Try To Conceive

3rd Insemination / IUI

Pada awalnya inseminasi ke-3 direncanakan di bulan Juli 2018. Akan tetapi karena pak suami ada isu akan berangkat ke site tambang dalam waktu yang cukup lama di bulan tersebut maka diputuskan inseminasi akan dilakukan di bulan Juni 2018. Jujur saja, saya melakukan inseminasi kali ini tanpa banyak persiapan apa-apa. Bulan Juni 2018 ini saya sibuk dengan urusan order kue lebaran Liz Kitchen. Untung saja dokter dan tempat prakteknya tidak terlalu jauh dari rumah jadi masih bisa disempat-sempatkan untuk berkunjung.

Kalau di inseminasi ke-2 saya masih meniatkan diri untuk olah raga dan makan yang sehat maka inseminasi ke-3 ini tidak sama sekali. Saya sangat sibuk menyiapkan pesanan Liz Kitchen. Dari awal terima order, baking, packing dan antar pesanan kue semua saya lakukan sendiri. Bahkan sepertinya saya tidak punya waktu untuk memikirkan nasib inseminasi kali ini. Jujur saja saat itu saya agak pesimis dengan hasilnya dan takut gagal lagi seperti nasib inseminasi ke-2 (bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya).

Tak disangka-sangka, inseminasi ke-3 ini bisa dilakukan sampai tahap akhir dan tidak gagal di tengah jalan seperti inseminasi ke-2. Kalau untuk hasil akhir positif atau tidak ya itu lain lagi halnya. Semua tergantung Yang Diatas. Paling tidak saya happy karena proses inseminasinya lancar.

30 Mei 2018

Saya datang konsultasi ke dokter Handojo di klinik Sehati saat haid hari ke-2. Antrian pasien cukup ramai. Saya baru dapat giliran setelah 2 jam menunggu. Dari hasil USG transvaginal terlihat ada 2 folikel di ovarium kanan dan 2 folikel plus kista 1,8 cm di ovarium kiri (kista fungsional yang memang sudah ada dari pemeriksaan sebelumnya). POD no free fluid. Tebal rahim 8 mm dan not triliminar. Program langsung dimulai dari hari haid ke-2 ini:

  • Fertin 50 mg 1 x 2 (malam hari), diminum dari hari haid ke-2 sampai ke-6.
  • Gonal F Injection Pen 1 x 75 IU (malam hari), suntik dari hari haid ke-7 sampai ke-10.
  • Asam Folat 1 x 1 (saya pakai Folavit 400 mcg), diminum siang hari sehabis makan.
  • Prednison 5 mg 1 x 1 (pagi hari), diresepkan 10 tablet
  • DHEA 25 mg 1 x 1 (malam hari), diresepkan 10 tablet

Prednison dan DHEA adalah obat-obatan kategori steroid dan harus menggunakan resep dokter mengingat faktor resiko-nya. Menurut dokter Handojo kedua obat tersebut bagus untuk orang dengan AMH rendah seperti saya. Berfungsi untuk mengatasi auto immune juga terhadap obat-obatan hormon yang lain sehingga lebih receptive. Dikarenakan Prednison dan DHEA tidak dijual di Klinik Sehati maka kami harus mencarinya di luar.

Dokter menjadwalkan konsultasi kembali di tanggal 8 Juni 2018 untuk melihat respon tubuh saya terhadap pengobatan.

Expenses:

  • Konsultasi dokter di Klinik Sehati dan USG transvaginal = Rp. 450.000
  • Fertin 50 mg, 10 tablet, di Klinik Sehati = Rp. 200.000
  • Prednison 5 mg, 10 tablet, di Farmasi RS Omni Alam Sutera = Rp. 1.872
  • DHEA 25 mg, 30 tablet, merk Nutrimax, di Guardian = Rp. 125.000 (Harga diskon)
  • Gonal F Injection Pen 300 IU, di RS Omni Alam Sutera = Rp. 2.510.392

TOTAL = Rp. 3.287.264

8 Juni 2018

Dokter Handojo hari ini praktek pagi di RS. Omni Alam Sutera. Saya sampai disana sekitar pk. 10.00. Antrian pasien tidak begitu banyak. Dari hasil USG transvaginal, tebal rahim 13 mm dan trilaminar. Sel telur berkembang baik. Di ovarium kanan ada 1 folikel ukuran 1,4 cm dan kista ukuran 1,8 cm. Di ovarium kiri ada 1 folikel ukuran 1,9 cm dan 1 folikel ukuran 1,6 cm. POD no free fluid. Menurut dokter, folikel yang berukuran 1,9 cm dan 1,7 cm tersebut sudah siap untuk inseminasi. Beberapa pasien beliau yang memiliki folikel 1,5 cm juga terbukti bisa hamil katanya. Saat itu saya langsung disuntik pemecah telur, Ovidrel 250 mg, sekitar pk. 11.00 siang. Dokter Handojo sendiri yang langsung menyuntik saya. Seperti biasa suntikannya subcutaneous, yaitu dibawah kulit perut bawah. Entah kenapa saya selalu merasa kesakitan kalau dokter Handojo yang menyuntik. Sepertinya karena saat inject cairannya terlalu cepat jadi berasa perih sekali.

Dokter Handojo menyarankan saya untuk melakukan inseminasi di RS Omni Alam Sutera dibandingkan di Klinik Sehati. Menurut beliau metode washing sperma di RS Omni Alam Sutera (metode density gradient) lebih bagus untuk sperma yang kualitas low – medium seperti halnya suami saya. Memang harga inseminasi di RS Omni Alam Sutera sedikit lebih mahal daripada di klinik Sehati tapi kalau kualitasnya lebih bagus kenapa tidak? Untuk perbandingan, harga tindakan inseminasi dan washing sperma di RS Omni Alam Sutera adalah 2,8 Juta Rupiah, sedangkan di Klinik Sehati adalah 1,5 Juta Rupiah.

Dokter Handojo kemudian berkoordinasi dengan pihak Indo Fertility di lantai 3 RS Omni Alam Sutera untuk membuat janji inseminasi. Saya disuruh datang pk. 06.30 pagi untuk pengambilan sampel sperma suami dan kemudian di-washing terlebih dahulu sebelum dilakukan inseminasi pk. 09.00 pagi.

Expenses:

  • Konsultasi dokter di RS Omni Alam Sutera dan USG transvaginal = Rp. 580.000
  • Ovidrel Injeksi 250 mcg , di RS Omni Alam Sutera = Rp. 827.970

TOTAL = Rp. 1.407.970

9 Juni 2018

Untuk pertama kalinya saya dan pak suami menginjakkan kaki di ruangan Indo Fertility RS Omni Alam Sutera di lantai 3. Ruangannya bagus, comfy dan modern. Saat melihat poster team dokter yang ada di depan ruangan, saya dan suami agak terkejut karena ada dokter yang cukup terkenal yang biasanya praktek di Menteng. Team dokter yang ada di Indo Fertility adalah: Dr.dr. Sudirmanto, SpOG (K), dr. Adrian Setiawan, SpOG, dr. Indra N.c. Anwar, SpOG, dan Dr. dr. Taufik Jamaan, SpOG. Dokter Indra dan dokter Taufik adalah salah satu team dokter di Bunda Interational Clinic (BIC). Bahkan saya sendiri punya pengalaman inseminasi 1 kali dengan dokter Taufik saat dulu di BIC.

Saat tiba di ruangan Indo Fertility kami melapor ke meja resepsionis. Saat itu ada seorang suster yang standby. Setelah konfirmasi appointment, pak suami disuruh masuk ke ruangan khusus untuk mengeluarkan sampel sperma. Setelah itu sampel sperma diserahkan kepada petugas lab untuk proses washing. Dikarenakan proses washing memakan waktu sekitar 1,5 jam maka saya dan suami pergi sarapan dulu di Pasar Delapan (Pasar modern Alam Sutera) yang berada tidak jauh dari RS Omni Alam Sutera.

Tepat pk. 08:30 kami tiba kembali di ruangan Indo Fertility. Kami hanya menunggu sebentar sebelum saya dipanggil masuk ke ruangan inseminasi. Saya disuruh mengatur posisi berbaring di kursi tindakan. Dokter Handojo pun sudah tiba dan menjelaskan hasil analisa sperma kepada suami saya. Dari hasil test lab, sperma pak suami banyak yang bentuknya cacat atau biasa disebut Teratospermia. Bagi saya hasil test ini jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya dimana pak suami didiagnosis dengan OligoAsthenoTeratospermia alias spermanya kurang jumlah, kurang gerak dan banyak cacat. Sebelum proses inseminasi ke-3 ini saya memang membelikan multivitamin yang katanya bisa meningkatkan kualitas sperma. Multivitamin yang saya beli saat itu adalah Blackmores Conceive Well Men. Tapi menurut dokter Handojo setelah melihat kandungan multivitamin tersebut, ada kandungan yang kurang yaitu Lipoic Acid (ALA) yang berguna untuk memperbaiki DNA sperma. Oleh karena itu pak suami diresepkan obat bernama Lipesco dengan dosis 1 x 1/2 tablet.

Tindakan inseminasi hari ini tidak selancar yang saya kira. Jalan rahim saya menurut dokter susah ditembus dengan kateter karena bentuknya tidak bulat normal dan agak miring ke kanan. Selain itu ditemukan pula polip di mulut rahim, walaupun menurut dokter keberadaan polip itu semestinya tidak akan mengganggu injeksi sperma. Rasanya baru kali ini saya mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses yang terjadi. Dulu sewaktu inseminasi di BIC dengan dokter Taufik, dokter tidak mengatakan apa-apa dan proses inseminasi berjalan dengan cepat dan tanpa rasa sakit. Curiganya waktu itu mungkin karena terlihat jalan rahim saya susah maka dokter hanya melakukan injeksi sperma di mulut rahim saja. Kenapa saya bilang begitu? Karena proses inseminasi kali ini sakit nyeri sekali dan sampai berdarah-darah karena dokter Handojo mencoba untuk memasukkan (secara paksa) kateter sampai titik terdalam rahim saya yang paling dekat dengan tuba fallopi. Sebenarnya kalau posisi jalan rahimnya baik dan benar proses inseminasi ini akan jauh lebih mudah dan cepat, tidak seperti saya. Konon kasus jalan rahim yang bermasalah seperti saya ini memang agak langka.

Dari penjelasan itu saya jadi mendapatkan pencerahan kenapa saya selama ini susah sekali untuk hamil secara alami. Selain faktor sperma yang lemah ditambah lagi perjalanan sang sperma menuju sel telur harus melalui jalan yang curam dan susah dilewati. Oleh karena itu memang saya butuh bantuan secara medis.

Pengerjaan inseminasi yang membuat stress karena sakit ini berlangsung selama 30 menit. Selama masa menyakitkan tersebut saya sudah hampir menyerah dan mau pulang ke rumah saja, haha. Sakitnya itu seperti mules saat HSG. Dalam hati saya, mungkin seperti ini rasanya kontraksi orang mau melahirkan ya? Luar biasa perjuangannya. Selesai tindakan, dokter menuliskan resep untuk saya obat penguat kandungan yang harus dimasukkan lewat vagina mulai hari ke-3 setelah inseminasi, Cygest, dengan dosis 1 x 1. Dokter Handojo juga tidak mewajibkan untuk bed rest karena menurut beliau belum ada bukti yang kuat dalam dunia medis bahwa bed rest akan meningkatkan keberhasilan inseminasi. Tapi kalau mau bed rest sendiri di rumah, dokter juga tidak melarangnya.

Expenses:

  • Tindakan inseminasi (termasuk washing sperma) di RS Omni Alam Sutera = Rp. 2.800.000
  • Obat-obatan: Cygest 400 mg sebanyak 10 tablet dan Lipesco sebanyak 15 tablet di RS Omni Alam Sutera = Rp. 485.485

TOTAL = Rp. 3.285.485

GRAND TOTAL 3rd Insemination = Rp. 7.980.719

2 Weeks Waiting

Saya tidak mengkhususkan diri untuk bed rest total, hanya saja saya berinisiatif mengurangi aktivitas sendiri dengan tidak melakukan olahraga dan memasak dulu. Saya baru keluar rumah mulai di hari ke-3. Bukan untuk jalan-jalan tapi untuk beli makanan. Agak susah untuk order makanan via gojek mengingat saat ini sedang libur lebaran dan banyak orang pulang kampung. Karena kantor pak suami libur seminggu, pak suami pun selalu menemani saya di rumah.

Sesuai instruksi dokter, setelah 14 hari saya pun melakukan test pack di rumah. Hasilnya negatif. Keesokkan harinya pun saya keluar mens dan artinya inseminasi kali ini masih belum berhasil. Jujur, saya sudah tidak merasakan sedih yang menyayat hati karena sepertinya sudah mulai kebal dengan berbagai kegagalan dalam urusan reproduksi ini. Mungkin memang belum rejekinya. Pak suami juga datar-datar saja. Kami berdua sepakat untuk mencoba inseminasi lagi di bulan Agustus 2018.

Saya pun mengabari dokter Handojo tentang hasil inseminasi ini via chat WhatsApp. Menurut dokter, sperma pak suami harus diperbaiki dulu dengan meminum obat yang diresepkan dokter. Malah dokter Handojo menyuruh saya untuk tidak perlu khawatir dengan stok telur saya karena AMH rendah. Rasanya baru kali ini saya ketemu dokter kandungan yang tidak menyalahkan kondisi saya dan malahan pak suami yang lebih disorot.

Untuk teman-teman TTC (Trying To Conceive) yang senasib, tetap semangat ya. Setiap usaha yang kita lakukan pasti membuat langkah kita semakin dekat dengan harapan kita. Tidak ada usaha yang sia-sia karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Sebelum melanjutkan proses inseminasi berikutnya, saya dan pak suami ada plan untuk mencoba hypnotherapy di akhir Juli 2018. Nanti cerita lengkapnya akan saya update di blog setelah sesi pertama selesai ya.

Iklan
Try To Conceive

Eggs Donor

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan pesan aneh di WhatsApp (WA) saya dari seseorang yang tidak dikenal. Orang tersebut menawarkan untuk mendonorkan sel telurnya ke saya. Kemungkinan orang tersebut adalah orang yang pernah membaca tulisan di blog saya ini tentang AMH rendah dan memang saya menyebutkan di tulisan tersebut bahwa last option kalau IVF gagal adalah eggs donor dan adoption. Hanya saja bagi orang awam mungkin kurang paham mengenai proses donor sel telur ini. Untuk itu di tulisan ini saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang prosesnya.

Ada berbagai alasan kenapa seseorang mau mendonorkan sel telurnya dan most of them adalah alasan ekonomi. Dari pencarian di Google, di US seseorang bisa menjual sel telurnya seharga USD 8.000 – 14.000 tergantung kuantitas dan kualitas sel telur yang dihasilkannya. (sumber: https://www.centerforhumanreprod.com/egg-donation/donors/faqs). Harga yang ditawarkan memang sangat tinggi. Tapi proses yang harus dilaluinya juga cukup panjang karena melalui berbagai proses skrining dan medis.

Untuk menjadi seorang pendonor sel telur, orang tersebut harus dalam keadaan sehat dan masih di usia produktif. Mereka tidak boleh memiliki riwayat penyakit menular dan kelainan genetis yang mungkin bisa diturunkan. Kemungkinan akan ada test kromosom DNA yang harus dilakukan sebagai proses skrining.

Proses medis yang dijalankan untuk mendonorkan sel telur hampir mirip dengan prosedur IVF dimana calon pendonor akan disuntik obat-obatan hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur menjadi banyak. Normalnya tanpa obat-obatan hormon, seorang wanita hanya memproduksi 1 buah sel telur di setiap siklusnya. Sel telur akan terus dipantau perkembangannya dengan alat USG transvaginal. Setelah ukuran sel telur dianggap cukup (kurang lebih berdiameter 2 cm) maka calon pendonor akan disuntik dengan pemecah telur. Setelah itu akan dilakukan prosedur operasi OPU (Ovum Pick Up) untuk mengambil sel telur tersebut. Hanya sel telur yang bagus kualitasnya akan dipilih dan disimpan dengan cara dibekukan dengan nitrogen cair apabila tidak langsung digunakan.

Jadi untuk menjadi pendonor sel telur, tidaklah segampang mendonorkan organ tubuh yang lain. Cukup test darah dan kecocokan jaringan kemudian operasi. Proses donasi sel telur jauh lebih panjang, sekitar 2 minggu sampai proses OPU. Belum pula kalau ada komplikasi di dalam tubuh karena suntikan hormon bertubi-tubi yang biasa disebut OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan perlu perawatan tambahan.

Dari segi hukum yang berlaku di Indonesia, donasi sel telur dan sperma adalah ilegal atau terlarang berdasarkan Undang-Undang tentang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Reproduksi Nomor 41 Tahun 2014. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Donasi_sperma). Jadi kalau mau melakukan proses donasi sel telur memang harus dilakukan di luar negeri. Setahu saya di negara Malaysia memperbolehkan donasi sel telur.

Saran dari dokter, untuk donasi sel telur sebaiknya dilakukan oleh kerabat terdekat atau saudara kandung perempuan. Hal ini dikarenakan kemiripan genetis kita dengan saudara kandung kita berkisar 40-60%. Jadi anak yang akan dihasilkan dari donasi sel telur saudara kandung akan masih memiliki kemiripan dengan kita.

Bagi saya pribadi, kalau memang pada nantinya semua usaha TTC (Trying To Conceive) yang sudah saya lakukan tidak berhasil, saya tidak akan melirik opsi donasi sel telur dari saudara kandung karena alasan berikut:

  • Harganya mahal, mirip dengan harga IVF yang berkisar 60 – 100 juta Rupiah.
  • Harus dilakukan di luar negeri.
  • Saudara perempuan (adik) saya belum menikah dan punya anak sendiri.
  • Saya tidak tega melihat saudara saya harus melalui segala proses suntik menyuntik dan operasi yang menyakitkan. Cukup saya saja yang harus merasakan hal tersebut.

Demikian penjelasan dari saya. Semoga setelah ini saya tidak dapat pesan aneh-aneh lagi ya.

Try To Conceive

2nd Insemination / IUI

Kalau sebagian dari teman-teman pembaca disini ada yang wondering tentang bagaimana nasib TTC (Trying To Conceive) saya saat ini, jawabannya adalah saya belum (pernah) hamil dan masih berjuang untuk mendapatkan keturunan. Permasalahan saya adalah AMH yang rendah sehingga jumlah telur sedikit dan respon stimulasi ovarium rendah. Pak suami juga kualitas dan kuantitas sperma-nya kurang bagus. Jadi bisa dibilang kami ini problemnya paket combo, hehe.

Setelah gagal IVF akhir 2016 kemarin, saya benar-benar vakum dari dunia TTC. Saya merasa malas untuk periksa ke dokter dan meminum suplemen apapun yang konon katanya bisa membantu kesuburan. Selama 2017 saya lebih berusaha untuk memaafkan diri saya dan menerima keadaan saya atas segala kegagalan TTC yang sudah dilakukan. Saya juga berusaha mengumpulkan keberanian (untuk menghadapi entah kegagalan / kesusksesan) di program berikutnya. Tahun 2017 saya hanya menikmati hidup saja tanpa dibebani urusan TTC.

Memasuki 2018, saya dan suami kembali membuat resolusi tentang masalah TTC. Kami akan berusaha kembali mengikuti program hamil untuk mendekati impian kami memiliki keturunan. Kami memilih mengikuti program hamil di Tangerang yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah (kalau dibanding dengan BIC / Bunda International Clinic). Paling tidak kami sudah mengeliminasi faktor stress karena macet di jalan. Jalanan di Tangerang walaupun macet tapi tidaklah separah macet di Jakarta. Saya ingat sekali perjuangan saya bolak balik Tangerang – BIC (Menteng, Jakarta) hampir setiap hari untuk suntik dan konsul dokter yang memakan waktu 1,5 jam sekali jalan dan bahkan lebih kalau macet. Sungguh melelahkan.

Program kali ini saya memilih IUI / inseminasi dengan pertimbangan jumlah telur saya yang sedikit dan respon stimulasi yang rendah membuat chance IVF (bayi tabung) saya tidak lebih bagus dari inseminasi. Selain itu inseminasi menawarkan harga yang lebih terjangkau dibanding IVF. Ini adalah kali kedua saya mengikuti inseminasi. Program inseminasi pertama berlangsung di BIC (Bunda International Clinic / Morula IVF) bulan Desember 2015 dengan dokter Taufik Jamaan dan hasilnya gagal. Silakan membaca post saya sebelumnya untuk cerita detailnya.

Pencarian obgyn / dokter kandungan dan rumah sakit di Tangerang yang menunjang program inseminasi pun dimulai. Dari sekian banyak hasil browsing di internet, pilihan jatuh ke dokter Handojo Tjandra yang praktek di Klinik Sehati (Gading Serpong, Tangerang) dan RS Omni (Alam Sutera, Tangerang). Pak dokter ini adalah lulusan kedokteran Malaysia dan menurut forum, ilmunya tidak kalah dengan dokter-dokter di Malaysia sana yang sering jadi tempat “pelarian” orang Indonesia yang berobat ke Malaysia. Wajar sih menurut saya karena beliau kan juga lulusan Malaysia. Bahkan saat pertemuan pertama saya dengan dokter Handojo dan saya cerita pernah ke LSC (Loh Guan Lye Specialist Center) Penang untuk konsul dengan dokter Devindran, beliau sepertinya cukup kenal dengan dokter Devindran.

Kesan pertama tentang dokter Handojo adalah baik dan sabar. Semua pertanyaan saya diladeni dengan sabar. Dokter Handojo juga bukan dokter yang suka bikin pasien panik, selalu menenangkan pasien. Beliau juga menurut saya tidak matre, tidak mewajibkan pasien terlalu banyak tes lab ini itu. Saya merasa klik dengan beliau saat pertemuan pertama kami. Begitu pun dengan pak suami.

Sebenarnya, selain dokter Handojo, ada satu nama dokter lagi yang banyak disebut oleh ibu-ibu di forum online, yaitu dokter Ong Tjandra yang juga praktek di Klinik Sehati (Gading Serpong, Tangerang) dan RS Bethsaida (Gading Serpong, Tangerang). Akan tetapi untuk konsultasi dengan dokter Ong ini antriannya sangat panjang, bahkan bisa 3 bulan sebelumnya. Kebanyakan review yang saya baca tentang dokter Ong ini adalah bagus dalam membaca hasil USG (atau malah USG 4 dimensi). Biasanya yang datang ke dokter Ong adalah ibu-ibu yang telah hamil, bukan untuk program hamil. Selain itu menurut saya kurang tepat sasaran kalau program hamil dengan dokter Ong karena sub spesialisasi dokter Ong ini adalah Onkologi Ginekologi alias ilmu yang mempelajari tentang kanker sistem reproduktif.

11 April 2018

Hari ini adalah hari ke-9 haid saya. Saat menelpon ke Klinik Sehati, petugas mengatakan untuk konsultasi ke dokter Handojo tidak perlu buat appointment, langsung datang saja dan nanti nomor antrinya sesuai kedatangan. Sebenarnya saya agak malas-malasan untuk konsul ke obgyn tapi pak suami memaksa. Mungkin dia sudah tidak betah melihat saya terlalu banyak bersantai dari urusan program hamil.

Saya datang ke klinik Sehati sekitar jam 7 malam dengan ditemani pak suami. Kondisi klinik saat itu lagi sepi. Setelah menyelesaikan registrasi pasien baru, saya hanya menunggu sekitar 20 menit sebelum dipanggil ke ruangan dokter. Saat datang saya memang sudah membawa semua medical record saya: hasil lab, HSG, buku pasien BIC, dll. Semua medical record itu akan dicatat oleh dokter untuk mengetahui secara garis besar permasalahan reproduksi kita.

Dari hasil USG transvaginal, saya memiliki kista fungsional dengan diameter 1,8 cm. Menurut dokter Handojo, kista ini tidak mengganggu dan tidak berbahaya. Untuk diangkat melalui operasi pun menurut dokter Handojo tidak worth it karena ukurannya terlalu kecil. Kista ini mirip dengan kista fungsional yang telah diambil (operasi sedot kista) sewaktu program hamil di BIC.

Menurut dokter, waktu terbaik untuk memulai program hamil adalah saat hari ke-2 haid. Oleh karena itu, untuk kasus saya yang datang di hari ke-9 haid, tidak bisa memulai program hamil saat itu dan harus menunggu siklus menstruasi bulan depan. Dokter pun meresepkan suplemen sebagai berikut untuk saya dan suami:
– Untuk saya: Asam folat 1 x 1
– Untuk suami: Ciprofloxacin 250 mg 2 x 1, Ubesco 100 mg 2 x 1, Lipesco 1/2 tab 1 x 1

Saya tidak mengambil resep dari dokter karena saya sudah memiliki suplemen asam folat sendiri: Blackmores Conceive Well Gold. Resep suami juga tidak saya ambil karena kandungan vitamin di Ubesco dan Lipesco juga sudah ada di suplemen yang dikonsumsi suami selama ini: Blackmores Conceive Well Men. Khusus untuk Ciprofloxacin yang merupakan antibiotik, saya agak ragu untuk memberikan ke suami. Saya sempat menanyakan alasan pemberian antibiotik tersebut kepada dokter Handojo, dan menurut beliau ada teori bahwa keabnormalan sperma biasanya disebabkan oleh infeksi. Tapi dari yang saya lihat, pak suami tidak menunjukkan adanya gejala infeksi. Selain itu dari beberapa artikel di internet menyebutkan penggunaan antibiotik akan membunuh sperma. Alhasil, saya mengurungkan niat untuk memberi antibiotik ke pak suami.

Expense:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di Klinik Sehati = Rp. 470.000

2 Mei 2018

Kali ini saya ditemani suami datang ke Klinik Sehati tepat di hari ke-2 haid dengan niatan supaya program hamil bisa langsung dimulai. Berbeda dengan kedatangan saya bulan lalu, kali ini jumlah pasiennya banyak sekali. Saya datang jam 7 malam sudah urutan ke-24 dan dapat giliran sekitar jam 10-an. Dikarenakan tempat duduk di Klinik Sehati sudah penuh oleh pasien lain maka saya dan suami jalan-jalan dulu ke Sumarrecon Mall Serpong yang berada tidak jauh dari klinik. Mendekati jam 10 kami kembali lagi ke klinik dan benar saja sisa pasiennya tinggal sedikit lagi. Tidak lama kemudian kami pun dipanggil masuk ke ruangan dokter Handojo.

Walaupun hari ini jumlah pasiennya luar biasa banyak, dokter Handojo tetap sabar dan baik seperti biasa. Saat konsultasi pun tidak terkesan terburu-buru. Dari hasil USG transvaginal, kista telur saya di siklus bulan lalu masih ada, ukurannya pun tidak berubah. Keberadaan kista telur ini dijadikan special notes untuk dokter untuk meng-exclude kista ini sebagai folikel saat perhitungan jumlah folikel. Posisi rahim normal anteflexed dengan ketebalan 5,6 mm. There are Multiple Small Follicle (MSF) in right and left ovary. No free fluid in POD (Pouch Of Douglas) which is good. Minimum free fluid still normal when the ovulation happened but large amount of fluid can represent an abnormal medical condition such as an infection, liver disease (cirrhosis), heart failure, or a malignancy.

Dengan kasus AMH rendah dan kualitas sperma yang kurang bagus, dokter Handojo mengatakan bahwa opsi paling bagus untuk program hamil saya adalah bayi tabung / IVF. Akan tetapi, hati kecil saya kurang yakin dengan nasib IVF yang akan datang ini, jangan-jangan hanya dapat 1 sel telur juga seperti yang terjadi di BIC lalu. Jumlah sel telur yang sedikit ini benar-benar menurunkan chance keberhasilan IVF. Oleh karena itu saya memilih opsi inseminasi / IUI saja karena kalau inseminasi hanya dibutuhkan 1-2 telur saja untuk prosesnya yang mana saya cukup yakin saya bisa menghasilkannya.

Program inseminasi pun dimulai dengan pemberian obat penyubur, Fertin 50 mg (Clomiphene Citrate) dengan dosis 1 x 1, selama 5 hari yang diminum mulai dari hari ke-2 haid. Disarankan untuk minum Fertin di jam yang sama setiap harinya. Setelah itu akan dilakukan pengecekan USG untuk melihat respon terhadap obat yang diberikan. Obat Fertin ini bisa dibeli di Klinik Sehati dengan harga Rp. 20.000 / tablet. Untuk suplemen asam folat tetap dilanjutkan dengan dosis 1 x 1.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di Klinik Sehati = Rp. 450.000
– Obat Fertin 50 mg 5 Tablet = Rp. 100.000
TOTAL = Rp. 550.000

7 Mei 2018

Tepat kemarin malam obat Fertin sudah habis diminum dan saatnya untuk kontrol kembali ke dokter. Karena malam ini dokter Handojo prakteknya di RS Omni Alam Sutera maka saya pun daftar kesana dengan ditemani oleh suami yang baru pulang kantor. Walaupun rumah sakit-nya terkesan mewah, lebih bagus dari Klinik Sehati, tapi alat USG-nya resolusinya lebih rendah dari Klinik Sehati. Terlihat dari tampilan layar USG-nya. Kata dokter Handojo memang alat USG yang ada di Klinik Sehati itu harganya lebih mahal daripada yang di RS Omni Alam Sutera. Tapi sebagai pasien program hamil sepertinya saya tidak bisa pilih-pilih karena hari kontrol ke dokter-nya sudah ditentukan jadi tinggal mengikuti jadwal dokternya sedang praktek dimana saja. Selain itu, biaya konsultasi dokter di RS Omni Alam Sutera dibandingkan dengan Klinik Sehati jauh lebih mahal. Tapi, di RS Omni Alam Sutera ini adalah pasien dokter Handojo tidak sebanyak Klinik Sehati. Hanya perlu menunggu 15-30 menit sebelum dipanggil ke ruangan dokter.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-7 haid ini, posisi rahim masih normal anteflexed. There are multiple small follicle (MSF) in right ovary. The biggest follicle size is 1,2 cm and also cyst 1,8 cm. Program dilanjutkan dengan penyuntikkan Gonal F dengan dosis 37,5 IU setiap malam selama 4 hari ke depan. Uniknya kali ini saya diresepkan Gonal F pen 300 IU. Dengan bentuk pen ini diharapkan saya bisa menyuntik sendiri di rumah. Dokter Handojo langsung lho yang mengajarkan saya untuk menyiapkan pen dan menyuntiknya ke bawah kulit perut (subcutaneous). Rasanya tidak sesakit suntikan Gonal F dalam bentuk vial seperti dulu waktu program di BIC. Kalau bentuk vial agak ribet persiapannya karena kita harus mencampurkan cairannya dulu. Makanya waktu program di BIC dulu saya selalu minta disuntikkan sama suster. Tapi dengan suntikan bentuk pen ini saya percaya diri melakukannya sendiri. Standar prosedur suntikan juga bisa dibaca langsung pada kemasan Gonal F pen. Sangat mudah dan praktis. Disarankan untuk menyuntikkan Gonal F di jam yang sama setiap harinya. Penyimpanan Gonal F pen harus ditempat yang sejuk, saya menyimpannya di chiller kulkas.

Sebelum proses suntik menyuntik, kita membutuhkan alcohol swab untuk desinfektan dan sterilisasi bagian tubuh yang akan disuntik. Tips dari saya, daripada harus membeli 1 kotak alcohol swab yang isinya ada 100 pcs (terlalu banyak), lebih baik minta di ruangan dokter sejumlah yang dibutuhkan dan di-charge ke tagihan peralatan yang dipakai dokter. Saat itu saya mengambil 7 pcs alcohol swab.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000
Alcohol Swab 7 pcs = Rp. 2.415
– Gonal F Pen 300 IU = Rp. 2.510.392
TOTAL = Rp. 3.058.807

11 Mei 2018

Hari ini dijadwalkan untuk kontol kembali ke dokter setelah penyuntikan dosis gonal F 37,5 IU selama 4 hari berturut-turut. Dokter Handojo malam ini praktek di RS Omni Alam Sutera jadi saya pun pergi ke sana. Seperti biasa kondisi pasien disini tidak terlalu banyak jadi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk dipanggil ke ruangan dokter.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-11 haid ini, posisi rahim masih normal anteverted dengan ketebalan rahim 13 mm. Folikel yang berkembang di ovarium kiri ada 1 dengan ukuran diameter 1,3 cm sedangkan di ovarium kanan ada 1 dengan ukuran diameter 1.05 cm. Kista tetap ada dan ukurannya masih sama seperti sebelumnya yaitu 1,8 cm. No free fluid in POD (Pouch Of Douglas) yang berarti tidak ada tanda ovulasi. Wajar saja karena ukuran sel telurnya belum cukup / matang untuk bisa ovulasi.

Dokter menyuruh saya untuk melanjutkan suntikan Gonal F di rumah selama 3 hari ke depan tapi kali ini dosisnya dinaikkan menjadi 75 IU. Sehubungan sisa Gonal F Pen saya hanya 150 IU yang berarti hanya cukup untuk 2 suntikan lagi maka dokter meresepkan tambahan Gonal F 75 IU dalam bentuk vial seperti di BIC dulu. Rupanya Gonal F 75 IU ini tidak tersedia di apotek RS Omni Alam Sutera. Dokter menyarankan saya untuk mencarinya di rumah sakit lain. Rumah sakit / klinik di Tangerang yang direkomendasikan dokter Handojo untuk mendapatkan Gonal F 75 IU ini adalah di RS Siloam Karawaci, RS Awal Bross dan Klinik Mom & Child Gading Serpong. Diluar itu, biasanya mereka tidak mau terima resep dari luar rumah sakit / klinik mereka.

Saat saya telp ke klinik Mom & Child, stok Gonal F 75 IU mereka sedang kosong dan harus inden dulu. Itu pun barang baru ready 3 hari lagi. Saya lalu menelpon RS Siloam Karawaci dan ternyata mereka ada stok. Saya pun kemudian ke RS Siloam karawaci untuk membeli Gonal F tersebut. Harga Gonal F 75 IU di RS Siloam Karawaci ini lebih mahal kalau dibandingkan dengan harga BIC. Juga lebih mahal dibandingkan kalau dihitung harga per unitnya dari Gonal F Pen. Akan tetapi karena saya memang butuh dan stok terbatas ya saya tetap ambil.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000
– Gonal F 75 IU di RS Siloam Karawaci = Rp. 710.000
TOTAL = Rp. 1.256.000

12 Mei 2018

Dikarenakan saya tidak bisa menyuntikkan sendiri Gonal F dalam bentuk vial, saya berencana minta tolong suster di Klinik Sehati atau RS Omni Alam Sutera. Ternyata hari sabtu ini Klinik Sehati hanya buka sampai sore sedangkan jadwal suntik Gonal F saya adalah jam 8 malam. Akhirnya dengan ditemani suami, saya datang ke RS Omni Alam Sutera. Berbeda dengan waktu di BIC dulu yang mana kalau mau minta suster bantu suntik, kita hanya tinggal bawa obat dan buku pasien ke meja suster kemudian tunggu antrian dipanggil ke kamar suntik dengan layanan free of charge, maka tidak demikian yang berlaku di RS Omni Alam Sutera. Pada awalnya, kita harus melakukan registrasi dahulu di counter depan dengan menyebutkan kita pasien dokter Handojo dan minta bantuan suster untuk menyuntikkan Gonal F. Nanti kita akan dirujuk ke bagian VK / Verlos Kamer (kamar bersalin) di lantai 2 untuk bertemu dengan suster / bidan disana. Saat ketemu suster juga kita harus menjelaskan lagi maksud dan tujuan kita. Suster kemudian akan konfirmasi ke dokter yang bersangkutan. Sungguh ribet birokrasinya.

Sungguh kebetulan saat saya sedang berbicara dengan suster di kamar bersalin, dokter Handojo muncul, padahal beliau sedang tidak ada jadwal praktek. Mungkin saat itu dokter sedang mengunjungi pasiennya yang hendak atau baru melahirkan. Entahlah. Kemudian dokter Handojo langsung meracikkan vial Gonal F untuk siap disuntik ke saya. Ajaibnya lagi, dokter Handojo langsung yang menyuntikkan Gonal F tersebut ke saya. Seumur-umur saya program hamil ke dokter baru kali ini saya disuntik langsung oleh sang dokter, biasanya selalu dengan suster. Suntikan Gonal F kali ini sangat perih dan sakit. Bahkan seingat saya lebih perih dibandingkan dulu suntikan Gonal F di BIC. Mungkin karena dulu di BIC disuntik oleh suster sehingga lebih lemah lembut, berbeda dengan halnya dokter pria. Hahaha.

Jasa suntik oleh dokter tidak dikenakan biaya karena saya membawa jarum dan obat sendiri beserta alcohol swab-nya sehingga tidak ada peralatan rumah sakit yang dipakai. Saya hanya di-charge biaya administrasi sebesar 50 ribu Rupiah.

Expense:
– Biaya administrasi rawat jalan RS Omni Alam Sutera = Rp. 50.000

14 Mei 2018

Setelah tambahan suntikan Gonal F selesai, hari ini saya kembali mengunjungi dokter. Saya datang sendirian karena pak suami belum pulang kantor. Jadwal praktek dokter Handojo hari ini ada di RS Omni Alam Sutera.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-14 haid ini, posisi rahim masih normal anteverted dengan ketebalan rahim 16 mm. Menurut dokter semakin tebal rahim akan semakin bagus untuk implantasi embrio. Akan tetapi folikel saya tampak tidak terlalu merespon suntikan Gonal F yang diberikan. Folikel di ovarium kiri yang waktu itu ada dan ukurannya lumayan (diameter 1,3 cm di hari ke-11) tiba-tiba menghilang, kata dokter kemungkinan folikelnya tidak berkembang dan terserap rahim. Folikel di ovarium kanan yang awalnya ada 1 dengan diameter 1,05 cm berkembang menjadi 1,2 cm saja dan belum cukup untuk matang. Kista masih ada dan tidak berubah ukurannya, diameter 1,8 cm. Oleh karena itu, dokter mengatakan program inseminasinya tidak bisa dilanjutkan (terminated) karena sel telurnya tidak merespon. Kemungkinan karena dosis  obat yang diberikan terlalu kecil untuk orang seusia saya yang juga memiliki masalah AMH rendah.

Next plan, dokter akan menaikkan dosis obat untuk saya yaitu Fertin 50 mg 1 x 2 tab yang dimulai dari hari ke-2 mens sampai 5 hari ke depan dan dilanjutkan suntikan Gonal F 75 IU selama 4 hari berturut-turut. Awalnya mau lanjut program di siklus Juni  2018 tapi akan terbentuk libur lebaran jadi mungkin program inseminasi berikutnya akan saya coba di bulan Juli atau Agustus 2018. Mudahan hasilnya bisa lebih baik dari siklus sekarang.

Expense:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000

Total biaya dokter dan obat-obatan untuk program inseminasi kali ini (tidak termasuk washing & inject sperm) di Klinik Sehati dan RS Omni Alam Sutera = Rp. 5.460.807

Walaupun saya tidak lanjut ke tahap inseminasi, tapi saya sudah dapat info harganya dari dokter Handojo. Untuk biaya tindakan inseminasi di Klinik Sehati adalah Rp. 1.500.000, sudah termasuk sperm wash dengan metode swim up. Untuk biaya tindakan inseminasi di RS Omni Alam Sutera adalah Rp. 2.750.000, sudah termasuk sperm wash dengan metode density gradient. Menurut dokter untuk kasus sperma yang kurang kualitas dan kuantitasnya seperti suami saya, metode sperm wash yang lebih cocok adalah density gradient. Bedanya, kalau metode swim up, hanya memilih sperma yang bergerak saja, tidak dipilih lagi kualitasnya. Sedangkan metode density gradient, sel sperma akan dilewatkan ke suatu cairan di lab, sperma yang bertahan melewati cairan tersebut adalah sperma yang terpilih dan dipercaya memiliki kualitas ketahanan yang lebih baik. Jadi wajar kalau harganya lebih mahal.

Saya agak kecewa dengan respon ovarium saya terhadap obat-obatan sehingga inseminasinya harus gagal ditengah jalan. Tapi saya bersyukur juga dokter Handojo tidak memaksakan pasien untuk lanjut tahap injeksi sperma (inseminasi) dengan resiko gagal. Gagal di tengah jalan ini sedihnya tidak terlalu berat seperti halnya dulu ketika selesai inseminasi pertama dan IVF di BIC kemudian masuk ke masa 2 weeks waiting dan berakhir dengan kegagalan.

Saya yakin tidak ada namanya usaha yang sia-sia. Semua kegagalan yang terjadi dalam kehidupan ini pasti semakin mendekatkan kita dengan suatu kejayaan. Hanya saja kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk memahami rencana Tuhan untuk kita. Untuk semua teman-teman TTC saya yang membaca tulisan ini, mari terus berjuang. Kita harus terus berusaha, sesanggup yang kita bisa. Sabarlah menanti keajaiban itu datang untuk kita. Cheers!

Contact:

  • Klinik Sehati
    Ruko Voronez Gading Serpong
    Jalan Raya Kelapa Puan, CA 24/16-17, Sektor 1D, Pakulon Barat, Kelapa Dua, Tangerang Selatan, Banten.
    Telp. 021-29171379
    HP / WA: 081316518088
  • RS Omni Alam Sutera
    Jalan Alam Sutera Boulevard Kav. 25, Pakulonan, Serpong Utara, Pakulonan, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten.
    Telp. 021-29779999
Try To Conceive

After Failed IVF

Setelah mendapat hasil tes hormon beta-HCG yang menyatakan IVF saya gagal. Rasanya dunia berasa runtuh. Saya patah hati. Sakit hatinya berasa lebih parah daripada sakit hati karena putus cinta. Emang saya orangnya agak lebay kalau sedih, hehe.

Saya merasa saya sudah totalitas melakukan semuanya (materi dan non materi) tapi kenapa sih Tuhan ga bergeming dan tidak mau memberikan saya kesempatan untuk punya anak dari rahim saya sendiri? Saya harus bagaimana lagi? Itu adalah segelintir pertanyaan saya saat saya lagi down karena IVF yang gagal.

Satu minggu pertama saya masih sering nangis-nangis. Masuk minggu kedua saya sudah mulai bisa bangkit dari kegagalan ini walaupun kadang masih nangis. Mungkin karena posisi saya dalam keluarga adalah anak pertama, jadi saya merasa saya orang yang cukup tegar dan kuat sehingga tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Sekarang saya sudah 100% pulih dari kegagalan ini dan saya mau sharing sama teman-teman senasib gimana caranya bisa cepat bangkit dari IVF yang gagal. Saat teman-teman baca tulisan ini, saya cuma mau bilang kalau kalian tidaklah sendiri. I’ve been there and done that.

  1. Stop blaming yourself
    Dari hasil baca artikel sana-sini tentang penyebab gagalnya IVF, saya dapat fakta bahwa keberhasilan suatu IVF 90% ditentukan oleh kualitas embrio-nya. Di dalam rahim kita ada proses seleksi alam untuk embrio. Embrio yang secara genetik kromosomnya rusak atau embrio yang tidak berkembang akan langsung diterminasi oleh dinding rahim. Rahim cuma mau menerima embrio yang kualitasnya baik saja supaya bisa berkembang di dalam rahim jadi janin yang sehat. Kualitas embrio saat embrio transfer ga bisa jadi patokan. Misal kualitas embrio yang ditransfer excellent tapi kenapa tetap gagal? Karena menurut embriologist yang saya temui di BIC, embrio itu kualitasnya tiap saat bisa berubah, dari excellent bisa jadi poor, ga ada yang bisa tahu, apalagi prosesnya terjadi dalam rahim.
    Berhentilah menyalahkan diri sendiri atas kegagalan IVF yang kamu alami. IVF bukan gagal karena apa yang kamu lalukan tapi murni karena seleksi alam atas embrionya. There is nothing we can do about that.
  2. Stop thinking about the amount of money you’ve spend in this program
    I know it’s a lot of money. Jumlah uang yang bisa bikin kita merasakan travel ke Eropa malah. Tapi ga perlu disesali. Pengalaman itu memang mahal harganya. Suatu saat kamu akan dapat rejeki pengganti yang sebanding koq. Ini beneran cerita nyata saya lho. Jadi saat masa penantian 2 weeks waiting itu saya selalu doa: Semoga kalau embrio ini bukan rejeki saya, saya bisa dapat rejeki penggantinya. Nah, rejeki pengganti itu datang berupa materi untuk saya. Bahkan jumlahnya lebih besar dari yang saya bayangkan. Tentunya ini rejeki yang halal ya, hasil kerja keras pak suami, hehe. Kadang kita sebagai manusia punya keterbatasan untuk mengerti tentang Rencana-Nya dalam hidup kita.
  3. Stop comparing yourself with others
    Banyak artis Indonesia yang ikut program hamil atau IVF di BIC dan saat mereka positif hamil, mereka aktif posting di social media milik mereka. Bahkan ada pula grup IVF Survivor untuk orang-orang yang telah berhasil hamil dengan bantuan IVF. Belum lagi update dari sesama teman pasien IVF yang programnya berhasil. Sementara kita terpuruk karena IVF yang gagal. Saat itu kita merasa sendirian dan jadi orang yang paling tidak beruntung.
    Dari hasil survey random yang saya lakukan di forum-forum, saya menemukan pemikiran bahwa IVF yang langsung berhasil pada percobaan pertama itu persentasenya hanya 20% dari jumlah pasien. Sisanya 80% harus mengulang berkali-kali (biasa sampai 3 kali) untuk bisa berhasil. Nah persentase 20% ini menurut saya terlalu dibesar-besarkan sehingga banyak yang berpikir chance IVF itu besar. Banyak yang jadi berharap lebih. Teorinya sih asal umur pasien dibawah 35 tahun dan embrionya excellent pasti chance-nya besar. Tapi nyatanya pada kasus saya ga tuh.
    Untuk kalian yang gagal IVF di percobaan pertama, kalian tidak sendirian koq. Jangan terlalu sedih.  Banyak teman senasib diluar sana. Hanya saja kadang mereka ga mau meng-expose diri.
  4. Get back in shape
    Program IVF yang penuh dengan segala suntikan dan obat hormon, ditambah minim kegiatan saat bed rest bikin berat badan saya naik 3 kg dong! Perut melendung, lengan, dada, paha dan juga pipi tambah montok. Baju dan celana berasa jadi sempit. Belum pula kulit wajah jadi kusam (padahal tetap menjalankan rutinitas perawatan wajah di rumah). Rasanya kalau ngaca di cermin bikin ga PD (Percaya Diri) deh.
    Setelah gagal IVF dan menghentikan konsumsi obat hormon, saatnya kita berjuang mengembalikan berat badan ideal, hehe. Diet dan olahraga tentunya. Jangan pakai obat-obatan pelangsing ya karena tubuh kita perlu detox dari segala obat-obatan dulu.
    Badan yang kembali langsing dan bugar pasti bikin kita lebih happy dan percaya diri. Selain itu olahraga juga akan mengalihkan pikiran kita dari memori yang sedih-sedih. Lampiaskan kesedihan kamu dalam kegiatan positif lah intinya.

What To Do Next?

Sepertinya saya ga akan coba IVF lagi deh. Biaya, effort dan tingkat stressnya terlalu besar. Agak kapok mau nyoba lagi. Dokter Arie sih membesarkan hati saya bahwa saya masih ada harapan untuk next IVF tapi kali ini mau dicoba dengan dosis full. Dengan dosis full pasti biaya IVF-nya bisa makin besar, prediksi saya bisa sampai 100 juta rupiah. Ga ada jaminan berhasil juga dan mungkin harus diulang lagi. Saya dan suami bukan dari keluarga kaya raya yang uangnya berlebihan. Uang segitu jumlahnya buat saya dan suami sangat berarti sekali. Masih banyak yang pengen kami raih dalam hidup ini selain masalah anak. Kalau kemungkinannya sama-sama kecil (Konsepsi alami vs IVF) untuk kasus saya ini, mending saya pilih konsepsi alami aja deh. Ga stress, ga sakit dan gratis pula! Hahaha.

Saya juga ada berobat herbal juga tapi karena ramuannya bikin sendiri di rumah, ga langsung telan obat, suka ga teraturan minum ramuan herbalnya. Emang dasarnya pemalasan sih. Jadi ya belum ada efek apa-apa soal pengobatan herbal ini.

Tiga bulan ini saya mau detox tubuh dari obat-obatan. Juga mau mengalihkan pikiran dari urusan hamil-hamilan. Saya mau lebih enjoy aja menjalani hidup ini. Menggapai mimpi yang lain bersama suami dalam waktu dekat: Berpetualang ke Jepang dan Suami kuliah S2. Ngambil kuliah S2-nya sih di Jakarta aja biar bisa sambil kerja. Nanti akan saya share ceritanya ya.

Kalau memang sampai tahun depan saya belum juga bisa punya anak, saya mau mempertimbangkan tentang adopsi anak. Opsi ini sebenarnya sudah dari tahun lalu saya sampaikan ke suami, tapi suami saya belum mau, belum terbuka hatinya. Saya juga masih cari info lebih lanjut tentang adopsi. Apakah ada teman-teman pembaca yang punya pengalaman adopsi anak? Prosedur hukum adopsi, cara sosialisasi ke keluarga besar, cara membesarkan anak asuhnya (perlu kah mereka diberitahu tentang status adopsi mereka), etc. Please share ya.

Try To Conceive

2 Weeks Waiting (2 WW)

1 Januari – 12 Januari 2017

Masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya tentang IVF. Jadi setelah prosedur Embrio Transfer (ET), pasien IVF harus menjalani yang namanya 2 Weeks Waiting. Kenapa harus 2 minggu? Karena setelah 2 minggu, kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh calon ibu jadi lebih terukur (tidak terlalu kecil kadarnya). HCG ini merupakan hormon yang diproduksi oleh ibu hamil. Jadi kalau setelah 2 minggu penantian dan hasil HCG-nya tinggi berarti anda positif hamil dan IVF-nya berhasil.

Banyak banget yang saranin untuk menghabiskan masa 2 weeks waiting ini dengan bed rest dan ga boleh stress supaya meningkatkan chance keberhasilan IVF-nya. Apalagi dengan kasus saya yang cuma ditransfer 1 embrio dan tidak punya cadangan embrio. Saya pun menuruti saran ini dengan mendatangkan Mama saya dari Samarinda untuk menemani saya di rumah dan membantu pekerjaan dapur (masak-masak). Kalau untuk urusan bersih-bersih rumah kebetulan saya ada asisten rumah tangga yang datang 3 x seminggu dengan durasi masing-masing 2 jam. Saudara saya yang tinggal di Jakarta juga jadi sering datang setelah pulang kerja untuk menemani saya di rumah.

Bed rest yang saya lakukan bukan bed rest total. Saya masih nonton TV di ruang tamu, makan di meja makan, jalan ke toilet dan mandi ke kamar mandi. Tapi selebihnya saya cuma berbaring di ranjang. Saya tidak keluar rumah selama masa 2 weeks waiting ini dan menghindari sekali naik turun tangga. Saya juga rajin menggunakan obat-obat penguat kandungan yang diresepkan. Tentunya saya juga jadi lebih rajin berdoa, hehe. Intinya sih saya mau totalitas menjalani ini semua sehingga tidak ada penyesalan di kemudan hari.

BIC juga memberikan tips kepada pasiennya dalam menjalani 2 weeks waiting ini dalam bentuk selembar kertas print out. Saya tulis disini supaya bisa memberikan insight juga kepada sesama pasien IVF yang lagi 2 weeks waiting.

TIPS SELAMA MENUNGGU PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN (by BIC)
– Tidak ada hal yang dapat anda lakukan ataupun tidak lakukan untuk mempengaruhi hasil tes (meningkatkan kemungkinan hamil)
– Embrio tidak akan keluar dari rahim anda setelah tindakan embrio transfer
– Progesteron (yang diberikan kepada anda untuk menunjang fase luteal) dapat menyebabkan berbagai gejala yang membingungkan
– Masa-masa penantian tes kehamilan dapat terasa sangat panjang
– Pilihlah orang yang tepat untuk menemani dan menghabiskan waktu anda (orang yang mendukung)
– Pilihlah orang-orang yang dapat menghubungi anda
– Pada malam embrio transfer, disarankan anda melakukan hal yang menyegarkan dan menyenangkan dengan suami anda
– Berusahalah untuk menyeimbangkan antara imajinasi (pikiran) anda dengan realitas / fakta (walaupun terkadang terasa sulit)
– Ingatlah bahwa dokter dan tim medis lainnya selalu siap untuk membantu anda dalam masa penantian ini
– Apabila anda merasa menghadapi waktu-waktu yang amat berat selama masa penantian ini, lakukanlah aktivitas positif sebanyak mungkin untuk membuat masa ini lebih mudah.

Dari awal proses IVF saya sudah woro-woro ke suami dan juga keluarga inti saya supaya tidak menceritakan tentang IVF saya ini ke keluarga besar ataupun orang lain. Saya merasa malas untuk ditanya-tanyai tentang hasilnya. Apalagi chance keberhasilan IVF saya ini kecil. Saya ga mau nantinya saya harus repot menjelaskan ke sanak saudara tentang urusan IVF ini karena saya yakin mereka juga ga akan mengerti karena mereka ga pernah menjalaninya.

Masa penantian 2 minggu ini sungguh berasa lamaaaa banget buat saya karena minimnya aktivitas yang bisa dilakukan di rumah. Tapi saya me-manage pikiran saya supaya minim stress. Saya dan suami juga sepakat untuk tidak berharap terlalu banyak dengan hasil IVF ini karena takut kecewa berat walaupun kami tetap berdoa mengharapkan yang terbaik.

13 Januari 2017

Akhirnya masa penantian berakhir dan saya dijadwalkan untuk tes hormon beta-HCG dalam darah. Tes hormon ini ga perlu di BIC, bisa di lab mana saja. Saya memilih lab prodia Gading Serpong Tangerang. Hasilnya didapat setelah 5 jam.

Beberapa hari sebelum jadwal lab ini saya merasa ada yang berbeda di beberapa bagian tubuh. Payudara yang biasanya nyeri banget dan kencang jadi ga sakit dan lemas. Perut bawah yang suka nyut-nyutan dan berasa kembung (bikin banyak kentut) jadi adem ayem. Badan yang cenderung hangat (bukan karena demam lho ya) jadi normal suhunya. Saya dalam hati sudah merasa kalau IVF ini gagal tapi ga mau menyerah dulu sebelum hasil tes darah menyatakan demikian. Apalagi saya belum mens.

Saya datang ke lab Prodia sekitar jam 9 pagi untuk pengambilan sampel darah. Harga tes hormon Beta HCG di Lab Prodia ini adalah Rp. 583.000. Saya minta hasil lab-nya di e-mail saja biar saya ga repot bolak balik kesana. Jam 5 sore e-mail dari lab Prodia pun datang. Hasilnya kadar beta HCG saya <1 yang artinya saya akan mens dalam beberapa hari ke depan dan IVF saya gagal!!

Perasaan saya saat itu benar-benar hancur, saya nangis sampai mata bengkak. Bersyukur saat itu saya punya orang-orang yang selalu support saya dalam keadaan terparah hidup saya sehingga saya ga sampai kepikiran yang aneh-aneh yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

16 Januari 2017

Akhirnya menstruasi datang. Agak telat sekitar 2 hari dari siklus sebelumnya. Mungkin karena saya stress dengan hasil lab saya.

Menuliskan kembali kisah ini seperti membuka kembali luka lama saya. Saat ini saya sudah pulih 100% dari luka hati saya karena kegagalan IVF ini. Berikutnya saya akan sharing tips menghadapi kegagalan IVF dan what to do next berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang berjuang. Intinya kita harus ikhlas dengan apapun hasilnya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya tapi pada akhirnya Kuasa-Nya lah yang menentukan.

Try To Conceive

My IVF Story: Mini Stimulation

Halo semua.. Kayaknya kali ini saya absen nulisnya cukup lama juga ya. Maklum lagi banyak acara keluarga dan juga sibuk urusan IVF selama bulan Desember 2016 – Januari 2017. Kalaupun buka blog, itu pun cuma balasin comment yang masuk karena ada notifikasinya via e-mail. Udah niat dan juga udah janji mau sharing cerita tentang IVF baik tahapan maupun biayanya gimanapun hasilnya kelak. Bukan untuk sombong atau pamer tapi lebih untuk berbagi cerita, pengetahuan dan pengalaman yang siapa tahu berguna bagi teman-teman yang sedang mencari info tentang IVF. Soalnya saya juga merasa banyak belajar dari blog teman-teman yang sudah berbagi mengenai cerita IVF mereka. Untuk sharing ini, saya niatin mengumpulkan kwitansi dari awal program sampai akhir program, haha.

Menyambung cerita sebelumnya, sehabis operasi sedot kista di Bunda International Clicic (BIC) dengan dokter Arie Polim, saya dan suami memutuskan langsung ikut IVF aja next cycle karena ada pertimbangan takut kista hormonalnya muncul lagi dan juga mumpung hasil test hormon saya juga bagus. Selain itu faktor usia saya yang sudah 33 tahun.

Mungkin banyak teman-teman yang bertanya mengenai IVF Mini Stimulation karena biasanya protokol IVF yang umum cuma short dan long protocol. Tapi kalau sering baca-baca di forum infertility luar negeri, istilah ini cukup banyak dibicarakan. Metode ini biasa digunakan untuk wanita yang cadangan sel telurnya sudah sedikit stoknya, menopouse dini atau wanita dengan Diminished Ovarium Reverse (DOR). Wanita dengan spesifikasi seperti ini konon tidak akan efektif dengan metode IVF yang normal karena mau dikasih dosis tinggi ataupun dosis rendah, jumlah telur yang berkembang tidak akan jauh berbeda. Jadi dengan dosis minimal diharapkan kualitas sel telur yang jumlahnya sedikit itu akan lebih baik. Singkatnya kualitas lebih dipentingkan daripada kuantitasnya. Dengan dosis obat yang minimal otomatis biaya obatnya jauh lebih murah dibanding IVF biasa, akan tetapi IVF Mini Stimulation ini memberikan chance yang lebih kecil dibandingkan dengan IVF biasa sehingga tidak jarang proses IVF-nya harus diulang beberapa kali supaya berhasil.

15 Desember 2016

Mens hari ke-2 saya langsung konsultasi dengan dr. Arie di BIC. Setelah dilakukan USG Transvaginal terliat di ovarium kanan ada 3 folikel antral yang masih kecil dan di ovarium kiri kosong (tidak terlihat di layar monitor). Dengan hasil USG itu, dr. Arie menyarankan saya untuk mencoba IVF Mini Stimulation (Mini Stim). Saya dikasih obat minum Dipthen yang harus diminum mulai hari ke-3 mens dengan dosis 1 kali (sehari) x 3 tablet sekaligus (Berbeda dengan IVF lain yang sudah mulai terapi suntik Gonal), tapi harus menunggu hasil tes hormon (LH, FSH, Progesteron, Estradiol) terlebih dahulu sebelum mulai terapi Dipthen untuk memperbesar dan memperbanyak sel telur. Jadi setelah selesai dari ruang dokter, saya menuju ke ruang lab Prodia untuk pengambilan sampel darah. Hasil lab akan diinfokan oleh Suster Rima besok siang-nya sekaligus instruksi minum Dipthennya. Selain Dipthen, saya juga dikasih suplemen Vitan 250 mg yang katanya bisa membantu memperbanyak sel telur dengan dosis 3 kali (sehari) x 1 tablet.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat-obatan (Vitan 250 mg 60 tablet, Dipthen 15 tablet) = Rp. 1.257.000
– Test Hormon di Lab Prodia (LH, FSH, Progesteron, Estradiol) = Rp. 1.635.000
TOTAL = Rp. 3.477.000

16 Desember 2016

Dapat report hasil lab dari suster Rima:
– LH = 3,1 mlU/ml
– FSH = 8,6 mlU/ml
– Progesteron = 0.39 ng/ml
– Estradiol = 29 pg/ml
Menurut dokter hasilnya cukup bagus, item sorotannya disini adalah nilai FSH yang dimana kalau mau mulai IVF nilainya harus dibawah 12. Oleh karena itu terapi Dipthen sudah bisa dimulai malam ini. Tgl 21 Desember 2016 disuruh kontrol ke dokter setelah terapi Dipthen selesai.

21 Desember 2016

Saya datang pagi ke lab prodia BIC, sekitar pk 8.30 WIB, untuk tes hormon Estradiol sesuai instruksi dokter. Kenapa datang pagi? Supaya hasilnya bisa keluar pas saya konsultasi ke dokter sore harinya. Konon untuk hasil lab hormon, hasilnya baru bisa keluar setelah 5 jam. Selama menunggu hasil lab dan konsultasi dokter, saya beredar di Jakarta aja. Ga mungkin lah ya saya bolak-balik Jakarta-Tangerang, hehe.

Sorenya, konsul ke dokter. USG Transvaginal lagi. Tebal endometrium (dinding rahim) = 7,9 mm. Telur yang membesar ada 2 di ovarium kanan dengan ukuran 16 x 14 mm dan 14 x 15 mm. Hasil tes lab hormon Estradiol = 247 pg/ml yang artinya telur saya belum matang semua. Terapi dilanjutkan dengan injeksi Menopur 150 IU untuk mematangkan sel telurnya dan Cetrotide untuk mencegah telur yang matang pecah. Suntik Menopur dan Cetrotide dimulai dari malam ini pk. 20.00 WIB dengan dibantu suster BIC, suntiknya 2 jari dibawah pusar. Untuk suntik Menopur ini wajib dilakukan dalam waktu (jam) yang sama dengan toleransi maximum +/- 1 jam. Sebenarnya suntik Menopur dan Cetrotide ini bisa dilakukan sendiri di rumah biar ga repot bolak-balik BIC akan tetapi menurut saya agak ribet ya cara mencampurkan obat suntiknya karena ada bahan kering dan bahan cairannya. Jadi saya cari praktis dan amannya saja yaitu minta tolong disuntikin sama suster. Oya, Obat Menopur dan Cetrotide ini wajib disimpan di chiller kulkas dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung.

Dikarenakan saya tinggalnya di Tangerang, bisa stres dijalan kalau tiap malam bolak-balik BIC terus, oleh karena itu saya direkomendasikan suster BIC yang tinggal di daerah Alam Sutera, Serpong Tangerang. Tapi karena suntiknya dilakukan diluar BIC, biasanya ada tarif khususnya. Berbeda dengan kalau suntik di BIC yang gratis. Diinfokan kalau untuk jasa home care alias suster datang ke rumah kita tarifnya Rp. 210.000 per kedatangan ke rumah tapi kalau kita yang datang sendiri ke rumah susternya, harganya bisa lebih murah. Suster sendiri tidak mematok tarifnya berapa tapi saya ngasihnya Rp. 100.000 tiap kali datang ke rumah susternya.

Saya diresepkan suplemen Calvit-D 1 kali (sehari) x 1 tablet untuk tambahan kalsium dan Astria 4 mg 1 kali (sehari) x 1 tablet sebagai antioksidan.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Menopur 6 vial dan Cetrotide 3 ampul) = Rp. 5.789.700
– Suplemen (Calvit-D 15 tablet, Astria 4 mg 15 capsule) = Rp. 184.500
– Test Hormon di Lab Prodia (Estradiol) = Rp. 443.000
TOTAL = Rp. 7.002.200

22 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

23 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

24 Desember 2016

Datang pagi ke BIC untuk test hormon Progesteron dan Estradiol sesuai instruksi dokter. Sorenya konsultasi ke dokter dengan membawa hasil lab-nya. Hasil dari USG Transvaginal, tebal endometrium (dinding rahim) = 8.3 mm dan ukuran sel telur di ovarium kanan (hanya 2 yang berkembang) 19 x 16 mm dan 14 x 19 mm. Hasil test hormon Progesteron = 0,44 ng/ml dan Estradiol = 314 pg/ml. Menurut dokter sel telur saya belum matang dan belum siap OPU (Ovum Pick Up) jadi saya disuruh lanjut suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide lagi malam ini dan besok.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Menopur 4 vial dan Cetrotide 2 ampul) = Rp. 3.860.400
– Test Hormon di Lab Prodia (Progesteron dan Estradiol) = Rp. 910.000
TOTAL = Rp. 5.355.400

25 Desember 2016

Suntik Menopur 150 IU dan Cetrotide

26 Desember 2016

Datang pagi ke BIC untuk test hormon Progesteron dan Estradiol sesuai instruksi dokter. Sorenya konsultasi ke dokter dengan membawa hasil lab-nya. Hasil dari USG Transvaginal, tebal endometrium (dinding rahim) = 11 mm dan ukuran sel telur di ovarium kanan (hanya 2 yang berkembang) 25 x 21 mm dan 22 x 27 mm. Hasil test hormon Progesteron = 0,66 ng/ml dan Estradiol = 543 pg/ml. Menurut dokter, sel telur saya sudah matang dan siap OPU tgl 28 Desember 2016. Karena hasil tes sperma suami kurang bagus, dokter menyarankan untuk treatment IVF tambahan dengan IMSI. Saya disuruh suntik Ovidrel (pemecah telur) di jam yang ditentukan dokter sesuai dengan jadwal OPU-nya. Biasanya jadwal OPU adalah 12 jam dari jadwal suntik Ovidrel. Saya suntik Ovidrel pk. 21.30 WIB dibantu oleh suster BIC. Hari ini disuruh menyelesaikan administrasi pembayaran sebelum OPU dan ET (embrio Transfer)

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
– Obat dan peralatan suntik (Ovidrel 250 mg 1 ampul) = Rp. 765.600
– IVF Treatment Fee (OPU, Lab Embriologi dan ET) = Rp. 31.900.000
– Test Hormon di Lab Prodia (Progesteron dan Estradiol) = Rp. 910.000
TOTAL = Rp. 34.160.600

28 Desember 2016

Langsung datang ke lantai 2 BIC 1 jam sebelum jadwal tindakan OPU. Saya dijadwalkan OPU pk. 9.30 WIB. Saya disuruh menyelesaikan administrasi pembayaran untuk metode IMSI terlebih dahulu.

Sebelum tindakan OPU, saya dibius total sehingga tidak merasakan sakit apa-apa. Tindakan OPU ini mirip dengan operasi sedot kista yang saya lakukan bulan lalu hanya saja kali ini sel telurnya diambil dan langsung masuk ke tabung lab. Tindakan berlangsung selama 30 menit kemudian saya dibawa ke ruang recovery sampai sadar sepenuhnya. Suster memberitahukan hasil OPU saya: 1 folikel dan 1 Oocyte yang artinya hanya ada 1 sel telur yang ada isinya sedangkan satunya kosong. Hiks, tambah kecil aja kesempatan saya. Selesai OPU dikasih obat-obatan: Lanfix 100 mg (antibiotik) 2 kali (sehari) x 1 tablet dan Mefinal 500 mg (anti nyeri) 2 kali (sehari) x 1 tablet . Kemudian saya sekalian nebus resep yang sebelumnya: Cavit D3 (suplemen kalsium) 2 kali (sehari) x 1 tablet dan Folicoc 5 mg (suplemen asam folat) 1 kali (sehari) x 1 tablet. Setelah ini bisa pulang dan tinggal tunggu kabar dari Suster Rima tentang embrio-nya. Ternyata saya alergi dong sama obat Mefinal ini, bikin mata saya bengkak. Alhasil saya ga minum lagi obatnya dan juga menurut saya sakit pasca OPU-nya ga terlalu berasa koq.

Biaya:
– IVF Program Booking Fee = Rp. 1.500.000
– IMSI Treatment Fee = Rp. 7.500.000
– Obat-obatan (Lanfix 100 mg 20 capsule dan Mefinal 500 mg 4 capsule) = Rp. 577.400
– Obat-obatan (Cavt D3 15 tablet dan Folicoc 5 mg 15 tablet) = Rp. 84.000
TOTAL = Rp. 9.911.400

30 Desember 2016

Dapat kabar dari Suster Rima kalau embrio saya yang cuma satu-satunya itu berkembang dengan grade excellent. Suster menanyakan kembali ke saya, embrio ini mau difreeze seperti saran dokter (dan ulang IVF lagi next cycle) atau mau di transfer? Dengan pertimbangan bahwa embrio saya cuma 1, kemudian kalau difreeze ada kemungkinan 20% rusak selnya (menurut embriologist) dan juga pada intinya saya harus ngulang IVF lagi dari awal, akhirnya saya dan suami sepakat supaya embrionya ditransfer saja sambil menunggu siapa tau ada keajaiban. Dikarenakan dokter Arie sedang cuti maka kami berinisiatif konsultasi ke dokter Irham mengenai transfer embrio ini sekalian minta beliau yang melakukan ET. Dokter Irham mengatakan kalau rahim saya siap menerima embrio ini dan kami pun makin mantap dengan keputusan kami.

Biaya:
– Konsultasi dokter = Rp. 585.000
TOTAl = Rp. 585.000

31 Desember 2016

Saatnya Embrio Transfer. Proses embrio transfer cuma berlangsung sekitar 30 menit. Sebelumnya kita disuruh banyak minum supaya kantung kemih penuh dan mempermudah pembacaan monitor USG (kali ini pakai USG perut). Kemudian dari vagina dimasukkan kateter dan embrionya. Kita bisa melihat posisi embrio di rahim setelah ditransfer lewat layar monitor. Pasca ET kita disuruh berbaring di ruangan ET selama minimal 30-60 menit. Setelah selesai, suster akan memberikan paket obat-obatan yang harus kita konsumsi pasca ET untuk menunjang keberhasilan program selama 2 weeks waiting (2 WW) sekaligus menjelaskan cara pakainya. Obat yang diberikan adalah:
– Utrogestan 200 mg (penguat kandungan, dimasukkan via vagina) 2 kali (sehari) x 1 capsule
– Ascardia 80 mg (anti oksidan) 1 kali (sehari) x 1 tablet
– Folicoc 5 mg (suplemen asam folat) 1 kali (sehari) x 1 tablet
– Crinone 8% vagina gel (penguat kandungan, dimasukkan via vagina) 1 kali (sehari) x 1 tube
– Obat dan peralatan suntik Pregnyl 1500 IU (penguat kandungan, suntik di pantat) Suntik tanggal 1 Januari 2017 dan 4 Januari 2017

Biaya:
– Obat-obatan (Crinone 8% 15 tube, Pregnyl 1500 IU 2 ampul beserta peralatan suntiknya) = Rp. 1.868.200
– Obat-obatan (utrogestan 200 mg 30 capsule, Ascardia 80 mg 15 tablet, Folicoc 5 mg 15 tablet) = Rp. 811.500
TOTAL = Rp. 2.679.700

Jadi secara keseluruhan program IVF Mini Stimulation ini menghabiskan biaya Rp. 63.171.300 dari awal sampai dengan embrio transfer, belum termasuk ongkos transport PP dari rumah ke BIC ya. Memang harga ini lebih murah dibandingkan IVF normal yang range harganya 70 – 100 juta (tergantung kasus masing-masing orang). Untuk cerita tentang 2 weeks waiting dan hasil-nya akan saya update terpisah ya.

Try To Conceive

Operasi Sedot Kista

Oktober 2016

Dari hasil USG dengan dr. Arie di bulan Oktober 2016, ditemukan kista di indung telur saya sebelah kanan. Ukurannya sekitar 2,5 cm. Menurut dokter, jenis kista ini adalah kista hormonal. Kista ini adalah cangkang sel telur saya yang tidak pecah dari siklus menstruasi sebelumnya. Setelah dilihat dari riwayat USG saya di BIC, kista ini bahkan sudah ada dari bulan Juli 2016. Kista ini tidaklah berbahaya (tidak ada pertambahan ukuran dari bulan Juli sampai dengan November 2016, saya pun tidak ada gejala apa-apa seperti nyeri perut saat haid), hanya saja dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi saya. Keseimbangan hormon reproduksi ini memegang peranan penting saat proses IVF nantinya. Oleh karena itu dr. Arie mengatakan kista ini harus dihilangkan dulu sebelum mulai program IVF untuk meningkatkan success rate-nya. Saat itu dokter memberikan opsi ke saya untuk suntik pemecah telur atau sedot kista. Dr. Arie mengatakan untuk opsi suntik tersebut agak gambling karena kadang kista-nya belum tentu mau pecah tapi memang dari segi cost jauh lebih murah daripada opsi satunya. Saat itu saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan suntik saja.

Selesai konsul dokter dan pembayaran tanggal 31 Oktober 2016 (H.23) malam, saya langsung diarahkan suster untuk suntik pemecah telur, Ovidrel 250 mg. Selain itu saya juga diberi obat minum Provera 10 mg dengan dosis 1 x 1 hari sebanyak 14 tablet yang bertujuan untuk membantu proses pemecahan cangkang telur tersebut. Menurut dokter efek samping dari mengkonsumsi provera ini adalah mundurnya jadwal menstruasi. Saya disuruh datang untuk kontrol kembali saat mens hari ke-2 siklus berikutnya.

Biaya:
– Konsul dokter + USG di BIC = Rp. 585.000
– Ovidrel injeksi 250 mg = Rp. 765.000
– Provera 10 mg = Rp. 214.900

November 2016

Saya baru dapat mens kembali tanggal 14 November 2016, mundur 5 hari dari jadwal siklus sebelumnya. Besoknya saat mens hari ke-2 saya konsul kembali ke dr. Arie. Ternyata kista saya ga merespon Ovidrel dan Provera. Kista itu tetap bergeming di kediamannya, ukurannya juga tidak mengecil, huhuhu. Oleh karena itu dr. Arie menyarankan saya untuk melakukan operasi sedot kista atau istilah di BIC-nya disebut tindakan fungsi kista. Operasi sedot kista ini direncanakan pada tanggal 6 Desember 2016, setelah ovulasi dan sebelum mens siklus berikutnya. Saya tidak dikasih obat apa-apa hanya surat rujukan untuk tes lab darah di lab prodia (cabang manapun) sebagai standar persiapan prosedur operasi. Parameter yang dicek adalah hematologi lengkap, waktu pendarahan, waktu pembekuan dan glukosa sewaktu. Tidak perlu puasa untuk melakukan tes lab ini. Hasil lab harus dibawa saat ke RS dan diserahkan ke dokter.

Biaya:
Konsul dokter + USG di BIC = Rp. 585.000

Desember 2016

Setelah berkonsultasi dengan agen asuransi saya, ternyata operasi kista ini bisa dicover dengan asuransi. Tapi syaratnya adalah saya harus dirawat inap minimal 2 x 24 jam di rumah sakit. Nah, permasalahannya operasi sedot kista ini di BIC dikategorikan sebagai one day care. Tindakan pagi dan sorenya pasien sudah boleh pulang. Hal ini juga disebabkan karena di BIC ga ada kamar rawat inapnya. Oleh karena itu saya berkoordinasi dengan dr. Arie dan susternya kalau saya mau rawat inap di RSIA Bunda Jakarta (satu grup dengan BIC dan lokasinya pun berdekatan) dari H-1 sebelum tindakan dan H+1 setelah tindakan. Tindakan tetap hanya bisa dilakukan di BIC karena alatnya hanya ada di BIC. Jadi dari RSIA Bunda Jakarta saya akan diantar jemput ke BIC.

  • 2 Desember 2016
    Saya disuruh tes lab darah untuk prosedur persiapan operasi. Saya memilih Prodia cabang Gading Serpong, Tangerang saja supaya dekat dari rumah. Hasil lab saya minta untuk dikirim ke RSIA Bunda dan via e-mail saya. Saat itu di Prodia lagi ada promo diskon 8% untuk pembayaran menggunakan kartu kredit Bank Mandiri.

    Biaya:
    Test lab darah di Prodia = Rp. 248.000 (setelah diskon jadi Rp. 228.160)

  • 3 Desember 2016
    Saya disuruh ketemu dengan dokter anastesi di RSIA Bunda Jakarta dengan membawa hasil test lab kemarin. Dokter Anastesi yang saya temui bernama dr. Ressi Bhakti. Dokter anastesi ini ruang prakteknya di dekat kamar operasi, hehe. Dr. Ressi mendata riwayat penyakit dan alergi saya, kemudian membaca hasil test lab darah saya dan melakukan pemeriksaan fisik (denyut jantung, tiroid, dan tekanan darah). Menurut dokter karena Hb (hemoglobin) saya bagus nilainya jadi pendarahannya ga akan banyak dan tidak perlu cadangan darah. Untuk alergi karena belum ada riwayat jadi saya bilang tidak tahu. Intinya secara pemeriksaan dokter dan lab saya dipastikan siap untuk tahap operasi. Dr. Ressi juga sedikit menjelaskan prosedur anastesi yang akan dilakukan nanti. Saya akan dibius total. Obat bius akan dimasukkan melalui topper infus. Obat bius akan bekerja langsung (hanya dalam 10 hitungan saja kita sudah langsung tak sadarkan diri). Dilarang untuk memakai parfum, perhiasan, gigi palsu (lepasan) dan retainer gigi (lepasan). Kalau untuk gigi palsu dan retainer gigi lepasan, alasannya adalah kalau ternyata operasi berjalan lebih lama dari yang diperkirakan kemungkinan obat bius akan ditambah berupa gas lewat hidung dan bisa jadi dibutuhkan selang bantu napas yang dimasukkan dari mulut. Nah, gigi palsu dan retainer gigi lepasan itu takutnya menyusahkan masuknya selang bantu napas.

    Biaya:
    Konsul dokter anastesi = Rp. 335.000

  • 5 Desember 2016
    Saya datang ke RSIA Bunda Jakarta untuk request kamar inap dengan sudah membawa barang-barang pribadi persiapan untuk menginap di RS. Sistem di RS ini untuk kamar inap ga bisa dibooking jadi harus go show langsung, sedapatnya kamar apa yang lagi kosong jadi ga bisa terlalu milih-milih. Kebetulan saat saya datang kamar inap yang available hanya yang kelas 2 (harga Rp. 550.000 / malam) dan kelas perdana (harga Rp. 1.600.000 / malam). Padahal saya pengen dapat yang kelas utama (Rp. 1.100.000 / malam) yang ada extra bed-nya biar suami bisa nemanin di kamar tapi saat itu semua kamar utama sudah terisi dan belum ada pasien yang berencana keluar hari itu. Sehubung margin asuransi saya untuk kamar rawat inap maksimal hanya Rp. 750.000 / malam akhirnya saya ambil kamar kelas 2 saja. Untuk kamar kelas 2 ini, 1 ruangan ada 2 bed jadi kita sharing room dengan pasien lain. Keluarga ga boleh ada yang menginap di ruangan. Suami saya akhirnya harus buka kamar hotel lagi biar bisa dekat sama saya, dia akhirnya memilih Hotel Cikini yang murah meriah dan tidak begitu jauh dari RS. Sebenarnya Hotel Marcopolo jauh lebih dekat daripada Hotel Cikini, tinggal nyebrang jalan aja dari RS, tapi harganya jauh lebih mahal, hehe. Opsi bolak balik ke rumah Tangerang agak tidak memungkinkan (macetnya gila-gilaan di jam berangkat kantor) karena besok saya dapat jadwal operasi pagi di BIC jadi jam 9 pagi saya harus sudah standby di BIC. Saya diwajibkan untuk puasa 8-10 jam untuk operasi besok.
    Fasilitas kamar kelas 2 di RSIA Bunda Jakarta ini cukup nyaman, makanan-nya enak-enak pula. Standar asupan makanan di RS ini sesuai standar untuk ibu hamil dan menyusui. Untung aja saya ga lama-lama disini, kalau ga bisa-bisa badan saya jadi bengkak gendut karena kebanyakan makan, hahaha. Teman sekamar saya adalah ibu hamil yang lagi nunggu pembukaan. Padahal saya sih sudah mempersiapkan diri sebelumnya untuk sharing kamar dengan ibu yang baru melahirkan dan drama tangisan bayi di tengah malam. Namanya kan juga nginap di RSIA gitu lho, hehehe.
    Oya, walaupun beda badan usaha antara BIC dan RSIA Bunda Jakarta, tapi karena mereka masih satu grup perusahaan, kita bisa request untuk 1 billing aja nantinya biar ga rancu saat klaim ke pihak asuransi.
  • 6 Desember 2016
    Saya diantar naik mobil dengan ditemani seorang suster dari RSIA Bunda Jakarta ke BIC. Suster kemudian menyerahkan berkas medis saya ke resepsionis ruang operasi di BIC lantai 2. Saya kemudian diantar ke ruang ganti. Saya disuruh mengganti pakaian yang saya kenakan dengan kimono batik dan disuruh menggunakan penutup kepala. Suami saya juga diijinkan masuk untuk menemani sampai di ruang persiapan operasi. Tentunya pak suami juga disuruh memakai penutup kepala dan jubah khusus. Ruangan operasi saya ini adalah ruangan yang sama untuk OPU (Ovum Pick Up) para pasien IVF.
    Saya kemudian disuruh berbaring di ranjang di ruang persiapan operasi. Topper infus pun dipasang di punggung tangan kiri saya.Tak lama kemudian dokter jaga pun datang memeriksa tekanan darah dan denyut jantung saya. Sekali lagi saya ditanya tentang riwayat alergi obat dan saya pun menjawab tidak tahu.
    Saya masuk ke ruang operasi sekitar jam 10.30. Suami tidak boleh ikut masuk dan disuruh menunggu diluar. Ruang operasi ini ga seperti di film yang ada bed dan lampu sorot besar nan terang-nya. Ruang operasi ini suasananya ga begitu menyeramkan. Saya disuruh duduk di kursi yang ada penyangga kaki-nya kayak orang melahirkan itu. Kemudian disuruh berbaring rileks dan posisi pantat diatur sedemikian rupa karena sedot kista akan dilakukan via vagina tanpa proses bedah. Topper infus saya dibuka dan diinjeksikan sesuatu cairan (obat bius) dan ga lama kemudian saya ga sadarkan diri! Operasi berjalan selama kurang lebih 30 menit. Saya ga berasa sakit dan ga ingat apapun yang sehubungan dengan operasi. Tahu-tahu saat sadar dan mulai membuka mata saya sudah di ruang pemulihan operasi. Suami juga sudah standby disamping saya saat saya buka mata. Selang di hidung pun dicopot oleh suster.

    img_20161206_1255141
    Mata Bengkak Karena Reaksi Alergi Antibiotik

    Saat saya sadar saya melihat lengan kanan saya ada titik biru dan ditandai oleh pulpen. Rupanya itu adalah skin test sebelum obat antibiotik injeksi-nya disuntikkan lewat topper infus kita. Ternyata saya alergi dong dengan antibiotik injeksi-nya, Trijec (Ceftriaxone Disodium). Trijec bikin mata saya bengkak dan kulit saya bentol-bentol. Padahal itu masih skin test aja lho.. Gimana jadinya kalau langsung disuntik 1 ampul ke peredaran darah saya ya, ckck. Akhirnya obat antibiotik saya diganti dengan obat minum saja yang namanya Lanfix (Cefixime 100 mg) dengan dosis minum 2 x 1 hari sampai habis . Kemudian dikasih obat anti nyeri juga yang namanya Zaldiar (Tramadol & Paracetamol) dengan dosis 2 x 1 hari.

    img_20161207_100102
    Ini cairan kista yang disedot

    Setelah operasi saya pun dijemput kembali oleh suster di RSIA dengan menggunakan mobil. Efek obat bius masih berasa banget dan bikin saya kleyengan. Belum lagi perasaan mengantuk yang bikin kita tidur terus. Kata suster sih wajar karena efek obat bius masih bisa tersisa di tubuh kita sampai 2 x 24 jam ke depan. Oleh karena itu kita disuruh banyak minum supaya sisa obat bius-nya bisa terbuang lewat urine. Saya tidak mengalami efek nyeri perut setelah operasi. Perutnya nyeri sedikit aja seperti kalau lagi mens. Tidak ada keluar darah juga saat buang air kecil.

  • 7 Desember 2016
    Saya keluar RS dan kembali ke rumah setelah visit dokter dan menyelesaikan administrasi RS.

    Biaya:
    – Kamar Rawat Inap Kelas 2 RSIA Bunda Jakarta 2 malam = Rp. 1.100.000
    – Visit dokter = Rp. 220.000
    – Tindakan Operasi Sedot Kista = Rp. 8.279.250
    – Obat Minum setelah tindakan operasi = Rp. 656.400

Setelah ini saya disuruh balik kontrol lagi ke dr. Arie saat mens hari ke-2 untuk melihat apakah kista-nya sudah benar-benar luruh dan rahim saya siap untuk memulai IVF.