Health, Beauty & Lifestyle

Ambein / Wasir

Tulisan kali ini bukan tentang saya, tapi tentang penyakit menahun papa saya yaitu ambein atau biasa dikenal sebagai wasir juga. Penyakit papa saya ini sudah lama sekali, sekitar 3 tahun. Dari yang awalnya stadium ringan menjadi stadium sedang karena tidak pernah mau diajak ke dokter untuk periksa dan diberi pengobatan yang sesuai.

Dikutip dari Wikipedia: “Wasir atau ambeien adalah kondisi patologis membengkak atau meradangnya Hemorrhoid, struktur vaskular dalam saluran anus yang membantu kontrol buang air besar. Dalam kondisi fisiologisnya, bagian ini bertindak sebagai bantalan yang tersusun atas saluran arterio-vena dan jaringan ikat. Gejala patologis wasir bergantung pada jenisnya. Wasir internal biasanya timbul bersama perdarahan rektum tanpa rasa nyeri, sedangkan wasir eksternal dapat menunjukkan beberapa gejala atau jika terkena trombosis akan ada nyeri signifikan dan pembengkakan di area anus.

Papa saya sering kali mengeluhkan anus-nya keluar kalau mengedan terlalu keras atau saat diare (frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari). Malah kadang disertai darah sedikit. Daripada tambah parah, saya dengan agak memaksa menyuruh papa saya untuk konsultasi ke dokter. Kebetulan saat itu papa saya sedang liburan ke rumah saya, jadi saya ajak papa saya untuk berobat ke RS Siloam Lippo Village Karawaci.

Awalnya saya sempat bingung, mau konsultasi ke dokter umum atau ke dokter spesialis bedah untuk kasus papa saya ini. Tapi, pada akhirnya saya memilih dokter spesialis bedah umum (general surgeon) dengan pertimbangan kalau ternyata grade ambein-nya sudah parah dan harus dioperasi maka lebih baik langsung ke dokter bedah saja, tidak perlu ganti-ganti dokter lagi (dari dokter umum ke dokter bedah) kemudian. Dari hasil browsing di internet, ada beberapa orang yang memberikan review bagus untuk kasus operasi ambein dengan dokter Anthony Berlim Sp.B yang memang praktek di RS Siloam Lippo Village.

23 Juni 2018

Dengan penuh paksaan, akhirnya papa saya mau juga datang ke ruang konsultasi dr. Anthony Berlim Sp.B di RS RS Siloam Lippo Village. Ternyata dokter-nya masih cukup muda, tidak seperti yang saya bayangkan. Dokter kemudian melakukan tindakan anuskopi kepada papa saya: memasukkan corong plasik transparan ke dalam anus dengan bantuan pelumas. Tujuannya untuk melihat ke dalam anus dan memastikan kondisi grade ambein-nya.

Menurut dokter, grade ambein papa saya adalah grade 2 menuju 3 (ada benjolan / pembengkakan di dalam dan luar anus) dimana kalau sudah grade 3 dan 4 biasanya harus berakhir dengan operasi. Dari hasil membaca review orang-orang tentang operasi ambein, saya jadi takut sendiri karena katanya sakit sekali setelah obat bius-nya selesai bekerja. Sakit-nya bisa sampai hampir seminggu pula. Tidak kebayang bagaimana papa saya yang sudah berumur 62 tahun harus melalui proses menyakitkan seperti itu. Untungnya karena papa saya masih grade 2 menurut dokter masih bisa dbantu dengan cara non operasi, misalnya dengan minum obat dan dipasang rubber band untuk mengikat dinding anus-nya.

Pertemuan pertama ini, dokter menuliskan resep untuk 1 bulan dan papa saya diminta untuk kontrol kembali bulan depan. Akan tetapi karena papa saya tinggal di Samarinda maka saya bilang ke dokter kalau papa saya baru bisa datang kembali pas Oktober 2018. Dokter pun tidak masalah dengan hal tersebut.

Obat minum yang diresepkan dokter untuk kasus ambein papa saya adalah Ardium 1000 mg dengan dosis 2 x 1. Obat ini berfungsi untuk anti peradangan dan diharapkan bisa mengecilkan benjolan / pembengkakan yang ada di anus bagian dalam. Tidak disarankan untuk meminum obat ini dalam waktu lebih dari 3 bulan. Efek dari meminum obat ini, menurut papa saya, saat jongkok atau duduk lama anus-nya tidak keluar dan nyeri lagi. Tapi kalau buang air besar-nya terlalu sering atau ngedan keras sih anus-nya masih keluar juga dan harus dibantu dengan tangan untuk memasukkannya kembali.

Semoga saja pertemuan berikutnya dengan dokter grade ambein papa saya sudah lebih baik sehingga tidak perlu tindakan macam-macam. Dari yang saya baca, tindakan operasi ambein bisa memakan biaya 15 – 20 juta (bisa ditanggung oleh BPJS) dan ada resiko terjadi pengecilan lubang anus yang menyebabkan susahnya untuk buang air besar. Pokoknya kalau bisa menempuh jalan non operasi akan lebih baik daripada operasi.

Expenses:

  • Konsultasi dr. Anthony Berlim di RS Siloam Lippo Village = Rp. 250.000
  • Tindakan anuskopi dengan dr. Anthony Berlim di RS Siloam Lippo Village = Rp. 287.500
  • Ardium 1000 mg sebanyak 15 tablet (untuk 2 minggu) = Rp. 308.000

TOTAL =  Rp. 895.500

Note:

Saya tidak mengambil semua obat yang diresepkan di apotek RS Siloam Lippo Village karena harga obat disana termasuk mahal. Saya ketemu harga yang lebih murah di Apotek Berkat Karawaci yaitu 159.300 untuk 1 strip (10 tablet) Ardium 1000 mg.

 

Iklan
Try To Conceive

3rd Insemination / IUI

Pada awalnya inseminasi ke-3 direncanakan di bulan Juli 2018. Akan tetapi karena pak suami ada isu akan berangkat ke site tambang dalam waktu yang cukup lama di bulan tersebut maka diputuskan inseminasi akan dilakukan di bulan Juni 2018. Jujur saja, saya melakukan inseminasi kali ini tanpa banyak persiapan apa-apa. Bulan Juni 2018 ini saya sibuk dengan urusan order kue lebaran Liz Kitchen. Untung saja dokter dan tempat prakteknya tidak terlalu jauh dari rumah jadi masih bisa disempat-sempatkan untuk berkunjung.

Kalau di inseminasi ke-2 saya masih meniatkan diri untuk olah raga dan makan yang sehat maka inseminasi ke-3 ini tidak sama sekali. Saya sangat sibuk menyiapkan pesanan Liz Kitchen. Dari awal terima order, baking, packing dan antar pesanan kue semua saya lakukan sendiri. Bahkan sepertinya saya tidak punya waktu untuk memikirkan nasib inseminasi kali ini. Jujur saja saat itu saya agak pesimis dengan hasilnya dan takut gagal lagi seperti nasib inseminasi ke-2 (bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya).

Tak disangka-sangka, inseminasi ke-3 ini bisa dilakukan sampai tahap akhir dan tidak gagal di tengah jalan seperti inseminasi ke-2. Kalau untuk hasil akhir positif atau tidak ya itu lain lagi halnya. Semua tergantung Yang Diatas. Paling tidak saya happy karena proses inseminasinya lancar.

30 Mei 2018

Saya datang konsultasi ke dokter Handojo di klinik Sehati saat haid hari ke-2. Antrian pasien cukup ramai. Saya baru dapat giliran setelah 2 jam menunggu. Dari hasil USG transvaginal terlihat ada 2 folikel di ovarium kanan dan 2 folikel plus kista 1,8 cm di ovarium kiri (kista fungsional yang memang sudah ada dari pemeriksaan sebelumnya). POD no free fluid. Tebal rahim 8 mm dan not triliminar. Program langsung dimulai dari hari haid ke-2 ini:

  • Fertin 50 mg 1 x 2 (malam hari), diminum dari hari haid ke-2 sampai ke-6.
  • Gonal F Injection Pen 1 x 75 IU (malam hari), suntik dari hari haid ke-7 sampai ke-10.
  • Asam Folat 1 x 1 (saya pakai Folavit 400 mcg), diminum siang hari sehabis makan.
  • Prednison 5 mg 1 x 1 (pagi hari), diresepkan 10 tablet
  • DHEA 25 mg 1 x 1 (malam hari), diresepkan 10 tablet

Prednison dan DHEA adalah obat-obatan kategori steroid dan harus menggunakan resep dokter mengingat faktor resiko-nya. Menurut dokter Handojo kedua obat tersebut bagus untuk orang dengan AMH rendah seperti saya. Berfungsi untuk mengatasi auto immune juga terhadap obat-obatan hormon yang lain sehingga lebih receptive. Dikarenakan Prednison dan DHEA tidak dijual di Klinik Sehati maka kami harus mencarinya di luar.

Dokter menjadwalkan konsultasi kembali di tanggal 8 Juni 2018 untuk melihat respon tubuh saya terhadap pengobatan.

Expenses:

  • Konsultasi dokter di Klinik Sehati dan USG transvaginal = Rp. 450.000
  • Fertin 50 mg, 10 tablet, di Klinik Sehati = Rp. 200.000
  • Prednison 5 mg, 10 tablet, di Farmasi RS Omni Alam Sutera = Rp. 1.872
  • DHEA 25 mg, 30 tablet, merk Nutrimax, di Guardian = Rp. 125.000 (Harga diskon)
  • Gonal F Injection Pen 300 IU, di RS Omni Alam Sutera = Rp. 2.510.392

TOTAL = Rp. 3.287.264

8 Juni 2018

Dokter Handojo hari ini praktek pagi di RS. Omni Alam Sutera. Saya sampai disana sekitar pk. 10.00. Antrian pasien tidak begitu banyak. Dari hasil USG transvaginal, tebal rahim 13 mm dan trilaminar. Sel telur berkembang baik. Di ovarium kanan ada 1 folikel ukuran 1,4 cm dan kista ukuran 1,8 cm. Di ovarium kiri ada 1 folikel ukuran 1,9 cm dan 1 folikel ukuran 1,6 cm. POD no free fluid. Menurut dokter, folikel yang berukuran 1,9 cm dan 1,7 cm tersebut sudah siap untuk inseminasi. Beberapa pasien beliau yang memiliki folikel 1,5 cm juga terbukti bisa hamil katanya. Saat itu saya langsung disuntik pemecah telur, Ovidrel 250 mg, sekitar pk. 11.00 siang. Dokter Handojo sendiri yang langsung menyuntik saya. Seperti biasa suntikannya subcutaneous, yaitu dibawah kulit perut bawah. Entah kenapa saya selalu merasa kesakitan kalau dokter Handojo yang menyuntik. Sepertinya karena saat inject cairannya terlalu cepat jadi berasa perih sekali.

Dokter Handojo menyarankan saya untuk melakukan inseminasi di RS Omni Alam Sutera dibandingkan di Klinik Sehati. Menurut beliau metode washing sperma di RS Omni Alam Sutera (metode density gradient) lebih bagus untuk sperma yang kualitas low – medium seperti halnya suami saya. Memang harga inseminasi di RS Omni Alam Sutera sedikit lebih mahal daripada di klinik Sehati tapi kalau kualitasnya lebih bagus kenapa tidak? Untuk perbandingan, harga tindakan inseminasi dan washing sperma di RS Omni Alam Sutera adalah 2,8 Juta Rupiah, sedangkan di Klinik Sehati adalah 1,5 Juta Rupiah.

Dokter Handojo kemudian berkoordinasi dengan pihak Indo Fertility di lantai 3 RS Omni Alam Sutera untuk membuat janji inseminasi. Saya disuruh datang pk. 06.30 pagi untuk pengambilan sampel sperma suami dan kemudian di-washing terlebih dahulu sebelum dilakukan inseminasi pk. 09.00 pagi.

Expenses:

  • Konsultasi dokter di RS Omni Alam Sutera dan USG transvaginal = Rp. 580.000
  • Ovidrel Injeksi 250 mcg , di RS Omni Alam Sutera = Rp. 827.970

TOTAL = Rp. 1.407.970

9 Juni 2018

Untuk pertama kalinya saya dan pak suami menginjakkan kaki di ruangan Indo Fertility RS Omni Alam Sutera di lantai 3. Ruangannya bagus, comfy dan modern. Saat melihat poster team dokter yang ada di depan ruangan, saya dan suami agak terkejut karena ada dokter yang cukup terkenal yang biasanya praktek di Menteng. Team dokter yang ada di Indo Fertility adalah: Dr.dr. Sudirmanto, SpOG (K), dr. Adrian Setiawan, SpOG, dr. Indra N.c. Anwar, SpOG, dan Dr. dr. Taufik Jamaan, SpOG. Dokter Indra dan dokter Taufik adalah salah satu team dokter di Bunda Interational Clinic (BIC). Bahkan saya sendiri punya pengalaman inseminasi 1 kali dengan dokter Taufik saat dulu di BIC.

Saat tiba di ruangan Indo Fertility kami melapor ke meja resepsionis. Saat itu ada seorang suster yang standby. Setelah konfirmasi appointment, pak suami disuruh masuk ke ruangan khusus untuk mengeluarkan sampel sperma. Setelah itu sampel sperma diserahkan kepada petugas lab untuk proses washing. Dikarenakan proses washing memakan waktu sekitar 1,5 jam maka saya dan suami pergi sarapan dulu di Pasar Delapan (Pasar modern Alam Sutera) yang berada tidak jauh dari RS Omni Alam Sutera.

Tepat pk. 08:30 kami tiba kembali di ruangan Indo Fertility. Kami hanya menunggu sebentar sebelum saya dipanggil masuk ke ruangan inseminasi. Saya disuruh mengatur posisi berbaring di kursi tindakan. Dokter Handojo pun sudah tiba dan menjelaskan hasil analisa sperma kepada suami saya. Dari hasil test lab, sperma pak suami banyak yang bentuknya cacat atau biasa disebut Teratospermia. Bagi saya hasil test ini jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya dimana pak suami didiagnosis dengan OligoAsthenoTeratospermia alias spermanya kurang jumlah, kurang gerak dan banyak cacat. Sebelum proses inseminasi ke-3 ini saya memang membelikan multivitamin yang katanya bisa meningkatkan kualitas sperma. Multivitamin yang saya beli saat itu adalah Blackmores Conceive Well Men. Tapi menurut dokter Handojo setelah melihat kandungan multivitamin tersebut, ada kandungan yang kurang yaitu Lipoic Acid (ALA) yang berguna untuk memperbaiki DNA sperma. Oleh karena itu pak suami diresepkan obat bernama Lipesco dengan dosis 1 x 1/2 tablet.

Tindakan inseminasi hari ini tidak selancar yang saya kira. Jalan rahim saya menurut dokter susah ditembus dengan kateter karena bentuknya tidak bulat normal dan agak miring ke kanan. Selain itu ditemukan pula polip di mulut rahim, walaupun menurut dokter keberadaan polip itu semestinya tidak akan mengganggu injeksi sperma. Rasanya baru kali ini saya mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses yang terjadi. Dulu sewaktu inseminasi di BIC dengan dokter Taufik, dokter tidak mengatakan apa-apa dan proses inseminasi berjalan dengan cepat dan tanpa rasa sakit. Curiganya waktu itu mungkin karena terlihat jalan rahim saya susah maka dokter hanya melakukan injeksi sperma di mulut rahim saja. Kenapa saya bilang begitu? Karena proses inseminasi kali ini sakit nyeri sekali dan sampai berdarah-darah karena dokter Handojo mencoba untuk memasukkan (secara paksa) kateter sampai titik terdalam rahim saya yang paling dekat dengan tuba fallopi. Sebenarnya kalau posisi jalan rahimnya baik dan benar proses inseminasi ini akan jauh lebih mudah dan cepat, tidak seperti saya. Konon kasus jalan rahim yang bermasalah seperti saya ini memang agak langka.

Dari penjelasan itu saya jadi mendapatkan pencerahan kenapa saya selama ini susah sekali untuk hamil secara alami. Selain faktor sperma yang lemah ditambah lagi perjalanan sang sperma menuju sel telur harus melalui jalan yang curam dan susah dilewati. Oleh karena itu memang saya butuh bantuan secara medis.

Pengerjaan inseminasi yang membuat stress karena sakit ini berlangsung selama 30 menit. Selama masa menyakitkan tersebut saya sudah hampir menyerah dan mau pulang ke rumah saja, haha. Sakitnya itu seperti mules saat HSG. Dalam hati saya, mungkin seperti ini rasanya kontraksi orang mau melahirkan ya? Luar biasa perjuangannya. Selesai tindakan, dokter menuliskan resep untuk saya obat penguat kandungan yang harus dimasukkan lewat vagina mulai hari ke-3 setelah inseminasi, Cygest, dengan dosis 1 x 1. Dokter Handojo juga tidak mewajibkan untuk bed rest karena menurut beliau belum ada bukti yang kuat dalam dunia medis bahwa bed rest akan meningkatkan keberhasilan inseminasi. Tapi kalau mau bed rest sendiri di rumah, dokter juga tidak melarangnya.

Expenses:

  • Tindakan inseminasi (termasuk washing sperma) di RS Omni Alam Sutera = Rp. 2.800.000
  • Obat-obatan: Cygest 400 mg sebanyak 10 tablet dan Lipesco sebanyak 15 tablet di RS Omni Alam Sutera = Rp. 485.485

TOTAL = Rp. 3.285.485

GRAND TOTAL 3rd Insemination = Rp. 7.980.719

2 Weeks Waiting

Saya tidak mengkhususkan diri untuk bed rest total, hanya saja saya berinisiatif mengurangi aktivitas sendiri dengan tidak melakukan olahraga dan memasak dulu. Saya baru keluar rumah mulai di hari ke-3. Bukan untuk jalan-jalan tapi untuk beli makanan. Agak susah untuk order makanan via gojek mengingat saat ini sedang libur lebaran dan banyak orang pulang kampung. Karena kantor pak suami libur seminggu, pak suami pun selalu menemani saya di rumah.

Sesuai instruksi dokter, setelah 14 hari saya pun melakukan test pack di rumah. Hasilnya negatif. Keesokkan harinya pun saya keluar mens dan artinya inseminasi kali ini masih belum berhasil. Jujur, saya sudah tidak merasakan sedih yang menyayat hati karena sepertinya sudah mulai kebal dengan berbagai kegagalan dalam urusan reproduksi ini. Mungkin memang belum rejekinya. Pak suami juga datar-datar saja. Kami berdua sepakat untuk mencoba inseminasi lagi di bulan Agustus 2018.

Saya pun mengabari dokter Handojo tentang hasil inseminasi ini via chat WhatsApp. Menurut dokter, sperma pak suami harus diperbaiki dulu dengan meminum obat yang diresepkan dokter. Malah dokter Handojo menyuruh saya untuk tidak perlu khawatir dengan stok telur saya karena AMH rendah. Rasanya baru kali ini saya ketemu dokter kandungan yang tidak menyalahkan kondisi saya dan malahan pak suami yang lebih disorot.

Untuk teman-teman TTC (Trying To Conceive) yang senasib, tetap semangat ya. Setiap usaha yang kita lakukan pasti membuat langkah kita semakin dekat dengan harapan kita. Tidak ada usaha yang sia-sia karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Sebelum melanjutkan proses inseminasi berikutnya, saya dan pak suami ada plan untuk mencoba hypnotherapy di akhir Juli 2018. Nanti cerita lengkapnya akan saya update di blog setelah sesi pertama selesai ya.

Try To Conceive

Eggs Donor

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan pesan aneh di WhatsApp (WA) saya dari seseorang yang tidak dikenal. Orang tersebut menawarkan untuk mendonorkan sel telurnya ke saya. Kemungkinan orang tersebut adalah orang yang pernah membaca tulisan di blog saya ini tentang AMH rendah dan memang saya menyebutkan di tulisan tersebut bahwa last option kalau IVF gagal adalah eggs donor dan adoption. Hanya saja bagi orang awam mungkin kurang paham mengenai proses donor sel telur ini. Untuk itu di tulisan ini saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang prosesnya.

Ada berbagai alasan kenapa seseorang mau mendonorkan sel telurnya dan most of them adalah alasan ekonomi. Dari pencarian di Google, di US seseorang bisa menjual sel telurnya seharga USD 8.000 – 14.000 tergantung kuantitas dan kualitas sel telur yang dihasilkannya. (sumber: https://www.centerforhumanreprod.com/egg-donation/donors/faqs). Harga yang ditawarkan memang sangat tinggi. Tapi proses yang harus dilaluinya juga cukup panjang karena melalui berbagai proses skrining dan medis.

Untuk menjadi seorang pendonor sel telur, orang tersebut harus dalam keadaan sehat dan masih di usia produktif. Mereka tidak boleh memiliki riwayat penyakit menular dan kelainan genetis yang mungkin bisa diturunkan. Kemungkinan akan ada test kromosom DNA yang harus dilakukan sebagai proses skrining.

Proses medis yang dijalankan untuk mendonorkan sel telur hampir mirip dengan prosedur IVF dimana calon pendonor akan disuntik obat-obatan hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur menjadi banyak. Normalnya tanpa obat-obatan hormon, seorang wanita hanya memproduksi 1 buah sel telur di setiap siklusnya. Sel telur akan terus dipantau perkembangannya dengan alat USG transvaginal. Setelah ukuran sel telur dianggap cukup (kurang lebih berdiameter 2 cm) maka calon pendonor akan disuntik dengan pemecah telur. Setelah itu akan dilakukan prosedur operasi OPU (Ovum Pick Up) untuk mengambil sel telur tersebut. Hanya sel telur yang bagus kualitasnya akan dipilih dan disimpan dengan cara dibekukan dengan nitrogen cair apabila tidak langsung digunakan.

Jadi untuk menjadi pendonor sel telur, tidaklah segampang mendonorkan organ tubuh yang lain. Cukup test darah dan kecocokan jaringan kemudian operasi. Proses donasi sel telur jauh lebih panjang, sekitar 2 minggu sampai proses OPU. Belum pula kalau ada komplikasi di dalam tubuh karena suntikan hormon bertubi-tubi yang biasa disebut OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan perlu perawatan tambahan.

Dari segi hukum yang berlaku di Indonesia, donasi sel telur dan sperma adalah ilegal atau terlarang berdasarkan Undang-Undang tentang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Reproduksi Nomor 41 Tahun 2014. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Donasi_sperma). Jadi kalau mau melakukan proses donasi sel telur memang harus dilakukan di luar negeri. Setahu saya di negara Malaysia memperbolehkan donasi sel telur.

Saran dari dokter, untuk donasi sel telur sebaiknya dilakukan oleh kerabat terdekat atau saudara kandung perempuan. Hal ini dikarenakan kemiripan genetis kita dengan saudara kandung kita berkisar 40-60%. Jadi anak yang akan dihasilkan dari donasi sel telur saudara kandung akan masih memiliki kemiripan dengan kita.

Bagi saya pribadi, kalau memang pada nantinya semua usaha TTC (Trying To Conceive) yang sudah saya lakukan tidak berhasil, saya tidak akan melirik opsi donasi sel telur dari saudara kandung karena alasan berikut:

  • Harganya mahal, mirip dengan harga IVF yang berkisar 60 – 100 juta Rupiah.
  • Harus dilakukan di luar negeri.
  • Saudara perempuan (adik) saya belum menikah dan punya anak sendiri.
  • Saya tidak tega melihat saudara saya harus melalui segala proses suntik menyuntik dan operasi yang menyakitkan. Cukup saya saja yang harus merasakan hal tersebut.

Demikian penjelasan dari saya. Semoga setelah ini saya tidak dapat pesan aneh-aneh lagi ya.

Story Of My Life

6th Anniversary

Tepat tanggal 20 Mei kemarin saya dan pak suami memasuki usia pernikahan ke-6. Enam tahun bukan usia yang singkat tapi juga belum termasuk lama untuk sebuah pernikahan. Tapi usia ini adalah suatu pencapaian yang perlu dibanggakan bahwa kami sudah bisa bertahan sampai di titik ini, melalui semua suka duka bersama. Percayalah bahwa mempertahankan pernikahan itu lebih susah daripada memulainya. Ketika memulai pernikahan mungkin kita masih didominasi perasaan cinta menggebu-gebu. Akan tetapi sejalan dengan lama-nya pernikahan mungkin cinta itu bisa berubah. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan cinta di dalam keluarga kita sampai seterusnya. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk ke arah sana.

Semakin lama bersama, saya semakin memahami sifat dan karakter suami saya. Dengan pemahaman yang semakin tinggi, semakin jarang juga terjadi pertengkaran. Ibarat kata, hanya dengan melihat muka dan nada bicara pasangan saja kita sudah bisa saling tahu apa yang terjadi dan bagaimana harus bersikap. Kadar keegoisan pun semakin berkurang. Mungkin karena faktor pertambahan usia juga yang membuat kita menjadi pribadi yang makin dewasa.

Di tahun ke-6 ini, saya merasa cukup sedih belum bisa memberikan keturunan kepada suami saya, seorang anak yang merupakan perpaduan genetik kami berdua dan mewarisi sifat kebaikan dari kami (kalau sifat jeleknya sih tidak usah diwariskan ke anak ya). Saya bahkan sempat bertanya kepada pak suami, apakah dia mau menikah lagi dengan wanita lain demi mendapatkan anak darinya. Dengan tegas dia mengatakan tidak mau dan dia menyayangi saya apa adanya, dengan atau tanpa anak. Saya masih menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya. Dan hal itu bukan hanya sekedar ucapan manis dari pak suami. Saya sendiri menyaksikan betapa suami saya adalah orang yang setia dan memegang teguh arti pernikahan. Tidak jarang dia selalu membela saya dari orang-orang yang menyindir saya karena saya belum memiliki anak diusia 35 tahun ini. Bahkan dia juga pernah membela saya dari keluarganya sendiri. It means a lot for me.

Pak suami juga selalu menyemangati saya dalam setiap program hamil yang saya ikuti. Dia selalu berusaha ada untuk saya ketika saya harus berhadapan dengan banyaknya jarum suntik dan obat-obatan hormon selama beberapa kali mengikuti program hamil. Walaupun dia sendiri juga tutup mata kalau melihat saya disuntik karena dia takut, hehe. Dia merupakan sumber kekuatan saya saat saya sedih menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam program hamil. Dia tidak pernah protes atau menghina saya ketika saya menjadi bertambah gemuk atau jerawatan karena efek obat-obatan hormon. Dia juga tidak minder mengenalkan saya pada teman atau keluarganya saat berpapasan di jalan. Mungkin itulah yang disebut mencintai pasangan kita apa adanya.. bukan karena ada apanya.

Sebagai kepala keluarga, single income, karena saya hanya ibu rumah tangga, tidak membuat pak suami mengeluh. Selama hidup bersama, saya tidak pernah sekalipun mendengar dia mengeluh lelah mencari nafkah untuk keluarga. Tidak pernah perhitungan tentang uang kepada istri. Dia adalah kepala keluarga yang rajin, pekerja keras dan bertanggung jawab. Saya sungguh istri yang beruntung. Semoga pak suami selalu diberi kesehatan dan dimudahkan rejekinya.

Love is about take and give. Saya sebagai istri juga harus mengimbangi segala kebaikan dan cinta suami. Pastinya dengan cara saya sendiri. Paling tidak saya harus bisa membuat rumah menjadi senyaman mungkin untuk tempat suami saya pulang sehingga tidak perlu mampir kemana-mana (a.k.a selingkuh). Agak miris mendengar berita-berita yang beredar mengenai pelakor (perebut laki orang) di luar sana. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memilih jalan pintas menjadi mapan dengan modal kecantikan belaka. Mudahan suami saya dijauhkan dari godaan-godaan seperti itu.

Harapan saya ke depan tentang pernikahan ini adalah tetap penuh cinta dan perhatian. Semoga bisa langgeng sampai di akhir penghidupan ini. Semoga ada keajaiban terjadi tentang kehadiran anak. Kalaupun memang tidak bisa dari rahim saya sendiri, semoga bisa dapat anak adopsi yang baik dan sehat. The greatest gift in my life adalah bisa berjodoh dengan suami saya di kehidupan ini. Kalau saya dikasih kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memilih pasangan hidup, saya akan tetap memilih suami saya saat ini, hanya saja menikahnya lebih awal selagi masih muda. Tujuannya sih supaya bisa memperbesar chance untuk hamil, hehe.

Pada anniversary tahun ini, tidak ada hal yang fancy. Kami memperlakukannya seperti weekend biasa saja karena bertepatan dengan jadwal kuliah pak suami juga. Hal yang agak spesial adalah kami pergi spa bareng di Martha Tilaar Salon Day Spa Gading Serpong selama 2 jam. Setelah itu kami dinner di restoran Padang Pagi Sore di Alam Sutera. Sesaat sebelum tidur, kami bicara heart to heart tentang apa yang kami rasakan selama menjalani pernikahan. Hal apa yang perlu diperbaiki dan dipertahankan.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk pak suami yang memang suka kepo menengok blog istrinya. You know how much I love You!

Try To Conceive

2nd Insemination / IUI

Kalau sebagian dari teman-teman pembaca disini ada yang wondering tentang bagaimana nasib TTC (Trying To Conceive) saya saat ini, jawabannya adalah saya belum (pernah) hamil dan masih berjuang untuk mendapatkan keturunan. Permasalahan saya adalah AMH yang rendah sehingga jumlah telur sedikit dan respon stimulasi ovarium rendah. Pak suami juga kualitas dan kuantitas sperma-nya kurang bagus. Jadi bisa dibilang kami ini problemnya paket combo, hehe.

Setelah gagal IVF akhir 2016 kemarin, saya benar-benar vakum dari dunia TTC. Saya merasa malas untuk periksa ke dokter dan meminum suplemen apapun yang konon katanya bisa membantu kesuburan. Selama 2017 saya lebih berusaha untuk memaafkan diri saya dan menerima keadaan saya atas segala kegagalan TTC yang sudah dilakukan. Saya juga berusaha mengumpulkan keberanian (untuk menghadapi entah kegagalan / kesusksesan) di program berikutnya. Tahun 2017 saya hanya menikmati hidup saja tanpa dibebani urusan TTC.

Memasuki 2018, saya dan suami kembali membuat resolusi tentang masalah TTC. Kami akan berusaha kembali mengikuti program hamil untuk mendekati impian kami memiliki keturunan. Kami memilih mengikuti program hamil di Tangerang yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah (kalau dibanding dengan BIC / Bunda International Clinic). Paling tidak kami sudah mengeliminasi faktor stress karena macet di jalan. Jalanan di Tangerang walaupun macet tapi tidaklah separah macet di Jakarta. Saya ingat sekali perjuangan saya bolak balik Tangerang – BIC (Menteng, Jakarta) hampir setiap hari untuk suntik dan konsul dokter yang memakan waktu 1,5 jam sekali jalan dan bahkan lebih kalau macet. Sungguh melelahkan.

Program kali ini saya memilih IUI / inseminasi dengan pertimbangan jumlah telur saya yang sedikit dan respon stimulasi yang rendah membuat chance IVF (bayi tabung) saya tidak lebih bagus dari inseminasi. Selain itu inseminasi menawarkan harga yang lebih terjangkau dibanding IVF. Ini adalah kali kedua saya mengikuti inseminasi. Program inseminasi pertama berlangsung di BIC (Bunda International Clinic / Morula IVF) bulan Desember 2015 dengan dokter Taufik Jamaan dan hasilnya gagal. Silakan membaca post saya sebelumnya untuk cerita detailnya.

Pencarian obgyn / dokter kandungan dan rumah sakit di Tangerang yang menunjang program inseminasi pun dimulai. Dari sekian banyak hasil browsing di internet, pilihan jatuh ke dokter Handojo Tjandra yang praktek di Klinik Sehati (Gading Serpong, Tangerang) dan RS Omni (Alam Sutera, Tangerang). Pak dokter ini adalah lulusan kedokteran Malaysia dan menurut forum, ilmunya tidak kalah dengan dokter-dokter di Malaysia sana yang sering jadi tempat “pelarian” orang Indonesia yang berobat ke Malaysia. Wajar sih menurut saya karena beliau kan juga lulusan Malaysia. Bahkan saat pertemuan pertama saya dengan dokter Handojo dan saya cerita pernah ke LSC (Loh Guan Lye Specialist Center) Penang untuk konsul dengan dokter Devindran, beliau sepertinya cukup kenal dengan dokter Devindran.

Kesan pertama tentang dokter Handojo adalah baik dan sabar. Semua pertanyaan saya diladeni dengan sabar. Dokter Handojo juga bukan dokter yang suka bikin pasien panik, selalu menenangkan pasien. Beliau juga menurut saya tidak matre, tidak mewajibkan pasien terlalu banyak tes lab ini itu. Saya merasa klik dengan beliau saat pertemuan pertama kami. Begitu pun dengan pak suami.

Sebenarnya, selain dokter Handojo, ada satu nama dokter lagi yang banyak disebut oleh ibu-ibu di forum online, yaitu dokter Ong Tjandra yang juga praktek di Klinik Sehati (Gading Serpong, Tangerang) dan RS Bethsaida (Gading Serpong, Tangerang). Akan tetapi untuk konsultasi dengan dokter Ong ini antriannya sangat panjang, bahkan bisa 3 bulan sebelumnya. Kebanyakan review yang saya baca tentang dokter Ong ini adalah bagus dalam membaca hasil USG (atau malah USG 4 dimensi). Biasanya yang datang ke dokter Ong adalah ibu-ibu yang telah hamil, bukan untuk program hamil. Selain itu menurut saya kurang tepat sasaran kalau program hamil dengan dokter Ong karena sub spesialisasi dokter Ong ini adalah Onkologi Ginekologi alias ilmu yang mempelajari tentang kanker sistem reproduktif.

11 April 2018

Hari ini adalah hari ke-9 haid saya. Saat menelpon ke Klinik Sehati, petugas mengatakan untuk konsultasi ke dokter Handojo tidak perlu buat appointment, langsung datang saja dan nanti nomor antrinya sesuai kedatangan. Sebenarnya saya agak malas-malasan untuk konsul ke obgyn tapi pak suami memaksa. Mungkin dia sudah tidak betah melihat saya terlalu banyak bersantai dari urusan program hamil.

Saya datang ke klinik Sehati sekitar jam 7 malam dengan ditemani pak suami. Kondisi klinik saat itu lagi sepi. Setelah menyelesaikan registrasi pasien baru, saya hanya menunggu sekitar 20 menit sebelum dipanggil ke ruangan dokter. Saat datang saya memang sudah membawa semua medical record saya: hasil lab, HSG, buku pasien BIC, dll. Semua medical record itu akan dicatat oleh dokter untuk mengetahui secara garis besar permasalahan reproduksi kita.

Dari hasil USG transvaginal, saya memiliki kista fungsional dengan diameter 1,8 cm. Menurut dokter Handojo, kista ini tidak mengganggu dan tidak berbahaya. Untuk diangkat melalui operasi pun menurut dokter Handojo tidak worth it karena ukurannya terlalu kecil. Kista ini mirip dengan kista fungsional yang telah diambil (operasi sedot kista) sewaktu program hamil di BIC.

Menurut dokter, waktu terbaik untuk memulai program hamil adalah saat hari ke-2 haid. Oleh karena itu, untuk kasus saya yang datang di hari ke-9 haid, tidak bisa memulai program hamil saat itu dan harus menunggu siklus menstruasi bulan depan. Dokter pun meresepkan suplemen sebagai berikut untuk saya dan suami:
– Untuk saya: Asam folat 1 x 1
– Untuk suami: Ciprofloxacin 250 mg 2 x 1, Ubesco 100 mg 2 x 1, Lipesco 1/2 tab 1 x 1

Saya tidak mengambil resep dari dokter karena saya sudah memiliki suplemen asam folat sendiri: Blackmores Conceive Well Gold. Resep suami juga tidak saya ambil karena kandungan vitamin di Ubesco dan Lipesco juga sudah ada di suplemen yang dikonsumsi suami selama ini: Blackmores Conceive Well Men. Khusus untuk Ciprofloxacin yang merupakan antibiotik, saya agak ragu untuk memberikan ke suami. Saya sempat menanyakan alasan pemberian antibiotik tersebut kepada dokter Handojo, dan menurut beliau ada teori bahwa keabnormalan sperma biasanya disebabkan oleh infeksi. Tapi dari yang saya lihat, pak suami tidak menunjukkan adanya gejala infeksi. Selain itu dari beberapa artikel di internet menyebutkan penggunaan antibiotik akan membunuh sperma. Alhasil, saya mengurungkan niat untuk memberi antibiotik ke pak suami.

Expense:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di Klinik Sehati = Rp. 470.000

2 Mei 2018

Kali ini saya ditemani suami datang ke Klinik Sehati tepat di hari ke-2 haid dengan niatan supaya program hamil bisa langsung dimulai. Berbeda dengan kedatangan saya bulan lalu, kali ini jumlah pasiennya banyak sekali. Saya datang jam 7 malam sudah urutan ke-24 dan dapat giliran sekitar jam 10-an. Dikarenakan tempat duduk di Klinik Sehati sudah penuh oleh pasien lain maka saya dan suami jalan-jalan dulu ke Sumarrecon Mall Serpong yang berada tidak jauh dari klinik. Mendekati jam 10 kami kembali lagi ke klinik dan benar saja sisa pasiennya tinggal sedikit lagi. Tidak lama kemudian kami pun dipanggil masuk ke ruangan dokter Handojo.

Walaupun hari ini jumlah pasiennya luar biasa banyak, dokter Handojo tetap sabar dan baik seperti biasa. Saat konsultasi pun tidak terkesan terburu-buru. Dari hasil USG transvaginal, kista telur saya di siklus bulan lalu masih ada, ukurannya pun tidak berubah. Keberadaan kista telur ini dijadikan special notes untuk dokter untuk meng-exclude kista ini sebagai folikel saat perhitungan jumlah folikel. Posisi rahim normal anteflexed dengan ketebalan 5,6 mm. There are Multiple Small Follicle (MSF) in right and left ovary. No free fluid in POD (Pouch Of Douglas) which is good. Minimum free fluid still normal when the ovulation happened but large amount of fluid can represent an abnormal medical condition such as an infection, liver disease (cirrhosis), heart failure, or a malignancy.

Dengan kasus AMH rendah dan kualitas sperma yang kurang bagus, dokter Handojo mengatakan bahwa opsi paling bagus untuk program hamil saya adalah bayi tabung / IVF. Akan tetapi, hati kecil saya kurang yakin dengan nasib IVF yang akan datang ini, jangan-jangan hanya dapat 1 sel telur juga seperti yang terjadi di BIC lalu. Jumlah sel telur yang sedikit ini benar-benar menurunkan chance keberhasilan IVF. Oleh karena itu saya memilih opsi inseminasi / IUI saja karena kalau inseminasi hanya dibutuhkan 1-2 telur saja untuk prosesnya yang mana saya cukup yakin saya bisa menghasilkannya.

Program inseminasi pun dimulai dengan pemberian obat penyubur, Fertin 50 mg (Clomiphene Citrate) dengan dosis 1 x 1, selama 5 hari yang diminum mulai dari hari ke-2 haid. Disarankan untuk minum Fertin di jam yang sama setiap harinya. Setelah itu akan dilakukan pengecekan USG untuk melihat respon terhadap obat yang diberikan. Obat Fertin ini bisa dibeli di Klinik Sehati dengan harga Rp. 20.000 / tablet. Untuk suplemen asam folat tetap dilanjutkan dengan dosis 1 x 1.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di Klinik Sehati = Rp. 450.000
– Obat Fertin 50 mg 5 Tablet = Rp. 100.000
TOTAL = Rp. 550.000

7 Mei 2018

Tepat kemarin malam obat Fertin sudah habis diminum dan saatnya untuk kontrol kembali ke dokter. Karena malam ini dokter Handojo prakteknya di RS Omni Alam Sutera maka saya pun daftar kesana dengan ditemani oleh suami yang baru pulang kantor. Walaupun rumah sakit-nya terkesan mewah, lebih bagus dari Klinik Sehati, tapi alat USG-nya resolusinya lebih rendah dari Klinik Sehati. Terlihat dari tampilan layar USG-nya. Kata dokter Handojo memang alat USG yang ada di Klinik Sehati itu harganya lebih mahal daripada yang di RS Omni Alam Sutera. Tapi sebagai pasien program hamil sepertinya saya tidak bisa pilih-pilih karena hari kontrol ke dokter-nya sudah ditentukan jadi tinggal mengikuti jadwal dokternya sedang praktek dimana saja. Selain itu, biaya konsultasi dokter di RS Omni Alam Sutera dibandingkan dengan Klinik Sehati jauh lebih mahal. Tapi, di RS Omni Alam Sutera ini adalah pasien dokter Handojo tidak sebanyak Klinik Sehati. Hanya perlu menunggu 15-30 menit sebelum dipanggil ke ruangan dokter.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-7 haid ini, posisi rahim masih normal anteflexed. There are multiple small follicle (MSF) in right ovary. The biggest follicle size is 1,2 cm and also cyst 1,8 cm. Program dilanjutkan dengan penyuntikkan Gonal F dengan dosis 37,5 IU setiap malam selama 4 hari ke depan. Uniknya kali ini saya diresepkan Gonal F pen 300 IU. Dengan bentuk pen ini diharapkan saya bisa menyuntik sendiri di rumah. Dokter Handojo langsung lho yang mengajarkan saya untuk menyiapkan pen dan menyuntiknya ke bawah kulit perut (subcutaneous). Rasanya tidak sesakit suntikan Gonal F dalam bentuk vial seperti dulu waktu program di BIC. Kalau bentuk vial agak ribet persiapannya karena kita harus mencampurkan cairannya dulu. Makanya waktu program di BIC dulu saya selalu minta disuntikkan sama suster. Tapi dengan suntikan bentuk pen ini saya percaya diri melakukannya sendiri. Standar prosedur suntikan juga bisa dibaca langsung pada kemasan Gonal F pen. Sangat mudah dan praktis. Disarankan untuk menyuntikkan Gonal F di jam yang sama setiap harinya. Penyimpanan Gonal F pen harus ditempat yang sejuk, saya menyimpannya di chiller kulkas.

Sebelum proses suntik menyuntik, kita membutuhkan alcohol swab untuk desinfektan dan sterilisasi bagian tubuh yang akan disuntik. Tips dari saya, daripada harus membeli 1 kotak alcohol swab yang isinya ada 100 pcs (terlalu banyak), lebih baik minta di ruangan dokter sejumlah yang dibutuhkan dan di-charge ke tagihan peralatan yang dipakai dokter. Saat itu saya mengambil 7 pcs alcohol swab.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000
Alcohol Swab 7 pcs = Rp. 2.415
– Gonal F Pen 300 IU = Rp. 2.510.392
TOTAL = Rp. 3.058.807

11 Mei 2018

Hari ini dijadwalkan untuk kontol kembali ke dokter setelah penyuntikan dosis gonal F 37,5 IU selama 4 hari berturut-turut. Dokter Handojo malam ini praktek di RS Omni Alam Sutera jadi saya pun pergi ke sana. Seperti biasa kondisi pasien disini tidak terlalu banyak jadi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk dipanggil ke ruangan dokter.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-11 haid ini, posisi rahim masih normal anteverted dengan ketebalan rahim 13 mm. Folikel yang berkembang di ovarium kiri ada 1 dengan ukuran diameter 1,3 cm sedangkan di ovarium kanan ada 1 dengan ukuran diameter 1.05 cm. Kista tetap ada dan ukurannya masih sama seperti sebelumnya yaitu 1,8 cm. No free fluid in POD (Pouch Of Douglas) yang berarti tidak ada tanda ovulasi. Wajar saja karena ukuran sel telurnya belum cukup / matang untuk bisa ovulasi.

Dokter menyuruh saya untuk melanjutkan suntikan Gonal F di rumah selama 3 hari ke depan tapi kali ini dosisnya dinaikkan menjadi 75 IU. Sehubungan sisa Gonal F Pen saya hanya 150 IU yang berarti hanya cukup untuk 2 suntikan lagi maka dokter meresepkan tambahan Gonal F 75 IU dalam bentuk vial seperti di BIC dulu. Rupanya Gonal F 75 IU ini tidak tersedia di apotek RS Omni Alam Sutera. Dokter menyarankan saya untuk mencarinya di rumah sakit lain. Rumah sakit / klinik di Tangerang yang direkomendasikan dokter Handojo untuk mendapatkan Gonal F 75 IU ini adalah di RS Siloam Karawaci, RS Awal Bross dan Klinik Mom & Child Gading Serpong. Diluar itu, biasanya mereka tidak mau terima resep dari luar rumah sakit / klinik mereka.

Saat saya telp ke klinik Mom & Child, stok Gonal F 75 IU mereka sedang kosong dan harus inden dulu. Itu pun barang baru ready 3 hari lagi. Saya lalu menelpon RS Siloam Karawaci dan ternyata mereka ada stok. Saya pun kemudian ke RS Siloam karawaci untuk membeli Gonal F tersebut. Harga Gonal F 75 IU di RS Siloam Karawaci ini lebih mahal kalau dibandingkan dengan harga BIC. Juga lebih mahal dibandingkan kalau dihitung harga per unitnya dari Gonal F Pen. Akan tetapi karena saya memang butuh dan stok terbatas ya saya tetap ambil.

Expenses:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000
– Gonal F 75 IU di RS Siloam Karawaci = Rp. 710.000
TOTAL = Rp. 1.256.000

12 Mei 2018

Dikarenakan saya tidak bisa menyuntikkan sendiri Gonal F dalam bentuk vial, saya berencana minta tolong suster di Klinik Sehati atau RS Omni Alam Sutera. Ternyata hari sabtu ini Klinik Sehati hanya buka sampai sore sedangkan jadwal suntik Gonal F saya adalah jam 8 malam. Akhirnya dengan ditemani suami, saya datang ke RS Omni Alam Sutera. Berbeda dengan waktu di BIC dulu yang mana kalau mau minta suster bantu suntik, kita hanya tinggal bawa obat dan buku pasien ke meja suster kemudian tunggu antrian dipanggil ke kamar suntik dengan layanan free of charge, maka tidak demikian yang berlaku di RS Omni Alam Sutera. Pada awalnya, kita harus melakukan registrasi dahulu di counter depan dengan menyebutkan kita pasien dokter Handojo dan minta bantuan suster untuk menyuntikkan Gonal F. Nanti kita akan dirujuk ke bagian VK / Verlos Kamer (kamar bersalin) di lantai 2 untuk bertemu dengan suster / bidan disana. Saat ketemu suster juga kita harus menjelaskan lagi maksud dan tujuan kita. Suster kemudian akan konfirmasi ke dokter yang bersangkutan. Sungguh ribet birokrasinya.

Sungguh kebetulan saat saya sedang berbicara dengan suster di kamar bersalin, dokter Handojo muncul, padahal beliau sedang tidak ada jadwal praktek. Mungkin saat itu dokter sedang mengunjungi pasiennya yang hendak atau baru melahirkan. Entahlah. Kemudian dokter Handojo langsung meracikkan vial Gonal F untuk siap disuntik ke saya. Ajaibnya lagi, dokter Handojo langsung yang menyuntikkan Gonal F tersebut ke saya. Seumur-umur saya program hamil ke dokter baru kali ini saya disuntik langsung oleh sang dokter, biasanya selalu dengan suster. Suntikan Gonal F kali ini sangat perih dan sakit. Bahkan seingat saya lebih perih dibandingkan dulu suntikan Gonal F di BIC. Mungkin karena dulu di BIC disuntik oleh suster sehingga lebih lemah lembut, berbeda dengan halnya dokter pria. Hahaha.

Jasa suntik oleh dokter tidak dikenakan biaya karena saya membawa jarum dan obat sendiri beserta alcohol swab-nya sehingga tidak ada peralatan rumah sakit yang dipakai. Saya hanya di-charge biaya administrasi sebesar 50 ribu Rupiah.

Expense:
– Biaya administrasi rawat jalan RS Omni Alam Sutera = Rp. 50.000

14 Mei 2018

Setelah tambahan suntikan Gonal F selesai, hari ini saya kembali mengunjungi dokter. Saya datang sendirian karena pak suami belum pulang kantor. Jadwal praktek dokter Handojo hari ini ada di RS Omni Alam Sutera.

Dari hasil USG transvaginal di hari ke-14 haid ini, posisi rahim masih normal anteverted dengan ketebalan rahim 16 mm. Menurut dokter semakin tebal rahim akan semakin bagus untuk implantasi embrio. Akan tetapi folikel saya tampak tidak terlalu merespon suntikan Gonal F yang diberikan. Folikel di ovarium kiri yang waktu itu ada dan ukurannya lumayan (diameter 1,3 cm di hari ke-11) tiba-tiba menghilang, kata dokter kemungkinan folikelnya tidak berkembang dan terserap rahim. Folikel di ovarium kanan yang awalnya ada 1 dengan diameter 1,05 cm berkembang menjadi 1,2 cm saja dan belum cukup untuk matang. Kista masih ada dan tidak berubah ukurannya, diameter 1,8 cm. Oleh karena itu, dokter mengatakan program inseminasinya tidak bisa dilanjutkan (terminated) karena sel telurnya tidak merespon. Kemungkinan karena dosis  obat yang diberikan terlalu kecil untuk orang seusia saya yang juga memiliki masalah AMH rendah.

Next plan, dokter akan menaikkan dosis obat untuk saya yaitu Fertin 50 mg 1 x 2 tab yang dimulai dari hari ke-2 mens sampai 5 hari ke depan dan dilanjutkan suntikan Gonal F 75 IU selama 4 hari berturut-turut. Awalnya mau lanjut program di siklus Juni  2018 tapi akan terbentuk libur lebaran jadi mungkin program inseminasi berikutnya akan saya coba di bulan Juli atau Agustus 2018. Mudahan hasilnya bisa lebih baik dari siklus sekarang.

Expense:
– Biaya konsultasi dokter dan USG di RS Omni Alam Sutera = Rp. 546.000

Total biaya dokter dan obat-obatan untuk program inseminasi kali ini (tidak termasuk washing & inject sperm) di Klinik Sehati dan RS Omni Alam Sutera = Rp. 5.460.807

Walaupun saya tidak lanjut ke tahap inseminasi, tapi saya sudah dapat info harganya dari dokter Handojo. Untuk biaya tindakan inseminasi di Klinik Sehati adalah Rp. 1.500.000, sudah termasuk sperm wash dengan metode swim up. Untuk biaya tindakan inseminasi di RS Omni Alam Sutera adalah Rp. 2.750.000, sudah termasuk sperm wash dengan metode density gradient. Menurut dokter untuk kasus sperma yang kurang kualitas dan kuantitasnya seperti suami saya, metode sperm wash yang lebih cocok adalah density gradient. Bedanya, kalau metode swim up, hanya memilih sperma yang bergerak saja, tidak dipilih lagi kualitasnya. Sedangkan metode density gradient, sel sperma akan dilewatkan ke suatu cairan di lab, sperma yang bertahan melewati cairan tersebut adalah sperma yang terpilih dan dipercaya memiliki kualitas ketahanan yang lebih baik. Jadi wajar kalau harganya lebih mahal.

Saya agak kecewa dengan respon ovarium saya terhadap obat-obatan sehingga inseminasinya harus gagal ditengah jalan. Tapi saya bersyukur juga dokter Handojo tidak memaksakan pasien untuk lanjut tahap injeksi sperma (inseminasi) dengan resiko gagal. Gagal di tengah jalan ini sedihnya tidak terlalu berat seperti halnya dulu ketika selesai inseminasi pertama dan IVF di BIC kemudian masuk ke masa 2 weeks waiting dan berakhir dengan kegagalan.

Saya yakin tidak ada namanya usaha yang sia-sia. Semua kegagalan yang terjadi dalam kehidupan ini pasti semakin mendekatkan kita dengan suatu kejayaan. Hanya saja kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk memahami rencana Tuhan untuk kita. Untuk semua teman-teman TTC saya yang membaca tulisan ini, mari terus berjuang. Kita harus terus berusaha, sesanggup yang kita bisa. Sabarlah menanti keajaiban itu datang untuk kita. Cheers!

Contact:

  • Klinik Sehati
    Ruko Voronez Gading Serpong
    Jalan Raya Kelapa Puan, CA 24/16-17, Sektor 1D, Pakulon Barat, Kelapa Dua, Tangerang Selatan, Banten.
    Telp. 021-29171379
    HP / WA: 081316518088
  • RS Omni Alam Sutera
    Jalan Alam Sutera Boulevard Kav. 25, Pakulonan, Serpong Utara, Pakulonan, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten.
    Telp. 021-29779999
Travel Journal

Pengalaman Naik Kereta Bandara (Soekarno-Hatta Airport)

Hai semua!

Maafkan baru update blog lagi setelah sekian lama. Penyakit malas kembali menyerang sehingga untuk buka laptop pun malas sekali, hahaha. Tapi tenang saja, saya masih rajin membalas comment yang masuk koq karena ada notifikasi-nya di e-mail. Kalau sekedar balas comment biasanya saya hanya menggunakan aplikasi “WordPress” yang ada di handphone android saya. Akan tetapi kalau untuk menulis saya tetap prefer dari laptop karena lebih cepat mengetiknya.

Back to the topic, hari ini saya mau menceritakan pengalaman saya naik kereta bandara di Soekarno-Hatta Airport, Jakarta. Kebetulan bulan April 2018 lalu saya ada urusan di airport jadi tidak ada salahnya sekalian mencoba fasilitas baru ini. Keberadaan kereta tersebut diharapkan bisa mengurangi kemacetan lalu-lintas di jalan menuju / dari bandara. Ada 2 jenis kereta yang ada di Soekarno-Hatta Airport, yaitu Skytrain (Kereta Layang) dan Kereta Railink. Untuk lebih jelasnya akan saya bahas satu per satu di bawah ya.

Skytrain (Kereta Layang)

Kalau dahulu kala kita harus menunggu shuttle bus airport (free of charge) untuk berpindah dari terminal satu ke terminal lainnya, maka sekarang ini sudah ada fasilitas baru yaitu Skytrain. Tidak seperti shuttle bus yang jadwal ketibaannya tidak jelas karena terkena imbas macet di area bandara, Skytrain lebih memberikan jaminan tepat waktu karena bebas macet.

Apabila kalian pernah naik Skytrain di Changi Airport Singapore, maka bentuk gerbong kereta Skytrain di Soekarno-Hatta Airport ini persis sama dengan yang disana. Gerbong Skytrain memang lebih minim tempat duduk supaya space untuk koper dan barang bawaan bisa lebih luas. Saat baru beroperasi Skytrain Soekarno-Hatta masih menggunakan awak / driver, tapi ke depannya Skytrain ini akan menjadi automated train tanpa awak / driver. Canggih ya?

PhotoGrid_1524037807531.jpg
Stasiun Skytrain

Selain menghubungkan antar terminal di bandara (T1, T2 dan T3), Skytrain juga menghubungkan kita dengan stasiun SHIA / Soekarno-Hatta International Airport (Integrated Building) yang merupakan stasiun tempat kereta bandara Railink berada. Jadwal Skytrain paling awal adalah pk. 04:27 WIB dan terakhir pk. 00:17 WIB dari stasiun SHIA. Untuk waktu tunggu Skytrain saat ini masih sekitar 10 menit per kedatangan kereta di setiap stasiun, akan tetapi ke depannya waktu tunggu ini akan diperkecil menjadi 5 menit sekali sehingga bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Untuk bisa mengakses Skytrain, kita harus berjalan keluar dari terminal kedatangan, ikuti petunjuk arah menuju stasiun Skytrain. Ada 2 pilihan menuju stasiun Skytrain yaitu tangga eskalator atau lift. Dari yang saya lihat fasilitas lift agak terbatas dan antri, jadi memang lebih cepat menggunakan tangga eskalator. Saat masuk ke dalam kereta Skytrain kita dilarang untuk menggunakan trolley. Tapi nanti di stasiun tujuan akan disediakan fasilitas trolley untuk mengangkut barang bawaan.

Fasilitas Skytrain bisa kita nikmati dengan gratis alias tidak berbayar. Bisa bebas jalan-jalan keliling antar terminal sesuka hati deh, hehe. Reservasi di muka juga tidak diperlukan. Kita cukup langsung datang ke stasiun Skytrain dan naik kereta yang ada.

Kereta Bandara Railink

Berbeda dengan Skytrain, kereta ini tidak melayani perjalanan antar terminal melainkan melayani perjalanan dari kota Jakarta / Tangerang ke bandara dan sebaliknya. Saat ini kereta bandara Railink baru memiliki 3 stasiun yaitu Stasiun SHIA / Soekarno-Hatta International Airport (Integrated Building), Stasiun Batu Ceper (Tangerang) dan Stasiun BNI City / Sudirman Baru (Jakarta). Untuk ke depannya akan ada penambahan rute ke stasiun Duri dan Manggarai. Sekedar informasi stasiun kereta bandara railink dengan stasiun KRL Commuter Line tidak sama. Walaupun lokasinya mungkin berdekatan dan namanya mirip tapi gedung stasiunnya benar-benar terpisah.

PhotoGrid_1524037470133.jpg
Interior Kereta Bandara Railink

Dari semua gerbong KRL yang pernah saya naiki di Jakarta, gerbong kereta bandara Railink inilah menurut saya yang paling bagus. Maklum lah kereta baru jadi masih kinclong semua, hehe. Tempat duduk di dalam gerbong banyak, ada space untuk menaruh koper dan barang bawaan, nyaman dan full AC. Gedung stasiunnya juga bagus dan nyaman, terutama di stasiun SHIA, ada waiting lounge, restoran dan toko-toko kecil. Untuk gedung stasiun lainnya masih belum terlalu lengkap fasilitasnya, misal di stasiun Batu Ceper belum ada AC dan banyak ruangan kosong.

PhotoGrid_1524037860562.jpg
Suasana Stasiun SHIA

Keberadaan kereta bandara Railink ini bisa menjadi salah satu alternatif transportasi dari / ke bandara Soekarno-Hatta yang bebas macet. Tidak perlu takut lagi ketinggalan pesawat karena macet di jalan. Untuk harga yang ditawarkan memang cukup mahal, sesuai dengan fasilitas yang ditawarkan, yaitu Rp. 35.000 per orang sekali jalan untuk rute SHIA – Batu Ceper dan Rp. 70.000 per orang sekali jalan untuk rute SHIA – BNI City / Sudirman Baru. Akan tetapi, sejak 10 Maret 2018, kereta bandara Railink memberikan diskon 50% untuk harga tiketnya khusus di hari Sabtu dan Minggu. Penurunan harga ini membuat kereta bandara Railink menjadi lebih terjangkau dan memungkinkan kita untuk bepergian dengan rombongan besar (lebih dari 2 orang) dengan harga yang wajar. Untuk masalah jadwal kereta bandara Railink silakan cek link website yang saya sertakan di akhir tulisan.

PhotoGrid_1524037759655.jpg
Antrian Vending Machine di Stasiun SHIA
PhotoGrid_1524037640689.jpg
Cara Menggunakan Vending Machine Tiket Railink

Pembelian tiket kereta bandara Railink bisa dilakukan melalui internet booking, vending machine dan aplikasi mobile “Railink”. Saat mencoba kereta bandara Railink kemarin, saya dan suami menggunakan metode pembelian via vending machine di stasiun SHIA. Pembelian via vending machine cukup mudah, hanya tinggal mengikuti instruksi yang ada. Saat ini, pembayaran yang diterima oleh vending machine hanya berupa kartu debit, kredit dan prepaid card saja (cashless). Setelah transaksi pembelian selesai, vending machine akan mengeluarkan tiket kereta kita. Tiket tersebut jangan sampai lecek atau basah ya, terutama bagian barcode-nya. Barcode yang ada di tiket tersebut berguna untuk membuka gate masuk dan keluar kereta. Jadi simpan terus tiket kalian sampai nanti turun di stasiun tujuan.

PhotoGrid_1524037424157.jpg
Tiket Kereta Railink

Seperti halnya peraturan tertulis di KRL Commuter, hal yang sama juga berlaku di kereta bandara Railink dan Skytrain, yaitu dilarang makan dan minum selama di kereta. Hal ini bertujuan supaya kereta tetap terjaga kebersihannya demi kenyamanan penumpang lainnya. Semoga saja kita semua bisa menjaga fasilitas kereta bandara Railink dan Skytrain dengan baik.

Menurut saya, puncak kepopuleran kereta bandara Railink dan Skytrain ini adalah saat Asian Games Agustus 2018 kelak, dimana akan banyak kontingen atlet dari negara-negara Asia. Kalau dulu Jakarta hanya punya bus untuk mengangkut semua kontingen yang ada dan efeknya jadi bikin jalanan padat dan macet, maka kali ini Jakarta bisa sedikit berbangga dengan adanya kereta bandara Railink dan Skytrain yang tidak kalah bagusnya dengan fasilitas serupa di negara tetangga kita.

Website:

https://www.railink.co.id/jadwal-kereta

Cooking

Hong Kong Style Steamed Fish

Hello!

Setelah sekian lama tidak posting resep masakan, hari ini saya mau sharing resep yang sudah diujicobakan dengan sukses di dapur saya. Kalau biasanya bentuk olahan ikan yang paling sering saya lakukan adalah dengan digoreng, maka pilihan menu kali ini lebih sehat, yaitu dengan cara di-tim / kukus / steam.

Bentuk olahan ikan dengan cara tim ini selain lebih sehat, ternyata rasanya juga sedap lho. Kuncinya adalah pemilihan ikan yang segar dan penggunaan rempah-rempah yang banyak untuk menetralkan bau amis ikan. Tips lain supaya hasil masakannya tidak amis adalah jangan menggunakan air kukusan ikan untuk campuran kuah. Air kukusan yang keluar dari badan ikan ini memang baunya amis. Oleh karena itu untuk kuah ikan kita hanya menggunakan campuran kecap saja. Resep saya ambil dari Cookpad Mourena Kurniaty dengan sedikit modifikasi karena menurut saya rasanya terlalu asin.

PhotoGrid_1519373416419.jpg
Ikan Tim Ala Hong Kong

Bahan:

  • 1 ekor ikan (sekitar 900 gram sebelum di-fillet), saya menggunakan fillet ikan kakap merah.
  • 1 sdm perasan air lemon / jeruk nipis.
  • Bumbu irisan:
    – 1 siung sedang jahe, iris.
    – 3 siung bawang putih, geprek dan cincang kasar.
    – 2 batang daun bawang, iris. (tambahan dari saya)
  • Bumbu kecap:
    – 1 ruas jahe, iris bentuk korek api.
    – 2 siung bawang putih, cincang halus.
    – 1/2 buah bawang bombay besar, iris memanjang.
    – 1/2 sdm kecap asin.
    – 7 sdm kecap seafood Tai Hua.
    – Air 100 ml
    – Merica secukupnya.
    – 1/2 sdt kaldu jamur (optional)
    1 batang daun bawang, iris serong.

Cara Membuat:

  1. Cuci ikan sampai bersih kemudian beri perasan air lemon / jeruk nipis secara merata. Diamkan 30 menit. Lumuri badan ikan dengan sedikit garam.
  2. Tata ikan dan bumbu iris dalam pinggan tahan panas. Bumbu iris diletakkan dibawah dan diatas badan ikan serta di dalam perut ikan (kalau menggunakan ikan satuan). Masukkan ke dalam kukusan yang telah dipanaskan. Kukus sampai matang selama 15 menit.
  3. Ambil ikan kukusnya, pisahkan dari air kukusan dan sisa rempah. Pindahkan ke piring saji.
  4. Masak sausnya. Tumis jahe hingga harum. Masukkan bawang putih dan bombay. Masak sampai berubah warna.
  5. Masukkan kecap asin, kecap seafood, air, merica dan kaldu jamur. Aduk rata. Koreksi rasa. Masak sampai mendidh. Matikan api.
  6. Siram saus ke atas badan ikan di piring saji. Beri irisan daun bawang diatasnya. Siap dihidangkan.