Travel Journal

Bekal Makanan Selama Liburan di Jepang

Saat mencari-cari informasi tentang Jepang, saya jadi tahu bahwa biaya makan di Jepang itu mahal sekali. Sekedar bento set di convenience store aja harganya 500 – 650 Yen yang kalau dikonversi ke Rupiah adalah 60 – 80 Rupiah per porsi. Padahal isinya ya biasa saja dan rasa juga standar. Jangan tanya kalau harga makanan di restaurant, pasti lebih mahal lagi, kira-kira diatas 150 ribu Rupiah per porsi. Jiwa emak-emak saya merasa terusik mendengar harga makanan yang mahal itu. Kalau sekali-kali sih tidak apa-apa, tapi kan ini 14 hari trip, bisa bangkrut dong kalau makan diluar terus, 3 kali sehari pula.

Dengan pertimbangan diatas, saya memutuskan bahwa saya harus memasak di Jepang. Kalau pergi-pergi harus bawa bekal makanan. Paling tidak untuk sekedar sarapan dan makan siang harus masak sendiri, makan malam boleh bebas. Hitung-hitung jatahnya mencicipi makanan Jepang.

Demi menunjang misi penghematan di atas maka saya lebih memilih mencari tempat tinggal di apartemen daripada di hotel. Fasilitas di apartemen mirip seperti rumah. Ada dapur jadi bisa masak, air wastafel dapur pun bisa diminum jadi bisa hemat beli air mineral (Note: yang bisa diminum hanya air dari keran wastafel dapur saja, kalau di kamar mandi tidak bisa lho ya) dan ada mesin cuci sehingga tidak usah keluar biaya laundry lagi. Dengan adanya mesin cuci juga bikin kita tidak perlu membawa baju banyak-banyak dari Indonesia. Pengalaman saya saat musim semi di Jepang untuk mengeringkan baju hanya butuh waktu paling lama 2 hari kok. Selain itu, saya juga mencari apartemen yang menyediakan rice cooker dan kettle air panas. Perlu diketahui kalau harga nasi putih instan di Jepang itu cukup mahal, yaitu 100 – 120 Yen per porsi jadi lebih baik masak sendiri saja. Beras-nya tinggal beli di supermarket di Jepang.

Sekedar informasi tentang beras di Jepang. Kalau kita beli di supermarket, kemasan terkecilnya adalah 2 kg (harga sekitar 900 Yen kalau tidak salah). Tentu saja jumlah itu akan kebanyakan jadinya, tapi kalau kelebihan bisa dibawa ke Indonesia kok (Dalam jumlah yang wajar yang diperbolehkan customs Indonesia). Tipe beras Jepang agak berbeda dengan beras di Indonesia. Beras Jepang lebih pulen dan lengket, mirip seperti beras sushi. Kebetulan sih saya suka dengan tipe beras pulen begini.

Berikut adalah perlengkapan dan perbekalan makanan yang saya bawa dari Indonesia untuk mendukung misi masak-memasak selama liburan 14 hari di Jepang:

  1. Rendang Uda Gembul
    Beli dari Tokopedia sebanyak 3 kotak. Rendang Uda Gembul ini memiliki beberapa level kepedasan, 1-5, akan tetapi saya kebagian yang level 3 saja. Menurut saya sih level 3 ini terlalu pedas untuk saya dan suami. Satu kemasan berisi 2 potongan daging rendang saja tapi bumbu rendangnya melimpah ruah. Konon rendang ini bisa bertahan 3 bulan di suhu ruangan.PhotoGrid_1491622306049[1]
  2. Dendeng Balado Uni Etty
    Juga beli dari Tokopedia karena tergiur review yang bagus. Satu kemasan berisi 5-6 iris daging. Tipe dendengnya adalah dendeng basah dan agak berminyak. Bumbu cabainya juga berlimpah. Bahkan setelah dendengnya habis, bumbu cabai yang tersisa masih bisa dibuat jadi menu masakan lain seperti telur balado. Dendeng ini tahan 7 hari di suhu ruangan dan 1 bulan kalau disimpan di lemari es.PhotoGrid_1491620843505[1]
  3. Kering kentang & teri
    Beli dari Tokopedia juga. Minimum order 2 toples @ 250 gram. Enak banget dimakan bersama nasi panas.PhotoGrid_1491650228811
  4. Sambal bajak CUK (kemasan)
    Beli dari Tokopedia. Berguna untuk teman makan nasi, hehe.
  5. Saus sambal sachet
    Berguna sekali kalau lagi makan fast food. Di Jepang hanya tersedia saus tomat saja.
  6. Bumbu-bumbu instan
    Ada merk Indofood, Bamboe, dll. Saya memilih bumbu yang praktis saja seperti bumbu nasi goreng, ayam goreng, dll. Tidak lupa membawa 1 sachet penyedap rasa kaldu ayam dan garam.
  7. Bawang putih
    Bawa 1 bonggol saja yang isinya beberapa siung. Hanya untuk menambah aroma bumbu instan atau sekedar tumis sayuran.
  8. Teh celup kemasan
    Cocok untuk teman sarapan di pagi hari.
  9. Gula pasir
    Bawanya sedikit saja sekitar 100 gram. Akhirnya beli lagi pas di Jepang dengan kemasan 500 gram. Kelebihannya dibawa ke Indonesia. Gula pasir ini dipakai untuk membuat teh manis hangat di pagi hari.
  10. Mie Instan
    Mie instan ini berguna sebagai alternatif sarapan.
  11. Selai roti
    Bawa yang kemasan botol kaca kecil saja.
  12. Cereal
    Bawa 1 kotak medium saja. Alternatif sarapan pagi.
  13. Minyak goreng
    Saya bawa sedikit di kemasan kantong plastik kecil saja. Di packing berlapis dan dimasukkan ke wadah. Selebihnya minyak goreng disediakan di apartemen di Jepang.
  14. Daging kemasan kaleng
    Saya bawa daging babi kalengan merk Ma Ling.
  15. Lunch Box dan peralatan makannya
    Bawa 2 box dengan pengaturan 1 box untuk makan siang bersama dan 1 box lagi untuk makan malam bersama. Ini dengan catatan saya lagi rajin memasak sehingga bisa menyiapkan bekal sampai makan malam.

Tampak ribet ya? Tapi perbekalan ini yang bikin saya dan suami menghemat banyak selama 14 hari di Jepang lho. Bahan makanan lain tinggal beli saja di Jepang seperti roti, telur, sayur dan susu cair.

Hati-hati saat berbelanja di supermarket Jepang dimana semua produk dan keterangannya ditulis dalam bahasa Jepang. Barang yang kita maksudkan belum tentu benar hanya dengan melihat fisiknya. Contoh: minyak goreng akan mirip kemasan dan warnanya dengan cuka, gula pasir akan mirip bentuknya dengan garam, susu akan mirip dengan yoghurt, dan telur mentah akan mirip dengan telur rebus. Saya pernah salah membeli telur. Niatnya membeli telur mentah tapi yang terbeli malah telur yang sudah dimasak setengah matang, hahaha. Sebelum membeli barang di supermarket lebih baik bertanya kepada petugasnya. Cara berkomunikasinya adalah dengan Google Translate. Misal kita mau membeli gula atau dalam bahasa inggrisnya sugar. Cari Google Translate “sugar” ke bahasa Jepang dan kemudian tunjukkan terjemahan itu ke petugas sambil kita membawa barang yang kita maksudkan. Kalau ternyata barang yang kita maksudkan itu salah pasti petugas akan menggelengkan kepala atau say no dan membantu kita mencari barang yang benar. Orang Jepang sangat ramah dan helpful kok. Jangan lupa say thanks atas bantuan mereka dengan menyebutkan “arigatou“.

Selama di Jepang saya hanya memasak menu yang simple dan praktis saja seperti tumis sayuran, telur goreng, telur rebus, nasi goreng, dll. Selain karena saya sudah bawa lauk dari Indonesia, juga karena keterbatasan waktu yang ada untuk menyiapkan sarapan dan juga bekal makan siang sekaligus. Pak suami untungnya tidak pernah cerewet soal makanan selama travel.

Begitulah sharing saya mengenai istri yang juga harus bertugas bahkan saat sedang liburan di negeri orang. Pekerjaan ibu rumah tangga benar-benar pekerjaan yang 24/7 tanpa mengenal hari libur dan juga tanpa tanda jasa, hahahaha. Tapi saya ikhlas dan enjoy kok menjalaninya.

Travel Journal

Plan Your Trip To Japan

Bagi kalian yang baru pertama kali akan ke Jepang, seperti saya dulu, pasti agak bingung bagaimana merencanakan perjalanan kalian dengan detail. Kemarin kebetulan saya dapat tugas dari pak suami untuk membuat itinerary liburan ke Jepang selama 14 hari. Sekarang saya akan berbagi tips dalam merencanakan perjalanan kalian ke Jepang.

Itinerary

Itinerary adalah bagian paling penting dalam suatu perjalanan. Itinerary yang dibuat sedetail mungkin akan lebih baik daripada yang general. Disarankan untuk membuat itinerary di Microsoft Office Excel supaya gampang perhitungannya. Langkah-langkah membuat itinerary ala saya adalah sebagai berikut. Langkah-langkah ini juga bisa diterapkan dalam pembuatan itinerary negara lainnya.

  1. Tentukan tempat yang akan kalian tuju.
  2. Lihat peta negara Jepang dan kelompokkan tempat tujuan berdasarkan daerahnya (Misal prefecture Osaka, Kyoto, Tokyo, dll).
  3. Dari kelompok daerah itu breakdown lagi ke sub daerahnya (Misal Tokyo Central, Tokyo Utara, Selatan dll). Hal ini dimaksudkan supaya jalur transportasinya lebih ringkas dan tidak bolak-balik.
  4. Tentukan jam berapa kalian akan mulai berangkat dari tempat tinggal kalian. Disarankan untuk memulai hari sepagi mungkin supaya dalam sehari bisa explore 3-4 tempat. Kebanyakan tempat wisata di Jepang tutup jam 5 atau 6 sore.
  5. Cari informasi seputar tempat tujuan kalian: Opening hours, close day, dan admission fee-nya. Cari informasi juga mengenai halte bus atau stasiun kereta / subway terdekat dari lokasi tersebut.
  6. Tentukan alokasi waktu di lokasi, berapa lama kalian akan berkeliling di lokasi.
  7. Cari informasi seputar transportasi untuk menuju ke lokasi tersebut. Tuliskan dengan lengkap di tabel itinerary kalian tentang detail transportasinya. Misal naik bus dari halte “A” pada jam berapa, berapa banyak bus stop-nya, estimasi jam sampai di tujuan, jarak tempuh dari tempat turun bus ke lokasi yang dituju dan harga per penumpangnya.
  8. Masukkan juga alokasi waktu untuk makan siang dan makan malam beserta budget-nya.
  9. Masukkan budget untuk shopping (souvenir, oleh-oleh atau koleksi)
  10. Masukkan budget untuk snack atau camilan. Udara yang dingin dan perjalanan yang jauh kerap kali membuat kita akan cepat lapar. Ditambah banyaknya camilan unik dan lucu di Jepang yang bisa bikin kita kalap, hahaha.
  11. Masukkan biaya contingency sebesar 5-10% dari total budget. Intinya sih untuk antisipasi kalau ada lonjakan biaya.

Dari parameter tersebut kalian akan bisa menentukan berapa budget kalian untuk liburan ke Jepang (diluar tiket pesawat dan hotel). Kalian juga akan lebih percaya diri tentang jumlah uang yang akan ditukarkan ke money changer. Saya punya prinsip sebisa mungkin menghindari pemakaian credit card dan melakukan penukaran mata uang saat di negeri orang karena kurs-nya sering kali tidak bagus dan merugikan kita.

Rekomendasi bahan bacaan untuk membuat itinerary Jepang

Transportation

Sebagai negara yang besar, Jepang memiliki sistem transportasi umum yang sangat kompleks. Ada kereta, subway (MRT), monorail, shinkansen, bus dan pesawat. Belum pula untuk satu jenis transportasi memiliki lebih dari satu operator yang rute-nya berbeda-beda. Kondisi yang kompleks ini tidak memungkinkan kita untuk melihat peta secara manual lagi karena penampakan peta-nya sudah seperti benang kusut! Beruntungnya kita karena hidup di jaman yang modern dan serba praktis. Permasalahan transportasi yang rumit di Jepang saat ini sudah semakin terbantu dengan situs-situs transportation planner dan aplikasi di handphone. Syaratnya hanya butuh jaringan internet saja.

Dari berbagai situs dan aplikasi transportation planner saya paling suka dengan tampilan “Hyperdia”. Hyperdia ini memuat informasi tentang jadwal, rute dan biaya kereta, shinkansen (kereta cepat) dan subway di seluruh Jepang. Kekurangan dari Hyperdia ini hanya tidak ada informasi tentang rute dan jadwal bus. Hyperdia juga tersedia dalam aplikasi mobile phone akan tetapi aplikasi ini adalah aplikasi berbayar. Untuk jadwal, rute dan biaya bus saya masih mengandalkan Google Maps. Begitu pun dengan rute jalan kaki juga mengandalkan Google Maps.

Silakan cek:

Dengan alat-alat bantu di atas, kita tidak perlu takut tersesat lagi di negeri orang walaupun travelling sendirian tanpa tour guide. Saya dan suami adalah tipe orang yang lebih senang merencanakan perjalanan sendiri. Lebih puas rasanya. Mumpung masih muda dan ada tenaga, hahaha. Lagian ikut tour juga hitungannya lebih mahal dan terbatas jumlah lokasi yang bisa kita datangi.

Untuk menekan biaya transportasi yang super mahal di Jepang, manfaatkan fasilitas berbagai pass yang ditawarkan untuk wisatawan asing. Pembahasan tentang pass ini akan saya bahas di segmen terpisah.

Meals

Sebagai negara maju tentunya biaya hidup di Jepang jauh lebih tinggi daripada di Indonesia. Hal yang paling terasa disini adalah mahalnya harga makanan. Untuk belanja yang lain-lain mungkin masih bisa ditahan-tahan, tapi kalau urusan perut rasanya tidak bisa dikompromikan. Kita butuh makan supaya ada tenaga. Berikut adalah range harga makanan di Jepang (per porsi)

  • Nasi putih instan: 100 – 200 Yen
  • Bento set di convenience store (Lawson, 7-11, Family Mart, dll): 500 – 650 Yen
  • Makan di depot / restaurant kecil: 1.000 – 1.500 Yen
  • Makan di restaurant besar: > 2.000 Yen
  • Air mineral ukuran 600 ml: 100 – 120 Yen

Sekian dulu tips dari saya.. Semoga memberikan sedikit gambaran tentang merencanakan liburan kalian ke Jepang.

 

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 15): Back To Jakarta

Rabu, 26 April 2017

Hari ini adalah hari ke-15 di Jepang yang berarti hari terakhir berlakunya visa waiver. Sebelum diusir secara paksa lebih baik kita segera pulang ke kampung halaman, hahaha. Kami berangkat pagi sekali dari apartemen ke stasiun kereta Nakano. Tujuannya adalah untuk menghindari rush hour pagi yang biasanya berlangsung pk. 07:00 – 09:00 pagi. Saat rush hour rasanya tidak ada space kosong di gerbong kereta. Semua penuh sesak dan badan menempel satu sama lainnya. Kalau keadaannya begitu bagaimana kami bisa memasukkan 2 koper medium dan 1 dus medium ke dalam kereta? So, lebih baik kami mengalah untuk berangkat lebih pagi walaupun pesawat kami baru akan berangat pk. 10:35. Untuk kalian yang travelling dengan baby atau anak kecil saya sarankan menghindari rush hour juga karena kondisi gerbong yang penuh sesak seperti itu tidak baik untuk pernapasan (kurang oksigen). Saking sesaknya di gerbong, saya sampai tidak punya kesempatan untuk memoto kondisi penumpang dalam gerbong.

Tokyo memiliki 2 airport yaitu Haneda dan Narita. Dari awal membeli tiket pesawat, saya dan suami sudah memastikan bawah pesawat kami akan berangkat dari airport Haneda. Kami memilih Haneda karena letak Haneda yang lebih dekat dengan pusat kota Tokyo sehingga biaya keretanya bisa lebih murah, hehe.

Saya dan suami naik kereta dari stasiun kereta Nakano pk. 06.21 dan harus 2 kali transit di stasiun kereta Kanda dan Hamamatsucho sampai akhirnya naik Tokyo Monorail Haneda Express dari stasiun Hamamatsucho. Perjalanan ke airport Haneda memakan waktu sekitar 1 jam.

Kami tiba di gedung terminal 1 keberangkatan international dan melakukan proses drop baggage di counter Cathay Pacific. Sehari sebelumnya kami telah melakukan web check-in sehingga tidak perlu lagi mengantri di counter check-in. Setelah mengurus bagasi pesawat kami berjalan keluar gedung terminal untuk naik free shuttle bus menuju terminal 1 domestik. Pak suami dapat titipan order dari kakak-nya untuk membelikan tumbler Starbucks Jepang untuk koleksi. Starbucks di airport Haneda hanya ada di terminal 1 domestik tepatnya di lantai 3. Saya sekalian membeli minuman green tea latte disana. Setelah selesai kami kembali ke gedung terminal 1 keberangkatan international dengan free shuttle bus dan mengurus imigrasi. Antrian imigrasi tidak terlalu lama dan kami segera masuk ke ruang tunggu. Pesawat berangkat sesuai jadwal semula, tidak delay. Pesawat yang kami naiki akan transit selama 5 jam di Hong Kong sebelum berangkat ke Jakarta.

Kami tiba di terminal 1 Hong Kong International Airport sekitar pk. 14:10. Sebenarnya agak galau juga tentang apa yang akan dilakukan selama transit 5 jam di Hong Kong. Apakah mau keluar airport dan main sebentar ke kota Hong Kong atau tetap stay di airport? Setelah berunding dengan pak suami akhirnya diputuskan untuk tetap stay di airport saja dengan pertimbangan kereta (express train) ke kota Hong Kong juga lumayan mahal, belum pula kalau nantinya kalap belanja-belanja, hahaha. Informasi lebih lanjut tentang express train bisa dicek di link berikut: http://www.hongkongairport.com/eng/transport/to-from-airport/airport-express.html

Sambil menunggu waktu transit kami merencanakan untuk lunch dan keliling airport saja. Dikarenakan pilihan restaurant di terminal 1 tidak sebanyak di terminal 2 maka kami pun berencana untuk jalan-jalan ke terminal 2. Untuk berjalan ke terminal 2, kita diharuskan untuk melalui imigrasi dulu dan mengisi form kedatangan. Agak aneh memang tapi sebagai pendatang kita harus patuh pada peraturan. Setelah mengisi form kedatangan kami pun melalui antrian imigrasi. Saat ditanya petugas akan menginap dimana di Hong Kong kami jawab bahwa kami hanya penumpang transit dan pesawat kami akan berangkat ke Indonesia pk. 19:05. Tidak ada masalah yang berarti saat melewati imigrasi.

P_20170426_163918_vHDR_Auto
Menu lunch di HKIA

Di terminal 2 kami makan siang di sebuah kedai yang bernama Qian Shao Bai Wei dengan menu set nasi BBQ. Dari hasil survey sih tempat makan ini yang paling terjangkau. Tapi sayangnya tempat makan ini tidak cocok untuk teman-teman yang muslim karena mengandung babi. Setelah makan siang kami berjalan-jalan di terminal 2 saja.

P_20170426_161148_vHDR_Auto
Lagi ada pameran Star Wars di depan bioskop IMAX HKIA

Tidak banyak yang bisa dilihat di Hong Kong International Airport (HKIA) ini sebenarnya. Berbeda dengan Changi International Airport di Singapore yang punya banyak fasilitas yang bisa dinikmati penumpang transit secara free. Bioskop yang ada di HKIA pun adalah bioskop IMAX berbayar (harga berkisar HKD 120 per orang). Akhirnya kami hanya berjalan-jalan mengelilingi pertokoan yang ada di terminal 2 dan duduk-duduk santai sambil menikmati free wifi. 2 jam menjelang boarding kami kembali berjalan kaki ke terminal 1 dengan melewati imigrasi. Setelah itu kami menunggu di ruang tunggu sampai pesawat boarding. Pesawat Cathay Pacific ke Jakarta berangkat tepat waktu pk. 19:00. Kami sampai di Soekarno Hatta International Airport terminal 2 pk. 22:45 malam. Sungguh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Kalau ada uang lebih memang lebih baik kalau pakai direct flight sih.

EXPENSES:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR; 1 HKD = 1.725 IDR)

  • Train from Nakano to Haneda Airport: 2 x JPY 800 = JPY 1.600 = IDR 194.640
  • Green Tea Latte (Grande) at Starbucks Haneda: JPY 507,6 = IDR 61.724
  • Tumbler Starbucks at Haneda: JPY 1.436 = IDR 174.689
  • Lunch at Qian Shao Bai Wei HKIA: 2 x HKD 42,5 = HKD 85 = IDR 146.625

TOTAL EXPENSES = IDR 577.678

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang akan berkunjung ke Jepang dan saya ucapkan selamat bertualang ke Jepang!

Travel Journal

Trip To Japan (Day 13 & 14): Tokyo Disneyland & Tokyo Disneysea

Setelah bergumul dengan jadwal itinerary yang hectic dimana 1 hari bisa sampai ke 3-4 tempat tujuan, hari ini dan besok adalah saatnya bersantai. Tempat yang dituju cuma 1 dalam sehari. Hari ini saya dan pak suami akan mengunjungi Tokyo Disneyland dan besoknya ke Tokyo Disneysea. Tiket sudah kami beli dari Jakarta saat berlangsung event Japan Travel Fair 2017. Kami membeli tiket 2 day pass seharga 13.200 Yen, 1 hari untuk Disneyland dan 1 hari untuk Disneysea. Tiket ini tanggalnya sudah fix dan tidak bisa ditukar.

P_20170424_092306_vHDR_Auto
Tokyo Disneyland Easter Edition

Pada mulanya pak suami agak malas-malasan saat saya mengajaknya ke Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea karena dia berpikir atraksi permainan disana hanya khusus untuk anak-anak. Seorang pria seakan-akan turun harga dirinya kalau mengunjungi tempat seperti Tokyo Disneyland. Hahaha! Pada kenyataannya, wahana permainan disana cukup general kok. Tidak melulu mainan anak kecil lho. Banyak sekali anak remaja yang berkunjung kesana. Intinya Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea adalah theme park dimana kita bisa bertemu secara langsung dengan karakter Disney idola kita baik dalam atraksi permainan ataupun dalam parade. Oh ya, parade-parade di Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea ini patut disaksikan lho.. keren-keren sekali! Semuanya disini lucu-lucu dan menggemaskan alias “kawaii” dalam bahasa Jepang-nya. Kalau dari segi kawaii, Tokyo Disneyland menurut saya lebih kawaii daripada Tokyo Disneysea.

Best time untuk mengunjungi Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea adalah saat weekdays, bukan hari sabtu-minggu atau hari libur. Selain itu pastikan saat kalian berkunjung cuaca sedang cerah (bisa cek prakiraan cuaca seperti Accuweather) karena kebanyakan parade dilakukan di luar ruangan. Saat membuat itinerary saya sengaja menaruh alokasi waktu untuk berkunjung ke Disneyland dan Disneysea saat weekdays. Menurut Google, kepadatan pegunjung Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea saat weekdays hanya 30-50%-nya saja dan saat weekend akan membludak jadi 80-100% (cek di http://www.tdrnavi.jp/forecast/disneyland?lang=en). Dari pengalaman langsung waktu kesana, kepadatan 50% itu saja ramai sekali lho rasanya! Antrian atraksi permainan favorit bisa sampai 1 jam sendiri. Apa kabar dengan kepadatan 100% ya?! Pasti tidak enjoy sekali dan waktu kita akan habis hanya untuk mengantri atraksi permainan. Dengan kondisi pergi saat weekdays pun ternyata saya tidak berhasil mencicipi semua atraksi di Disneyland. Atraksi yang saya utamakan adalah atraksi favorit dulu, kalau ada waktu lebih baru mencoba atraksi lain yang lebih tidak populer. Sepertinya untuk bisa puas menjelajah Tokyo Disneyland harus mengalokasikan 2 hari disini deh. Untuk Disneysea, kami bisa mendapatkan semua atraksi favorit yang kami inginkan dalam satu hari kunjungan.

Disarankan untuk membeli tiket masuk terlebih dahulu sebelum datang ke Disneyland dan Disneysea. Dengan membeli tiket duluan, kita akan mengurangi waktu antrian di loket dan bisa langsung masuk ke gate. Sekedar informasi, selain 1 day pass atau 2 day pass, Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea juga menyediakan pass malam yang lebih murah: Starlight pass (pass yang berlaku saat hari weekend (Sabtu-Minggu) atau hari libur, setelah pk. 15:00 sore) seharga 5.400 Yen dan After 6 pass (pass yang berlaku saat hari weekdays, Senin-Jumat, setelah pk. 18:00 malam) seharga 4.200 Yen. Konsekuensinya pass malam ini ya kita hanya punya waktu sebentar sebelum theme park tutup. Pass malam ini lebih ditujukan untuk orang-orang yang hanya ingin menyaksikan parade malam hari di Tokyo Disneyland atau Tokyo Disneysea.

Untuk menghemat waktu antrian, pada atraksi permainan favorit di Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea tersedia fasilitas FASTPASS. FASTPASS adalah tiket masuk ke suatu atraksi permainan tanpa melewati jalur antrian reguler yang biasanya sangat panjang. Dari pengalaman saya, dengan menggunakan FASTPASS kita bisa hemat waktu antrian suatu atraksi sampai 30 menit lho. FASTPASS bisa didapatkan secara free. Caranya tinggal datang ke atraksi permainan yang kalian mau yang menyediakan fasilitas FASTPASS (List-nya bisa dicek di situs resmi Tokyo Disneyland: http://www.tokyodisneyresort.jp/id/attraction/lists/park:tdl#tags=50 dan Tokyo Disneysea: http://www.tokyodisneyresort.jp/id/attraction/lists/park:tds#tags=50) kemudian scan barcode tiket Disney kalian di mesin ticket FASTPASS dan tunggu tiket FASTPASS-nya keluar . Setelah tiket keluar, cek jam berlakunya tiket FASTPASS dan kalian tinggal datang lagi ke atraksi tersebut saat jam yang tertera di tiket FASTPASS dengan mengambil jalur antrian khusus FASTPASS dan menunjukkan tiket FASTPASS kalian ke petugas. Satu tiket FASTPASS hanya berlaku untuk satu orang saja. Perlu diperhatikan disini bahwa kita tidak bisa mengambil tiket FASTPASS berikutnya di atraksi permainan lain sampai dengan waktu yang ditentukan (tertera di tiket FASTPASS yang telah kita ambil). Sambil menunggu waktu untuk bisa mengambil tiket FASTPASS lagi kita bisa mengantri di atraksi permainan lain yang tidak ada fasilitas FASTPASS atau menonton parade.

Jam operasional theme park setiap harinya bisa berbeda. Kita harus rajin cek situs resmi Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea pada bagian kalender operasional-nya supaya kita bisa merencakanan kedatangan dengan baik (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu siang): http://info.tokyodisneyresort.jp/id/calendar/201706.html#20170607. Jadwal parade juga bisa berubah-ubah setiap minggu-nya, kita harus cek di brosur yang diberikan petugas saat kita masuk theme park. Pastikan brosur yang kamu dapat adalah yang versi bahasa Inggris ya, hehe.

Selain jam operasional, kalian juga harus mengecek jenis atraksi apa saja yang sedang tutup di saat kalian datang. Tujuannya supaya kalian tidak buang-buang waktu dan tenaga untuk mendatangi atraksi tersebut dan jadi kecewa karena atraksinya ditutup untuk perbaikan atau perawatan rutin.

Bahasa pengantar yang digunakan dalam semua atraksi permainan dan juga parade di Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea adalah bahasa Jepang. Kecuali untuk beberapa lagu Disney masih ada dalam versi bahasa Inggris-nya. Walaupun saya dan suami tidak mengerti bahasa Jepang tapi kami tetap bisa enjoy mengikuti euforia disana.

Another tips from me adalah kalian disarankan untuk men-download aplikasi yang bernama “TDR Wait Time“. Untuk pengguna Android silakan download di Play Store. Aplikasi ini sangat membantu sekali karena menginformasikan kepada kita waktu tunggu (wait time) setiap atraksi permainan yang ada di Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea sehingga kita bisa mengatur waktu kita seefisien mungkin. Daripada mengantri lama di suatu atraksi, lebih baik kita mencari atraksi lain (yang juga kategori favorit) dengan waktu tunggu yang lebih singkat. Selain itu aplikasi ini juga memberikan informasi waktu ketersediaan tiket FASTPASS di beberapa atraksi permainan yang memiliki fasilitas FASTPASS. Contohnya pada aplikasi tertulis wahana “A” FASTPASS pk. 17.00 – 18.00 maka artinya kalau kita mengambil tiket FASTPASS dari siang pun kita baru bisa menggunakan tiket FASTPASS tersebut di pk. 17:00 – 18:00.

Pada saat kita akan melewati gate masuk theme park, kita akan melalui pemeriksaan tas dari pihak security. Pemeriksaan tas-nya sih seadanya saja jadi saya masih bisa “menyelundupkan” bekal makan siang saat masuk ke Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea. Membawa bekal makanan sendiri ada untungnya juga selain bisa menekan budget makan (secara makanan di theme park kan agak mahal) yaitu kita bisa hemat waktu mengantri di restaurant. Saat lunch dan dinner time hampir semua restaurant di theme park penuh dan harus mengantri untuk dapat seat. Alangkah lebih baik kalau waktu mengantri tersebut dialihkan buat antrian masuk atraksi permainan. Biasanya saat lunch dan dinner antrian di atraksi permainan jadi sangat berkurang. Untuk air minum tidak usah khawatir karena banyak drinking water station di dalam theme park. Kita tinggal menyediakan botol minum sendiri saja.

Senin, 24 April 2017

Tokyo Disneyland

Kami berangkat dari apartemen sekitar jam 8 pagi ke stasiun kereta Nakano untuk naik kereta ke stasiun Tokyo dan berganti kereta ke arah stasiun Maihama. Saat naik kereta dari stasiun Nakano saya dan suami sempat merasakan rush hour di Tokyo dimana kereta sangat penuh sesak karena banyaknya penduduk yang mau pergi kerja. Dari stasiun kereta Maihama kita tinggal berjalan kaki sebentar sampai ketemu stasiun kereta khusus Tokyo Disney Resort dan naik kereta ke stasiun Tokyo Disneyland. Kereta Tokyo Disney Resort ini bisa dikatakan harganya cukup mahal untuk jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Kalau mau lebih murah mungkin bisa jalan kaki saja dari stasiun Maihama (sekitar 10 menit) tapi saya tidak menyarankan untuk jalan kaki karena lebih baik tenaganya disimpan buat mengitari Tokyo Disneyland yang luas sekali itu, hahaha. Saya dan suami sih lebih memilih naik kereta khusus Tokyo Disney Resort saja sekalian kita bisa melihat interior kereta yang bertema Disney.

P_20170424_091518_BF
Inside Disney Train

Tiket Tokyo Disneyland yang telah kami beli di Jakarta sebelumnya tidak perlu lagi di-print di counter. Barcode yang ada di tiket tinggal di-scan pada gate masuk saja. Antrian masuk gate pagi itu tidak terlalu panjang (karena weekdays). Kami menyempatkan untuk mengambil brosur (english version tentunya) sebelum masuk theme park.

Begitu masuk ke dalam Tokyo Disneyland sekitar pk. 09:30, pak suami langsung sigap berlari ke mesin tiket FASTPASS untuk atraksi Monster Inc. Itu pun FASTPASS-nya sudah buat sore hari lho, hahaha. Antrian reguler Monster Inc juga tidak kalah panjangnya. Harap maklum karena Monster Inc adalah salah satu atraksi favorit di Tokyo Disneyland.

Sambil menunggu berlakunya FASTPASS, kami memutuskan untuk mengantri di atraksi lainnya atau menonton parade terlebih dahulu. Berikut adalah jenis atraksi, show dan parade yang berhasil kami ikuti selama seharian di Tokyo Disneyland:

Atraksi

  1. Star Tour: The Adventure Continue
    Menonton film Star Wars dalam bentuk 3D dengan special effect. Kita akan masuk ke kabin pesawat yang memuat 40 orang untuk bersama-sama berpetualang mengikuti jalan cerita film.
  2. Cinderella’s Fairy Tales Hall
    Explore Cinderella’s castle

    P_20170424_142710_vHDR_Auto
    Cinderella’s Castle
  3. Snow White Adventure
    Naik kereta dengan latar belakang kisah Snow White.
  4. Peter Pan’s Flight
    Kereta-nya lebih mirip kereta gantung yang bikin efek kita seakan-akan sedang terbang bersama Peter Pan.
  5. Minnie’s House
    Melihat interior rumah Minnie Mousse.
  6. Pooh’s Hunny Hunt
    Naik kereta dengan latar belakang kisah Winnie The Pooh.
  7. Big Thunder Mountain
    Roller Coaster. Naik ini karena ditipu sama suami karena dia tahu saya paling anti naik roller coaster, hehe. Menurut saya sih lumayan serem track-nya karena ada bagian yang menukik tajam.
  8. Monster Inc. Ride & Go Seek
    Main tembak-tembakan dan bersaing score dengan teman satu kereta kita (1 kereta ada 2 orang).
  9. Jungle Cruise: Wildlife Expedition
    Keliling kapal melihat hewan-hewan liar di hutan. Tentu saja hewan-hewannya bukan sungguhan dan robot belaka. Tapi robot-nya keren-keren lho dan mirip aslinya. Kami kebagian kapal ini pas sudah senja jadi pemandangannya kurang bagus. Disarankan untuk naik kapal ini saat siang hari.
  10. Buzz Lightyear’s Astro Blaster
    Main tembak-tembakan juga. 1 kereta memuat 2 orang

Saat saya kesana atraksi Pirates Of Caribbean sedang ditutup. Padahal kayaknya seru juga deh atraksinya.

Parade & Show

  1. Daytime Parade: Usatama On The Run
    Parade khusus tema Easter

  2. Daytime Parade: Happiness Is Here

    P_20170424_142459_vHDR_Auto
    Daytime Parade
  3. One Man’s Dream II: The Magic Lives On
    Teater Musikal Mickey Mouse & friends

    P_20170424_195539_vHDR_Auto
    Electrical Parade Dreamlight
  4. Nighttime Parade: Electrical Parade Dreamlight
    Parade paling keren! Hanya ada di malam hari. Semua lampu d rute yang akan dilewati kendaraan parade akan dimatikan dan menambah lighting effect dari parade ini.

    P_20170424_204707_NT
    Cinderella’s Castle at night. Tempat berlangsungnya pertunjukan Once Upon A Time.
  5. Once Upon A Time
    Show di malam hari dengan Cinderella’s castle sebagai layarnya. Menceritakan karakter berbagai princess Disney lengkap dengan lagu-lagu temanya ditambah dengan kembang api dan special effect lainnya. Wajib ditonton juga.
P_20170424_172500_vHDR_Auto
Curry Rice porsi besar
P_20170424_160344_vHDR_Auto
Pak suami dan popcorn bucket. Kawaii!

Kalau kalian suka popcorn, kalian bisa hunting popcorn aneka rasa yang booth-nya tersebar di Tokyo Disneyland (ada keterangan pada map Tokyo Disneyland). Saya juga membeli popcorn bucket baby Minnie Easter edition buat kenang-kenangan. Suami memilih untuk mengkoleksi koin-koin logo Disney dari mesin cetak koin berbayar yang lokasinya ada beberapa tempat, salah satunya ada di Penny Arcade. Untuk makan malam kami memilih menu Japanese Curry Rice di Hungry Bear Restaurant. Ketika mau pulang ke apartemen kami sempat mampir di 7-11 untuk membeli bento set untuk sarapan besok.

EXPENSES:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Train from Nakano to Tokyo Disneyland (round trip): 2 x 2 (JPY 470 + 260) = JPY 2.920 = IDR 355.218
  • Popcorn: JPY 310 = IDR 37.711
  • Popcorn Bucket Disney Easter Edition: JPY 2.560 = IDR 311.424
  • Dinner Curry Rice: 2 x JPY 1.024 = JPY 2.048 = IDR 249.139
  • Bento Set at 7-11: JPY 498 = IDR 60.582

TOTAL EXPENSES = JPY 8.336 = IDR 1.014.074

Selasa, 25 April 2017

Tokyo Disneysea

Saya dan suami juga berangkat pagi dari apartemen untuk mengejar kereta ke Tokyo Disneysea. Rute perjalanan sama seperti kemarin saat ke Tokyo Disneyland hanya saja hari ini kita akan turun di stasiun kereta Tokyo Disneysea. Pagi ini di kereta kami juga kebagian rush hour dan kereta jadi sesak sekali. Badan saling menempel satu sama lain saking penuhnya. Walaupun negara Jepang minim terjadi pelecehan seksual dalam transportasi umum tapi lebih baik sebagai wanita kita juga bisa menjaga diri.

P_20170425_175146_vHDR_Auto
Globe Tokyo Disneysea

Sekedar informasi, Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea berada di lokasi terpisah walaupun masih di satu kawasan Tokyo Disney Resort. Kalau ada yang berniat jalan kaki dari stasiun Maihama ke Tokyo Disneysea dengan alasan lebih murah, sebaiknya sih diurungkan saja niatnya karena jalan kakinya akan lebih jauh daripada sekedar hanya ke Tokyo Disneyland. Jalan kaki dari stasiun Maihama ke Tokyo Disneysea harus ditempuh dalam waktu 15-20 menit. Alangkah lebih baik tenaganya disimpan untuk mengitari Tokyo Disneysea saja, hehe.

Secara overall, atraksi permainan di Tokyo Disneysea ini lebih banyak ditujukan untuk remaja dan dewasa karena sifatnya yang lebih menantang. Banyak atraksi roller coaster dan atraksi menegangkan lainnya. Secara luas lokasi juga Tokyo Disneysea ini tidak sebesar Tokyo Disneyland jadi untuk full explore hanya dibutuhkan waktu 1 hari (dengan catatan perginya di weekdays ya). Cuaca di Tokyo Disneysea berasa lebih terik (walaupun anginnya tetap sejuk), mungkin karena dekat laut ya.. tau-tau pas balik kulit jadi gosong!

Begitu masuk ke dalam gate Tokyo Disneysea, pak suami segera berlari untuk mengambil tiket FASTPASS Toy Story. Itu pun FASTPASS-nya baru berlaku sore hari. Toy Story ini adalah atraksi paling favorit dan paling panjang antriannya di Tokyo Disneysea. Setelah makan siang baru pak suami mengambil FASTPASS untuk atraksi Indiana Jones.

P_20170425_134509_vHDR_Auto
Salah satu sudut di Tokyo Disneysea

Untuk popcorn aneka rasa di Tokyo Disneysea juga ada tapi tidak sebanyak yang ada di Tokyo Disneyland. Kalau memang berniat membeli popcorn bucket disarankan untuk beli di Tokyo Disneyland saja karena lebih banyak pilihan.

P_20170425_145628_vHDR_Auto
Masih edisi Easter

Berikut adalah atraksi, show dan parade yang kami ikuti selama seharian di Tokyo Disneysea. Untuk parade menurut saya lebih keren yang di Tokyo Disneyland.

Atraksi

  1. Journey To The Center Of The earth
    Kalau ini pak suami saja yang main karena tipe permainannya roller coaster.
  2. Sinbad Storybook Voyage
    Naik kereta dengan latar belakang cerita Sinbad.
  3. The Magic Lamp Theatre
    Nonton film 3D di theatre tapi menurut saya kurang oke.
  4. 20.000 Leagues Under The Sea
    Seolah-olah naik kapal selam yang turun ke dalam laut.
  5. Indiana Jones Adventure: Temple Of Crystal Skull
    Termasuk permainan roller coaster. Pak suami saja yang main, saya tidak ikut.
  6. Aquatopia
    Kendaraan air dengan track khusus.
  7. Disneysea Transit Steamer Line
    Kapal rekreasi yang menghubungkan Mediterranean Harbor dan Lost River Delta

    P_20170425_160447_vHDR_Auto
    Jelajah benteng
  8. Fortress Exploration
    Menjelajahi benteng pinggir laut

    P_20170425_173716_BF
    Toy Story Mania
  9. Toy Story Mania
    Main tembak-tembakan dan bersaing score dengan teman satu kereta kita (1 kereta ada 2 orang)

Parade & Show

  1. Fashionable Easter
    Show dengan panggung perairan. Karakter Disney akan memakai kostum tema Easter dan bernyanyi-nyanyi di atas kapal.

    P_20170425_110252_vHDR_Auto
    Sesaat sebelum masuk theatre King’s Triton Concert
  2. King’s Triton Concert
    Pertunjukan di Mermaid Theatre Lagoon. Disini bintang utamanya adalah Ariel sang Mermaid yang bernyanyi dan menghibur kita semua. Wajib di tonton karena ada atraksinya juga selain nyanyian.

    P_20170425_150121_vHDR_Auto
    Panggung Big Band Beat
  3. Big Band Beat
    Pertunjukan tarian dan nyanyian oleh Mickey Mouse & Friends.

    P_20170425_170726_vHDR_Auto
    Duffy & Friends

     

  4. My Friend Duffy
    Pertunjukan ini ada di dalam restaurant Cape Cod Cook-Off. Kesini juga tidak sengaja saat mau ngemil, hehe.

Dikarenakan pada jam 6 sore kami sudah selesai meng-explore Tokyo Disneysea maka kami tidak dinner disana melainkan beli bento di warung dekat apartemen yang jelas lebih enak dan kenyang, hahaha. Kami juga harus pulang cepat karena menunggu kiriman paket dari teman kami di Osaka yang dijadwalkan akan dikirim jam 8 malam. Dan benar saja tepat jam 8 malam pintu apartemen diketuk oleh pak pos-nya. Pak suami juga sempat singgah ke toko stationery untuk membeli perlengkapan packing (tali rafia dan lakban) untuk kembali ke Jakarta besok. Kelamaan di Jepang memang bikin koper jadi “ber-anak pinak”. Saya yang awalnya berangkat 2 koper medium, pulangnya jadi ada tambahan 1 dus medium. Demi alasan penghematan lebih baik barang di-packing sendiri dengan baik jadi tidak perlu lagi wrapping di bandara karena mahal (harga 1.000 Yen – 2.000 Yen per koper tergantung ukurannya).

EXPENSES:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Train from Nakano to Tokyo Disneysea (round trip): 2 x 2 (JPY 470 + 260) = JPY 2.920 = IDR 355.218
  • Popcorn: JPY 310 = IDR 37.711
  • Ice cream: JPY 310 = IDR 37.711
  • Hamburger Set at restaurant Cape Cod Cook-Off: JPY 1.430 = IDR173.959
  • Bento set: JPY 590 + JPY 550 = JPY 1.140 = IDR 138.681
  • Stationery: JPY 624 = IDR 75.910

TOTAL EXPENSES = JPY 6.734 = IDR 819.191

To Be Continued…

 

 

 

Travel Journal

Trip To japan (Day 12): Tokyo – Part 3

Hello! Setelah sempat vakum menulis blog beberapa saat karena ada kunjungan keluarga ke rumah saya, akhirnya sekarang saya bisa punya waktu menulis lagi. Cerita tentang liburan Jepang yang belum selesai alias menggantung di tengah-tengah ini membuat salah seorang teman saya sampai bertanya-tanya apakah saya masih di Jepang atau sudah kembali ke Indonesia? Hahaha. Kunjungan keluarga kali ini memang agak lama, sekitar 3 minggu dan bikin rumah jadi ramai. Kondisi rumah yang ramai membuat saya jadi malas menulis karena saya lebih suka menulis dalam keadaan tenang. Okay, now back to the topic about Japan trip..

Minggu, 23 April 2017

Sama seperti kemarin, hari ini kami masih beredar di Tokyo saja. Kami sengaja menyisihkan waktu 3 hari dari itinerary kami untuk bisa meng-explore Tokyo. Sebenarnya sih 3 hari saja tidak akan cukup kalau mau benar-benar menjelajahi Tokyo, tapi karena waktu terbatas jadi 3 hari tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kebanyakan toko di Tokyo baru buka jam 10 pagi, oleh karena itu hari ini kami ada excuse untuk bisa bangun lebih siang, hahaha.

P_20170423_091443_BF
Pak suami selfie sambil jogging

Pak suami menyempatkan untuk jogging pagi ini mengelilingi rute dari area Nakano hingga Shinjuku sejauh 6 km selama 50 menit.  Saya tidak ikut karena lebih memilih untuk menyiapkan bekal dan sarapan untuk kami berdua. Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami meninggalkan apartemen sekitar pk. 10:00 untuk berjalan ke stasiun kereta Nakano.

Shinjuku Gyoen National Park

Tujuan pertama kami adalah ke taman Shinjuku Gyoen. Shinjuku Gyoen ini juga salah satu cherry blossom spot di Tokyo. Hanya saja pada saat kami kesana, sakura mekarnya tinggal sedikit. Untuk menuju Shinjuku Gyoen kami naik kereta dari stasiun kereta Nakano ke stasiun kereta Shinjuku dan dilanjutkan jalan kaki 10 menit ke gate Shinjuku Gyoen. Selain kereta, untuk ke Shinjuku Gyoen bisa juga ditempuh dengan subway akan tetapi karena kami masih menggunakan fasilitas JR Pass jadi kami lebih memilih naik kereta JR biar free, hehe.

P_20170423_121244_vHDR_Auto
Salah satu sudut di Shinjuku Gyoen dengan sisa-sisa sakura mekar

Untuk masuk ke kompleks taman Shinjuku Gyoen kita harus membayar admission fee sebesar 200 Yen per orang. Kondisi taman sangat bersih dan terawat. Banyak terlihat turis disini baik lokal maupun mancanegara. Pengunjung dilarang untuk membawa hewan peliharaan, sepeda, trolley, minuman beralkohol dan tanaman ke dalam taman. Taman di Shinjuku Gyoen terbagi-bagi berdasarkan tema-nya, ada tema Jepang, Inggris, Perancis dan bahkan ibu-anak. Cuaca yang cerah dan banyaknya pepohonan membuat udara disini sangat segar. Banyak pengunjung yang melakukan piknik, jogging, jalan-jalan dan bahkan melakukan hobby-nya (misal melukis) di kompleks taman. Kami makan bekal makan siang di sudut taman yang sejuk dan ada bangku-nya. Setelah puas melihat-lihat, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. Kami naik kereta dari stasiun Sendagaya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki 5 menit dari Sendagaya gate.

P_20170423_122438_BF
Under Sakura Tree

Opening Hours : 9:00 to 16:30 (entry until 16:00)
Closed : Mondays (or following day if Monday is a national holiday), December 29 to January 3. There are no closing days during the cherry blossom season (late March to late April) and the Chrysanthemum Exhibition (first half of November).
Admission Fee : 200 Yen
Website : http://www.env.go.jp/garden/shinjukugyoen/english/index.html

Tokyo Metropolitan Government Building

P_20170423_135907_vHDR_Auto
View from South Observatory deck

Dari stasiun kereta Sendagaya, kami naik kereta menuju stasiun Shinjuku dan berjalan kaki 15 menit dari west exit stasiun Shinjuku ke Tokyo Metropolitan Government Building. Gedung perkantoran ini memiliki 2 observatory deck setinggi 202 meter yang bisa diakses secara gratis. South Observatory buka dari pagi sampai sore sedangkan North Observatory buka sampai malam hari. Selain observatory, di dalam gedung juga terdapat cafe dan toko souvenir. Karena keterbatasan waktu, Saya dan suami hanya mengunjungi South Observatory saja. Untuk rute pulang kami memilih naik subway daripada harus berjalan kaki kembali ke stasiun Shinjuku. Kebetulan kaki sudah pegel dan punggung juga encok! Dari gedung kita tinggal jalan kaki keluar sedikit dan sudah tampak tangga ke bawah dengan tulisan stasiun subway Tocho-mae. Kami naik subway sampai stasiun kereta Yoyogi dan kemudian dilanjutkan dengan kereta ke arah Shinjuku.

Opening Hours : North Observatory: 9:30 to 23:00; South Observatory: 9:30 to 17:30 (until 23:00 when North Observatory is closed); Admission end 30 minutes before closing time
Closed : North Observatory: 2nd and 4th Monday of each month (next day if national holiday); South Observatory: 1st and 3rd Tuesday of each month (next day if national holiday); Both observatories: December 29 to January 3 (except January 1).
Admission Fee : Free
Website : http://www.metro.tokyo.jp/ENGLISH/OFFICES/observat.htm

PABLO Cafe Harajuku / Omotesando

Hari ini kami khusus datang ke Harajuku untuk nongkrong di cafe Pablo yang terkenal dengan cheese tart-nya itu. Toko Pablo sebetulnya ada banyak di Jepang tapi tidak semua toko menjual mini cheese tart. Saya malas membeli cheese tart ukuran reguler karena menurut saya kebanyakan untuk porsi 2 orang. Lagipula kalau beli mini cheese tart kan bisa icip-icip berbagai rasa. Cafe Pablo ini terletak tidak jauh dari stasiun kereta Harajuku. Tinggal berjalan kaki sekitar 5 menit saja.

P_20170423_161904_vHDR_Auto
Our cheese tarts & ice cream

Sesampainya di depan cafe Pablo sudah terlihat antrian panjang pengunjung. Kami pun ikut antri dalam barisan. Kami mengantri sekitar setengah jam untuk bisa dlayani dan mendapatkan tempat duduk. Saya memesan mini cheese tart original, matcha dan cokelat. Selain itu saya juga memesan cheese ice cream cone-nya. Enaaak! Ga percuma deh harus antri lama. Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Opening Hours : 10:00 – 21:00
Closed : No Fixed Day
Website : http://www.pablo3.com/shop/detail/?seq=12

Odaiba

Dari stasiun kereta Harajuku kami naik kereta ke stasiun Shimbashi. Dari stasiun kereta Shimbashi kami berganti kereta Yurikamome yang tidak di-cover oleh JR Pass untuk menuju ke Odaiba. Kereta Yurikamome adalah elevated train otomatis (tanpa driver). Rute perjalanan dengan Yurikamome akan melewati jembatan yang dikenal sebagai “Rainbow Bridge” dengan pemandangan lautan dan kerlap-kerlip lampu jembatan. Harga kereta Yurikamome ini memang cukup mahal yaitu 320 Yen per orang untuk sekali jalan. Kalau kalian akan menggunakan kereta ini lebih dari 2 kali dalam satu hari, disarankan untuk membeli 1 day pass seharga 820 Yen. Kalau mau irit katanya ada opsi jalan kaki (sekitar 45 menit) dengan melewati rainbow bridge. Tapi berhubung kaki dan punggung sudah tidak bersahabat, saya memilih naik kereta aja deh.

P_20170423_182527_BF
Berfoto di deck dengan latar gedung Fuji TV

Perjalanan dari stasiun kereta Shimbashi ke stasiun Daiba dengan kereta Yurikamome memakan waktu 15 menit. Sesampainya di stasiun Daiba kita tinggal berjalan kaki sebentar dan langsung terlihat deck yang menghadap pantai dan lautan. Di bagian lain terlihat hotel resort berbintang, mall dan juga gedung Fuji TV yang saat malam memancarkan lampu warna-warni. Gedung Fuji TV juga memiliki observation deck yang bisa diakses dengan membayar 550 Yen per orang. Saya dan suami sih lebih memilih deck pinggir pantai saja yang gratisan, hehe.

P_20170423_181637_vHDR_Auto
Liberty Statue Odaiba

Objek menarik di Odaiba ini adalah replika patung liberty dengan latar belakang lautan dan rainbow bridge. Pemandangan ini seolah-olah membawa kita ke kota New York tempat patung libery asli berasal. Udara sekitar pantai sangat berangin dan anginnya dingin banget! Tidak tahan lama-lama berada di luar sini. Kami pun lebih memilih masuk ke mall untuk menghangkatkan diri sekalian mencari makan malam.

Kami memilih mall Aqua City yang terdekat dengan deck ke patung Liberty. Dalam mall-nya sama saja seperti mall pada umumnya. Kami mampir ke toko Flying Tiger Copenhagen yang menjual barang-barang unik dan lucu. Dari yang awal-nya sekedar lihat-lihat jadi kepincut untuk belanja deh. Hahaha. Selain itu kami juga ke DAISO tapi toko DAISO disini agak lebih kecil dibanding DAISO yang di Takeshita Street Harajuku. Setelah itu kami makan malam di food court yang terletak di lantai 1. Saya memilih menu nasi kari Jepang dari outlet CoCo Curry Ichibanya dan suami memilih menu fried Nagasaki Champon dari outlet Ringer Hut. Fried Nagasaki Champon ini kalau di tempat kita seperti i fu mie, mie kering yang disiram kuah kental yang berisi sayuran dan daging. Suami kurang cocok selera dengan menu makanan pilihannya.

P_20170423_184510_vHDR_Auto
Curry Rice CoCo Ichibanya
P_20170423_185407_vHDR_Auto
Nagasaki Champon Ringer Hut

Setelah selesai makan dan mencari jalan keluar mall kami menemukan counter informasi yang ditempati oleh robot! Robot ini dibuat semirip mungkin dengan manusia sampai dengan kedipan matanya. Robot ini bisa berbicara dengan berbagai bahasa. Ada jadwal pertunjukannya sendiri. Meja di depan robot pun dibuat edisi hologram-nya. Keren banget deh!

Rute untuk pulang ke Tokyo sama dengan rute menuju Odaiba, yaitu menggunakan kereta Yurikamome dan dilanjutkan dengan kereta lokal menuju Nakano. Kami sampai di stasiun kereta Nakano sekitar jam 9 malam. Ini adalah hari terakhir kami menggunakan JR Pass jadi besok naik kereta apapun sudah harus bayar sendiri, hiks..

EXPENSES:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Admission Fee Shinjuku Gyoen: 2 x JPY 200 = JPY 400 = IDR 48.660
  • Subway: 2 x JPY 180 = JPY 360 = IDR 43.794
  • PABLO Cafe: JPY 1.010 = IDR 122.866
  • Yurikamome train: 2 x 2 x JPY 320 = JPY 1.280 = IDR 155.712
  • Dinner at Aqua City: JPY 790 + JPY 788 = JPY 1.578 = IDR 191.964
  • Shopping at Flying Tigen Copenhagen: JPY 756 = IDR 91.967

TOTAL EXPENSES  JPY 5.384 = IDR 654.964

To Be Continued…

Travel Journal

Trip To Japan (Day 11): Tokyo – Part 2

Sabtu, 22 April 2017

Dikarenakan biasanya weekend identik dengan keramaian di hampir semua tempat wisata, jadi weekend ini akan kami habiskan dengan beredar di Tokyo saja. Kebetulan kami juga belum sempat menjelajahi kota Tokyo saat tiba di Tokyo kemarin tanggal 19 April 2017. Itinerary hari ini adalah mengunjungi Harajuku, Shibuya dan Ginza yang merupakan tempat nongkrong anak gaul Tokyo, hahaha. Khusus hari ini ada dispensasi untuk bangun agak siangan karena kebanyakan toko di Tokyo juga baru buka jam 10 pagi.

Harajuku

Kami start berjalan kaki dari apartemen pk 09:30 menuju stasiun kereta Nakano. Dari stasiun kereta Nakano kami naik kereta ke stasiun kereta Shinjuku dan ganti kereta ke arah Harajuku. Suasana Harajuku saat kami tiba sudah ramai dan padat.

P_20170422_141917_BF

Takeshita Street

Takeshita street adalah tempat nongkrong anak-anak muda Tokyo. Di sepanjang jalan kita akan banyak menemukan toko yang menjual barang-barang fashion dan juga cafe-cafe unik dan lucu. Sehubungan budget yang teratas kami tidak mampir di cafe-cafe tersebut.

P_20170422_112805_vHDR_Auto
Takeshita Street

Begitu sampai di Takeshita Street kami langsung berbelanja di DAISO. Toko DAISO menjual berbagai jenis barang dengan harga 100 Yen (plus pajak jadinya 108 Yen per item). Tapi untuk beberapa item ada juga yang harganya diatas 100 Yen. Toko DAISO sebenarnya juga ada di Jakarta tapi dari segi harga lebih mahal (Rp. 25.000 per item) dan pilihan barangnya lebih sedikit. Turis asing banyak terlihat sedang berbelanja di toko ini. Setelah selesai berbelanja di DAISO, kami mencari restaurant untuk makan siang. Pilihan untuk makan siang jatuh di restaurant fast food Lotteria yang sesuai dengan budget.

LINE Friends Store

P_20170422_132754_vHDR_Auto
With Giant Brown
P_20170422_133744_vHDR_Auto
LINE Friends Store

Toko LINE Friends ini terletak tidak jauh dari Takeshita Street. Toko ini menjual segala pernak-pernik bertema karakter-karakter LINE. Bahkan ada 1 ruangan bertema Brown segala lho. Gemes! Harga barang-barang disini cukup mahal karena memang original product of LINE. Kalau saya sih disini hanya numpang foto aja, tidak beli apa-apa (emak-emak medit). Selesai dari toko LINE Friends kami berjalan kaki kembali ke stasiun kereta Harajuku untuk menuju ke Shibuya.

Shibuya

Dari stasiun kereta Harajuku kami naik kereta ke stasiun Shibuya. Perjalanan dengan kereta hanya ditempuh dalam waktu 3 menit. Sebenarnya dari daerah Harajuku ke Shibuya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi karena kaki sudah pegal dan punggung ecok, lebih baik kami naik kereta saja, hahaha.

Hachiko Statue

P_20170422_144748_vHDR_Auto
Hachiko Statue

Patung Hachiko adalah patung anjing berukuran kecil yang melupakan lambang kesetiaan seekor anjing terhadap majikannya. Patung ini terletak tidak jauh dari pintu keluar stasiun Shibuya. Kami tidak berfoto di depan patung ini dikarenakan panjangnya antriannya. Alhasil pak suami hanya bisa mengambil foto dari jauh saja.

Shibuya Crossing

P_20170422_145002_vHDR_Auto
Shibuya Crossing

Shibuya Crossing adalah salah sudut kota Tokyo yang terkenal. Sebenarnya sih cuma penyebrangan jalan biasa tapi yang bikin spesial adalah jumlah simpangan penyebrangannya yaitu ada 5 simpangan dan ketika lampu merah menyala, semua jalur ini serentak dipenuhi dengan penyebrang jalan. Lokasi Shibuya Crossing ini tepat di depan pintu stasiun kereta Shibuya.

Kiddy Land Shibuya

P_20170422_140146_vHDR_Auto
With Rilakkuma & Hello Kitty

Toko ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun kereta Shibuya. Kiddy Land adalah salah satu toko mainan dan pernak-pernik yang terkenal di Tokyo. Bangunan toko ini memiliki 5 lantai. Walaupun toko ini diperuntukkan untuk anak kecil tapi saya lihat banyak juga orang dewasa yang berbelanja disini karena banyak barang yang lucu dan menggemaskan. Selain di Shibuya, Kiddy Land juga memiliki cabang di tempat lain di Jepang.

Mugiwara Store

P_20170422_150151_vHDR_Auto
Pose bersama karakter One Piece

Sehubungan pak suami adalah penggemar One Piece maka dia bersemangat sekali mau ke Mugiwara yang menjual aksesoris original One Piece. Toko Mugiwara ini terletak di dalam mall Shibuya Marui lantai 7. Di dalam toko ada beberapa patung karakter One Piece yang bisa difoto-foto. Selesai dari Mugiwara kami melanjutkan perjalanan ke Ginza.

Ginza

Dari Shibuya kami naik subway ke Ginza. Subway ini tidak di-cover oleh JR Pass sehingga kita harus membayar tiketnya sendiri. Stasiun subway Ginza ini punya banyak pintu keluar jadi daripada salah jalan kami bertanya ke counter information yang berada dekat pintu keluar. Kami menanyakan arah jalan ke Uniqlo.

Uniqlo Ginza

Uniqlo salah satu brand fashion Jepang. Sebenarnya di Indonesia sudah ada cabang Uniqlo juga tapi Uniqlo di Ginza ini jauh lebih lengkap koleksinya terlihat dari bangunan yang lebih besar dan terdiri dari 12 lantai. Harga pun lebih murah 20-30% untuk beberapa item. Ada tambahan free tax 8% juga untuk turis asing dengan minimum pembelanjaan 5.000 Yen (wajib menunjukkan passport di kasir). Nanti receipt barang yang kita beli di Uniqlo akan di-staples di halaman passport kita dan tidak boleh di lepas sampai kita sampai di Indonesia. Selesai berbelanja, saya dan suami mencari restaurant untuk makan malam. Saat itu sedang turun hujan yang lumayan deras. Untung aja kami sudah bawa payung lipat di tas, hehe.

Mencari restaurant murah meriah di daerah Ginza tidak lah mudah karena mall di Ginza yang saya datangi tidak ada food court-nya. Tempat makan di pinggir jalan berupa cafe-cafe elit tempat nongkrong anak muda Jepang yang tidak sesuai budget kami. Akhirnya kami harus berjalan kaki agak jauh sampai menemukan kedai Pepper Lunch Yurakucho. Harga Pepper Lunch disini tidak berbeda jauh dengan di Indonesia, hanya saja kita bisa memilih porsi nasi-nya small, medium atau large. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.

Don Quijote (Donki) Ginza

Dari tempat makan malam, kami berjalan kaki menuju toko Don Quijote (Baca: Donki Hote) Ginza. Malam itu hujan masih turun dan membuat suhu udara makin dingin. Perjalanan ke toko Donki cukup jauh yaitu sekitar 1 km yang ditempuh selama 15 menit jalan kaki. Sesampainya di toko Donki kami langsung kalap berbelanja oleh-oleh. Toko ini jauh lebih besar dan lengkap dari Daiso Harajuku yang kami datangi tadi pagi dan buka 24 jam. Pilihan oleh-oleh makanan jauh lebih banyak juga. Benar-benar seperti toko serba ada. Harga barang di Donki memang tidak flat seperti di Daiso tapi hitungannya tetap murah. Apalagi ada free tax 8% untuk turis asing yang berbelanja minimum 5.000 Yen. Untuk tax redemption ada di counter terpisah dari kasir. Nanti receipt belanjaan kita akan di-staples di passport kita. Barang belanjaan kita juga akan di-wrap dan tidak boleh dibuka sampai kita tiba di Indonesia.

Selesai berbelanja di Donki, kami berjalan kaki ke stasiun kereta terdekat Shimbashi untuk naik kereta ke stasiun Kanda dan berganti kereta ke arah stasiun Nakano.

Expenses:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Shopping at Daiso Harajuku = JPY 702 = IDR 85.398
  • Lunch at Lotteria Harajuku = JPY 1.620 = IDR 197.073
  • Subway to Ginza = 2 x JPY 200 = JPY 400 = IDR 48.660
  • Shopping at Uniqlo Ginda = JPY 6.970 = IDR 847.900
  • Dinner at Pepper Lunch = JPY 1.685 = IDR 204.980
  • Shopping at Donki Ginza = JPY 5.360 = IDR 652.044

TOTAL EXPENSES = JPY 16.737 = IDR 2.036.056

To Be Continued…

 

Travel Journal

Trip To Japan (Day 10): Tateyama Kurobe Alpine Route

Jumat, 21 April 2017

Rencana perjalanan hari ini masih ke tempat yang jauh dan dingin. Untuk pertama kalinya hari ini saya dan suami akan merasakan yang namanya salju secara langsung. Awalnya agak bingung juga, masa iya di bulan April yang kategori musim semi begini masih ada salju? Dan ternyata iya beneran ada salju! Bahkan saljunya ada sepanjang tahun. Wow! Tapi lokasinya tidak disembarang tempat tentunya. Salju ini hanya bisa ditemukan di deretan pegunungan Tateyama atau dikenal dengan Alpine Route yang terletak diantara kota Toyama dan Nagano. Alpine route ini bisa diakses melalui 2 rute, yaitu rute Toyama ke Nagano dan rute Nagano ke Toyama. Dikarenakan start point kami adalah dari Tokyo, maka rute yang kami pilih adalah rute Nagano ke Toyama.

Selain pemandangan pegunungan salju, atraksi yang terkenal dari Alpine Route ini adalah Murodo Snow Wall, yaitu dinding salju setinggi hampir 20 meter yang bisa diakses dengan berjalan kaki. Untuk tahun ini, akses ke Snow Wall akan dibuka sampai 22 Juni 2017. Selain Snow Wall, pada rute perjalanan alpine route kita bisa melihat Kurobe Dam. Akan tetapi bendungan ini baru beroperasi saat musim panas dimana air yang ada sudah tidak beku, hehe. Untuk tahun ini, Kurobe Dam akan beroperasi mulai tanggal 26 Juni 2017. Jadwal ini setiap tahunnya mungkin akan berbeda, jadi lebih baik cek di website langsungnya ya http://www.alpen-route.com/en/

Seperti tempat bersalju lainnya, suhu udara di Alpine Route ini bisa mencapai -3 derajat Celcius. Bagi kita manusia tropis, kita akan butuh banyak penyesuaian dalam hal atribut pakaian. Disarankan untuk memakai pakaian berlapis (saya dan suami pakai 3 lapis pakaian dan celana), down jacket, sarung tangan, kaus kaki, syal dan penutup kepala (bisa dipakai untuk menutupi kuping juga). Jangan sampai sudah jauh-jauh datang kesini malah jadi tidak bisa enjoy karena kedinginan, hahaha.

Tiket Alpine Route ada yang berupa tiket satuan (hitungannya jadi lebih mahal sekali: cek di http://www.alpen-route.com/en/transport_new/fares.html) dan ada yang berupa combine ticket, antara lain:

  • Tateyama-Kurobe Option Ticket
    Tiket ini meng-cover semua unit transportasi dari Toyama ke Nagano atau Nagano ke Toyama (hanya berlaku one way) dan hanya berlaku untuk turis asing yang berkunjung ke Jepang sebagai temporary visitor. Tiket ini berlaku selama 5 hari.
    Fares for foreign tourists: 9.000 Yen (adults) dan 4.500 Yen (children).
    Period of sales: 14 April – 8 November 2017 
  • Alpine-Takayama-Matsumoto Area Tourist Pass
    Tourist pass ini meng-cover tidak hanya unit transportasi di Alpine Route tapi juga kereta dan bus ke daerah wisata di sekitar Alpine Route seperti Takayama, Nagoya dan Matsumoto. Tourist pass ini berlaku selama 5 hari dan khusus untuk foreign tourist.
    Fares: 17.500 Yen (adults) dan 9.750 Yen (children)
    Period os sales: 1 February – 8 November 2017 
  • Tateyama Kurobe Alpine Ticket
    Ticket ini meng-cover semua unit transportasi seperti Tateyama-Kurobe option Ticket tapi ditambah dengan akses kereta dari kota-kota besar di Jepang seperti Osaka, Kyoto, dan Nagoya. Harga tergantung dari start point dan kereta yang digunakan.

Kami memilih Tateyama-Kurobe Option Ticket yang sudah kami beli ticketnya saat beredar di stasiun kereta JR Kyoto. Selain stasiun Kyoto, tiket ini juga bisa diperoleh di stasiun besar JR lainnya (Osaka, Tokyo, dll). Silahkan liat website-nya langsung http://www.jrtateyama.com/e/index.html

Nakano to Nagano (Train & Shinkansen)

Khusus untuk hari ini, kami memulai perjalanan kami dari pagi sekali. Kami naik kereta pk. 06:46 dari stasiun kereta Nakano menuju ke stasiun Tokyo untuk berganti kereta shinkansen disana. Kami sampai di stasiun Tokyo pk. 07:03 dan menunggu shinkansen Kagayaki yang dijadwalkan berangkat pk. 07:20. Ternyata setelah kereta shinkansen Kagayaki datang, kami baru tahu bahwa kereta shinkansen Kagayaki ini hanya tersedia gerbong reserved. Kalau kita belum melakukan reservasi, kita tidak bisa naik kereta ini. Sekedar informasi, shinkansen Kagayaki termasuk dalam kereta shinkansen super express dimana kereta hanya berhenti di beberapa stasiun sehingga jadwal tiba di tujuan akan lebih cepat. Dikarenakan kami gagal naik kereta shinkansen Kagayaki, akhirnya jadwal kereta kami pun jadi berubah. Kami naik kereta shinkansen Asama yang berangkat dari stasiun Tokyo pk. 07:24 dengan konsekuensi jadwal tiba di stasiun Nagano lebih telat dari jadwal semula yaitu pk. 09:14.

Nagano To Ogizawa (Express Bus) – 1.433 mdpl

P_20170421_122355_BF
Antrian Trolley Bus di Ogizawa

Dari stasiun kereta Nagano, kita harus berjalan keluar ke arah east gate kemudian mencari bus stop no. 25 dengan keterangan “Shinano Omachi / Ogizawa”. Kami menunggu bus yang berangkat pk. 10:30. Jadwal lengkap express bus Nagano-Ogizawa bisa dilihat di http://www.alpen-route.com/en/timetable/others01_2017.html. Express bus ini sudah termasuk dalam paket Tateyama Kurobe Option Ticket. Untuk pembelian tiket satuan (non paket) dikenakan biaya 2.600 Yen (adults) dan 1.300 Yen (children) yang diserahkan ke driver sebelum naik bus. Oh ya, karena kami bawa bekal dari rumah, maka kami makan bekal di bus sesaat sebelum turun di Ogizawa.

Ogizawa To Kurobe Dam (Kanden Tunnel Trolley Bus) – 1.470 mdpl

P_20170421_122901_BF
Inside The Bus

Kami tiba di Ogizawa pk. 12:15. Benar-benar sudah telat jauh dari itinerary, hahaha. Begitu turun dari Express Bus, hawa dingin menusuk sudah mulai terasa. Hamparan salju sudah mulai terlihat walaupun tidak banyak. Dari Ogizawa kita harus naik Trolley Bus untuk sampai ke Kurobe dam. Kami naik Trolley Bus pk. 12:30 dan tiba di Kurobe Dam pk. 12:46. Timetable untuk unit transportasi di Alpine Route bisa dilihat di website mereka http://www.alpen-route.com/en/timetable. Harap diperhatikan bahwa jadwal transportasi bisa berbeda untuk periode waktu yang berbeda dan tergantung kondisi cuaca saat itu. Jadi pastikan untuk selalu cek website Alpine Route ya.

P_20170421_125303_vHDR_Auto
Kurobe Dam (Airnya masih beku)

Di Kurobe Dam, kita hanya bisa melihat bangunan bendungan saja tanpa air yang mengalir karena airnya masih beku. Di titik ini kita bisa melihat pemandangan deretan pegunungan salju. Saya dan suami benar-benar takjub bahwa Jepang punya pemandangan alpine seperti ini. Setelah puas mengambil foto dan menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan ke titik selanjutnya.

Kurobe Dam To Kurobeko (Walk) – 1.455 mdpl

Untuk menuju Kurobeko kita tinggal berjalan kaki sekitar 15 menit dari Kurobe Dam dengan mengikuti petunjuk arah yang ada. Di Kurobeko kita akan menaiki cable car menuju titik selanjutnya yaitu Kurobedaira.

Kurobeko To Kurobedaira (Cable Car) – 1.828 mdpl

P_20170421_134001_vHDR_Auto

Kami naik cable car dari Kurobeko pk. 13:20 dan tiba di Kurobedaira pk. 13:25. Di Kurobedaira terdapat semacam food court yang menjual berbagai makanan. Kondisi food court saat itu sungguh padat sekali. Untung saja kami sudah makan siang, jadi kami tinggal beli camilan (kami memilih menu bakpao) saja untuk menghangatkan tubuh. Di belakang food court ada halaman dengan hamparan salju yang juga dipenuhi pengunjung yang ingin bermain salju atau sekedar berfoto ria. Dari sini kami kembali ke dalam stasiun untuk mengantri ropeway ke Daikanbo.

P_20170421_141244_vHDR_Auto
Pegunungan Salju

Kurobedaira To Daikanbo (Tateyama Ropeway) – 2.316 mdpl

Dari Kurobedaira kami naik Tateyama Ropeway menuju Daikanbo pk. 13:40 dan tiba di Daikanbo pk. 13:47. Setibanya di Daikanbo kami pergi ke toilet dulu kemudian segera masuk ke antrian bus ke Murodo.

Daikanbo To Murodo (Tateyama Tunnel Trolley Bus) – 2.450 mdpl

P_20170421_150320_BF
Selfie di Snow Wall
P_20170421_145742_vHDR_Auto
Ada jalur pejalan kaki-nya

Kami naik Tateyama Tunnel Trolley Bus dari Daikanbo pk. 14:15 dan sampai di Murodo pk. 14:25. Dari tempat turun bus di Murodo, kami berjalan keluar dari terowongan dan hamparan salju sudah terlihat dimana-mana. Suhu udara di Murodo ini saat itu adalah -2 derajat Celcius. Dingin sekali! Kami melanjutkan berjalan kaki ke Murodo Snow Wall. Tampak pengunjung memadati area Snow Wall untuk berfoto-foto dan bermain salju. Jalanan Snow Wall yang bisa diakses pengunjung hanya sedikit saja, kurang dari 1 km. Ada batas yang tidak boleh dilalui oleh pengunjung sehingga kita harus berputar kembali ke terowongan Murodo. Saat perjalanan kembali ke terowongan Murodo, sempat turun hujan salju dan suhu terasa semakin dingin. Kami bergegas berjalan kembali ke arah terowongan dan mengantri bus untuk turun ke Bijodaira. Saat mengantri bus, cuaca menjadi berkabut dan mengurangi jarak pandang.

Murodo To Bijodaira (Tateyama Highland Bus) – 977 mdpl

Ada 2 antrian bus ke Bijodaira, yaitu antrian bus yang stop di beberapa tempat (Tengudaira dan Midagahara) dan antrian bus yang langsung ke Bijodaira tanpa stop di tempat lain. Dikarenakan waktu yang semakin sore dan supaya tidak kemalaman sampai di Tokyo, kami memilih bus yang langsung ke Bijodaira saja. Kami naik Tateyama Highland Bus dari Murodo pk. 15:00 dan sampai di Bijodaira pk. 15:50. Jalan menuju Bijodaira adalah jalanan turunan yang berkelok-kelok, dengan pemandangan pohon-pohon bersalju di kiri kanan-nya.

Bijodaira To Tateyama Station (Tateyama Cable Car) – 475 mdpl

Kami naik cable car pk. 16:00 dari Bijodaira dan sampai di Tateyama Station pk 16:07.

Tateyama Station To Dentetsu Toyama (Toyama Chiho Railroad)

Saat sampai di Tateyama station, antrian kereta Toyama Chiho Railroad menuju Dentetsu Toyama sudah panjang. Kami segera masuk antrian dan menuju kereta datang. Kami naik Toyama Chiho Railroad pk. 16:17 dan tiba di Dentetsu Toyama pk. 17:20.

Dentetsu Toyama To JR Toyama Station

Dari tempat turunnya kereta Toyama Chiho Railroad di Dentetsu Toyama, kita tinggal berjalan keluar dan mengikuti petunjuk arah menuju stasiun kereta JR Toyama. Stasiun kereta JR Toyama di sebelah gedung Dentetsu Toyama. Sebelum masuk stasiun kereta JR Toyama, kami membeli makan malam di restaurant fast food Lotteria yang berada dekat pintu keluar Dentetsu Toyama.

JR Toyama Station To Nakano Stastion

Di stasiun kereta JR Toyama, kami mampir di ticket office terlebih dahulu untuk melakukan reservasi kereta shinkansen Kagayaki ke Tokyo pk. 18:15. Kami memilih kereta shinkansen Kagayaki supaya lebih cepat sampai di Tokyo. Kami tiba di stasiun kereta Tokyo pk. 20:23 dan berganti kereta ke arah stasiun kereta Nakano. Waktu sudah menunjukkan pk. 20:59 saat kami tiba di stasiun kereta Nakano.

EXPENSES:
(Kurs 1 JPY = 121,65 IDR)

  • Ocha at vending machine : JPY 115 = IDR 13.990
  • Bakpao 2 pcs at Kurobedaira : JPY 500 = IDR 60.825
  • Dinner at Lotteria : 2 x JPY 750 = JPY 1.500 = IDR 182.475

TOTAL EXPENSES = JPY 2.115 = IDR 257.290