Story Of My Life

6th Anniversary

Tepat tanggal 20 Mei kemarin saya dan pak suami memasuki usia pernikahan ke-6. Enam tahun bukan usia yang singkat tapi juga belum termasuk lama untuk sebuah pernikahan. Tapi usia ini adalah suatu pencapaian yang perlu dibanggakan bahwa kami sudah bisa bertahan sampai di titik ini, melalui semua suka duka bersama. Percayalah bahwa mempertahankan pernikahan itu lebih susah daripada memulainya. Ketika memulai pernikahan mungkin kita masih didominasi perasaan cinta menggebu-gebu. Akan tetapi sejalan dengan lama-nya pernikahan mungkin cinta itu bisa berubah. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan cinta di dalam keluarga kita sampai seterusnya. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk ke arah sana.

Semakin lama bersama, saya semakin memahami sifat dan karakter suami saya. Dengan pemahaman yang semakin tinggi, semakin jarang juga terjadi pertengkaran. Ibarat kata, hanya dengan melihat muka dan nada bicara pasangan saja kita sudah bisa saling tahu apa yang terjadi dan bagaimana harus bersikap. Kadar keegoisan pun semakin berkurang. Mungkin karena faktor pertambahan usia juga yang membuat kita menjadi pribadi yang makin dewasa.

Di tahun ke-6 ini, saya merasa cukup sedih belum bisa memberikan keturunan kepada suami saya, seorang anak yang merupakan perpaduan genetik kami berdua dan mewarisi sifat kebaikan dari kami (kalau sifat jeleknya sih tidak usah diwariskan ke anak ya). Saya bahkan sempat bertanya kepada pak suami, apakah dia mau menikah lagi dengan wanita lain demi mendapatkan anak darinya. Dengan tegas dia mengatakan tidak mau dan dia menyayangi saya apa adanya, dengan atau tanpa anak. Saya masih menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya. Dan hal itu bukan hanya sekedar ucapan manis dari pak suami. Saya sendiri menyaksikan betapa suami saya adalah orang yang setia dan memegang teguh arti pernikahan. Tidak jarang dia selalu membela saya dari orang-orang yang menyindir saya karena saya belum memiliki anak diusia 35 tahun ini. Bahkan dia juga pernah membela saya dari keluarganya sendiri. It means a lot for me.

Pak suami juga selalu menyemangati saya dalam setiap program hamil yang saya ikuti. Dia selalu berusaha ada untuk saya ketika saya harus berhadapan dengan banyaknya jarum suntik dan obat-obatan hormon selama beberapa kali mengikuti program hamil. Walaupun dia sendiri juga tutup mata kalau melihat saya disuntik karena dia takut, hehe. Dia merupakan sumber kekuatan saya saat saya sedih menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam program hamil. Dia tidak pernah protes atau menghina saya ketika saya menjadi bertambah gemuk atau jerawatan karena efek obat-obatan hormon. Dia juga tidak minder mengenalkan saya pada teman atau keluarganya saat berpapasan di jalan. Mungkin itulah yang disebut mencintai pasangan kita apa adanya.. bukan karena ada apanya.

Sebagai kepala keluarga, single income, karena saya hanya ibu rumah tangga, tidak membuat pak suami mengeluh. Selama hidup bersama, saya tidak pernah sekalipun mendengar dia mengeluh lelah mencari nafkah untuk keluarga. Tidak pernah perhitungan tentang uang kepada istri. Dia adalah kepala keluarga yang rajin, pekerja keras dan bertanggung jawab. Saya sungguh istri yang beruntung. Semoga pak suami selalu diberi kesehatan dan dimudahkan rejekinya.

Love is about take and give. Saya sebagai istri juga harus mengimbangi segala kebaikan dan cinta suami. Pastinya dengan cara saya sendiri. Paling tidak saya harus bisa membuat rumah menjadi senyaman mungkin untuk tempat suami saya pulang sehingga tidak perlu mampir kemana-mana (a.k.a selingkuh). Agak miris mendengar berita-berita yang beredar mengenai pelakor (perebut laki orang) di luar sana. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memilih jalan pintas menjadi mapan dengan modal kecantikan belaka. Mudahan suami saya dijauhkan dari godaan-godaan seperti itu.

Harapan saya ke depan tentang pernikahan ini adalah tetap penuh cinta dan perhatian. Semoga bisa langgeng sampai di akhir penghidupan ini. Semoga ada keajaiban terjadi tentang kehadiran anak. Kalaupun memang tidak bisa dari rahim saya sendiri, semoga bisa dapat anak adopsi yang baik dan sehat. The greatest gift in my life adalah bisa berjodoh dengan suami saya di kehidupan ini. Kalau saya dikasih kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memilih pasangan hidup, saya akan tetap memilih suami saya saat ini, hanya saja menikahnya lebih awal selagi masih muda. Tujuannya sih supaya bisa memperbesar chance untuk hamil, hehe.

Pada anniversary tahun ini, tidak ada hal yang fancy. Kami memperlakukannya seperti weekend biasa saja karena bertepatan dengan jadwal kuliah pak suami juga. Hal yang agak spesial adalah kami pergi spa bareng di Martha Tilaar Salon Day Spa Gading Serpong selama 2 jam. Setelah itu kami dinner di restoran Padang Pagi Sore di Alam Sutera. Sesaat sebelum tidur, kami bicara heart to heart tentang apa yang kami rasakan selama menjalani pernikahan. Hal apa yang perlu diperbaiki dan dipertahankan.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk pak suami yang memang suka kepo menengok blog istrinya. You know how much I love You!

Iklan
Story Of My Life

Pilih Blog Atau Vlog?

Hello! I’m back!

Entah kenapa saat mau menulis blog sepertinya ada saja permasalahan yang terjadi. Kali ini adalah jaringan wifi di rumah saya yang statusnya “no signal” melulu. Padahal paket kuota internet saya masih banyak. Hal ini berlangsung hampir seminggu pula. Benar-benar mengganggu produktifitas nih! Hehehe. Untungnya hari ini jaringan wifi sepertinya sudah kembali normal. OK, rasanya sudah cukup curhat dari saya dan lebih baik kita kembali ke topik hari ini: Blog vs Vlog.

Menurut Wikipedia, blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web. Sedangkan vlog adalah singkatan dari Video Blog yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari blog. Jadi perbedaan mendasar keduanya adalah pada media penyampaiannya. Blog menggunakan tulisan sedangkan Vlog menggunakan video.

Baik blog maupun vlog baru populer semenjak internet ditemukan. Tentu saja akses internet sangat dibutuhkan untuk membuat blog mapun vlog. Dengan semakin mudah dan murahnya akses internet, para blogger dan vlogger (sebutan bagi orang yang membuat blog atau vlog) pun jumlahnya semakin banyak. Khusus untuk vlog, era vlog baru mulai populer saat ditemukannya Youtube dimana orang bisa meng-upload video-nya secara gratis disana.

Hobby membuat blog atau vlog bisa dimanfaatkan menjadi sumber pendapatan juga. Semakin populer blog atau vlog kita maka akan semakin terbuka peluang sponsorship ataupun iklan di channel kita. Tapi, untuk bisa memasang iklan di blog kita, biasanya kita harus memiliki akun layanan premium yang berbayar. Jangan tanya teknisnya seperti apa ya karena sampai saat ini saya masih menggunakan akun standar WordPress yang gratis dengan fitur-fitur terbatas, hahaha. Ada sih niat untuk upgrade akun ke premium tapi masih menunggu jatah kuota foto-nya habis dulu (hanya dapat kuota 3GB).

Melalui media video, vlog menjadi media yang lebih menarik. Bahkan anak kecil dibawah 2 tahun saja, yang belum bisa membaca, bisa mengakses video di Youtube. Tapi entah kenapa saya melihat banyak vlog sekarang yang content-nya kurang berbobot (baca: alay). Mungkin mereka hanya mengejar jumlah video yang di-upload dibandingkan memikirkan isi content-nya. Dan herannya lagi justru video-video seperti itu yang cepat populer di kalangan generasi sekarang. Berbeda dengan blog yang hanya terbatas pada foto dan tulisan saja, saya jarang menemukan content yang alay.

Kalau ditanya, saya pribadi lebih memilih blog atau vlog? Saya akan tegas menjawab: Blog! Alasan saya lebih memilih blog adalah sebagai berikut:

  1. Saya lebih bisa berekspresi melalui tulisan. Saya suka menulis. Jalur informasi dari otak ke tangan untuk menulis rasanya lebih cepat dibandingkan dengan jalur informasi dari otak ke bibir untuk berbicara, hahaha. Untuk bisa berbicara yang baik dan benar dibutuhkan waktu yang lebih lama dibanding menulis.
  2. Saya kurang representatif di depan kamera. Daripada menonton ibu-ibu yang sudah berumur kayak saya di video mungkin para penonton lebih melirik gadis-gadis yang lebih muda dan menarik. Hal ini sama seperti bisnis di dunia entertainment dimana artis yang muda selalu lebih diminati.
  3. Bagi orang yang tidak memiliki badan kurus, berada di depan kamera akan membuat saya lebih terlihat gemuk dan bulat. Bisa-bisa nanti satu layar video akan penuh dengan badan saya, hahaha.
  4. Untuk meng-upload dan menonton video butuh kuota internet yang banyak dan akses internet yang cepat. Kalau saya yang kuota internetnya terbatas alias bukan unlimited jadi berpikir dua kali untuk sering-sering meng-upload atau menonton video. Pada akhirnya sih kembali ke budget masing-masing.
  5. Saat menonton sebuah video kadang saya tidak bisa langsung mencerna isinya dan mendapat informasi yang saya inginkan. Alhasil harus memutar 2-3 kali baru puas. Tentunya pengulangan nonton seperti itu juga menyita kuota internet.
  6. Saya takut kalau populer jadi dikenal dimana-mana karena orang akan tahu muka saya seperti apa lewat video saya (duh ge-er banget deh!). Jalan-jalan di luar rumah jadi tidak bebas lagi. Beda dengan blog dimana saya bisa menyembunyikan diri saya dibelakang tulisan saya.

Nah, itu dia beberapa alasan saya lebih memilih blog daripada vlog. Tulisan ini sekalian menjawab tantangan teman saya untuk membuat vlog. Sorry, but I’m not into a vlog person. Kalau seandainya dulu vlog bisa lebih cepat populer disaat saya masih remaja sih mungkin lain cerita ya, hahaha.

Kalian sendiri lebih suka blog atau vlog?

Story Of My Life

Welcoming The Year Of Dog 2018

Halo..! Halo..! Welcome back to my blog. Maaf kalau selama bulan Februari 2018 ini saya agak jarang aktif di blog. Tidak dipungkiri selama bulan Februari 2018 ini banyak sekali acara keluarga. Mulai dari adik saya sekeluarga datang ke rumah sampai persiapan acara imlek.

Pada imlek kali ini, saya sengaja tidak terima order karena saya ada niatan mau bagi-bagi paket cookies ke keluarga dekat; keluarga suami di Tangerang dan keluarga saya di Samarinda. Selain itu tentunya saya juga mau bikin-bikin snack untuk acara kumpul keluarga suami saat imlek di rumah kami. Yup, sudah 3 tahun terakhir ini acara imlek keluarga suami selalu diadakan di rumah kami. Harap maklum karena pak suami adalah anak laki-laki tertua yang punya rumah sendiri dan syukur-syukur rumah kami bisa menampung keluarga inti suami yang berjumlah belasan orang (walaupun agak pas-pasan dengan luas rumahnya, hahaha). Hal inilah yang menyebabkan saya tidak pernah merayakan imlek lagi di Samarinda bersama keluarga saya. Resiko menikah dengan orang jauh nih, hehe.

PhotoGrid_1519373625190.jpg
Paket cookies untuk keluarga. Adik saya membantu membungkus bingkisannya.

Saya membuat paket cookies untuk keluarga dari sekitar 10 hari sebelum hari H imlek. Keistimewaannya tentu saja semua cookies yang saya kirimkan adalah buatan tangan saya sendiri (tidak ada bantuan dari orang lain, benar-benar kerja sendiri) dan saya melakukannya dengan ikhlas. Saya percaya segala niatan dan perbuatan baik pasti akan berbuah kebaikan juga. Paket cookies untuk keluarga Tangerang saya kirimkan H-3 sebelum imlek. Untuk paket cookies ke keluarga Samarinda saya titipkan ke adik saya yang mau pulang kampung saat imlek.

PhotoGrid_1519373865085.jpg
Milo Doggie Cookies (walaupun beberapa cookies bentuknya tidak tampak seperti doggy)

Oh iya, dalam rangka menyambut perayaan imlek tahun anjing tanah, dalam paket cookies yang saya kirimkan, saya membuat Milo Doggie Cookies. Ternyata cookies ini cukup membuat saya encok karena detail hiasannya. Sungguh tidak efisien sekali untuk dijadikan salah satu item dagangan / bakulan kue. Waktu pengerjaannya hampir sama dengan nastar tapi dengan hasil lebih sedikit.

PhotoGrid_1519373710505.jpg
Marble Pound Cake

Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya dimana saya memasak Soto Banjar dan beberapa snack untuk menu imlek di rumah. Tahun ini pak suami dan saudara-saudaranya sepakat untuk membeli makanan saja di luar supaya saya tidak capek. Menu makanan yang disepakati adalah pempek, bakso dan chinese food. Alhasil saya hanya membuat snack saja dimulai dari H-1 sebelum imlek. Kalau tahun sebelumnya saya selalu menyajikan chiffon cake pandan maka tahun ini saya menyajikan marble pound cake. Untuk puding masih sama dengan sebelumnya yaitu puding sutra buah hanya saja kali ini saya memakai buah segar anggur dan lengkeng yang stoknya berlimpah di rumah karena kiriman dari saudara pak suami.

Dikarenakan tahun ini saya tidak begitu sibuk urusan dapur, saya jadi ada kesempatan mengikuti kebaktian malam imlek di Vihara Ekayana Serpong, Tangerang, bersama pak suami. Pada kesempatan tersebut juga hadir beberapa Bhante yang memberikan pemberkatan dan bingkisan imlek (angpao, jeruk, cokelat dan air minum botolan). Sungguh kesempatan yang langka bisa hadir di acara ini. Saya happy sekali bisa hadir di acara tersebut.

Begitulah cerita imlek saya tahun ini. Semoga segala harapan dan resolusi yang telah dibuat bisa tercapai di tahun ini. Semoga kita semua selalu dilindungi dari segala marabahaya, selalu sehat dan bahagia.

Gong Xi Xin Nian!

Gong Xi Fa Cai!

Happy Chinese New Year all!

Story Of My Life

Reward From Writing A Blog

Saya punya hobby menulis walaupun memang suka tidak konsisten menjalankannya. Contoh nyata ya di blog ini. Kadang kalau saya lagi rajin, dalam satu hari bisa muncul beberapa post. Tapi kalau lagi “hilang” bisa satu bulan baru ada post berikutnya, hahaha.

Dari menulis blog ini, saya dapat banyak kenalan baru. Para pembaca yang comment di tulisan saya atau bahkan orang yang contact / chat saya langsung untuk bertanya mengenai tulisan saya. Walaupun kami belum bertemu secara langsung tapi saya senang bisa berinteraksi dengan kenalan baru. Tentunya selama orang tersebut tetap bersikap sopan dan tidak mengganggu. Kategori mengganggu ini adalah ketika orang tersebut contact saya pada jam-jam yang tidak wajar, misal tengah malam. Sudah pasti tidak akan saya tanggapi. Untuk kenalan baru, saya lebih senang contact pertama kali dilakukan via chat dibanding telepon. Saya tidak akan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal. Maklumlah, tinggal di ibukota Jakarta yang rawan kriminalitas membuat kita paranoid.

Di akhir tahun 2017 kemarin, kebetulan saya di-contact oleh sebuah lembaga survey, market research. Katanya mereka membaca blog saya dan tertarik menjadikan saya narasumber untuk sebuah survey yang mereka lakukan tentang IVF atau bayi tabung. Mereka melakukan survey kepada beberapa narasumber dengan 3 kategori, yaitu: sukses IVF, gagal IVF, dan sedang menjalankan IVF. Tentunya saya masuk dikategori gagal IVF karena percobaan IVF saya tidak berhasil di Desember 2016 (silakan lihat post saya sebelumnya). Hal ini menjadi suatu langkah besar buat saya bahwa blog saya semakin dikenal orang dan yang paling penting adalah bisa berguna bagi sebagian orang. Untuk alasan kerahasiaan, pada tulisan ini saya tidak akan menyebutkan nama lembaga survey-nya apa dan nama orang yang contact saya. Kita sebut saja PT. X dan Mba Y.

Pada awalnya Mba Y menawarkan diri untuk datang ke rumah saya untuk melakukan wawancara tapi saya tolak. Alasannya adalah saya tidak mau menerima orang asing masuk ke dalam rumah saya. Pikiran saya sudah negatif saja saat itu. Tapi kemudian Mba Y menawarkan opsi lain yaitu saya datang ke kantor mereka yang berlokasi di daerah Kuningan, Jakarta, pada tanggal 8 Januari 2018. Saya langsung menyetujui-nya.

Pada hari H, saya datang ke kantor PT. X tepat pk. 12.00 sesuai dengan janji temu kami. Setelah menikmati lunch yang disediakan oleh PT. X, wawancara pun dimulai. Dalam kategori gagal IVF, ada 4 orang narasumber termasuk saya. Wawancara dilakukan dengan group discussion oleh seorang moderator dengan alat rekam suara. Tentunya rekaman ini adalah confidential dan PT. X tidak akan menyebarkan hasil rekaman tersebut kepada publik (diluar client mereka) sesuai dengan surat perjanjian yang kami berdua tandatangani.

Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh sang moderator bisa saya jawab dengan baik. Intinya sih lebih banyak sharing saja tentang pengalaman IVF kemarin. Tiga orang narasumber lainnya juga ikut berpartisipasi aktif dalam diskusi tersebut. Cerita mereka berbeda-beda, ada yang mengatakan IVF-nya sudah berhasil tapi kemudian 2 minggu kemudian janinnya gugur, ada juga yang mengatakan gagal IVF tapi tidak jelas sebab-nya dan dokter pun tidak bisa memberikan alasan yang jelas. Saya benar-benar merasa mendapatkan teman senasib. Bahkan ada salah satu narasumber yang menangis saat menceritakan tentang kegugurannya.

Diskusi berlangsung 3 jam dan sebelum bubar kami mendapatkan fee sebagai ucapan terima kasih PT. X untuk partisipasi kami. Jumlah fee ini menurut saya jumlahnya lumayan untuk sekedar sharing pengalaman saja. Saya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan. Dari sekedar tulisan di blog, saya bisa dapat penghasilan langsung, for the first time. Saya happy sekali saat itu. Pada akhir sesi, saya tidak lupa meminta contact para narasumber yang lain di grup saya sebagai orang-orang yang saya anggap sebagai teman seperjuangan.

Alangkah kagetnya saya ketika di lift sebelum pulang salah satu narasumber itu buka suara bahwa mereka hanya berpura-pura dan sebetulnya mereka belum pernah merasakan IVF sama sekali. Mereka tahu tentang survey ini dari agency dan mereka hanya mengincar fee-nya saja. Saya sangat shock saat itu. Betapa teganya mereka berpura-pura sudah mengalami perjuangan untuk memiliki anak sampai kepada level IVF. Bahkan salah satu dari mereka bisa bercerita sampai berderai air mata. Luar biasa. Saat itu, saya hanya berharap cerita perjuangan hidup saya untuk bisa memiliki keturunan tidak perlu mereka alami di kemudian hari. Mereka tidak tahu betapa besar effort kami para pejuang TTC (Try To Conceive) untuk bisa mendapatkan keturunan.

Saya selama hidup dan bekerja di Jakarta selama 7 tahun (sebelum menikah) tidak pernah bertemu dengan tipikal orang seperti itu. Semua rekan yang bekerja dengan saya  jujur dan taat peraturan. Saya merasa telah jadi orang yang bodoh karena tertipu dengan penampilan mereka. Mungkin kehidupan di ibukota ini sudah sedemikian susahnya sampai ada orang-orang yang rela berbohong demi mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan dosa yang harus mereka tanggung.

Semoga saja orang-orang tersebut bisa disadarkan. Tidak ada sebuah cerita perjuangan TTC yang bisa dijadikan lelucon dan bahan kebohongan. Tolong hargai perjuangan dan pengorbanan kami yang penuh dengan darah dan air mata ini.

Story Of My Life

Throwback: Suka Duka Hidup Di Remote Area (Sorowako)

Hello, I’m back!! Hehe…

Hari ini saya akan membahas mengenai suka duka hidup di remote area based on my true story, my own experience when I live in Sorowako for about 2,5 years to accompany my husband who work as process engineer at mining company (PT. Vale Indonesia). Cerita mengenai sekilas kehidupan di Sorowako sudah pernah saya post juga sebelumnya.

Remote area adalah suatu daerah yang terpencil dan jauh dari pusat kota. Dikarenakan jauh dari pusat kota maka remote area biasanya masih hijau dan asri, banyak hutan dan pepohonan serta less polution. Suami saya mengawali karirnya dengan bekerja di salah satu site perusahaan pertambangan nickel yang terletak di Desa Sorowako, Sulawesi Selatan. Kota besar terdekat dari Sorowako adalah Makassar sebagai Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan. Jarak tempuh Makassar ke Sorowako adalah 12 jam via darat (sekitar 600 km) dan 1 jam via udara.

Setelah 5 tahun bekerja sebagai process engineer di site tambang tersebut, suami  (saat itu statusnya masih pacar atau calon suami, hehe) mengajak saya menikah. Saat itu saya masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan distributor farmasi di Bintaro. Karir saya sendiri cukup oke saat itu sehingga saya cukup galau menghadapi pilihan ini. Sebagai wanita karir yang hidup di kota saya memiliki banyak pilihan hiburan saat akhir pekan, entah itu main ke mall, hang out sama teman, nongkrong di cafe favorit, treatment ke salon, dll. Semua opsi hiburan tersebut pastinya tidak bisa didapatkan kalau saya hidup di remote area.

Sebelum hari pernikahan, (calon) suami saya mengajak saya untuk site visit ke Sorowako untuk melihat langsung kehidupan disana. Dan ternyata memang kehidupan di remote area itu sepi sekali dibanding hiruk pikuk di kota. Untuk sekedar liburan sebentar sih asyik tapi kalau untuk tinggal dalam waktu lama? Kayaknya sih membosankan menurut saya. Site visit ini memang ujian bagi para calon istri pekerja tambang. Bahkan katanya banyak juga yang batal menikah karena calon istri “mundur” setelah melihat kondisi kehidupan di remote area.

Suami tidak menuntut saya untuk mengakhiri karir saya di kota dan ikut tinggal di Sorowako bersamanya setelah menikah. Akan tetapi saya merasa saya belum sepenuhnya jadi istri kalau masih hidup jauh-jauhan dari suami. Apa bedanya dengan pacaran LDR (Long Distance Relationship) selama ini dong? Hehe. Lagipula ini adalah salah satu bentuk pelaksanaan janji pernikahan: “to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” Jadi memang sudah seharusnya suami istri itu menjalani suka dan duka bersama, bukan hanya mau suka-nya saja. Akhirnya saya mantap resign dan mengikuti suami tinggal di Sorowako.

Oh iya, kalau ada yang nanya, kenapa harus istri yang resign dan ikut suami? Bukan sebaliknya, kan sudah jaman emansipasi dimana istri dan suami punya hak yang sama. Berikut alasannya:

  1. Dalam pernikahan memang harus ada pihak yang mengalah untuk ke arah kebaikan bersama.
  2. Saat itu penghasilan suami saya lebih besar daripada saya. Jadi memang pilihan untuk resign lebih cocok untuk saya.
  3. Dengan pekerjaan suami dan pengalaman kerjanya selama ini, job opportunity-nya memang lebih banyak untuk penempatan di site. Agak susah untuk dapat pekerjaan kantoran di kota. Jadi memang saat itu tidak ada pilihan lain untuk hidup di remote area.

Berikut adalah beberapa fakta tentang kehidupan di Sorowako berdasarkan pengalaman saya:

  • Di atas jam 8 malam jalanan sudah sepi. Bahkan gerbang ke perumahan karyawan juga sudah ditutup mulai dari jam 9 malam. Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan saat malam hari. Saking sepinya, setiap malam selalu terdengar bunyi jangkrik lho. Hal yang sudah jarang sekali terdengar di kota.
  • Udaranya masih segar dan juga adem. Hal ini dikarenakan Sorowako terletak di dataran tinggi dan masih banyak hutan disekitarnya.
  • Tidak ada mall dan supermarket. Bahkan Indomaret dan Alfamart juga belum masuk ke Sorowako. Kalau mau belanja harus ke pasar tradisional, toko kelontong dan swalayan kecil. Pasar tradisional dibagi 2 yaitu pasar Sorowako (pasar basah) dan pasar F (pasar kering). Toko kelontong favorit saya karena lumayan lengkap barangnya adalah toko Syinta. Untuk toko swalayan satu-satunya ada di komplek perumahan karyawan PT. Vale Indonesia yang bernama Toko Baru. Mulai dari buah-buahan, daging / ikan import dan bahan masakan import dijual di Toko Baru. Bahkan kita bisa sistem PO ke Toko Baru untuk item non reguler yang dijual. Biasa titipan barang kita itu akan dibelikan saat mereka belanja atau re-stock ke kota.
  • Harga air galon kemasan mahal sekali di Sorowako. Kalau misalnya harga Aqua galon di Kota adalah sekitar Rp. 16.000 per galon maka di Sorowako harganya bisa menjadi Rp. 34.000 – 37.000 per galon! Hal ini wajar sih karena lokasi Sorowako yang jauh sehingga ongkos kirimnya mahal.
  • Tidak ada bioskop. Oleh karena itu saat tinggal di Sorowako wajib langganan TV cable, DVD player atau TV LED yang bisa memutar film dari hard disk eksternal.
  • Tempat rekreasi keluarga satu-satunya adalah Danau Matano. Di danau ini kita bisa berenang, main kayak, diving (tapi pemandangannya biasa saja, lebih bagus diving di laut) dan piknik di sekitar danau.
  • Pilihan tempat makan sedikit dan tidak banyak pilihan menu. Bahkan KFC saja tidak masuk ke Sorowako. KFC terdekat ada di Kota Palopo yang berjarak 4 jam dari Sorowako. Intinya di Sorowako mau tidak mau kita harus bisa memasak, paling tidak untuk memenuhi rasa kangen kita dengan makanan di kota. Kebetulan di perumahan karyawan PT. Vale Indonesia difasilitasi dengan perlengkapan dapur yang oke jadi kita bisa belajar masak disana.
  • Di Sorowako tidak ada daging ayam segar walaupun beli di pasar. Biasanya ayam yang ada sudah berupa ayam beku. Ayam kampung pun susah sekali di dapat. Harus pesan dulu sebelumnya. Begitu pun dengan daging sapi juga harus pesan dulu sebelumnya jadi begitu pemotongan sapi kita langsung dapat jatah. Daging sapi di Sorowako segar-segar dan menurut saya kualitasnya bagus karena sapi-sapinya hanya makan rumput segar di alam terbuka. Daging babi segar agak susak didapat karena tidak tersedia di pasar, kita harus pesan khusus ke agen (biasanya orang Toraja). Karena susah didapat saya sangat jarang sekali makan / masak daging babi sewaktu di Sorowako. Hasil laut di Sorowako cukup murah harganya. Ikan Kerapu yang terbilang mahal di kota menjadi ikan rakyat di Sorowako. Ikan Kerapu di Sorowako biasa disebut ikan Sunu.
  • Tiap rumah karyawan PT. Vale Indonesia dilengkapi dengan halaman yang luas. Halaman yang luas ini cocok untuk menyalurkan hobi berkebun dan bercocok tanam. Kalau malas berkebun seperti saya, banyak juga tukang kebun yang bisa dipekerjakan. Sebutan untuk tukang kebun di Sorowako adalah Camp Boy.
  • Jumlah expatriat (“bule” yang bekerja di PT. Vale Indonesia) lumayan banyak di Sorowako. Tidak jarang juga mereka membawa serta keluarganya untuk tinggal di Sorowako.
  • Jumlah sekolah di Sorowako terbatas padahal peminatnya banyak sehingga seleksi berdasarkan usia pun ketat sekali. Tidak jarang ibu-ibu sudah mendaftarkan anaknya sekolah jauh-jauh hari sebelum waktunya penerimaan sekolah.
  • Sekolah yang ada di Sorowako beragam dari jenjang playgroup sampai dengan D3 (Akademi Teknik Sorowako). Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang memboyong anaknya sekolah ke kota mulai dari jenjang SMA dengan tujuan untuk mendapatkan standar pendidikan yang lebih baik.
  • Karena Sorowako adalah sebuah desa kecil maka kekeluargaannya sangat terasa dan kadang malah terkesan kepo. Beda dengan kultur orang kota yang lebih cuek. Banyak ajang arisan dengan tema kekeluargaan disini yang tidak hanya melibatkan perkumpulan ibu-ibu tetapi juga membawa serta bapak-bapak dan anaknya.
  • Olahraga favorit di Sorowako adalah lari dan renang. Tersedia jogging track di sepanjang jalur utama Sorowako. Aktivitas renang dilakukan di Danau Matano. Untuk gym dan fitness hanya ada 1 lokasi di perumahan karyawan PT. Vale Indonesia dengan peralatan yang terbatas. Perkumpulan senam ibu-ibu diselenggarakan pada hari tertentu.
  • Tidak ada Vihara / Wihara di Sorowako. Tempat ibadah hanya ada Masjid, Gereja Katolik, Gereja Kristen dan Pura Hindu. Vihara terdekat ada di Makassar. Terbayang kan dulu perjuangan saya dan suami untuk ibadah ke Vihara di Makassar dengan menempuh 12 jam perjalanan bus? Hahaha. Makanya kami hanya ke vihara kalau ada hari raya Buddhis saja.
  • Hotel untuk umum di Sorowako hanya ada 3, itupun sekedar hotel bintang 3 saja. Hotel tersebut adalah Hotel Transisco, Lusiana dan Grand Mulia.
  • Rumah untuk karyawan PT. Vale Indonesia terbagi berdasarkan status karyawannya. Untuk karyawan single ditempatkan di Atco dan Dormitory. Untuk karyawan yang sudah berumah tangga ditempatkan di Apartemen, Old Camp, Pontada dan Salonsa. Khusus Salonsa diperuntukkan untuk karyawan dengan level tinggi alias bos atau expat. Tidak jarang untuk mendapatkan rumah di Pontada atau Salonsa kita harus menunggu tersedianya rumah kosong dan dilakukan pegundian untuk lokasi rumah yang ada. Tipe perumahan karyawan disana adalah berupa rumah panggung kayu. Perabotan utama seperti sofa, meja, kursi, AC, tempat tidur, kompor, lemari, dan kaca sudah difasilitasi perusahaan, kita tinggal melengkapi perabotan kecil-kecil saja untuk tambahan.
  • Bagi karyawan yang akan pindah ke rumah harus berbelanja perlengkapan rumah ke Makassar. Toko favorit untuk berbelanja perlengkapan rumah di Makassar adalah Alaska. Toko Alaska ini lengkap sekali barangnya dari mulai perlengkapan rumah tangga sampai dengan elekronik, harganya juga lumayan bersaing. Kita juga bisa minta Alaska untuk mengirimkan paket belanjaan kita ke Sorowako dengan ongkos tertentu.
  • Listrik, air dan perawatan rumah dinas di perumahan karyawan PT. Vale Indonesia gratis.
  • Transportasi favorit untuk dari dan ke Sorowako adalah pesawat. Akan tetapi kuota pesawat ini terbatas (karena pesawatnya hanya pesawat kecil dengan kapasitas 40 orang). Jadwal penerbangan juga tidak terlalu banyak. Terkadang kita harus memesan tiket pesawat jauh-jauh hari terutama saat musim liburan atau lebaran. Pesawat Sorowako hanya memiliki 1 destinasi yaitu Makassar. Dari Makassar baru kita bisa naik penerbangan komersial untuk berbagai destinasi. Kalau kita tidak dapat jatah pesawat, dengan terpaksa kita harus naik bus untuk dari dan ke Makassar. Perjalanan bus ditempuh selama 12 jam dengan kondisi jalanan yang baik. Bus ini juga nyaman dengan reclining seat yang empuk. Harga tiket bus tentunya lebih murah daripada tiket pesawat.
  • Walaupun Sorowako dikategorikan sebagai desa, jangan membayangkan jalanan di Sorowako sebagai jalanan tanah merah ya. Semua jalan di Sorowako adalah jalan aspal (kecuali di area pabrik tentunya). Jalanan ini juga bebas macet.
  • Jarak tempuh perumahan karyawan dengan pabrik Pt. Vale Indonesia hanya sekitar 15 menit dengan kendaraan. Jadi selama di Sorowako, suami saya rutin pulang ke rumah untuk makan siang. Hal yang sangat ajaib kalau diterapkan di kota, hahaha.
  • Fasilitas kesehatan di Sorowako lumayan lengkap dari mulai posyandu, puskesmas dan rumah sakit. Untuk rumah sakit hanya ada 1, melayani karyawan PT. Vale Indonesia dan juga umum. Akan tetapi dokter spesialis disana sangat terbatas sekali. Rumah sakit mendatangkan dokter spesialis dari kota (umumnya dari Makassar) dengan jadwal tertentu dan kita harus bikin janji sebelumnya untuk konsul dokter.
  • Jauh sebelum ojek online populer di kota besar, Sorowako sudah punya layanan ojek seperti ini walaupun tanpa aplikasi di handphone. Kita cukup punya nomor hp ojek langganan kita. Ojek ini bisa kita minta tolong untuk belanja ke pasar / toko kelontong, beli makanan dan tentunya antar jemput kita ke tempat tujuan. Tarifnya juga tidak mahal karena jarak tempuh di Sorowako dekat-dekat.
  • Seperti halnya orang Sulawesi Selatan lainnya, Sorowako juga memiliki bahasa dan logat khusus. Mirip dengan bahasa Bugis. Banyak menggunakan akhiran “ji”, “mi” dan “ki”. Sampai sekarang pun saya masih bingung menggunakan akhiran tersebut, hahaha. Bagi yang pertama kali berkunjung ke Sulawesi pasti agak kaget dengan logat yang seperti orang marah-marah, tapi sebetulnya mereka tidak marah lho ya. Malah orang disana baik-baik. Memang logat bahasanya saja begitu.
  • Saat seseorang resign dari Sorowako dan pindah ke kota, biasanya mereka akan mengadakan garage sale untuk barang-barang mereka yang tidak akan dibawa ke kota. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mendapatkan barang bagus dengan harga murah.
  • Walaupun era berbelanja online sedang trend, kita harus berpikir dua kali untuk belanja online, apalagi kalau seller-nya berada di pulau Jawa. Kemungkinan harga ongkos kirimnya bisa melebihi harga barang yang kita beli, hahaha.
  • Jumlah bank terbatas di Sorowako. Hanya ada bank Mandiri, BRI dan BNI. Jangan pula berharap ada layanan weekend banking ya.
  • Hanya ada 1 SPBU di Sorowako. Jadi setiap weekend saat mau isi bensin, antriannya panjang sekali.

Itulah beberapa fakta mengenai kehidupan di Sorowako yang saya alami dulu, sekitar tahun 2012-2014. Mungkin ada beberapa hal yang sudah berubah seiring dengan perkembangan Sorowako. Siapa tahu diantara pembaca disini ada yang mau menambahkan? Please feel free to comment 🙂

Next, masih dalam rangka throwback, saya akan bahas kuliner favorit saya dan suami di Sorowako dan Makassar.

 

Sharing Info · Story Of My Life

Melanjutkan Kuliah S2 Sambil Kerja

Untuk kalian yang mengikuti cerita blog saya, pasti tahu kalau suami saya sempat mengikuti seleksi beasiswa LPDP untuk program Master / Pasca Sarjana sampai tahap interview akhir dan kemudian gagal. Saat itu dia sedih sekali dan jadi malas untuk mencoba kesempatan (yang diberikan pihak LPDP) untuk apply lagi. Dia merasa sudah memberikan effort maksimal tapi entah kenapa gagal di interview akhir. Padahal saat itu dia merasa respon para interviewer tampak baik dan dia cukup percaya diri dengan hasilnya. Agak tidak jelas sih kesalahannya apa karena kita tidak pernah diberitahu gagal di poin apa saja.

Singkat cerita, pak suami sudah mulai move on dari kegagalan LPDP. Kami memutuskan untuk fokus ke program IVF yang kami jalani saat itu. Ternyata program IVF pun gagal. Dokter menyarankan untuk saya mengulang IVF lagi tapi saya merasa sudah lelah dan malas dengan segala keribetan dan penderitaannya. Belum lagi biaya IVF yang luar biasa mahal dengan hasil yang tak pasti. Saya memutuskan untuk cuti sementara dari yang namanya program hamil apapun. Ketika suami dapat rejeki lebih, dia pun menanyakan kembali ke saya, apakah saya mau coba IVF lagi? And I said no. It is his time to chasing his dream. Saya tahu bahwa dia memiliki passion yang besar untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat S2 dan saya sebagai istri sudah semestinya mendukung dia untuk bisa mengejar keinginannya. Saya menyuruh dia untuk mulai menentukan pilihan universitas dan program studi yang dia minati hanya saja kali ini kita akan menggunakan biaya pribadi, tidak mengandalkan beasiswa. Dari hasil perhitungan kami, sepertinya hal tersebut memungkinkan kalau suami kuliah sambil tetap bekerja.

Setelah diskusi bersama, akhirnya pak suami memutuskan untuk mengambil program studi Magister Manajemen (MM) atau Master of Business Administration (MBA). Pilihan tersebut jauh berbeda dengan pilihan program studi saat apply beasiswa LPDP, yaitu Energi Terbarukan (lebih ke jurusan Teknik). Keputusan memilih MM atau MBA tersebut didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut:

  1. Kalau mau kuliah sambil kerja, pilihannya hanya ikut kelas weekdays (malam) atau kelas weekend, supaya tidak mengganggu kerjaan di kantor. Dari hasil penelusuran sejauh ini, hanya program studi manajemen yang menyediakan pilihan tersebut. Untuk program studi teknik biasanya hanya ada kelas reguler dan tidak bisa dilakukan sambil kerja. Lain halnya kalau perusahaan kalian mengadakan in house program dimana perusahaan bekerjasama dengan pihak universitas, mengundang dosen untuk memberikan perkuliahan (sesuai kurikulum yang berlaku) pada karyawannya di kantor diluar jam kerja.
  2. Changing career path. Sebagai lulusan sarjana teknik dan bekerja di bidang yang sama, karir-nya identik dengan yang namanya tugas lapangan. Tugas lapangan ini, bagi suami saya, seringkali adalah kunjungan kerja ke remote area (daerah terpencil) selama beberapa minggu. Terkadang keadaan tidak memungkinkan untuk membawa keluarga ikut berkunjung sehingga dengan terpaksa kami harus berjauhan selama beberapa waktu. Selain itu, dengan bertambahnya usia kelak, kemungkinan besar kunjungan kerja seperti ini akan sangat melelahkan. Oleh karena itu kami mempertimbangkan untuk bisa mengambil kesempatan untuk berganti karir kantoran (kalau berjodoh tentunya, hehe).
  3. Posisi suami saat ini berada di level manager. Sudah sepantasnya untuk dia belajar lebih banyak tentang manajerial. Walaupun kemampuan manajerial bisa dipelajari langsung dari pengalaman di lapangan tapi tidak ada salahnya kita belajar dari suatu lembaga pendidikan yang diakui baik di dalam maupun luar negeri dan mendapatkan sertifikat ijazah dari pembelajaran tersebut. Hal ini akan menjadi suatu nilai lebih buat kita nantinya.
  4. Pada beberapa perusahaan, mensyaratkan kita untuk memiliki ijazah S2 (biasanya bidang manajemen) untuk menduduki posisi tertentu (level manajerial). Jadi kalau berniat untuk pindah karir lebih baik sudah mempersiapkan diri sebelumnya kan? Hehehe.

Dari pilihan program studi MM atau MBA, kami mempersempit pilihan universitasnya menjadi: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada – Kampus Jakarta (UGM) dan Sekolah Bisnis & Manajemen Institut Teknologi Bandung – Kampus Jakarta (SBM-ITB). Berikut adalah sedikit perbandingan diantara mereka:

  • Universitas Indonesia
    Program Studi: MM & MM-MBA (dual degree)
    Lokasi: Kampus UI Salemba
    Waktu Kuliah (kelas khusus): Senin – Kamis pk. 19:00 – 21:30 WIB (tidak ada kuliah weekend)
    Bahasa Pengantar: Indonesia-Inggris (MM) & Inggris (MM-MBA)
    Sertifikasi: BAN PT dan ABEST
    Lama Perkuliahan: 4 Semester + 1 Semester Pendek
    Total SKS: 42
    Biaya yang dibutuhkan: +- 105,2 juta Rupiah (untuk MM). Untuk MM-MBA biayanya jauh lebih mahal.
    Website: http://mm.fe.ui.ac.id/
  • Universitas Gajah Mada – Kampus Jakarta
    Program Studi: MBA
    Lokasi: Kampus UGM Jakarta, Tebet.
    Waktu Kuliah: Eksekutif A: Senin – Jumat malam; Eksekutif B: Jumat malam – Sabtu pagi sampai sore.
    Bahasa Pengantar: Indonesia. (Bahasa Inggris hanya untuk kelas MBA international).
    Akreditasi: AACSB, BAN PT, ABEST21, Nibes, AUN, AAPBS, dan APMMI
    Lama perkuliahan: 5 semester (1 semesternya adalah program matrikulasi)
    Total SKS: 48
    Biaya yang dibutuhkan: +- 103 juta Rupiah (Eksekutif A) dan +- 112 juta Rupiah (Eksekutif B)
    Websitehttp://mm.feb.ugm.ac.id/id/
  • Sekolah Bisnis & Manajemen Institut Teknologi Bandung – Kampus Jakarta
    Program Studi: MBA (Business Leadership Executive MBA / BLEMBA)
    Lokasi: Kampus SBM-ITB Jakarta, Kuningan
    Waktu Kuliah: Setiap 2 minggu sekali Jumat – Minggu pagi sampai sore (tidak lebih dari 14 hari Jumat dalam setahun)
    Bahasa Pengantar: Inggris
    Akreditasi: BAN PT, SICS, dan ABEST21 (dalam proses menuju sertifikasi AACSB, EQUIS, dan AMBA)
    Lama Perkuliahan: 3 Semester + 1 Semester Pendek
    Total SKS: 36
    Biaya yang dibutuhkan: +-95 juta Rupiah (BLEMBA).
    Websitehttp://www.sbm.itb.ac.id/mba

Dari semua pilihan diatas akhirnya kami lebih memilih SBM-ITB dengan pertimbangan:

  • Mengambil kelas weekdays malam sepertinya tidak cocok dengan ritme kerja suami saya yang sering ada meeting diluar jam kantor. Ditambah lokasi kantor suami yang cukup jauh dari Salemba atau Tebet, walaupun menggunakan sarana transportasi umum yang konon bebas macet seperti commuter line (KRL) dan TransJakarta (busway), tetap beresiko telat sampai di kelas. Belum pula sehabis pulang kantor sudah lelah dan membuat susah konsentrasi saat kelas malam. Jadi opsi kelas weekend bagi pak suami akan jauh lebih baik.
  • Prefer gelar MBA dengan semua bahasa pengantar perkuliahan dalam Inggris. Hal ini bertujuan untuk persiapan menghadapi persaingan global nantinya.
  • Sistem pengajaran yang mengkombinasikan pengetahuan teoritis dan juga praktik-nya dengan mengutamakan bedah studi kasus (problem based learning) dimana mahasiswa dituntut untuk berperan secara aktif (active learning) dalam semua diskusi dalam kelas.
  • Banyak dosen tamu yang merupakan praktisi handal di dunia bisnis.
  • Jadwal kuliah 2 minggu sekali memberikan kesempatan untuk bisa refresh dan juga mengerjakan kerjaan kantor lainnya. Yah namanya juga kuliah sambil kerja kan? Hehehe.
  • Sistem pengajaran dibuat fokus dan terarah. Satu mata kuliah akan dipelajari sampai tuntas dilanjutkan dengan ujiannya baru beralih ke mata kuliah berikutnya. Jadi ilustrasinya adalah satu mata kuliah diselesaikan dalam 2 kali weekend (bukan weekend berturut-turut karena kuliahnya 2 minggu sekali), hari minggu pertama adalah mid exam dan hari minggu kedua adalah final exam. Sistem pengajaran ini benar-benar berbeda dengan sistem reguler dimana setiap hari kita akan belajar mata kuliah yang berbeda-beda dan ujiannya berbarengan dalam waktu beberapa hari. Sistem reguler ini agak berat sih menurut saya karena butuh effort dan waktu lebih untuk belajarnya sementara kepala kita sudah pusing duluan karena kerjaan dan rutinitas di kantor.
  • Dari segi bangunan kelas dan fasilitas kampus, jauh lebih modern karena bangunan baru.
  • Peserta kuliah kebanyakan adalah para eksekutif muda jadi suasana kuliah lebih santai, tidak terlalu ada gap, asyik dan tidak kaku.
  • Tidak ada aturan khusus mengenai keharusan berpakaian resmi (kemeja & dasi) saat mengikuti perkuliahan. Pakaian bebas santai tapi tetap sopan. Tidak semua eksekutif dalam kehidupan sehari-harinya wajib tampil dengan 3 piece suits setiap saat kan? Lain halnya kalau menghadiri suatu event spesial. Aturan baku tentang cara berpakaian ini menurut saya terlalu kaku dan tidak sesuai saja dengan jiwa anak muda sekarang, hehe.
  • Kalau ada kuliah kunjungan ke pusat which is dalam hal ini adalah Bandung, tidak perlu biaya transport yang mahal.
  • Last but not least, saya dan suami sama-sama alumni ITB jadi kami percaya dengan kualitas kampus gajah ini dalam mencetak generasi bangsa. Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.. Merdeka! (Salam Ganesha).

Demikianlah pertimbangan kami berdua sampai akhirnya memutuskan SBM-ITB Jakarta sebagai tempat kuliah pak suami. Disini posisi saya sebagai istri tidak hanya meng-iya-kan saja sebagai bentuk support tapi saya juga menemani pak suami survey ke kampus dan bahkan saya juga ikut open house yang diselenggarakan SBM-ITB Jakarta, wkwkwk. Dari hasil survey itulah yang jadi bahan brainstorming kami berdua. Dikarenakan keputusan ini akan berdampak kepada kehidupan suami istri jadi memang pasangan harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Karena sudah keputusan bersama jadi sebagai istri tidak boleh ngambek lagi kalau kebersamaan weekend-nya harus berkurang karena suami sibuk kuliah. Tapi saya percaya semua pengorbanan ini pasti akan berbuah manis di kemudian hari.

Pak suami memilih untuk ikut proses seleksi SBM-ITB Kampus Jakarta batch 1 untuk intake Agustus 2017. Kenapa lebih baik ikut seleksi batch 1? Karena untuk kuota mahasiswa BLEMBA ini dibatasi hanya 50 orang setiap tahunnya (khusus untuk intake Agustus 2017 ini kuota mahasiswanya dinaikkan menjadi 68 orang karena banyak peminat). Jadi istilahnya siapa yang cepat daftar dan punya nilai akademis yang bagus, dialah yang dapat jatah duluan. Kalau ikut seleksi batch 2 dan 3 bisa jadi karena jatah kuota kita akan dialihkan ke penerimaan mahasiswa tahun berikutnya.

Tulisan berikutnya akan saya share beberapa tips tentang Tes Potensi Akademik (TPA) yang merupakan salah satu prasyarat wajib untuk bisa melanjutkan kuliah S2 (jurusan apapun) di Indonesia.

Story Of My Life

Road Accident

Hai para readers semua.. maafkan saya yang baru kembali ke peredaraan blog. Selama 3 minggu ini saya sibuk mengurus suami yang habis kecelakaan (akan saya ceritakan detailnya pada tulisan dibawah ini) dan juga kedatangan keluarga dari Samarinda. Jangankan untuk nge-blog, rasanya untuk pampering myself aja, menikmati me-time rasanya ga ada waktu, huhuhu. Sekarang baru bisa nyentuh laptop lagi setelah keadaan cukup terkendali dan keluarga saya sudah pulang kembali ke Samarinda.

18 Juli 2016

Malam itu saya menunggu suami pulang seperti biasanya. Kota Tangerang sedang hujan gerimis, setelah sore-nya diguyur hujan deras. Tidak biasanya suami saya pulang telat tanpa pemberitahuan. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tiba-tiba saya mendengar pagar rumah terbuka dan mendengar suara suami sedang berbicara dengan seorang pria. Saya pun membukakan pintu rumah untuk suami. Tapi terkejutnya saya mendapati suami saya meringis kesakitan dan berjalan terpincang-pincang. Kaki kirinya lecet sedikit dan dia terus mengeluhkan sakit punggung yang luar biasa. Dengan bantuan pria yang datang ke rumah bersama suami saya tersebut, saya membaringkan suami saya di kamar bawah. Pria itu mengaku telah menabrak suami saya di jalan raya depan jalan masuk kompleks perumahan dengan motor-nya (tipe motor yang agak gedean, bukan standar motor bebek pokoknya) ketika suami saya menyebrang jalan. Pria tersebut saya cek juga mengalami sedikit lecet berdarah di tangannya. Dia terus menerus meminta maaf sampai dia pamit pulang. Dia juga meninggalkan nomor handphone orang tua-nya kepada saya kalau butuh bantuan lebih lanjut. Dikemudian hari diketahui bahwa pria itu masih berstatus sebagai pelajar kelas 3 SMU.

Setelah pria itu pulang, saya kembali mengurus suami saya yang terbaring di ranjang. Saya membersihkan badannya dari lumpur dan air hujan, mengganti bajunya dan menyuapi dia makan di ranjang. Awalnya saya sedikit menyepelekan sakit suami saya ini karena saya tidak melihat luka memar berlebihan di punggungnya (yang sakitnya terus dikeluhkan oleh dia). Ankle kaki kiri memang memar dan agak lecet. Tidak ada luka berdarah-darah juga yang terlihat oleh mata saya. Saya pikir saat itu suami cuma terkilir biasa, makanya saya olesin bagian yang sakit dengan minyak Tawon dan juga Counterpain. Tapi ketika pukul 21.00 suami saya masih meringis kesakitan walaupun sudah dalam kondisi berbaring, saya pun memutuskan untuk membawa suami ke Rumah Sakit (RS) saja.

Saya memilih rumah sakit yang lokasinya dekat rumah dengan reputasi yang baik tentunya. Pilihan jatuh ke Siloam Hospital Lippo Village (SHLV) di Karawaci, Tangerang. Saya meminta bantuan adik laki-laki saya yang kebetulan datang dari Samarinda untuk membawa saya dan suami ke Unit Gawat Darurat (UGD) SHLV. Setelah sampai di UGD SHLV, adik saya mengurus administrasi RS. Kebetulan saya dan suami memiliki asuransi pribadi yang memiliki kartu jaminan medis, jadi tinggal setor kartu asuransi saja tanpa perlu bayar deposit apa-apa. Saking penuhnya pasien UGD dan keterbatasan dokternya, penanganan suami saya cukup lama. Suami harus antri dokter, antri periksa darah, antri rontgen dan bahkan antri kamar rawat inap. Setelah sekitar 1,5 jam suami pun dapat giliran untuk rontgen. Dari hasil rontgen punggung (lumbal) dan ankle kaki kiri, ditemukan ada retakan. Retakan itulah yang membuat suami saya terus kesakitan. Dokter jaga UGD pun segera menelpon Dokter Spesialis Bedah Tulang oncall bernama dr. Putut Sugiantoro, Sp.OT & Surgeon. Sekitar 30 menit dokter tiba di UGD dan menemui suami saya. Beliau membacakan hasil rontgen suami. Menurut beliau, dikarenakan retakan yang terjadi volumenya kurang dari 50% maka suami saya tidak perlu dioperasi, Tapi beliau merekomendasikan suami untuk menjalankan MRI untuk melihat retakannya lebih detail. Suami pun diresepkan obat pain killer untuk mengatasi rasa nyerinya (diberikan secara injeksi). Setelah menunggu 1,5 jam kemudian (dan pakai acara marah-marah di pendaftaran rawat inap karena katanya kamar yang ada sudah full dan tinggal type Suites / VVIP yang tentunya tidak masuk plafon asuransi kami dan bikin nombok nantinya), akhirnya suami dapat kamar rawat inap kelas 1. Suami masuk kamar rawat inap sekitar pukul 02.00 WIB.

IMG_20160720_112127[1]

IMG_20160719_093938[1]

Kamar rawat inap kelas 1 diisi oleh 2 pasien, jadi selain sharing room, kita juga akan sharing AC, TV dan kamar mandi. Penunggu pasien yang diperbolehkan nginap di kamar dibatasi hanya 1 orang. Penunggu pasien hanya diberi matras tipis untuk alas tidur di lantai. Untungnya pada saat itu saya sudah siap sedia membawa bantal dan selimut dari rumah (yang ternyata secara peraturan RS tidak diperbolehkan tapi saya cuek aja karena kalau saya ga bisa tidur layak di RS nanti ujung-ujungnya saya jadi ikutan sakit.. kalau saya sakit, siapa yang ngerawat dan nemanin suami saya di RS? hehe. Saya baru tahu tentang peraturan itu dari seorang suster setelah 3 hari menginap di RS). Saya juga sudah mempersiapkan alat mandi dan pakaian ganti untuk menginap di RS saat itu.

19 Juli 2016

Suami di MRI lumbal sesuai rekomendasi dari dr. Putut Sugiantoro, Sp.OT & Surgeon. Dari hasil MRI menurut dokter, ujung retakan ruas tulang belakangnya tidak mengenai syaraf sehingga dapat dipastikan suami tidak perlu dioperasi. Dokter hanya meresepkan gips untuk ankle kaki kiri (wajib dipakai selama 1,5 bulan), Jewett Brace untuk tulang belakang (wajib dipakai selama 3 bulan) dan tongkat / kruk / crutch yang dipakai selama masa pemulihan. Obat pain killer lewat injeksi juga masih diberikan karena suami masih merasa nyeri di punggungnya.

20 Juli 2016

Suami masih bed rest di RS seperti kemarin-kemarin. Untuk makan (disuapin), mandi (washlap) dan pipis (pakai pispot) pun harus dilakukan di ranjang. Tentu saja suami maunya sama saya, ga mau dilakukan oleh suster. Malu katanya. Jadi kebayang dah gimana sibuknya saya merawat seorang “bayi besar”. Belum pula kalau tengah malam dia mau pipis (pakai pispot). Tidur normal 8 jam rasanya jadi suatu kemewahan buat saya. Suami masih terus diinjeksikan obat pain killer.

21 Juli 2016

Dokter Rehabilitasi Medis, dr. Johan Talesu, Sp.KFR, datang berkunjung dan menanyakan suami saya tentang type Brace yang mau dipakai. Ada 2 type Brace: Type 1 adalah custom, dibuat oleh tukang sesuai dengan lekuk tubuh kita. Harga lebih murah, sekitar 1 juta-an. Kekurangannya adalah kita harus menunggu sekitar 2 hari sampai barangnya jadi dan dikirim (made by order). Kemudian kata Dokter, bahannya kurang nyaman dan ga bisa dipakai pasien sendirian karena menggunakan kancing / kaitan di belakang, jadi pemasangannya harus dibantu oleh orang lain. Type 2 adalah Jewett Brace yang ready stock, made in Germany. Ukurannya berupa S, M, L dan XL. Bahannya lebih bagus dan posisi kaitannya ada di samping sehingga pasien memungkinkan untuk memasang brace sendiri. Dari segi harga memang Jewett Brace ini lebih mahal, harga berkisar 5 juta-an. Suami memilih Jewett Brace made in Germany karena dia pengen segera keluar RS dan bisa latihan duduk serta jalan.

IMG_20160721_173045[1]

IMG_20160721_212329[1]

Siang harinya suami saya dibawa ke Operation Theatre (OT) atau kamar operasi untuk dilakukan pemasangan gips di kaki kirinya. Walaupun judulnya di kamar operasi tapi suami saya ga ada tindakan operasi atau anastesi lho ya. Kebetulan aja alat gips-nya ditaruh di ruang operasi, jadi mau ga mau ya pemasangannya disana. Pemasangan gips berlangsung setengah jam dan kemudian suami saya dibawa kembali ke kamar. Terapis fisioterapi datang di sore hari membawakan pesanan Jewett Brace suami saya (dapat Jewett Brace ukuran M). Suami (dan saya tentunya) diajarkan cara pasangnya. Kemudian suami diajarkan cara berjalan dengan tongkat. Untuk first timer kayak suami saya ini, berjalan dengan tongkat butuh effort yang besar karena jalannya hanya dengan satu kaki dan sambil agak melompat dengan disangga tongkat. Alhasil jalan beberapa langkah aja udah keringatan, hehe. Karena baru pertama kali jalan dengan tongkat begini, punggung suami yang kemarin nyeri-nya agak berkurang kembali sakit lagi. Kata dokter kemungkinan ototnya kaku karena kelamaan ga jalan. Makanya suami dikasih obat pelumas otot.

22 Juli 2016

Suami masih ada sesi latihan jalan dengan terapis fisioterapi. Dengan adanya Jewett Brace suami sudah dibolehkan untuk bisa duduk (walaupun masih nyeri tentunya), ga harus tiduran melulu kayak kemarin. Kesempatan ini dimanfaatkan suami untuk bisa BAB di WC langsung, haha. Selama bed rest kemarin suster suruh suami BAB di pampers aja, tapi suami ga mau dan rela nahanin sampai bisa duduk.

23 Juli 2016

Kami sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sungguh bosan rasanya tinggal di RS sekian lama. Kangen sama rumah sendiri, hehe. Sebelum pulang, suami masih ada 1 kali latihan jalan terakhir dengan terapis fisioterapi. Setelah selesai urusan administrasi RS dan asuransi kami pun pulang ke rumah. Good news adalah semua biaya selama di RS bisa dicover oleh asuransi pribadi kami sehingga ga perlu nombok. Suami diberi surat istirahat di rumah selama seminggu sebelum bisa masuk kantor kembali.

Biaya selama di RS:

  • UGD
    – Rontgen Lumbal = Rp. 410.000
    – Rontgen Pedis = Rp. 260.000
    – Test darah = Rp. 1.144.000
    – Dokter fees = Rp. 510.000 (Dokter jaga UGD dan Dokter Oncall)
    -Obat-obatan dan administrasi = Rp. 298.500
    TOTAL = Rp. 2.622.500
  • Rawat Inap Kelas 1
    – MRI Lumbal = Rp. 2.244.000
    – Rontgen Ankle = Rp. 330.000
    – Jewett Brace = Rp. 5.373.720
    – Gips kaki kiri = Rp. 3.609.000
    – Tongkat / Crutch = Rp. 341.000
    – Kamar 5 hari = Rp. 2.250.000
    – Dokter fees = Rp. 950.000
    – Kamar tindakan = Rp. 143.000
    – Fisioterapi 4x = Rp. 744.000
    – Obat-obatan dan administrasi = Rp. 3.775.680
    TOTAL = Rp. 19.760.400

    GRAND TOTAL = Rp. 22.382.900

Biaya selama di RS semua dicover oleh asuransi pribadi. Kantor suami hanya menyediakan fasilitas BPJS. Pada saat kejadian saya lebih memilih menggunakan asuransi pribadi karena secara manfaat tanggungannya mungkin lebih besar tentunya selama kita bisa pintar-pintar memilih kamar supaya ga melebihi plafon asuransi kita. Fyi, untuk tindakan dan visit dokter yang sama harganya di RS akan berbeda-beda tergantung kita rawat inap di kelas berapa. Tentunya harga tindakan dan dokter di kelas VIP lebih mahal dari kelas 1, hehe.

Banyak kerabat yang nanya, terus yang nabrak tanggung jawab ga? pas tanggal 19 Juli 2016 itu orang tua dari pria yang menabrak suami saya datang berkunjung. Anaknya ga datang karena katanya habis tabrakan dia luka juga dan agak demam. Bapaknya menawarkan kita untuk mengurus asuransi Jasa Raharja untuk kecelakaan lalu lintas (yang katanya besarannya bisa mencapai maksimum 10 juta rupiah). Bapaknya sedikit menyiratkan kalau biaya RS suami saya dia ga bisa bantu karena keterbatasan ekonomi. Bapaknya kerja di Samsat jadi dia menawarkan bantuan ngurus asuransi Jasa Raharja ke kepolisian. Tapi saat itu saya dan suami menolak bantuan itu dan lebih mengandalkan asuransi pribadi saja. Alasannya simple, saya malas nanti suami saya sampai diinterogasi sama polisi di RS, mengganggu istirahatnya dan mungkin menjatuhkan mentalnya, hanya demi uang yang jumlahnya ga seberapa (dari uang max. 10 juta itu nantinya masih akan ada potongan ini-itu untuk kepolisian dll). Saya mikirnya hanya yang terbaik aja buat suami saya supaya cepat sembuh. Saya dan suami sangat menghargai kedatangan mereka, paling ga mereka menunjukkan tanggung jawab secara moril kepada suami saya. Moral of the story adalah asuransi itu penting lho. Dulu saya pernah bilang sih sama suami.. “Ini kita bayar asuransi melulu tiap bulan tapi ga pernah kepake ya manfaatnya..” Eh ternyata ada kejadian begini. Emang musibah itu ga tau kapan datangnya, yang penting kita sudah punya manfaat proteksi terhadap musibah. Paling ga soal biaya kita ga terlalu pusing lagi, jadi bisa fokus ke kesembuhan pasien aja.