Try To Conceive

After Failed IVF

Setelah mendapat hasil tes hormon beta-HCG yang menyatakan IVF saya gagal. Rasanya dunia berasa runtuh. Saya patah hati. Sakit hatinya berasa lebih parah daripada sakit hati karena putus cinta. Emang saya orangnya agak lebay kalau sedih, hehe.

Saya merasa saya sudah totalitas melakukan semuanya (materi dan non materi) tapi kenapa sih Tuhan ga bergeming dan tidak mau memberikan saya kesempatan untuk punya anak dari rahim saya sendiri? Saya harus bagaimana lagi? Itu adalah segelintir pertanyaan saya saat saya lagi down karena IVF yang gagal.

Satu minggu pertama saya masih sering nangis-nangis. Masuk minggu kedua saya sudah mulai bisa bangkit dari kegagalan ini walaupun kadang masih nangis. Mungkin karena posisi saya dalam keluarga adalah anak pertama, jadi saya merasa saya orang yang cukup tegar dan kuat sehingga tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Sekarang saya sudah 100% pulih dari kegagalan ini dan saya mau sharing sama teman-teman senasib gimana caranya bisa cepat bangkit dari IVF yang gagal. Saat teman-teman baca tulisan ini, saya cuma mau bilang kalau kalian tidaklah sendiri. I’ve been there and done that.

  1. Stop blaming yourself
    Dari hasil baca artikel sana-sini tentang penyebab gagalnya IVF, saya dapat fakta bahwa keberhasilan suatu IVF 90% ditentukan oleh kualitas embrio-nya. Di dalam rahim kita ada proses seleksi alam untuk embrio. Embrio yang secara genetik kromosomnya rusak atau embrio yang tidak berkembang akan langsung diterminasi oleh dinding rahim. Rahim cuma mau menerima embrio yang kualitasnya baik saja supaya bisa berkembang di dalam rahim jadi janin yang sehat. Kualitas embrio saat embrio transfer ga bisa jadi patokan. Misal kualitas embrio yang ditransfer excellent tapi kenapa tetap gagal? Karena menurut embriologist yang saya temui di BIC, embrio itu kualitasnya tiap saat bisa berubah, dari excellent bisa jadi poor, ga ada yang bisa tahu, apalagi prosesnya terjadi dalam rahim.
    Berhentilah menyalahkan diri sendiri atas kegagalan IVF yang kamu alami. IVF bukan gagal karena apa yang kamu lalukan tapi murni karena seleksi alam atas embrionya. There is nothing we can do about that.
  2. Stop thinking about the amount of money you’ve spend in this program
    I know it’s a lot of money. Jumlah uang yang bisa bikin kita merasakan travel ke Eropa malah. Tapi ga perlu disesali. Pengalaman itu memang mahal harganya. Suatu saat kamu akan dapat rejeki pengganti yang sebanding koq. Ini beneran cerita nyata saya lho. Jadi saat masa penantian 2 weeks waiting itu saya selalu doa: Semoga kalau embrio ini bukan rejeki saya, saya bisa dapat rejeki penggantinya. Nah, rejeki pengganti itu datang berupa materi untuk saya. Bahkan jumlahnya lebih besar dari yang saya bayangkan. Tentunya ini rejeki yang halal ya, hasil kerja keras pak suami, hehe. Kadang kita sebagai manusia punya keterbatasan untuk mengerti tentang Rencana-Nya dalam hidup kita.
  3. Stop comparing yourself with others
    Banyak artis Indonesia yang ikut program hamil atau IVF di BIC dan saat mereka positif hamil, mereka aktif posting di social media milik mereka. Bahkan ada pula grup IVF Survivor untuk orang-orang yang telah berhasil hamil dengan bantuan IVF. Belum lagi update dari sesama teman pasien IVF yang programnya berhasil. Sementara kita terpuruk karena IVF yang gagal. Saat itu kita merasa sendirian dan jadi orang yang paling tidak beruntung.
    Dari hasil survey random yang saya lakukan di forum-forum, saya menemukan pemikiran bahwa IVF yang langsung berhasil pada percobaan pertama itu persentasenya hanya 20% dari jumlah pasien. Sisanya 80% harus mengulang berkali-kali (biasa sampai 3 kali) untuk bisa berhasil. Nah persentase 20% ini menurut saya terlalu dibesar-besarkan sehingga banyak yang berpikir chance IVF itu besar. Banyak yang jadi berharap lebih. Teorinya sih asal umur pasien dibawah 35 tahun dan embrionya excellent pasti chance-nya besar. Tapi nyatanya pada kasus saya ga tuh.
    Untuk kalian yang gagal IVF di percobaan pertama, kalian tidak sendirian koq. Jangan terlalu sedih.  Banyak teman senasib diluar sana. Hanya saja kadang mereka ga mau meng-expose diri.
  4. Get back in shape
    Program IVF yang penuh dengan segala suntikan dan obat hormon, ditambah minim kegiatan saat bed rest bikin berat badan saya naik 3 kg dong! Perut melendung, lengan, dada, paha dan juga pipi tambah montok. Baju dan celana berasa jadi sempit. Belum pula kulit wajah jadi kusam (padahal tetap menjalankan rutinitas perawatan wajah di rumah). Rasanya kalau ngaca di cermin bikin ga PD (Percaya Diri) deh.
    Setelah gagal IVF dan menghentikan konsumsi obat hormon, saatnya kita berjuang mengembalikan berat badan ideal, hehe. Diet dan olahraga tentunya. Jangan pakai obat-obatan pelangsing ya karena tubuh kita perlu detox dari segala obat-obatan dulu.
    Badan yang kembali langsing dan bugar pasti bikin kita lebih happy dan percaya diri. Selain itu olahraga juga akan mengalihkan pikiran kita dari memori yang sedih-sedih. Lampiaskan kesedihan kamu dalam kegiatan positif lah intinya.

What To Do Next?

Sepertinya saya ga akan coba IVF lagi deh. Biaya, effort dan tingkat stressnya terlalu besar. Agak kapok mau nyoba lagi. Dokter Arie sih membesarkan hati saya bahwa saya masih ada harapan untuk next IVF tapi kali ini mau dicoba dengan dosis full. Dengan dosis full pasti biaya IVF-nya bisa makin besar, prediksi saya bisa sampai 100 juta rupiah. Ga ada jaminan berhasil juga dan mungkin harus diulang lagi. Saya dan suami bukan dari keluarga kaya raya yang uangnya berlebihan. Uang segitu jumlahnya buat saya dan suami sangat berarti sekali. Masih banyak yang pengen kami raih dalam hidup ini selain masalah anak. Kalau kemungkinannya sama-sama kecil (Konsepsi alami vs IVF) untuk kasus saya ini, mending saya pilih konsepsi alami aja deh. Ga stress, ga sakit dan gratis pula! Hahaha.

Saya juga ada berobat herbal juga tapi karena ramuannya bikin sendiri di rumah, ga langsung telan obat, suka ga teraturan minum ramuan herbalnya. Emang dasarnya pemalasan sih. Jadi ya belum ada efek apa-apa soal pengobatan herbal ini.

Tiga bulan ini saya mau detox tubuh dari obat-obatan. Juga mau mengalihkan pikiran dari urusan hamil-hamilan. Saya mau lebih enjoy aja menjalani hidup ini. Menggapai mimpi yang lain bersama suami dalam waktu dekat: Berpetualang ke Jepang dan Suami kuliah S2. Ngambil kuliah S2-nya sih di Jakarta aja biar bisa sambil kerja. Nanti akan saya share ceritanya ya.

Kalau memang sampai tahun depan saya belum juga bisa punya anak, saya mau mempertimbangkan tentang adopsi anak. Opsi ini sebenarnya sudah dari tahun lalu saya sampaikan ke suami, tapi suami saya belum mau, belum terbuka hatinya. Saya juga masih cari info lebih lanjut tentang adopsi. Apakah ada teman-teman pembaca yang punya pengalaman adopsi anak? Prosedur hukum adopsi, cara sosialisasi ke keluarga besar, cara membesarkan anak asuhnya (perlu kah mereka diberitahu tentang status adopsi mereka), etc. Please share ya.

Try To Conceive

2 Weeks Waiting (2 WW)

1 Januari – 12 Januari 2017

Masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya tentang IVF. Jadi setelah prosedur Embrio Transfer (ET), pasien IVF harus menjalani yang namanya 2 Weeks Waiting. Kenapa harus 2 minggu? Karena setelah 2 minggu, kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh calon ibu jadi lebih terukur (tidak terlalu kecil kadarnya). HCG ini merupakan hormon yang diproduksi oleh ibu hamil. Jadi kalau setelah 2 minggu penantian dan hasil HCG-nya tinggi berarti anda positif hamil dan IVF-nya berhasil.

Banyak banget yang saranin untuk menghabiskan masa 2 weeks waiting ini dengan bed rest dan ga boleh stress supaya meningkatkan chance keberhasilan IVF-nya. Apalagi dengan kasus saya yang cuma ditransfer 1 embrio dan tidak punya cadangan embrio. Saya pun menuruti saran ini dengan mendatangkan Mama saya dari Samarinda untuk menemani saya di rumah dan membantu pekerjaan dapur (masak-masak). Kalau untuk urusan bersih-bersih rumah kebetulan saya ada asisten rumah tangga yang datang 3 x seminggu dengan durasi masing-masing 2 jam. Saudara saya yang tinggal di Jakarta juga jadi sering datang setelah pulang kerja untuk menemani saya di rumah.

Bed rest yang saya lakukan bukan bed rest total. Saya masih nonton TV di ruang tamu, makan di meja makan, jalan ke toilet dan mandi ke kamar mandi. Tapi selebihnya saya cuma berbaring di ranjang. Saya tidak keluar rumah selama masa 2 weeks waiting ini dan menghindari sekali naik turun tangga. Saya juga rajin menggunakan obat-obat penguat kandungan yang diresepkan. Tentunya saya juga jadi lebih rajin berdoa, hehe. Intinya sih saya mau totalitas menjalani ini semua sehingga tidak ada penyesalan di kemudan hari.

BIC juga memberikan tips kepada pasiennya dalam menjalani 2 weeks waiting ini dalam bentuk selembar kertas print out. Saya tulis disini supaya bisa memberikan insight juga kepada sesama pasien IVF yang lagi 2 weeks waiting.

TIPS SELAMA MENUNGGU PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN (by BIC)
– Tidak ada hal yang dapat anda lakukan ataupun tidak lakukan untuk mempengaruhi hasil tes (meningkatkan kemungkinan hamil)
– Embrio tidak akan keluar dari rahim anda setelah tindakan embrio transfer
– Progesteron (yang diberikan kepada anda untuk menunjang fase luteal) dapat menyebabkan berbagai gejala yang membingungkan
– Masa-masa penantian tes kehamilan dapat terasa sangat panjang
– Pilihlah orang yang tepat untuk menemani dan menghabiskan waktu anda (orang yang mendukung)
– Pilihlah orang-orang yang dapat menghubungi anda
– Pada malam embrio transfer, disarankan anda melakukan hal yang menyegarkan dan menyenangkan dengan suami anda
– Berusahalah untuk menyeimbangkan antara imajinasi (pikiran) anda dengan realitas / fakta (walaupun terkadang terasa sulit)
– Ingatlah bahwa dokter dan tim medis lainnya selalu siap untuk membantu anda dalam masa penantian ini
– Apabila anda merasa menghadapi waktu-waktu yang amat berat selama masa penantian ini, lakukanlah aktivitas positif sebanyak mungkin untuk membuat masa ini lebih mudah.

Dari awal proses IVF saya sudah woro-woro ke suami dan juga keluarga inti saya supaya tidak menceritakan tentang IVF saya ini ke keluarga besar ataupun orang lain. Saya merasa malas untuk ditanya-tanyai tentang hasilnya. Apalagi chance keberhasilan IVF saya ini kecil. Saya ga mau nantinya saya harus repot menjelaskan ke sanak saudara tentang urusan IVF ini karena saya yakin mereka juga ga akan mengerti karena mereka ga pernah menjalaninya.

Masa penantian 2 minggu ini sungguh berasa lamaaaa banget buat saya karena minimnya aktivitas yang bisa dilakukan di rumah. Tapi saya me-manage pikiran saya supaya minim stress. Saya dan suami juga sepakat untuk tidak berharap terlalu banyak dengan hasil IVF ini karena takut kecewa berat walaupun kami tetap berdoa mengharapkan yang terbaik.

13 Januari 2017

Akhirnya masa penantian berakhir dan saya dijadwalkan untuk tes hormon beta-HCG dalam darah. Tes hormon ini ga perlu di BIC, bisa di lab mana saja. Saya memilih lab prodia Gading Serpong Tangerang. Hasilnya didapat setelah 5 jam.

Beberapa hari sebelum jadwal lab ini saya merasa ada yang berbeda di beberapa bagian tubuh. Payudara yang biasanya nyeri banget dan kencang jadi ga sakit dan lemas. Perut bawah yang suka nyut-nyutan dan berasa kembung (bikin banyak kentut) jadi adem ayem. Badan yang cenderung hangat (bukan karena demam lho ya) jadi normal suhunya. Saya dalam hati sudah merasa kalau IVF ini gagal tapi ga mau menyerah dulu sebelum hasil tes darah menyatakan demikian. Apalagi saya belum mens.

Saya datang ke lab Prodia sekitar jam 9 pagi untuk pengambilan sampel darah. Harga tes hormon Beta HCG di Lab Prodia ini adalah Rp. 583.000. Saya minta hasil lab-nya di e-mail saja biar saya ga repot bolak balik kesana. Jam 5 sore e-mail dari lab Prodia pun datang. Hasilnya kadar beta HCG saya <1 yang artinya saya akan mens dalam beberapa hari ke depan dan IVF saya gagal!!

Perasaan saya saat itu benar-benar hancur, saya nangis sampai mata bengkak. Bersyukur saat itu saya punya orang-orang yang selalu support saya dalam keadaan terparah hidup saya sehingga saya ga sampai kepikiran yang aneh-aneh yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

16 Januari 2017

Akhirnya menstruasi datang. Agak telat sekitar 2 hari dari siklus sebelumnya. Mungkin karena saya stress dengan hasil lab saya.

Menuliskan kembali kisah ini seperti membuka kembali luka lama saya. Saat ini saya sudah pulih 100% dari luka hati saya karena kegagalan IVF ini. Berikutnya saya akan sharing tips menghadapi kegagalan IVF dan what to do next berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang berjuang. Intinya kita harus ikhlas dengan apapun hasilnya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya tapi pada akhirnya Kuasa-Nya lah yang menentukan.

Try To Conceive

My IVF Story: Mini Stimulation

Halo semua.. Kayaknya kali ini saya absen nulisnya cukup lama juga ya. Maklum lagi banyak acara keluarga dan juga sibuk urusan IVF selama bulan Desember 2016 – Januari 2017. Kalaupun buka blog, itu pun cuma balasin comment yang masuk karena ada notifikasinya via e-mail. Udah niat dan juga udah janji mau sharing cerita tentang IVF baik tahapan maupun biayanya gimanapun hasilnya kelak. Bukan untuk sombong atau pamer tapi lebih untuk berbagi cerita, pengetahuan dan pengalaman yang siapa tahu berguna bagi teman-teman yang sedang mencari info tentang IVF. Soalnya saya juga merasa banyak belajar dari blog teman-teman yang sudah berbagi mengenai cerita IVF mereka. Untuk sharing ini, saya niatin mengumpulkan kwitansi dari awal program sampai akhir program, haha.

Menyambung cerita sebelumnya, sehabis operasi sedot kista di Bunda International Clicic (BIC) dengan dokter Arie Polim, saya dan suami memutuskan langsung ikut IVF aja next cycle karena ada pertimbangan takut kista hormonalnya muncul lagi dan juga mumpung hasil test hormon saya juga bagus. Selain itu faktor usia saya yang sudah 33 tahun.

Mungkin banyak teman-teman yang bertanya mengenai IVF Mini Stimulation karena biasanya protokol IVF yang umum cuma short dan long protocol. Tapi kalau sering baca-baca di forum infertility luar negeri, istilah ini cukup banyak dibicarakan. Metode ini biasa digunakan untuk wanita yang cadangan sel telurnya sudah sedikit stoknya, menopouse dini atau wanita dengan Diminished Ovarium Reverse (DOR). Wanita dengan spesifikasi seperti ini konon tidak akan efektif dengan metode IVF yang normal karena mau dikasih dosis tinggi ataupun dosis rendah, jumlah telur yang berkembang tidak akan jauh berbeda. Jadi dengan dosis minimal diharapkan kualitas sel telur yang jumlahnya sedikit itu akan lebih baik. Singkatnya kualitas lebih dipentingkan daripada kuantitasnya. Dengan dosis obat yang minimal otomatis biaya obatnya jauh lebih murah dibanding IVF biasa, akan tetapi IVF Mini Stimulation ini memberikan chance yang lebih kecil dibandingkan dengan IVF biasa sehingga tidak jarang proses IVF-nya harus diulang beberapa kali supaya berhasil.

15 Desember 2016

Mens hari ke-2 saya langsung konsultasi dengan dr. Arie di BIC. Setelah dilakukan USG Transvaginal terliat di ovarium kanan ada 3 folikel antral yang masih kecil dan di ovarium kiri kosong (tidak terlihat di layar monitor). Dengan hasil USG itu, dr. Arie menyarankan saya untuk mencoba IVF Mini Stimulation (Mini Stim). Saya dikasih obat minum Dipthen yang harus diminum mulai hari ke-3 mens dengan dosis 1 kali (sehari) x 3 tablet sekaligus (Berbeda dengan IVF lain yang sudah mulai terapi suntik Gonal), tapi harus menunggu hasil tes hormon (LH, FSH, Progesteron, Estradiol) terlebih dahulu sebelum mulai terapi Dipthen untuk memperbesar dan memperbanyak sel telur. Jadi setelah selesai dari ruang dokter, saya menuju ke ruang lab Prodia untuk pengambilan sampel darah. Hasil lab akan diinfokan oleh Suster Rima besok siang-nya sekaligus instruksi minum Dipthennya. Selain Dipthen, saya juga dikasih suplemen Vitan 250 mg yang katanya bisa membantu memperbanyak sel telur dengan dosis 3 kali (sehari) x 1 tablet.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat-obatan (Vitan 250 mg 60 tablet, Dipthen 15 tablet) = Rp. 1.257.000
– Test Hormon di Lab Prodia (LH, FSH, Progesteron, Estradiol) = Rp. 1.635.000
TOTAL = Rp. 3.477.000

16 Desember 2016

Dapat report hasil lab dari suster Rima:
– LH = 3,1 mlU/ml
– FSH = 8,6 mlU/ml
– Progesteron = 0.39 ng/ml
– Estradiol = 29 pg/ml
Menurut dokter hasilnya cukup bagus, item sorotannya disini adalah nilai FSH yang dimana kalau mau mulai IVF nilainya harus dibawah 12. Oleh karena itu terapi Dipthen sudah bisa dimulai malam ini. Tgl 21 Desember 2016 disuruh kontrol ke dokter setelah terapi Dipthen selesai.

21 Desember 2016

Saya datang pagi ke lab prodia BIC, sekitar pk 8.30 WIB, untuk tes hormon Estradiol sesuai instruksi dokter. Kenapa datang pagi? Supaya hasilnya bisa keluar pas saya konsultasi ke dokter sore harinya. Konon untuk hasil lab hormon, hasilnya baru bisa keluar setelah 5 jam. Selama menunggu hasil lab dan konsultasi dokter, saya beredar di Jakarta aja. Ga mungkin lah ya saya bolak-balik Jakarta-Tangerang, hehe.

Sorenya, konsul ke dokter. USG Transvaginal lagi. Tebal endometrium (dinding rahim) = 7,9 mm. Telur yang membesar ada 2 di ovarium kanan dengan ukuran 16 x 14 mm dan 14 x 15 mm. Hasil tes lab hormon Estradiol = 247 pg/ml yang artinya telur saya belum matang semua. Terapi dilanjutkan dengan injeksi Menopur 150 IU untuk mematangkan sel telurnya dan Cetrotide untuk mencegah telur yang matang pecah. Suntik Menopur dan Cetrotide dimulai dari malam ini pk. 20.00 WIB dengan dibantu suster BIC, suntiknya 2 jari dibawah pusar. Untuk suntik Menopur ini wajib dilakukan dalam waktu (jam) yang sama dengan toleransi maximum +/- 1 jam. Sebenarnya suntik Menopur dan Cetrotide ini bisa dilakukan sendiri di rumah biar ga repot bolak-balik BIC akan tetapi menurut saya agak ribet ya cara mencampurkan obat suntiknya karena ada bahan kering dan bahan cairannya. Jadi saya cari praktis dan amannya saja yaitu minta tolong disuntikin sama suster. Oya, Obat Menopur dan Cetrotide ini wajib disimpan di chiller kulkas dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung.

Dikarenakan saya tinggalnya di Tangerang, bisa stres dijalan kalau tiap malam bolak-balik BIC terus, oleh karena itu saya direkomendasikan suster BIC yang tinggal di daerah Alam Sutera, Serpong Tangerang. Tapi karena suntiknya dilakukan diluar BIC, biasanya ada tarif khususnya. Berbeda dengan kalau suntik di BIC yang gratis. Diinfokan kalau untuk jasa home care alias suster datang ke rumah kita tarifnya Rp. 210.000 per kedatangan ke rumah tapi kalau kita yang datang sendiri ke rumah susternya, harganya bisa lebih murah. Suster sendiri tidak mematok tarifnya berapa tapi saya ngasihnya Rp. 100.000 tiap kali datang ke rumah susternya.

Saya diresepkan suplemen Calvit-D 1 kali (sehari) x 1 tablet untuk tambahan kalsium dan Astria 4 mg 1 kali (sehari) x 1 tablet sebagai antioksidan.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Menopur 6 vial dan Cetrotide 3 ampul) = Rp. 5.789.700
– Suplemen (Calvit-D 15 tablet, Astria 4 mg 15 capsule) = Rp. 184.500
– Test Hormon di Lab Prodia (Estradiol) = Rp. 443.000
TOTAL = Rp. 7.002.200

22 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

23 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

24 Desember 2016

Datang pagi ke BIC untuk test hormon Progesteron dan Estradiol sesuai instruksi dokter. Sorenya konsultasi ke dokter dengan membawa hasil lab-nya. Hasil dari USG Transvaginal, tebal endometrium (dinding rahim) = 8.3 mm dan ukuran sel telur di ovarium kanan (hanya 2 yang berkembang) 19 x 16 mm dan 14 x 19 mm. Hasil test hormon Progesteron = 0,44 ng/ml dan Estradiol = 314 pg/ml. Menurut dokter sel telur saya belum matang dan belum siap OPU (Ovum Pick Up) jadi saya disuruh lanjut suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide lagi malam ini dan besok.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Menopur 4 vial dan Cetrotide 2 ampul) = Rp. 3.860.400
– Test Hormon di Lab Prodia (Progesteron dan Estradiol) = Rp. 910.000
TOTAL = Rp. 5.355.400

25 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

26 Desember 2016

Datang pagi ke BIC untuk test hormon Progesteron dan Estradiol sesuai instruksi dokter. Sorenya konsultasi ke dokter dengan membawa hasil lab-nya. Hasil dari USG Transvaginal, tebal endometrium (dinding rahim) = 11 mm dan ukuran sel telur di ovarium kanan (hanya 2 yang berkembang) 25 x 21 mm dan 22 x 27 mm. Hasil test hormon Progesteron = 0,66 ng/ml dan Estradiol = 543 pg/ml. Menurut dokter, sel telur saya sudah matang dan siap OPU tgl 28 Desember 2016. Karena hasil tes sperma suami kurang bagus, dokter menyarankan untuk treatment IVF tambahan dengan IMSI. Saya disuruh suntik Ovidrel (pemecah telur) di jam yang ditentukan dokter sesuai dengan jadwal OPU-nya. Biasanya jadwal OPU adalah 12 jam dari jadwal suntik Ovidrel. Saya suntik Ovidrel pk. 21.30 WIB dibantu oleh suster BIC. Hari ini disuruh menyelesaikan administrasi pembayaran sebelum OPU dan ET (embrio Transfer)

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Ovidrel 250 mg 1 ampul) = Rp. 765.600
– IVF Treatment Fee (OPU, Lab Embriologi dan ET) = Rp. 31.900.000
– Test Hormon di Lab Prodia (Progesteron dan Estradiol) = Rp. 910.000
TOTAL = Rp. 34.160.600

28 Desember 2016

Langsung datang ke lantai 2 BIC 1 jam sebelum jadwal tindakan OPU. Saya dijadwalkan OPU pk. 9.30 WIB. Saya disuruh menyelesaikan administrasi pembayaran untuk metode IMSI terlebih dahulu.

Sebelum tindakan OPU, saya dibius total sehingga tidak merasakan sakit apa-apa. Tindakan OPU ini mirip dengan operasi sedot kista yang saya lakukan bulan lalu hanya saja kali ini sel telurnya diambil dan langsung masuk ke tabung lab. Tindakan berlangsung selama 30 menit kemudian saya dibawa ke ruang recovery sampai sadar sepenuhnya. Suster memberitahukan hasil OPU saya: 1 folikel dan 1 Oocyte yang artinya hanya ada 1 sel telur yang ada isinya sedangkan satunya kosong. Hiks, tambah kecil aja kesempatan saya. Selesai OPU dikasih obat-obatan: Lanfix 100 mg (antibiotik) 2 kali (sehari) x 1 tablet dan Mefinal 500 mg (anti nyeri) 2 kali (sehari) x 1 tablet . Kemudian saya sekalian nebus resep yang sebelumnya: Cavit D3 (suplemen kalsium) 2 kali (sehari) x 1 tablet dan Folicoc 5 mg (suplemen asam folat) 1 kali (sehari) x 1 tablet. Setelah ini bisa pulang dan tinggal tunggu kabar dari Suster Rima tentang embrio-nya. Ternyata saya alergi dong sama obat Mefinal ini, bikin mata saya bengkak. Alhasil saya ga minum lagi obatnya dan juga menurut saya sakit pasca OPU-nya ga terlalu berasa koq.

Biaya:
– IVF Program Booking Fee = Rp. 1.500.000
– IMSI Treatment Fee = Rp. 7.500.000
– Obat-obatan (Lanfix 100 mg 20 capsule dan Mefinal 500 mg 4 capsule) = Rp. 577.400
– Obat-obatan (Cavt D3 15 tablet dan Folicoc 5 mg 15 tablet) = Rp. 84.000
TOTAL = Rp. 9.911.400

30 Desember 2016

Dapat kabar dari Suster Rima kalau embrio saya yang cuma satu-satunya itu berkembang dengan grade excellent. Suster menanyakan kembali ke saya, embrio ini mau difreeze seperti saran dokter (dan ulang IVF lagi next cycle) atau mau di transfer? Dengan pertimbangan bahwa embrio saya cuma 1, kemudian kalau difreeze ada kemungkinan 20% rusak selnya (menurut embriologist) dan juga pada intinya saya harus ngulang IVF lagi dari awal, akhirnya saya dan suami sepakat supaya embrionya ditransfer saja sambil menunggu siapa tau ada keajaiban. Dikarenakan dokter Arie sedang cuti maka kami berinisiatif konsultasi ke dokter Irham mengenai transfer embrio ini sekalian minta beliau yang melakukan ET. Dokter Irham mengatakan kalau rahim saya siap menerima embrio ini dan kami pun makin mantap dengan keputusan kami.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
TOTAl = Rp. 585.000

31 Desember 2016

Saatnya Embrio Transfer. Proses embrio transfer cuma berlangsung sekitar 30 menit. Sebelumnya kita disuruh banyak minum supaya kantung kemih penuh dan mempermudah pembacaan monitor USG (kali ini pakai USG perut). Kemudian dari vagina dimasukkan kateter dan embrionya. Kita bisa melihat posisi embrio di rahim setelah ditransfer lewat layar monitor. Pasca ET kita disuruh berbaring di ruangan ET selama minimal 30-60 menit. Setelah selesai, suster akan memberikan paket obat-obatan yang harus kita konsumsi pasca ET untuk menunjang keberhasilan program selama 2 weeks waiting (2 WW) sekaligus menjelaskan cara pakainya. Obat yang diberikan adalah:
– Utrogestan 200 mg (penguat kandungan, dimasukkan via vagina) 2 kali (sehari) x 1 capsule
– Ascardia 80 mg (anti oksidan) 1 kali (sehari) x 1 tablet
– Folicoc 5 mg (suplemen asam folat) 1 kali (sehari) x 1 tablet
– Crinone 8% vagina gel (penguat kandungan, dimasukkan via vagina) 1 kali (sehari) x 1 tube
– Obat dan peralatan suntik Pregnyl 1500 IU (penguat kandungan, suntik di pantat) Suntik tanggal 1 Januari 2017 dan 4 Januari 2017

Biaya:
– Obat-obatan (Crinone 8% 15 tube, Pregnyl 1500 IU 2 ampul beserta peralatan suntiknya) = Rp. 1.868.200
– Obat-obatan (utrogestan 200 mg 30 capsule, Ascardia 80 mg 15 tablet, Folicoc 5 mg 15 tablet) = Rp. 811.500
TOTAL = Rp. 2.679.700

Jadi secara keseluruhan program IVF Mini Stimulation ini menghabiskan biaya Rp. 63.171.300 dari awal sampai dengan embrio transfer, belum termasuk ongkos transport PP dari rumah ke BIC ya. Memang harga ini lebih murah dibandingkan IVF normal yang range harganya 70 – 100 juta (tergantung kasus masing-masing orang). Untuk cerita tentang 2 weeks waiting dan hasil-nya akan saya update terpisah ya.

Try To Conceive

Operasi Sedot Kista

Oktober 2016

Dari hasil USG dengan dr. Arie di bulan Oktober 2016, ditemukan kista di indung telur saya sebelah kanan. Ukurannya sekitar 2,5 cm. Menurut dokter, jenis kista ini adalah kista hormonal. Kista ini adalah cangkang sel telur saya yang tidak pecah dari siklus menstruasi sebelumnya. Setelah dilihat dari riwayat USG saya di BIC, kista ini bahkan sudah ada dari bulan Juli 2016. Kista ini tidaklah berbahaya (tidak ada pertambahan ukuran dari bulan Juli sampai dengan November 2016, saya pun tidak ada gejala apa-apa seperti nyeri perut saat haid), hanya saja dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi saya. Keseimbangan hormon reproduksi ini memegang peranan penting saat proses IVF nantinya. Oleh karena itu dr. Arie mengatakan kista ini harus dihilangkan dulu sebelum mulai program IVF untuk meningkatkan success rate-nya. Saat itu dokter memberikan opsi ke saya untuk suntik pemecah telur atau sedot kista. Dr. Arie mengatakan untuk opsi suntik tersebut agak gambling karena kadang kista-nya belum tentu mau pecah tapi memang dari segi cost jauh lebih murah daripada opsi satunya. Saat itu saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan suntik saja.

Selesai konsul dokter dan pembayaran tanggal 31 Oktober 2016 (H.23) malam, saya langsung diarahkan suster untuk suntik pemecah telur, Ovidrel 250 mg. Selain itu saya juga diberi obat minum Provera 10 mg dengan dosis 1 x 1 hari sebanyak 14 tablet yang bertujuan untuk membantu proses pemecahan cangkang telur tersebut. Menurut dokter efek samping dari mengkonsumsi provera ini adalah mundurnya jadwal menstruasi. Saya disuruh datang untuk kontrol kembali saat mens hari ke-2 siklus berikutnya.

Biaya:
– Konsul dokter + USG di BIC = Rp. 585.000
– Ovidrel injeksi 250 mg = Rp. 765.000
– Provera 10 mg = Rp. 214.900

November 2016

Saya baru dapat mens kembali tanggal 14 November 2016, mundur 5 hari dari jadwal siklus sebelumnya. Besoknya saat mens hari ke-2 saya konsul kembali ke dr. Arie. Ternyata kista saya ga merespon Ovidrel dan Provera. Kista itu tetap bergeming di kediamannya, ukurannya juga tidak mengecil, huhuhu. Oleh karena itu dr. Arie menyarankan saya untuk melakukan operasi sedot kista atau istilah di BIC-nya disebut tindakan fungsi kista. Operasi sedot kista ini direncanakan pada tanggal 6 Desember 2016, setelah ovulasi dan sebelum mens siklus berikutnya. Saya tidak dikasih obat apa-apa hanya surat rujukan untuk tes lab darah di lab prodia (cabang manapun) sebagai standar persiapan prosedur operasi. Parameter yang dicek adalah hematologi lengkap, waktu pendarahan, waktu pembekuan dan glukosa sewaktu. Tidak perlu puasa untuk melakukan tes lab ini. Hasil lab harus dibawa saat ke RS dan diserahkan ke dokter.

Biaya:
Konsul dokter + USG di BIC = Rp. 585.000

Desember 2016

Setelah berkonsultasi dengan agen asuransi saya, ternyata operasi kista ini bisa dicover dengan asuransi. Tapi syaratnya adalah saya harus dirawat inap minimal 2 x 24 jam di rumah sakit. Nah, permasalahannya operasi sedot kista ini di BIC dikategorikan sebagai one day care. Tindakan pagi dan sorenya pasien sudah boleh pulang. Hal ini juga disebabkan karena di BIC ga ada kamar rawat inapnya. Oleh karena itu saya berkoordinasi dengan dr. Arie dan susternya kalau saya mau rawat inap di RSIA Bunda Jakarta (satu grup dengan BIC dan lokasinya pun berdekatan) dari H-1 sebelum tindakan dan H+1 setelah tindakan. Tindakan tetap hanya bisa dilakukan di BIC karena alatnya hanya ada di BIC. Jadi dari RSIA Bunda Jakarta saya akan diantar jemput ke BIC.

  • 2 Desember 2016
    Saya disuruh tes lab darah untuk prosedur persiapan operasi. Saya memilih Prodia cabang Gading Serpong, Tangerang saja supaya dekat dari rumah. Hasil lab saya minta untuk dikirim ke RSIA Bunda dan via e-mail saya. Saat itu di Prodia lagi ada promo diskon 8% untuk pembayaran menggunakan kartu kredit Bank Mandiri.

    Biaya:
    Test lab darah di Prodia = Rp. 248.000 (setelah diskon jadi Rp. 228.160)

  • 3 Desember 2016
    Saya disuruh ketemu dengan dokter anastesi di RSIA Bunda Jakarta dengan membawa hasil test lab kemarin. Dokter Anastesi yang saya temui bernama dr. Ressi Bhakti. Dokter anastesi ini ruang prakteknya di dekat kamar operasi, hehe. Dr. Ressi mendata riwayat penyakit dan alergi saya, kemudian membaca hasil test lab darah saya dan melakukan pemeriksaan fisik (denyut jantung, tiroid, dan tekanan darah). Menurut dokter karena Hb (hemoglobin) saya bagus nilainya jadi pendarahannya ga akan banyak dan tidak perlu cadangan darah. Untuk alergi karena belum ada riwayat jadi saya bilang tidak tahu. Intinya secara pemeriksaan dokter dan lab saya dipastikan siap untuk tahap operasi. Dr. Ressi juga sedikit menjelaskan prosedur anastesi yang akan dilakukan nanti. Saya akan dibius total. Obat bius akan dimasukkan melalui topper infus. Obat bius akan bekerja langsung (hanya dalam 10 hitungan saja kita sudah langsung tak sadarkan diri). Dilarang untuk memakai parfum, perhiasan, gigi palsu (lepasan) dan retainer gigi (lepasan). Kalau untuk gigi palsu dan retainer gigi lepasan, alasannya adalah kalau ternyata operasi berjalan lebih lama dari yang diperkirakan kemungkinan obat bius akan ditambah berupa gas lewat hidung dan bisa jadi dibutuhkan selang bantu napas yang dimasukkan dari mulut. Nah, gigi palsu dan retainer gigi lepasan itu takutnya menyusahkan masuknya selang bantu napas.

    Biaya:
    Konsul dokter anastesi = Rp. 335.000

  • 5 Desember 2016
    Saya datang ke RSIA Bunda Jakarta untuk request kamar inap dengan sudah membawa barang-barang pribadi persiapan untuk menginap di RS. Sistem di RS ini untuk kamar inap ga bisa dibooking jadi harus go show langsung, sedapatnya kamar apa yang lagi kosong jadi ga bisa terlalu milih-milih. Kebetulan saat saya datang kamar inap yang available hanya yang kelas 2 (harga Rp. 550.000 / malam) dan kelas perdana (harga Rp. 1.600.000 / malam). Padahal saya pengen dapat yang kelas utama (Rp. 1.100.000 / malam) yang ada extra bed-nya biar suami bisa nemanin di kamar tapi saat itu semua kamar utama sudah terisi dan belum ada pasien yang berencana keluar hari itu. Sehubung margin asuransi saya untuk kamar rawat inap maksimal hanya Rp. 750.000 / malam akhirnya saya ambil kamar kelas 2 saja. Untuk kamar kelas 2 ini, 1 ruangan ada 2 bed jadi kita sharing room dengan pasien lain. Keluarga ga boleh ada yang menginap di ruangan. Suami saya akhirnya harus buka kamar hotel lagi biar bisa dekat sama saya, dia akhirnya memilih Hotel Cikini yang murah meriah dan tidak begitu jauh dari RS. Sebenarnya Hotel Marcopolo jauh lebih dekat daripada Hotel Cikini, tinggal nyebrang jalan aja dari RS, tapi harganya jauh lebih mahal, hehe. Opsi bolak balik ke rumah Tangerang agak tidak memungkinkan (macetnya gila-gilaan di jam berangkat kantor) karena besok saya dapat jadwal operasi pagi di BIC jadi jam 9 pagi saya harus sudah standby di BIC. Saya diwajibkan untuk puasa 8-10 jam untuk operasi besok.
    Fasilitas kamar kelas 2 di RSIA Bunda Jakarta ini cukup nyaman, makanan-nya enak-enak pula. Standar asupan makanan di RS ini sesuai standar untuk ibu hamil dan menyusui. Untung aja saya ga lama-lama disini, kalau ga bisa-bisa badan saya jadi bengkak gendut karena kebanyakan makan, hahaha. Teman sekamar saya adalah ibu hamil yang lagi nunggu pembukaan. Padahal saya sih sudah mempersiapkan diri sebelumnya untuk sharing kamar dengan ibu yang baru melahirkan dan drama tangisan bayi di tengah malam. Namanya kan juga nginap di RSIA gitu lho, hehehe.
    Oya, walaupun beda badan usaha antara BIC dan RSIA Bunda Jakarta, tapi karena mereka masih satu grup perusahaan, kita bisa request untuk 1 billing aja nantinya biar ga rancu saat klaim ke pihak asuransi.
  • 6 Desember 2016
    Saya diantar naik mobil dengan ditemani seorang suster dari RSIA Bunda Jakarta ke BIC. Suster kemudian menyerahkan berkas medis saya ke resepsionis ruang operasi di BIC lantai 2. Saya kemudian diantar ke ruang ganti. Saya disuruh mengganti pakaian yang saya kenakan dengan kimono batik dan disuruh menggunakan penutup kepala. Suami saya juga diijinkan masuk untuk menemani sampai di ruang persiapan operasi. Tentunya pak suami juga disuruh memakai penutup kepala dan jubah khusus. Ruangan operasi saya ini adalah ruangan yang sama untuk OPU (Ovum Pick Up) para pasien IVF.
    Saya kemudian disuruh berbaring di ranjang di ruang persiapan operasi. Topper infus pun dipasang di punggung tangan kiri saya.Tak lama kemudian dokter jaga pun datang memeriksa tekanan darah dan denyut jantung saya. Sekali lagi saya ditanya tentang riwayat alergi obat dan saya pun menjawab tidak tahu.
    Saya masuk ke ruang operasi sekitar jam 10.30. Suami tidak boleh ikut masuk dan disuruh menunggu diluar. Ruang operasi ini ga seperti di film yang ada bed dan lampu sorot besar nan terang-nya. Ruang operasi ini suasananya ga begitu menyeramkan. Saya disuruh duduk di kursi yang ada penyangga kaki-nya kayak orang melahirkan itu. Kemudian disuruh berbaring rileks dan posisi pantat diatur sedemikian rupa karena sedot kista akan dilakukan via vagina tanpa proses bedah. Topper infus saya dibuka dan diinjeksikan sesuatu cairan (obat bius) dan ga lama kemudian saya ga sadarkan diri! Operasi berjalan selama kurang lebih 30 menit. Saya ga berasa sakit dan ga ingat apapun yang sehubungan dengan operasi. Tahu-tahu saat sadar dan mulai membuka mata saya sudah di ruang pemulihan operasi. Suami juga sudah standby disamping saya saat saya buka mata. Selang di hidung pun dicopot oleh suster.

    img_20161206_1255141
    Mata Bengkak Karena Reaksi Alergi Antibiotik

    Saat saya sadar saya melihat lengan kanan saya ada titik biru dan ditandai oleh pulpen. Rupanya itu adalah skin test sebelum obat antibiotik injeksi-nya disuntikkan lewat topper infus kita. Ternyata saya alergi dong dengan antibiotik injeksi-nya, Trijec (Ceftriaxone Disodium). Trijec bikin mata saya bengkak dan kulit saya bentol-bentol. Padahal itu masih skin test aja lho.. Gimana jadinya kalau langsung disuntik 1 ampul ke peredaran darah saya ya, ckck. Akhirnya obat antibiotik saya diganti dengan obat minum saja yang namanya Lanfix (Cefixime 100 mg) dengan dosis minum 2 x 1 hari sampai habis . Kemudian dikasih obat anti nyeri juga yang namanya Zaldiar (Tramadol & Paracetamol) dengan dosis 2 x 1 hari.

    img_20161207_100102
    Ini cairan kista yang disedot

    Setelah operasi saya pun dijemput kembali oleh suster di RSIA dengan menggunakan mobil. Efek obat bius masih berasa banget dan bikin saya kleyengan. Belum lagi perasaan mengantuk yang bikin kita tidur terus. Kata suster sih wajar karena efek obat bius masih bisa tersisa di tubuh kita sampai 2 x 24 jam ke depan. Oleh karena itu kita disuruh banyak minum supaya sisa obat bius-nya bisa terbuang lewat urine. Saya tidak mengalami efek nyeri perut setelah operasi. Perutnya nyeri sedikit aja seperti kalau lagi mens. Tidak ada keluar darah juga saat buang air kecil.

  • 7 Desember 2016
    Saya keluar RS dan kembali ke rumah setelah visit dokter dan menyelesaikan administrasi RS.

    Biaya:
    – Kamar Rawat Inap Kelas 2 RSIA Bunda Jakarta 2 malam = Rp. 1.100.000
    – Visit dokter = Rp. 220.000
    – Tindakan Operasi Sedot Kista = Rp. 8.279.250
    – Obat Minum setelah tindakan operasi = Rp. 656.400

Setelah ini saya disuruh balik kontrol lagi ke dr. Arie saat mens hari ke-2 untuk melihat apakah kista-nya sudah benar-benar luruh dan rahim saya siap untuk memulai IVF.

Try To Conceive

Another Insight About AMH Level

Setelah suami fully recovered dari kecelakaan, sesuai kesepakatan kami akan mulai program hamil lagi per bulan November 2016. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk program hamil di Bunda International Clinic (BIC) Jakarta saja. Langkah pertama yang kami lakukan tentu saja memilih dokter. Saya sengaja memilih dokter baru (tapi tetap yang berpengalaman dong), bukan dokter yang dulu-dulu. Alasannya ya supaya ada semangat, harapan dan pengetahuan baru dalam program kali ini, hehe.

Ada 3 kandidat dokter di BIC yang saya pilih saat itu: dr. Ivan, dr. Arie dan dr. Aryando (Nando). Untuk dr. Ivan karena jadwal beliau yang sangat padat bahkan sampai 3 bulan ke depan maka agak susah untuk saya mendaftar sebagai pasien baru beliau. Selain itu konon harga konsultasi dengan dr. Ivan ini lebih mahal dibandingkan dengan dokter lainnya (sekitar 1 juta per kali kontrol). Oleh karena itu kandidat tinggal dr. Arie dan dr. Nando. Dari portfolio profil dokter di website BIC, suami saya lebih sreg dengan dr. Arie karena kata dia dokternya lebih senior dan juga banyak review positif tentangnya. Oleh karena itu kami memutuskan untuk memulai program hamil kali ini dengan dr. Arie.

Kesan pertama tentang dr. Arie adalah ganteng, baik, ramah dan bersedia memberikan penjelasan apabila pasien bertanya (bahkan kadang saya merasa beliau menjelaskan seperti seorang dosen, haha). Poin terakhir itu penting lho, kadang ada juga dokter yang suka jutek kalau pasien-nya suka nanya-nanya. Saat konsul pertama saya sudah membawa rekam medis dan hasil lab terbaru saya dari Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) Penang.

Dokter agak kaget meliat level AMH (Anti-Mullerian Hormone) saya yang rendah: Hasil test lab di Prodia 0,3 dan di LSC 0,99 (Beda hasil karena beda metode pengukurannya). Padahal menurut dokter, wanita seumur saya, 33 tahun, seharusnya AMH-nya 1-2. Menurut dokter, AMH ini menyatakan jumlah cadangan sel telur di ovarium, semakin rendah nilai AMH maka cadangan telurnya sedikit. Pembentukan sel telur seorang wanita dimulai dari saat dikandung oleh ibu-nya. Saat lahir semua wanita memiliki 1-2 juta sel telur dan saat usia puber (masuk usia menstruasi) sel telur menyusut jadi sekitar 400 ribu. Stok tersebut tidak akan bisa diproduksi lagi dan setiap siklus menstruasi akan mengurangi jumlah cadangan sel telur tersebut. Setelah sel telur habis maka wanita tersebut akan mengalami menopause. Oleh karena itu wanita dengan AMH rendah akan lebih cepat mengalami menopause dini dibandingkan wanita normal. Menurut dr. Arie, gaya hidup seorang  wanita akan sangat menentukan sisa cadangan sel telurnya. Wanita yang merokok, suka minum minuman beralkohol dan yang lingkungan tempat tinggalnya banyak pencemaran atau radiasi disinyalir akan mengurangi secara drastis jumlah sel telurnya. Bahkan dr. Arie juga bercerita bahwa banyak kasus dokter radiologi yang masih muda secara usia, level AMH-nya lebih rendah dari saya. Hal itu disebabkan tingginya paparan radiasi di lingkungan kerjanya.

Saya pun kemudian menceritakan ke dr. Arie kalau dulu sebelum menikah saya pernah kerja di pabrik kantong plastik selama 5 tahun. Saya kerja sebagai PPIC (Production Planning and Inventory Control) yang mengharuskan saya juga terjun ke lapangan produksi walaupun memang tidak sepanjang hari di area produksi. Saat itu perusahaan tempat saya bekerja tidak melengkapi karyawan yang ke lapangan dengan safety tools seperti masker. Kata dokter, hal tersebut bisa jadi salah satu penyebabnya AMH saya rendah. Padahal dari sekian banyak karyawan pabrik, rasanya mereka sehat-sehat aja reproduksinya deh. Mungkin tubuh saya aja yang lemah kali ya, jadi rasanya ga bisa juga menyalahkan pabrik plastik tersebut. Ga ada pula yang perlu disesali. Sekarang tinggal bagaimana mengatasi hal ini aja.

Penjelasan dr. Arie ini agak sedikit berbeda dengan dr. Devindran yang seakan menyebutkan kalau AMH rendah ini semacam bawaan lahir dan tiap wanita dilahirkan dengan jumlah sel telur berbeda-beda. Persamaan kedua dokter ini adalah menyebutkan bahwa there is nothing we can do anymore to increase AMH level, jadi ya terima nasib aja kalau jumlah cadangan sel telurnya tinggal sedikit. Tinggal gimana kita maintain dan mengusahakan sisa sel telur ini supaya bisa jadi embrio yang bagus. Keduanya juga sama-sama mengatakan best chance kasus saya ini untuk bisa hamil adalah dengan IVF (bayi tabung). Jadi untuk orang-orang diluar sana yang suka nyinyir dengan wanita IVF, semoga mereka bisa mengerti kalau ikut IVF itu bukan karena sok kebanyakan duit, bukan keinginan sendiri juga tapi karena sudah ga ada pilihan lain secara medis. Siapa juga sih yang pengen bayar mahal-mahal untuk suatu tindakan medis yang menurut saya prosesnya tidak nyaman dan melelahkan kalau bukan karena terpaksa? Suka sedih deh dengan orang-orang yang berpikiran sempit diluaran sana.

Buat teman-teman seperjuangan, terus semangat ya! Semoga perjuangan kita ini akan membuahkan hasil yang sepadan nantinya. Amiinnn. Eh saya senang banget lho dari tulisan saya di blog ini tentang AMH rendah saya jadi punya teman-teman baru yang ternyata senasib dengan saya. I’m not alone! Ada juga teman-teman yang AMH rendah berbagi cerita ke saya kalau mereka sudah berhasil hamil dengan program IVF-nya. I’m so happy for you! Selalu ada harapan saat kita berusaha, jadi jangan pernah berhenti berusaha selagi kita mampu 🙂

Try To Conceive

Perbandingan Biaya IVF Di LSC Penang Dan BIC Jakarta

Sesuai janji saya yang entah dari kapan itu, akhirnya tulisan ini bisa rilis juga, hahaha. Jujur saya agak malas karena berasa membuka aib keluarga sendiri, tapi satu sisi lainnya saya ingin berbagi dan berharap tulisan ini bisa membantu orang-orang diluar sana yang senasib dengan saya. Bagi yang pertama berkunjung di blog saya ini silakan buka arsip tulisan saya di “Try To Conceive” untuk cerita latar belakang medis saya yang lebih detail. Secara garis besar, alasan kenapa saya dan suami belum bisa punya keturunan secara alami adalah karena saya AMH-nya rendah (Cadangan sel telur sedikit) dan suami sperma-nya kurang bagus (OAT / OligoAsthenoTeratoSpermia alias spermanya kurang gerak, kurang jumlah dan bentuknya banyak yang tidak sempurna). Menurut beberapa dokter kandungan yang kami temui, best chance kami untuk mendapatkan keturunan hanya melalui program bayi tabung atau IVF.

Sejak divonis harus IVF, saya dan suami mulai mengumpulkan informasi mengenai IVF. Berdasarkan banyaknya review positif, ada 2 tempat yang menjadi incaran kami untuk melakukan IVF, yaitu Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) di Penang dan Bunda International Clinic (BIC) di Jakarta. Saya dan suami sih memang sudah pasien lama di BIC dan sudah beberapa kali ganti dokter disana tapi kalau berobat ke Penang sih belum pernah sama sekali. Oleh karena itu di bulan Juni 2016 kemarin kami sempat melakukan survey dan sekaligus berkonsultasi ke LSC dengan dokter Devindran. Cerita detail sudah pernah saya tulis terpisah.

Biaya IVF ini luar biasa mahalnya menurut kami dan dengan harga segitu persentase keberhasilannya maksimum hanya 60% pula. Sisanya 40% ya tergantung nasib dan kuasa Tuhan. Oleh karena itu penting untuk mencari IVF dengan harga yang lebih murah tapi tentu saja dengan kualitas yang bagus, hehe. Tingginya biaya IVF ini disebabkan karena obat-obatan injeksi hormon yang digunakan termasuk obat import yang harganya memang mahal, selain itu teknologi peralatan yang dgunakan juga khusus dan mahal. Sekarang mari kita bandingkan biaya IVF di rumah sakit incaran saya, LSC dan BIC.

  1. Transportasi
    a. LSC
    Bagi kasus saya yang berdomisili di Tangerang, tentu saja saya butuh naik pesawat untuk sampai ke Penang. Harga tiket pesawat direct flight Jakarta-Penang ini tidaklah murah dan jam penerbangannya juga tidak banyak. Harga tiket pesawat Jakarta-Penang one way bisa mencapai 1 juta Rupiah per orang. Jadi untuk skenario dimana suami dan istri berangkat bareng di awal kemudian istri stay di Penang sampai 1 bulan (asumsi setelah embrio transfer, istri akan melalui 2 weeks wait-nya di Penang saja) dan suami bolak-balik Jakarta-Penang karena suami harus kerja di Jakarta (Anggap suami bolak-balik 2 kali, saat istri menjalani prosedur embrio transfer dan saat bagi “rapor” setelah 2 weeks wait) kemudian baru pulang bareng ke Jakarta setelah bagi “rapor”, maka biaya pesawat suami istri sekitar 8 juta Rupiah. Apabila kita mengajak orang tua kita (biasanya ibu) untuk menemani kita disana selama program IVF maka total biaya pesawat akan menjadi 10 juta Rupiah. Harga tiket pesawat akan jauh lebih murah kalau lewat Kuala Lumpur kemudian dilanjutkan dengan naik bus atau pesawat lagi ke Penang, tapi menurut saya agak kurang praktis dan lama di perjalanan sehingga saya prefer mencari yang direct flight. Selain pesawat juga perlu diperhitungkan biaya transportasi di kota Penang apabila tempat tinggal-nya jauh dari lokasi rumah sakit. Jadi memang lebih baik mencari tempat tinggal yang dekat dan bisa jalan kaki aja ke rumah sakit-nya.
    b. BIC
    Jarak dari rumah saya di Tangerang ke BIC adalah 34 km (one way). Dengan asumsi selama program saya harus rajin bolak-balik ke BIC selama 2 minggu atau 14 kali PP (dari mulai injeksi hormon sampai embrio transfer dan bagi “rapor” setelah 2 weeks wait) dengan mobil sendiri yang efisiensi bahan bakar-nya 11 km/liter (karena jalanan ke BIC termasuk jalanan yang sering macet, hehe) dan menggunakan pertamax 92 (harga sekarang Rp. 7.350/liter) maka biaya transportasinya adalah Rp. 636.109. Jauh lebih murah kan?! Hehe. Kalau mau mengajak pendamping (ibu kita) palingan saya cuma harus menyediakan tiket penerbangan domestik karena Ibu saya tinggal di Samarinda. Harga tiket PP Jakarta – Balikpapan sekitar 1,5 juta Rupiah.
  2. Akomodasi
    a. LSC
    Tinggal di negeri orang tanpa sanak saudara tentu saja butuh untuk sewa apartemen atau guesthouse. Dari hasil survey, harga sewa apartemen atau guesthouse di Penang per hari adalah sebagai berikut MYR 50 untuk kamar ukuran kecil dengan kamar mandi luar, MYR 65 untuk kamar ukuran agak besar dengan kamar mandi luar dan MYR 80 untuk kamar besar (master bedroom) dengan kamar mandi dalam. Untuk kenyamanan tentu saja kita lebih memilih yang tipe master bedroom, jadi untuk 1 bulan sewa kita harus mengeluarkan biaya MYR 2.400. Untuk biaya makan, rata-rata tiap orang menghabiskan MYR 14 per kali makan. Jadi untuk biaya makan 2 orang (istri dan pendamping) selama 1 bulan di Penang adalah MYR 2.520. Biaya makan tersebut bisa dihemat kalau kita masak sendiri.
    b. BIC
    Karena tinggal di Tangerang saya ga perlu keluar uang tambahan untuk sewa tempat tinggal. Tidak ada yang lebih nyaman dibandingkan rumah sendiri kan?! Hehe. Untuk biaya makan pun lebih hemat tentunya karena bisa masak sendiri di rumah. Membawa pendamping (ibu kita) selama program juga jadi lebih nyaman kalau di rumah sendiri.
  3. Biaya Program IVF
    a. LSC
    Sewaktu konsultasi dengan dokter Devindran saya dianjurkan mengikuti IVF Short Antagonist Protocol (jangka waktu program-nya dari mulai injeksi hormon sampai dengan bagi “rapor” sekitar 1 bulan). Harga total program ini adalah MYR 17.300 dengan perincian MYR 1.000 untuk konsultasi awal- test lab screening IVF suami istri dan MYR 16.300 untuk proses IVF. Harga tersebut belum termasuk frozen embrio (kalau ada lebih embrio) dengan harga MYR 1.600 untuk 2 tahun.  Harga juga bisa meningkat dari angka tersebut kalau kita mengambil tindakan tambahan misalnya ICSI dan laparoskopi (pengecekan sebelum program IVF, hanya kalau dirasa perlu oleh dokter). Harga tindakan laparoskopi di LSC sekitar MYR 10.000.
    b. BIC
    Harga total untuk paket IVF short protocol di BIC adalah 78 juta Rupiah. Harga tersebut sudah termasuk joining fee, konsultasi dokter & USG 5 x, obat-obatan injeksi hormon dosis 3.600 IU, test lab screening suami istri, Analisa Sperma, OPU (Ovum Pick Up), Lab Embriologi, dan Embrio Transfer. Biaya tersebut belum termasuk frozen embrio (kalau ada lebih embrio) dengan harga 1,75 juta Rupiah per tahun. Harga juga bisa meningkat dari angka tersebut kalau kita mengambil tindakan tambahan misalnya ICSI atau IMSI, laparoskopi (pengecekan sebelum program IVF, hanya kalau dirasa perlu oleh dokter) serta bila ada tambahan dosis obat.
    BIC ini juga sering mengadakan promo program IVF, harga mulai dari 47,5 juta Rupiah, tapi biasanya harga yang tercantum di brosurnya itu adalah harga minimum alias biaya tersebut belum termasuk konsultasi dokter & USG, test lab screening suami istri, analisa sperma dan tambahan dosis obat baik obat injeksi maupun obat untuk treatment setelah IVF. Kalau dicompare harga normal dengan harga promo-nya cuma berbeda di harga obat-obatan injeksi-nya saja karena di paket promo itu obat-obatan injeksi-nya dibatasin dosis-nya dan biasanya memang kita harus nambah dosis-nya lagi dengan biaya tambahan tertentu. Harga promo ini secara total paling lebih hemat sekitar 7 juta Rupiah. Tapi lumayan lah ya, hehe.

Kesimpulan:
Apabila kita memutuskan mau melakukan IVF di Penang, kita harus menyiapkan dana mulai dari tiket pesawat, akomodasi, sampai biaya tindakan medis-nya. Harga ini bisa jadi lebih murah ataupun lebih mahal dari IVF di Jakarta, tergantung dari kurs tukar mata uang Ringgit Malaysia. Kurs tukar Ringgit Malaysia biasanya berkisar 3.000 – 3.700 Rupiah. Kalau nilai tukar 1 MYR = 3.000 Rupiah biaya IVF di LSC plus transport dan akomodasi di Penang menjadi 76,7 juta Rupiah tapi kalau nilai tukar 1 MYR = 3.700 Rupiah maka total biaya menjadi 92,2 juta Rupiah.
Untuk di BIC harganya cenderung stabil karena ga terpengaruh nilai tukar mata uang, hehe. Total biaya di BIC termasuk transport dan akomodasi (untuk kasus saya yang tinggal di Tangerang) adalah Rp. 85,5 juta Rupiah. Untuk harga paket promo bisa jadi lebih murah sekitar 78,5 juta Rupiah.

Jadi pilih yang mana nih? Pilih lah yang sesuai kebutuhan tentunya. Kalau saya walaupun pada awalnya tergiur untuk IVF di LSC, tapi saya akhirnya memutuskan program di BIC saja dengan pertimbangan:

  • Karena suami kasusnya OAT maka lebih disarankan menggunakan teknologi IMSI (Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection) dibandingkan ICSI (Intra-Cytoplasmic Sperm Injection) dalam pemilihan sperma-nya untuk disuntikkan langsung ke sel telur. ICSI menggunakan pembesaran 400 kali sedangkan IMSI menggunakan pembesaran 6.000 kali untuk pemilihan sel sperma sehingga sperma yang diseleksi melalui teknologi IMSI ini dipercaya lebih memberikan kualitas sperma yang bagus. Harga teknologi IMSI ini adalah 7,5 juta Rupiah di BIC. BIC saat ini merupakan satu-satunya yang memiliki teknologi IMSI di Indonesia. Bahkan di LSC juga belum ada teknologi IMSI ini.
  • Lebih nyaman tinggal di rumah dan negara sendiri. Selain itu juga bisa ketemu suami setiap hari, ga jauh-jauhan seperti skenario kalau IVF di LSC. Orang tua pun yang menemani selama program IVF pun juga lebih nyaman di rumah tentunya dibanding sepetak kamar apartemen.
  • Kalau berhasil hamil setelah 2 weeks wait, saya agak ngeri untuk naik pesawat. Koq kayaknya agak riskan ya kondisi hamil muda begitu naik-naik pesawat? Mungkin ini karena saya saja yang paranoid.
  • Lebih nyaman berkomunikasi dengan dokter di negara sendiri.

Intinya sih mau di Penang atau Jakarta, tetap aja harga IVF ini mahal banget ya. Tapi mau gimana lagi kalau ga punya pilihan kayak saya? Hiks. Jujur di luaran sana banyak aja orang yang agak sentimen dengan orang yang memilih menjalani IVF. “Ih sayang banget duit segitu untuk bikin anak doang.. padahal duit segitu bisa untuk bla.. bla.. bla.”. Saya juga ga meminta harus mengalami keadaan begini. Kalau bisa memilih tentu saja saya mau bisa hamil secara alami, tapi kondisi medis saya dan suami tidak memungkinkan dan saya juga harus berpacu dengan jam biologis saya. Mumpung masih ada kesempatan saya ikhlas mau mencoba IVF, dan kalau kelak hasilnya tidak sesuai harapan karena Tuhan belum berkehendak, saya juga ikhlas, mungkin belum rejeki saya untuk punya anak. Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha sebaik-baiknya dan biarkan Tuhan yang memutuskan hasilnya. Untuk teman-teman seperjuangan semoga kita semua bisa mencapai apa yang kita inginkan dan jangan berhenti berjuang. Semangaatttt!!

Try To Conceive

Visiting Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) in Penang

Ada salah satu pembaca blog saya yang meminta saya untuk segera posting tulisan tentang kunjungan saya ke Loh Guan Lye bulan Juni kemarin. Setelah sekian lama akhirnya baru sekarang bisa direalisasikan. Kalau kalian ada yang nanya kenapa posting tulisan begini aja perlu waktu lama sih? Well, karena buat saya, menulis itu butuh waktu, ide dan semangat. Butuh keberanian juga secara mental untuk membuka “aib” yang seharusnya saya keep sendiri bersama suami. Belum lagi saya harus mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk membuat detail tulisan ini, hehe. Tapi semua akan saya share disini bukan karena mau cari perhatian ataupun belas kasihan, melainkan saya berharap tulisan ini bisa memberikan informasi buat teman-teman diluar sana yang sedang berjuang untuk mendapatkan buah hati seperti saya.

Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan ke Penang karena banyak review ibu-ibu yang merasa sudah capek bolak-balik berobat di negeri sendiri tapi tak kunjung membuahkan hasil kemudian berobat ke Penang dan ternyata berhasil. Selain itu dari segi lokasi, Penang ga jauh dari Jakarta. Bahasa yang digunakan pun, yaitu bahasa Melayu juga mirip dengan Bahasa Indonesia. Dari segi nilai tukar mata uang juga ga begitu jauh, yaitu 1 Ringgit = 3.300  – 3.700 Rupiah (Saat ke Penang bulan Juni 2016 kemarin saya dapat nilai tukar 1 Ringgit = 3.330 Rupiah oleh karena itu untuk hitungan cost dibawah akan saya konversi ke Rupiah sesuai nilai tersebut). Beda banget kalau kita ke Singapore yang dimana 1 Singapore Dollar = 10.000 Rupiah. Bisa miskin mendadak deh kalau ke Singapore, hehe. Jadi dengan pertimbangan-pertimbangan itu, menurut saya berobat ke Penang masih feasible lah.

Dari yang saya baca, orang-orang yang berhasil itu kebanyakan berobat ke dokter Ng Peng Wah di Lam Wah Ee Hospital (LWEH). Akan tetapi yang membuat saya urung ke rumah sakit dan dokter itu adalah konon dokternya moody dan galak, belum lagi para suster disana yang ga bersahabat dan jutek. Maklum saja karena pasien di rumah sakit itu banyak banget, bakal ngantri cukup lama sampai kita bisa konsultasi ke dokternya. Kalau diibaratkan dengan rumah sakit disini, LWEH itu seperti Rumah Sakit Umum (RSU) milik pemerintah sehingga dari segi biaya lebih murah daripada Rumah Sakit (RS) swasta. Pasien orang Indonesia yang berobat ke sini banyak banget, mostly untuk tujuan bayi tabung (IVF).

Selain LWEH, ada beberapa review positif juga tentang Loh Guan Lye Specialist Center (LSC). Blogger favorit saya, Alodita, juga sukses bayi tabung disana dengan dokter Devindran walaupun kondisi tuba-nya bermasalah. Banyak yang merasa puas dengan pelayanan dokter dan staff di rumah sakit tersebut. Memang dari segi biaya lebih mahal sedikit daripada LWEH, tapi kan ada harga ada rupa. Pasiennya juga ga antri banget seperti di LWEH. Setelah konsultasi dengan suami pun, dia lebih setuju saya konsultasi ke LSC daripada LWEH. Singkat kata akhirnya kami berangkat ke Penang untuk konsultasi ke dokter Devindran di LSC sekaligus jalan-jalan 🙂 Untuk urusan jalan-jalannya bisa dibaca di post saya sebelumnya “Wisata ke Penang (5D/4N)”.

Sebelum berangkat ke Penang, saya mendaftarkan diri saya dan suami ke LSC Representative Office Jakarta. Saya contact adminnya via BBM kemudian dia mengirimkan formulir biodata yang harus saya isi dan kirim kembali by e-mail. Jadwal berangkat ke Penang disesuaikan dengan jadwal mens saya. Saya pengen konsul ke dokter bertepatan dengan mens hari ke-2 saya.Waktu itu saya bikin appointment dengan dokter untuk tanggal 6 Juni 2016, akan tetapi ternyata jadwal mens-nya agak mundur jadi tanggal 7 Juni 2016 sore dan saya harus balik ke Jakarta tgl 8 Juni 2016 malam.

7 Juni 2016 

Saya datang ke LSC pagi dengan kondisi belum mens saat itu. Kata suster dan staff-nya sih gapapa datang konsultasi pertama pas belum mens. Awal datang saya registrasi dulu di meja reception dengan menyerahkan paspor saya dan suami. Karena data saya sudah terdaftar via LSC Representative Office Jakarta, proses registrasi berlangsung cepat dan kemudian saya disuruh antri di ruangan tunggu dokter Devindran. Ruangan tunggu yang dekat dengan ruang dokter-nya agak kecil, tempat duduknya terbatas, tapi diluar ruangan itu banyak tempat duduk-nya. Saya dan suami memilih duduk di luar. Kondisi RS bersih dan nyaman. Sinyal handphone (saya beli nomor lokal Penang dengan provider Digi begitu sampai di Bandara Penang) agak susah disini tapi tersedia layanan free wifi. Saya menunggu sekitar 40 menitan sebelum masuk ke ruangan dokter.

Dokter Devindran adalah orang keturunan India. Dokter Devindran memiliki beberapa gelar pendidikan, yaitu MBBS (Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery dari universitas di Malaysia), MOG (Masters of Obstetrics & Gynaecology dari Universiti Kebangsaan Malaysia / UKM) dan FRCOG (Fellow of the Royal College of Obstetrics & Gynaecology di London). Ruangan dokternya luas dan hebatnya lagi dokter tidak mencatat medical record kita di buku atau kertas, tapi langsung di komputer menggunakan pen digital. Semua bagian di RS ini terintegrasi dengan sistem online jadi benar-benar less-paper.

Saya membawa medical record saya dari Indonesia dan dokter pun melakukan USG transvaginal (sekaligus paps smear karena tahun ini saya belum cek paps smear). Menurut dokter Devindran masalah saya adalah sel telur yang sedikit, terlihat dari nilai test hormon AMH yang rendah. Fyi, selama berobat di Jakarta ga ada dokter yang menekankan masalah AMH saya ini. Saya baru disuruh cek AMH ketika akan melakukan Inseminasi Buatan dengan dokter Taufik Jamaan di RS Bunda Jakarta. Saat itu dokter Taufik memberikan pilihan ke saya untuk coba Inseminasi Buatan atau IVF dan saya memilih coba Inseminasi Buatan (Baca post saya: “Inseminasi Buatan / IUI”). Untuk info lebih jelas tentang hormon AMH ini silakan baca juga tulisan saya: “The Biological Clock is Ticking..”. Jadi menurut dokter kesempatan saya untuk hamil alami kecil sekali ditambah dengan sperma suami yang kualitasnya kurang bagus. Inseminasi Buatan / IUI juga ga akan berguna karena teknologi-nya terbatas dan tidak bisa melihat kualitas sel telurnya sementara untuk kasus saya ini ditakutkan selain jumlah sel telurnya yang sedikit, ditakutkan kualitasnya juga tidak bagus sehingga mempengaruhi pembuahan di dalam rahim. Dokter menyarankan saya untuk secepatnya melakukan bayi tabung / IVF karena takutnya nilai AMH saya akan terus turun seiring dengan pertambahan usia. Dokter memberikan pengantar kepada saya dan suami untuk melakukan test lab ulang di LSC karena menurut dokter ada beberapa parameter hasil test di Jakarta yang sudah tidak update seperti hasil test sperma suami dan menurut dokter ada perbedaan pengukuran lab untuk hormon AMH antara lab di LSC dan di Indonesia (Lab Prodia RS Bunda). Selain itu juga dilakukan screening standar IVF yaitu pemeriksaan darah terhadap penyakit kelamin Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb), Rubella IgG, golongan darah dan rhesus, serta full blood count. Kami disuruh kembali lagi besok pagi untuk melihat hasil test lab-nya.

Sebelum melakukan test lab kami melakukan pembayaran terlebih dahulu di kasir RS. Proses pengambilan sampel darah dan sperma berlangsung cepat dan lancar. Setelah selesai urusan lab, kami makan dulu di kantin RS. Harga makanan disini terjangkau banget dan rasanya juga enak. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Medical Costs (Include GST)

  • Suami
    – Administrative fee = RM 1
    – Laboratory services (Pemeriksaan golongan darah dan rhesus, Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb)) = RM 271,3
    – Assisted Reproductive Technology (Test sperma) = RM 90
    Total = RM 362,3 = Rp. 1.206.459
  • Saya (Istri)
    Hospital Charges:
    – Ultrasound machine use = RM 10
    – Registration fee for new patient = RM 13,78
    – Medical Supplies (seperti penggunaan gloves, condom, lubricant saat USG transvaginal) = RM 26
    – Laboratory Services (Pemeriksaan golongan darah dan rhesus, full blood count, Syphilis (T. Pallidum Ab), AIDS (HIV Ag/Ab Combo), Hepatitis B & C (Anti-HCV IgG dan HBsAg – HBsAb), Rubella IgG, AMH dan Paps smear) = RM 639,6
    Total = RM 689,38 = Rp. 2.295.635Doctors Charges:
    – Procedure (Paps Smear) = RM 95,4
    – Prosedure ultrasound (USG Transvaginal) = RM 127,2
    – Consult fee new patient (regular hours) = RM 116,6
    Total = RM 339,2 = Rp. 1.129.536GRAND TOTAL = RM 1.028,6 = Rp. 3.425.238
  • TOTAL COST SUAMI + ISTRI = RM 1.390,9 = Rp. 4.631.697

Dikarenakan waktu itu bawa duit cash Ringgitnya kurang, akhirnya kami bayar pakai credit card, tapi metode pembayaran ini tidak disarankan karena setelah melihat tagihan credit card-nya bulan depan, kurs nilai tukar-nya ga bagus, hiks.

8 Juni 2016

Kami datang lagi ke LSC untuk ketemu dokter dan dibacakan hasil test lab-nya. Dari hasil lab, sperma suami masih tidak bagus dan termasuk kategori Asthenoteratozoospermia. Suami dikasih suplemen untuk meningkatkan kualitas sperma, yaitu Surbex Natopherol (isinya Vitamin E 250 I.U) dan Surbex Zinc (Isinya  Zinc, Vitamin E, C, B+ dan asam folat). Diminum sebelum prosedur IVF dengan harapan kualitas spermanya membaik. Screening syphilis, HIV dan Hepatitis hasilnya negatif alias tidak ada resiko penyakit tersebut. Untuk saya, hasil paps smear bagus, screening syphilis, HIV, Hepatitis, Rubella negatif alias tidak ada resiko penyakit tersebut, full blood count juga bagus. Untuk hasil AMH menyusul karena hasilnya baru keluar 3 hari lagi. Dikarenakan malamnya saya sudah harus balik ke Jakarta maka saya minta hasil test AMH saya dikirim by e-mail saja.

Kami disuruh bikin appointment untuk IVF dan kami memilih bulan Agustus 2016. Suster kemudian memberikan penjelasan mengenai prosedur IVF yang akan dilakukan. Saya disarankan dokter untuk mengikuti Antagonist Protocol. Estimasi biaya untuk Antagonist Protocol ini di LSC berkisar RM 15.000 dan belum termasuk tambahan biaya untuk Frozen Embrio sekitar RM 1.600 untuk 2 tahun. Prosedur IVF akan dimulai ketika saya mens hari ke-2. Oleh karena itu sebelum mens hari ke-2 saya sudah harus ada di Penang dan bikin appointment dengan dokter.

Medical Costs (Include GST):

  • Suami
    – Administrative fee = RM 1
    – Medication /Pharmacy charges = RM 153,8
    Total = RM 154,8 = Rp. 515.484
  • Saya (Istri)
    – Registration fee for follow up patient = RM 7,42
    – Doctor consult fee for follow up patient (regular hours) = RM 106
    Total = RM 113,4 = Rp. = 377.622
  • TOTAL COST SUAMI + ISTRI = RM 268,2 = Rp. 893.106

Pada post selanjutnya saya akan compare biaya program IVF di Penang dan Jakarta. Sebenarnya lebih murah IVF dimana sih? Banyak orang yang bilang kalau berobat ke Penang lebih murah daripada Jakarta dan jauh berkualitas dokternya.. Apa benar demikian? Nantikan post saya berikutnya yaa.. kita kupas tuntas masalah biaya IVF di Penang vs Jakarta.

Update:
Rencana kami untuk IVF bulan Agustus 2016 ini gagal alias harus ditunda dulu karena suami saya mengalami kecelakaan (lihat tulisan saya “Road Accident”). Kami berencana mulai program IVF setelah suami sembuh total dan sudah lepas alat bantu jalan-nya (gips kaki dan brace tulang belakang). Kalau sesuai jadwal sih akhir Oktober ini suami sudah benar-benar free dari alat bantu-nya 😉

Contact:

  • LSC Representative Office Jakarta
    BBM PIN: 5A31C1D8
    Telp. 021-5883848 / 088211573637
  • LSC Penang
    Telp. (604) 2388888
    E-mail: lsc@lohguanlye.com
    Website: www.lohguanlye.com