amnesty-nya jadi tambah besar. Ketika mau ambil nomor antrian di mesin print tiket antrian loket, layar sentuh untuk bagian “NPWP” sudah ditutup karena nomor antriannya sudah mencapai 100 nomor. Padahal saya sudah bolak balik datang dan sudah membawa beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan pengajuan penghapusan NPWP. Sepertinya hari itu bukanlah hari keberuntungan saya.

Menurut bapak penjaga mesin tiket antrian loket, nomor antrian dibuka dari pukul 08.00 WIB pagi. Tapi jam segitu biasanya orang-orang udah banyak yang ngantri karena mereka biasa sudah mulai datang ke KPP Pratama Grogol Petamburan dari pukul 06.30 WIB. ckckck.. Hal itu menyebakan sebelum pukul 11.00 WIB nomor antrian ke-100 sudah habis. Jadi kalau kalian ada urusan ke kantor pajak ini lebih baik datang pagian. Jangan kesiangan kayak saya ini.

Untuk penghapusan NPWP, kita harus mengambil nomor antrian loket. Pilih nomor antrian “NPWP” kemudian tunggu giliran kita dipanggil ke loket dan di loket tersebut kita submit dokumen-dokumen yang diperlukan. Setelah dirasa benar dan lengkap semua dokumennya, staf pajak-nya akan memberikan kita tanda terima dokumen. Tapi karena saya tinggal-nya jauh dan tidak memungkinkan untuk sering bolak-balik Grogol-Tangerang, maka saya bertanya kepada resepsionis-nya, apakah bisa submit dokumennya melalui kiriman pos saja? dan katanya bisa! Duh, lega banget saya dengarnya karena selain kondisi antrian yang hectic disini, jalanan menuju ke daerah ini juga terkenal macet yang tidak mengenal waktu. Males banget deh kalau ada urusan di daerah ini.

Untuk pengiriman via pos, kita harus memastikan dokumen kita sudah lengkap semua. Dokumen yang dibutuhkan antara lain:

  • Untuk kasus istri gabung NPWP suami (seperti kasus saya):
    – Formulir penghapusan (tinggal minta formulir-nya di KPP manapun)
    – NPWP asli istri
    – Fotokopi akte nikah
    – Fotokopi kartu keluarga
    – Fotokopi SPT tahun terakhir istri dan suami
    – Surat pernyataan tidak pisah harta ber-materai (tinggal minta formulir-nya di KPP manapun)
    – Nomor HP
  • Untuk kasus meninggal dunia:
    – Formulir penghapusan (tinggal minta formulir-nya di KPP manapun)
    – NPWP asli ybs
    – Fotokopi kartu keluarga
    – Fotokopi SPT tahun terakhir, jika tidak ada laporkan SPT-nya terlebih dahulu
    – Fotokopi akte waris jika terdapat warisan
    – Fotokopi akte kematian
    – Nomor HP salah satu kerabat / contact person
  • Untuk kasus likuidasi / pembubaran badan atau cabang:
    – Formulir penghapusan (tinggal minta formulir-nya di KPP manapun)
    – NPWP asli ybs
    – Fotokopi KTP dan NPWP direktur
    – Fotokopi SPT 2 tahun terakhir
    – Fotokopi akte likuidasi (wajib dilampirkan)
    – Nomor HP contact person.

Dokumen bisa dialamatkan ke bagian Pelayanan KPP terkait. Alamat surat KPP terkait bisa dicari tahu sendiri. Penting juga untuk meminta nomor telpon yang bisa dihubungi di bagian pelayanan KPP terkait supaya kita bisa follow-up apakah dokumen kita sudah diterima atau belum dan untuk follow-up apakah NPWP kita sudah resmi dihapus atau belum. Untuk KPP Pratama Grogol Petamburan nomor telpon yang bisa dihubungi di bagian pelayanannya adalah: 021- 5682112.

Semoga informasi ini bisa berguna bagi yang membutuhkannya. Semoga ga ada lagi orang-orang yang didenda karena tidak submit SPT-nya karena ketidaktahuan seperti saya ini.

Sharing Info

Neighbours Cats Poop In My House Yard

Hai Semua!!.. Akhirnya ada kesempatan dan juga mood untuk menulis blog lagi. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang kucing dan halaman rumah. Kucing yang saya maksudkan disini tentunya bukan kucing saya. Saya sengaja tidak mau memelihara hewan apapun di dalam rumah dengan pertimbangan rumah yang tidak terlalu besar, ga suka melihat rumah kotor dan berantakan karena hewan dan juga untuk higienitas rumah tentunya. Sempat kepikiran sih untuk memiliki hewan piaraan karena rumah sering berasa sepi karena belum punya anak kecil. Lucu kan kalau ada yang bisa diajak main, dielus-elus dan disayang di rumah? Tapi kembali lagi dengan alasan diatas bahwa saya ga siap dengan segala konsekuensi-nya, seperti harus bersihin poop dan pipis-nya, rajin merawat bulu-nya, dll. Saya pikir daripada si hewan nantinya ga bahagia dengan saya lebih baik dia dirawat dengan orang yang benar-benar siap secara lahir batin, hehe.

Bercerita tentang halaman, halaman rumah saya di Tangerang tidak seluas halaman rumah dinas sewaktu di Sorowako. Halaman rumah di Tangerang ini hanya berupa car port  yang muat untuk 1 mobil dan kebun kecil-kecilan ala kadarnya. Sesuai standar keamanan, tentu saja halaman rumah saya memiliki pagar yang menurut saya lumayan tinggi. Permasalahan timbul saat kucing tetangga dan kucing liar lainnya masuk ke pekarangan rumah saya tanpa di undang. Mereka bisa masuk lewat sela-sela pagar, tembok pembatas dengan rumah tetangga, atap, dll. Ada spot favorit mereka untuk poop di halaman rumah saya yaitu 1 titik di car port dan 1 titik lagi di kebun kecil saya. Kebayang dong bagaimana bete-nya. Hewan piaraan sendiri aja mungkin saya ogah-ogahan untuk bersihinnya apalagi ini hewan yang bukan piaraan saya sendiri. Sungguh lancang deh kelakuan si kucing ini. Hampir tiap hari ada aja poop-nya nempel disitu dan bau-nya sampai ke ruang tamu. Sungguh menyebalkan!

When you have a problem, ask Google! That’s what I did. Hasil penelusuran dengan Google membawa kita ke berbagai tips untuk mengatasi masalah poop kucing ini.. Mulai dari cara yang masuk akal sampai berupa mitos-mitos. Cara yang menurut saya paling logis dari hasil bertanya pada Google ini adalah dengan menggunakan Cat Repellent. Jadi Cat Repellent ini berupa spray dengan bau tertentu (katanya mengambil aroma musang / doggy sebagai musuh / predator kucing). Bau tersebut mengirimkan sinyal ke kucing yang tak diundang itu bahwa daerah tersebut merupakan teritori dari musuh / predator-nya sehingga si kucing lebih memilih untuk angkat kaki. Dari yang saya baca sih Cat Repellent ini dijual di pet shop dan Ace Hardware dengan harga yang lumayan mahal, tapi untuk kepastiannya saya ga tau karena belum survey langsung. Kalau merasa malas keluar duit untuk membeli Cat Repellent, Google juga menyediakan resep untuk membuat Home Made Cat Repellent dengan menggunakan bahan-bahan yang biasanya ada di rumah. Silakan browsing sendiri ya untuk resepnya, banyak ragamnya. Saya tidak akan bahas disini karena saya menemukan cara yang jauh lebih murah dan praktis untuk mengatasi masalah ini.

Saya menolak menggunakan Cat Repellent yang berbentuk spray karena aroma-nya pasti mudah menguap dengan penggunaan di area outdoor. Jadi kemungkinan harus spray berkali-kali untuk menghadapi kucing yang pantang menyerah datang ke halaman rumah. Belum lagi kalau halaman rumah-nya luas sehingga harus disemprot ke beberapa titik. Intinya adalah boros. Oleh karena itu sebagai emak-emak yang medit, saya terpikirkan untuk menggunakan sabun colek! Iya, sabun colek. Sabun jaman dulu yang bentuknya cream dan biasa dipakai untuk kucek-kucek pakaian kotor dan juga bisa dipakai untuk cuci piring, sikat lantai, dll. Jadi cara menggunakan sabun colek ini adalah dengan mengoleskannya ke beberapa titik di halaman rumah dan juga di kebun kecil saya. Kemudian tinggal aja deh, biar sabun coleknya mengering sendiri. Memang sih jadinya halaman kita penampakannya ada totolan sabun colek, tapi cara ini ampuh banget lho! Tahan lama pula bisa sampe 2 minggu selama totolan sabun colek itu masih pada tempatnya. Kucing tetangga sekarang udah ga pernah mampir lagi ke halaman rumah saya. Nah, untuk yang sudah merasa desperate dengan kucing tetangganya yang terus datang ke rumah, silakan dicoba cara ini. Saya sudah membuktikan sendiri keajaibannya. Hahaha.

Sedikit catatan penting, cara diatas bisa diterapkan di rumah saya karena saya ga punya anak kecil yang suka main di pekarangan rumah dan juga lantai car port saya bukan keramik yang licin gitu, melainkan bentuk keramik batu kerikil. Jadi untuk yang kondisinya berbeda dengan rumah saya harus perhatikan isu keselamatan ya! Jangan sampai ntar totolan sabun coleknya malah dimainin sama anak sendiri. Kemudian kalau lantai pekarangannya berupa keramik yang licin gitu, hati-hati dengan sabun coleknya, takut terpleset. Gitu aja sih pesan dari saya. Selamat mencoba!

Sharing Info

Mall Yang Ramah Untuk Disabled People

Seperti yang pernah saya post sebelumnya, suami saya mengalami kecelakaan dan harus mengenakan gips di kaki kiri selama 1,5 bulan dan brace untuk tulang belakang selama 3 bulan.  Efeknya dia harus berjalan menggunakan tongkat / crutch selama gips-nya belum dibuka. Ga mungkin dong kita harus berdiam diri terus di rumah selama gips belum dibuka.. kayaknya bisa bulukan deh di rumah terus. Suami juga merasa kondisinya jauh lebih baik dibanding pas awal-awal masuk RS. Bahkan suami juga udah bisa nyetir mobil sendiri dari/ke kantor (Pluit, Jakarta Utara) – rumah (Tangerang) PP. Thanks to  the creator of automatic transmission car alias mobil matic yang hanya butuh penggunaan kaki kanan untuk gas-rem. Soalnya suami saya hanya kaki kirinya yang digips jadi kaki kanan masih bisa berfungsi untuk mengendarai mobil, hihihi. Saya juga pengennya suami saya bisa hidup senormal mungkin ditengah keterbatasan sementaranya. Intinya jangan manja lah karena banyak orang-orang diluar sana yang keterbatasannya lebih permanen tapi tetap bersemangat dengan hidupnya. Jadi sebagai pecinta mall, tiap weekend atau ada waktu saya ajak suami saya ikut serta. Memang jadi lebih repot dibandingkan biasanya tapi itu bukan halangan buat saya.

IMG_20160725_193758[1]
Udah Lebih Segar dan Ceria
IMG_20160803_074431[1]
Udah Bisa Nyetir Sendiri

Kategori mall yang friendly for disabled people menurut saya:

  1. Ada fasilitas peminjamaan kursi roda (wheel chair) gratis untuk customernya.
  2. Ada fasilitas lift
  3. Ada jalur jalan landai untuk kursi roda (wheel chair)
  4. Space jalan cukup lebar untuk kursi roda
  5. Ada fasilitas valet parking (berguna banget kalau kita ga ada supir, jadi bisa langsung turun di lobby tanpa harus jalan jauh)
  6. Ada fasilitas disabled toilet. Beda disabled toilet dengan toilet biasa adalah ruangannya lebih besar sehingga memungkinkan kursi roda bisa masuk dan ada tiang pegangan disekitar WC, membantu banget supaya orang disabled tidak jatuh saat berdiri dari / duduk di WC)

Kenapa saya banyak banget menuliskan tentang fasilitas untuk kursi roda? Karena saya lebih suka suami saya duduk manis di kursi roda daripada dia jalan pakai tongkat keliling mall. Seperti kalian ketahui, mall itu kan biasanya gede banget. Ga kebayang suami saya ngiderin mall segitu luasnya dengan berlompat-lompat dengan bantuan tongkat. Bisa encok berat kali bro! Selain itu saya yang jalan disebelahnya juga bakalan bosen nungguin dia jalan ga sampai-sampai. Jadi saya lebih rela hati mendorong suami saya pakai kursi roda untuk jalan-jalan di mall. Rata-rata di mall besar sih sudah ada fasilitas free wheel chair for disabled people. Tapi jumlah kursi roda-nya memang terbatas, kadang kalau weekend bisa tinggal 1 doang atau bahkan full dipakai yang lain. Kemudian lama peminjaman kursi roda ini juga maksimal 3 jam. Menurut saya sih 3 jam udah cukup banget untuk sekedar cuci mata dan jajan cantik. Kalau kelamaan kasian juga suami saya kecapekan.

1469874098777[1]
Nge-mall Dengan Kursi Roda
IMG_20160802_183436[1]
Udah Bisa Makan di Resto

Berikut adalah review beberapa mall (Kebanyakan adalah mall di Tangerang karena rumah kami ada di Tangerang) yang pernah saya kunjungi bersama suami selama suami dalam kondisi kaki digips dan harus memakai tongkat.

  1. Supermal Karawaci (Karawaci, Tangerang)
    Sebelum sakit, mall ini sering banget kami kunjungi, secara kami kan nge-gym di Celebrity Fitness disini. Paling ga seminggu bisa 3x ke sini deh. Tapi dari hasil pengamatan selama ini, mall ini menurut saya kurang ramah terhadap disabled people (walaupun ada fasilitas peminjaman kursi rodanya)
    – Tidak ada disabled toilet
    – Dari lobby utama (tempat valet parking dan juga peminjaman kursi roda), harus menuruni anak tangga manual terlebih dahulu untuk mencapai lantai dasar. Tidak ada lift atau jalan landai untuk pengguna kursi roda.
    – Tidak ada lift / lokasi lift terpencil. Selama saya beredar disana, saya cuma pernah lihat lift barang. Lift penumpang ga tau ada dimana.
  2. Mall Alam Sutera (Alam Sutera, Tangerang)
    Cukup ramah dengan disabled people, hanya saja lokasi toiletnya agak jauh-jauhan. Ada fasilitas peminjaman kursi roda, disabled toilet, valet parking, lift dan jalan landai untuk kursi roda.
  3. Aeon Mall (BSD, Tangerang)
    Fasilitas untuk disabled people-nya oke banget: kursi roda, jalan landai, lift kapasitas besar dan banyak, vallet parking, dan ada disabled toilet. Cuma 1 hal yang dikomplain oleh suami: kursi rodanya ga nyaman, hehe.
  4. Living World (Alam Sutera, Tangerang)
    Fasilitas untuk disabled people-nya cukup oke: kursi roda, jalan landai, lift cukup besar, vallet parking, dan ada disabled toilet
  5. Emporium Mall (Pluit, Jakarta)
    Agak repot untuk membawa disabled people kesini. Fasilitas kursi roda sih ada, tapi dari lobby utama (tempat valet parking dan resepsionis lobby utama), untuk bisa mengakses lift kita harus turun ke lantai dasar dengan anak tangga manual atau eskalator. Kalau pakai kursi roda, kita harus keluar dari lobby utama dan jalan ke arah lobby utara yang jalan masuknya landai dan langsung ke lantai dasar. Jalanan ke lobby utara ini trotoar-nya sempit jadi harus hati-hati membawa kursi rodanya. Selain itu tidak ada disabled toilet. Lift juga sempit sehingga kalau masuk dengan kursi roda, jumlah orang yang bisa diangkut dengan lift jadi sedikit banget.

Sejauh ini baru 5 mall itu yang kami kunjungi, kalau ada mall lain yang kami kunjungi akan saya update lagi disini. Semoga bermanfaat untuk kalian yang berniat jalan-jalan di mall dengan anggota keluarga yang disabled.

Sharing Info

Berburu Beasiswa LPDP

Kalau kalian mengikuti kisah saya sebelumnya pasti tahu kalau suami saya berniat melanjutkan studi ke jenjang S2 dan memilih Belanda sebagai negara tujuan studi-nya. Saya sebagai istri pun support terhadap niatan suami dan memberikan dukungan saya dalam bentuk bantuan menemani mengurus dokumen-dokumen administratif, datang ke berbagai edufair, bahkan membantu me-review essay yang akan disubmit oleh suami. Jadi cukup banyak saya tau lah seluk-beluk perjuangannya. Dan seluk-beluk itu yang saya akan sharing disini.

Para pemburu beasiswa pasti sudah pernah dengar dan mungkin juga pernah mengikuti tahapan seleksinya. LPDP adalah singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan Republik Indonesia. LPDP memberikan bantuan beasiswa untuk jenjang S2 dan S3 baik untuk perkuliahan di universitas dalam maupun luar negeri yang ada di dalam list universitas LPDP. Dari semua beasiswa yang saya tahu, LPDP ini memberikan nilai plus bagi penerimanya yaitu: Full scholarship dan juga tunjangan keluarga (pada bulan ke-7 perkuliahan). Jumlahnya juga lumayan besar untuk hidup layak di luar negeri bersama keluarga. Oleh karena itu banyak yang berlomba-lomba untuk bisa mendapatkannya.

Setelah menyelesaikan beberapa dokumen administratif, suami saya men-submit dokumen-dokumen tersebut ke website LPDP http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/ sebelum deadline 20 Januari 2016 kemarin. Tgl 2 Februari 2016 suami saya dinyatakan lulus seleksi administrasi dan lanjut ke seleksi substansi. Waktu itu suami belum dapat LoA (Letter of Acceptance) dari universitas di Belanda karena masih dalam proses seleksi universitas. Suami dapat jadwal di pertengahan februari 2016 untuk proses seleksi substansi ini yang dilaksanakan di STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara) Bintaro. Seleksi Substansi ini ada 3 ujian: Essay On The Spot, Group Discussion dan Interview. Kebetulan suami saya dapat jadwal 3 ujian tersebut di hari yang sama.

  1. Essay On The Spot
    Ini ujian menulis dalam bahasa inggris. Kita disuruh pilih salah satu dari 2 topik yang disediakan. Waktu itu suami saya dapat pilihan topik kebijakan pajak atau pengelolaan sampah. Dalam tahap ini yang dinilai adalah penguasaan kita terhadap sebuah topik dan kemampuan grammar kita.
  2. Group Discussion
    Diskusi grup ini juga biasa disebut LGD (Leaderless Group Discussion) alias diskusi tanpa pemimpin. Disini kita akan dipanggil bersama beberapa orang. Waktu itu suami saya grupnya berjumlah sampai 12 orang. Grup kita akan diberi suatu topik kemudian didiskusikan bersama. Ga ada yang salah atau benar dari diskusi ini, yang dinilai adalah bagaimana kita menyampaikan pendapat kita dan interaksi kita di dalam grup dengan menggunakan bahasa Inggris.
  3. Interview
    Dalam interview ini kita akan dihadapkan dengan 3 orang, yaitu 1 orang psikolog, 1 dosen teknik dan 1 dosen umum. Pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari sampai membahas masalah teknis. Bahkan suami saya juga ditanya soal topik TA-nya (Tugas Akhir) saat kuliah S1 dulu dan dibahas teknisnya. Menurut saya ini tahap terpenting dari proses seleksi substansi, kepribadian kita akan dinilai apakah kita layak atau tidak menjadi kandidat penerima beasiswa LPDP. Interview berlangsung dalam bahasa Inggris selama 15 – 45 menit.

Hasil seleksi substansi ini diumumkan tanggal 10 Maret 2016 dan dinyatakan kalau suami saya Tidak Lulus. Sedih sih iya tapi ga sampai terpuruk lah. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan memberikan banyak pelajaran berharga untuk masa depan kita. Intinya sih menurut saya belum jodoh aja. Bahkan dari beberapa edufair yang saya datangi, penerima beasiswa itu sharing kalau sebelum dapat beasiswa yang sekarang ini mereka juga sempat gagal berkali-kali. Jadi kalau baru gagal sekali ya belum ada apa-apanya dibanding mereka 🙂 Tahun ini kebijakan dari LPDP adalah LPDP memberikan kesempatan bagi yang gagal seleksi substansi sampai 2x. Setelah gagal seleksi substansi 2x kita sudah tidak diperkenankan untuk ikut proses seleksi LPDP lagi. Jadi masih ada kesempatan bagi suami untuk mencoba lagi. Semoga dengan persiapan yang lebih matang akan memberikan hasil yang lebih baik.

Beberapa tips untuk seleksi substansi ini:

  1. Pakai baju yang rapi tapi tetap nyaman karena ga semua tempat berlangsungnya proses seleksi ini ada AC-nya.
  2. Bawa papan alas tulis sendiri karena ga semua tempat seleksi ada meja untuk menulis.
  3. Kuasai topik yang sedang trend saat ini untuk persiapan essay on the spot dan group discussion.
  4. Sebaiknya sudah mengantongi LoA saat seleksi untuk nilai tambah kita. Tapi tidak ada jaminan juga kalau sudah ada LoA pasti akan lulus seleksi.
  5. Pelajari kembali Tugas Akhir atau Thesis kita sebelumnya.
  6. Datang lebih awal dari jadwal seleksi yang ditentukan. Suami saya tiba-tiba jadwal interview-nya dimajukan 20 menit sebelumnya.
  7. Selain prestasi akademik, tonjolkan juga kemampuan organisasimu karena LPDP ini mencari figur leader yang berprestasi.
  8. Jangan terlalu berharap banyak dengan hasilnya. Suami saya waktu itu cukup pede dengan hasilnya tapi ternyata gagal. Intinya sih kita ga tau kriteria LPDP itu gimana dalam memilih kandidatnya. Bukan kayak test math yang hasilnya selalu pasti.
  9. Jangan mengorbankan karirmu demi proses seleksi yang belum tentu kamu dipastikan lolos. Sedihnya bisa double kalau sampai ilang karir dan gagal pula dalam seleksi beasiswa. Pertimbangkan baik-baik resikonya.

Sekian sharing dari saya, semoga next suami saya bisa lebih beruntung dalam memperoleh beasiswa. Salam sukses buat kalian semua!

Sharing Info

Persiapan Menghadapi Tes TOEFL

Hai semua, kali ini saya akan share tentang bagaimana menyiapkan diri menghadapi test TOEFL. Test TOEFL ini diperlukan banget kalau kita berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa universitas atau lembaga pemberi beasiswa mensyaratkan score TOEFL tertentu untuk syarat penerimaannya, mostly sih untuk perkuliahan di luar negeri. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman suami saya yang berhasil lulus TOEFL dengan nilai yang cukup baik dan hanya dengan belajar otodidak (tanpa kursus). Yah secara ya kalau sudah kerja itu apalagi kayak suami saya yang kantor di Jakarta dan rumah di Tangerang begini, sampe rumah juga udah capek, boro-boro mau ikut kursus lagi, hehe.

TOEFL adalah singkatan dari Test of English as Foreign Language. Test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa Inggris kamu (dalam logat Amerika). Kalau yang berorientasi pada logat British namanya tes IELTS. Ujian TOEFL ini diselenggarakan oleh ETS (Educational Testing Service) di seluruh dunia dengan kantor pusatnya berada di Amerika Serikat. TOEFL ini. TOEFL ini ada beberapa jenis berdasarkan metode test-nya, yaitu:

  • Paper Based Test (PBT)
    Test dilakukan diatas kertas dengan 3 sesi pengujian: Listening, Structure dan Reading. Range score berkisar 310 (minimum) – 677 (maksimum). Saat ini jenis tes ini sudah mulai ditinggalkan atau tidak berlaku lagi di dunia internasional, hanya beberapa negara saja yang masih mau menerima hasil test ini.
  • Computer Based Test (CBT)
    Test dilakukan dengan media komputer dengan menggunakan software resmi dari ETS untuk pengujiannya. Ada 4 sesi pengujian: Listening, Structure, Reading dan Writing. Range score berkisar 0 (miminum) – 330 (maksimum).
  • Internet Based Test (iBT)
    Test menggunakan komputer dengan sistem online dari ETS. Saat ini test ini adalah test yang diakui secara global. Ada 4 sesi pengujian: Listening, Writing, Reading dan Speaking. Range score berkisar 0 (minimum) – 120 (maksimum).

Universitas yang diincar oleh pak suami adalah universitas yang mensyaratkan TOEFL iBT dengan nilai minimum 90 dan dengan score minimum untuk Writing 20. Suami saya berhasil mendapatkan score 94 untuk TOEFL iBT-nya per Desember 2015 lalu. Untuk kalian yang mau TOEFL dengan tujuan mendaftar di universitas luar negeri harap dipastikan persyaratan test-nya baik-baik ya (Jenis test dan score minimum). Berikut adalah tips persiapan menghadapi test TOEFL yang saya rangkum dari pengalaman pak suami:

  1. Otodidak atau Ikut Kursus?
    Nah ini tergantung kemampuan kalian masing-masing. Untuk yang punya dana lebih dan waktu lebih sih memang lebih baik ikut kursus karena didalam kursus itu kita bisa lebih intens belajarnya (kursus persiapan TOEFL ini lumayan juga biayanya lho). Tapi kalau kalian sama seperti suami saya yang karyawan swasta dimana waktunya terbatas karena kesibukan kerja, belajar otodidak pun ga masalah, yang penting fokus dan konsisten.
  2. Beli buku untuk latihan di rumah.
    Suami saya waktu itu beli buku Barron’s TOEFL iBT 14th edition di toko buku Gramedia. Harganya sekitar 500 ribu-an rupiah. Di paket buku itu ada beberapa CD latihan yang berguna sekali untuk mengasah kemampuan kalian dalam hal bahasa inggris dan juga manajemen waktu pengerjaan soalnya.
  3. Practice more!
    Practice makes perfect. Dalam buku Barron’s tersebut disarankan kita punya waktu latihan 80 jam. Suami saya karena kesibukan kerja latihannya kurang dari 80 jam tersebut. Persiapan pak suami kurang lebih sekitar 2 bulan. Pulang kerja, mandi, makan terus mantengin buku latihan Barron’s itu deh, hehe. Weekend juga dimanfaatin buat belajar di rumah.
  4. Siapin Budget.
    Untuk mengikuti test TOEFL iBT kita diharuskan membayar ke ETS sebesar USD 190 atau sekitar 2,6 juta rupiah. Belum lagi kalau kita ikut kursus persiapan TOEFL yang biayanya juga berkisar lebih dari 1 juta rupiah. Lumayan kan jumlahnya, jadi harus ditabung-tabung dari awal deh. Dan usahakan dapat nilai setinggi-tingginya.. sayang duitnya bok! hehe.
  5. Pilih tempat test yang bikin kamu nyaman.
    Kalau perlu sih survey dulu sebelumnya lokasi test-nya gimana. Kalau kamu orangnya gampang terganggu dengan suara bising, cari tempat test yang tenang. Kita bebas pilih tempat testnya dimana koq, asal ada dalam list ETS. Survey lokasi ini juga akan menguntungkan kita disaat hari H, biar kita ga nyari-nyari lokasi lagi pas hari H.
  6. Pilih waktu test yang sesuai dengan deadline submit dokumen ke universitasnya.
    Test TOEFL iBT ini butuh waktu 2 minggu (hari kerja untuk mendapatkan hasilnya). Belum pula kalau dokumen hasil TOEFL ini minta dikirim hardcopy-nya ke universitas, pertimbangkan juga waktu pengiriman dokumen ke luar negerinya.

IMG_20160304_134122[1]

Dalam tahap ini support saya sebagai istri adalah:

  • Tidak merengek-rengek sama suami minta ditemanin jalan pas weekend. Saya membebaskan suami dari segala tugas rumah tangga printilan. Semua yang bisa saya handle saya kerjakan sendiri biar suami fokus belajarnya.
  • Membuat suasana rumah senyaman mungkin biar kondusif untuk belajar.
  • Tidak membebani pikiran suami dengan segala unek-unek dan cerita keluh kesah.
  • Membantu suami dalam hal practice conversation bahasa Inggris di rumah.

Demikian yang bisa saya share. Semoga sukses ya test TOEFL-nya buat kalian yang ada jadwal test dalam waktu dekat.